Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Khutbah

Khutbah Jumat: Arti Silaturahim dan Kebesaran Hati untuk Memberi dan Meminta Maaf

5 menit baca 4.120 dibaca
Admin

Oleh: Admin

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Arti Silaturahmi dan Kebesaran Hati untuk Memberi dan Meminta Maaf
Foto: Pinterest
Bagikan:

Oleh: KH A Muzaini Aziz, Lc, MA, Anggota Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta dan Sekretaris II MUI Kota Tangerang

Khutbah I

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

أَللهُ أَكْبَرُ ×9... كَبْيرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.

أَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي شَرَعَ لَنَا عِيدَ الْفِطْرِ بِتَنْفِيذِ أَمْرِهِ، وَإِعْلَانًا بِتَكْبِيرِهِ وَذِكْرِهِ، وَقِيَامًا بِوَاجِبِ شُكْرِهِ، عَلَى أَدَاءِ مَا فَرَضَهُ عَلَى الْأَنَامِ، مِنْ تَأدِيَةِ فَرِيضَةِ الصِّيَامِ، وَأَنْوَاعٍ أُخَرَ مِنْ عِبَادَةِ شَهْرِ رَمَضَان.

أَشْهَدُ أَن لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ، خَلَقَ الْإنْسَانَ فَسَوَّاهُ، وَأَبْدَعَ تَكْوِينَهُ وَأَحْيَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَلْقَائِلُ فِي حَدِيثِهِ: زَيِّنُوا أَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيرِ.

وصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

أما بعد، أُوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهُ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِهِ: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

صَدَقَ اللهُ الْعَظِيم.

Zumratal Mukminin Rahimakumullah,

Alhamdulillah, Allah panjangkan usia kita, sehingga kita bisa kembali merasakan kebagiaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, setelah kita merasakan nikmatnya beribadah puasa dan ibadah Ramadhan lainnya sebulan penuh.

Momentum Idul Fitri biasanya, antara lain, kita gunakan untuk saling mengunjungi antarsanak saudara, kerabat, rekan dan sahabat, untuk saling memohon maaf dan memaafkan serta mendoakan satu sama lain. Inilah salah satu bentuk silaturahim atau silaturahmi yang secara bahasa berarti sambung kasih sayang.

Pada dasarnya, yang perlu diingat adalah bahwa sebenarnya kewajiban melestarikan silaturahmi, dengan berbagai bentuknya, adalah kewajiban harian yang mesti dijalani. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam penggalan surat Al-Anfal ayat 1:

فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَصْلِحُوْا ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۤ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

… Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman.”

Lihatlah, betapa Islam sangat memandang penting menjaga kohesi sosial dengan cara memperbaiki hubungan baik antarsesama, sehingga perintah terkait hal tersebut berada langsung setelah perintah untuk bertakwa kepada Allah SWT.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

Biasanya, kita akan menyambung dan melestarikan silaturahmi dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan baik dengan kita, dalam arti tidak ada masalah, seperti persaingan, amarah, permusuhan, kebencian atau dendam antara kita dan mereka.

Tentu itu adalah sikap yang terpuji. Namun, jauh lebih terpuji lagi jika kita justru memulai atau mengawali untuk menyambung silaturahmi dengan pihak-pihak yang antara kita dan mereka terdapat masalah, seperti hal-hal yang disinggung tadi.

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Bukanlah disebut sebagai penyambung tali silaturahmi orang yang sejajar (yaitu yang menyambung tali silaturahmi dengan pihak yang juga menyambung tali silaturahmi dengannya), namun yang disebut sebagai penyambung tali silaturahmi adalah orang yang menyambungkannya justru ketika tali silaturahmi itu terputus.” (HR Bukhari)

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

Hendaknya kita jangan terlalu sibuk mencari siapa yang bersalah, karena ego manusia akan selalu mengatakan bahwa dirinya lah yang paling benar. Namun, berusahalah untuk menjadi orang yang lebih dahulu menyambung silaturahmi yang terputus, maka sesungguhnya dialah orang yang menang atau minal faizin, karena ia berhasil mengalahkan ego dan hawa nafsu amarah serta dendam dan kedengkian yang tertanam di dalam hatinya.

Hal itu mungkin terasa berat, dan memang, kemenangan adalah hak orang-orang yang sukses menjalankan misi yang berat ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

Di dalam kearifan Nusantara kita, momentum Idul Fitri biasanya juga dihiasi dengan tradisi Halal bi Halal. Di mana kita berkumpul dengan sanak saudara atau teman dan para sahabat untuk saling memohon maaf dan memaafkan.

Jika dikaji lebih jauh, maka tradisi yang sangat baik ini sesuai dengan wasiat Baginda Rasulullah SAW. Beliau bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang pernah berbuat zalim kepada saudaranya terkait kehormatannya atau yang lainnya, hendaklah ia meminta kehalalan (pemaafan) kepada saudaranya itu dari kezaliman tersebut pada hari ini juga, sebelum datang hari Kiamat yang tidak ada lagi uang dinar dan dirham. (Jika ia tidak meminta pemaafan dari saudaranya yang pernah ia zalimi itu) Maka apabila ia memiliki amal saleh, maka akan diambil pahala amal salehnya itu yang sebanding dengan kezalimannya dan (pahala amal salehnya tersebut) akan diberikan kepada saudaranya yang pernah ia zalimi. Jika ia tidak memiliki amal saleh, maka soda saudaranya yang pernah ia zalimi akan diambil dan dipindahkan untuk dirinya.” (HR Al-Bukhari)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

Orang tua tentu punya salah kepada anak-anaknya, begitu juga anak kepada orang tuanya. Suami pasti punya salah kepada istrinya, begitu pula istri kepada suaminya.

Atasan tentu pernah berbuat salah kepada bawahannya, begitu juga bawahan kepada atasannya. Pemimpin tentu pernah berbuat salah kepada rakyatnya, begitu juga rakyat kepada pemimpinnya.

Guru pasti pernah berbuat salah kepada muridnya, begitu pula murid kepada gurunya. Sesama tetangga, teman dan rekan tentu sama-sama pernah saling berbuat salah dan aniaya.

Maka, janganlah memandang dan menilai diri kita dengan segala atribut dan topeng  atau kedok keduniawian yang membuat kita angkuh dan jumawa, lalu gengsi dan tinggi hati untuk meminta maaf atas kesalahan dan kezaliman yang pernah kita perbuat kepada orang lain.

Cukup kesadaran bahwa diri kita ini adalah hamba-hamba Allah yang pernah bahkan banyak berbuat zalim, aniaya dan punya banyak kesalahan kepada banyak pihak. Maka mintalah, bahkan mohonlah kepada mereka agar mereka mau memaafkan kita, sehingga kita tidak termasuk golongan manusia yang bernasib sial dan naas kelak di Akhirat, yang tabungan pahalanya terkuras habis akibat menebus kesalahan dan kezalimannya kepada orang lain, bahkan mendapat limpahan saldo dosa dari orang-orang yang pernah dizaliminya, sebagaimana pesan dalam hadis Nabi di atas. Na’udzu billah

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

Di sisi lain, saat ada orang lain memohon maaf kepada kita, segera berikan maaf kita kepada mereka. Karena, jika kita mau orang lain mudah memaafkan kita, buatlah diri kita untuk terlebih dahulu mudah memaafkan orang lain. Itulah asas resiprokal (timbal balik) yang Islam dogmakan kepada kita, sebagaimana firman Allah SWT di dalam surat Ar-Rahman ayat 50:

هَلْ جَزاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).”

Juga, sebagaimana hikmah yang pernah disampaikan Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu yang dikutip oleh Imam Ahmad bin Hanbal di dalam kitab Az-Zuhud-nya:

كَمَا تَدِينُ تُدَانُ

“Sebagaimana engkau memperlakukan, demikian pula engkau akan diperlakukan.”

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

Maka, lembutkanlah hati kita agar mudah memaafkan kesalahan orang lain, dengan demikian, insyaAllah akan Allah lembutkan juga hati orang lain untuk memaafkan segala kesalahan kita.

Demikianlah, akhirnya, semoga pada momentum Idul Fitri ini, segala amarah, benci, dendam dan kedengkian dapat kita singkirkan dari hati kita.

Semoga kita termasuk orang-orang yang berlapang dada untuk meminta maaf, dan berbesar hari untuk memaafkan.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk golongan minal faizin, golongan orang-orang yang menang, terutama menang di dalam melawan ego, gengsi, dan hawa nafsunya sendiri. Dan inilah bentuk kemenangan sejati di hari yang fitri ini. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ وَالْمَقْبُولَينَ. وَأَدْخَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ الْصَالِحِينَ.

أَقُولُ قَوْلِي هذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ...إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah II

أَللهُ أَكْبَرُ ×7... أَللهُ أَكْبَرُ كَبْيرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.

أَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِيدَ عِيدَ الدِّينِ وَالْعِبَادَةِ، لَا مِنْ أَعْمَالِ الدُّنْيَا وَمَنَاهِجِ الْعَادَةِ، لِشُكْرِهِ عَلَى أَدَاءِ الصَّوْمِ الَّذِي بِهِ السَّعَادَةُ. فَهُوَ مِنِ مَوَاسِمِ الدِّينِ لِلْمُسْلِمِينَ، وَمِنْ مَظَاهِرِ الْإِبْتِهَاجِ بِطَاعَةِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

أَشْهَدُ أَن لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، خَلَقَ الْخَلْقَ فَقَدَّرَ، وَسَيََّر الْعَوَالِمَ وَدَبَّرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَغَّبَ الطَّائِعِينَ وَبَشَّرَ، وَهَدَّدَ الْعَاصِينَ وَأَنْذَرَ.

وصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَلَّمَ عَلَيهِ، وَعَلَى آلِهِ الطَّاهِرِينَ، وَأَصْحَابِهِ الْأَبْرَارِ الطَّيِّبِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أما بعد، فَيَاأّيُّهَا النَّاس، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاه، حَيْثُ قَالَ تَعَالَى: (يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون). صَدَقَ اللهُ الْعَظِيم.

أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد, كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيم وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيم, فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد.

رَبَّنَا ظَلَمْنَاۤ اَنْفُسَنَا وَاِ نْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

أَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَلَوَالِدِينَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَات, وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَات, أَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات, إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَات, يِا قَاضِيَ الْحَاجَات.

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَار.

عِبَادَ الله، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَان، وَإِيتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَ الْبَغي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته