Jakarta, MUIDigital - Banyak cara dilakukan oleh umat muslim dalam merayakan hari kemenangan Idul Fitri. Salah satunya dengan menyajikan hidangan nan praktis dan ekonomis yakni biskuit.
Tidak heran jika banyak supermarket dan pasar pasar mulai menawarkan berbagai ragam biskuit sejak jauh jauh hari sebelum hari raya. Produsen biskuit pun tidak mau kalah dengan menawarkan berbagai promosi baik di media cetak maupun media elektronik melalui berbagai iklan di layar kaca. Fenomena ini seakan membentuk sebuah tradisi adanya ungkapan “biskuit lebaran” atau lebaran tidak lengkap tanpa adanya biskuit sebagai hidangan.
Ada beberapa jenis biskuit yang beredar di pasaran, yakni biskuit keras yang dibuat dari adonan keras, berbentuk pipih, dan bertekstur padat. Ada pula biskuit berjenis crackers yang dibuat dari adonan keras, melalui proses fermentasi atau pemeraman. Sedangkan jenis ketiga adalah cookies, yakni biskuit yang dibuat dari adonan lunak, berkadar lemak tinggi.
Perbedaan jenis biskuit, tentu berbeda pula proses pembuatannya. Namun, secara garis besar, proses pembuatan biskuit terdiri dari pencampuran, pembentukan dan pemanggangan. Tahap pencampuran bertujuan meratakan pendistribusian bahan-bahan yang digunakan dan untuk memperoleh adonan dengan konsistensi yang halus. Bahan-bahan yang sudah tercampur, selanjutnya dicetak sesuai dengan bentuk dan ukuran yang diinginkan. Adonan yang telah dicetak selanjutnya dipanggang dengan oven.