Urgensi Ukhuwah Islamiyah di Tengah Luka Sejarah dan Harapan Kebangkitan
Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Umat Islam kini menghadapi satu kenyataan yang paradoksal, yakni jumlah yang besar, tetapi pengaruh yang lemah; potensi yang luas, tetapi arah yang tercerai; ajaran yang sempurna, tetapi realitas yang retak. Ini bukan sekadar krisis politik, bukan pula sekadar problem sosial. Ia adalah krisis yang lebih dalam yaitu krisis ukhuwah Islamiyah.
Kita hidup di zaman ketika perbedaan tidak lagi dipahami sebagai ruang ijtihad, tetapi sering berubah menjadi senjata.
Perbedaan mazhab dalam akidah, fikih, bahkan pilihan politik, yang dalam tradisi klasik Islam justru menjadi sumber dinamika intelektual, kini kerap menjelma menjadi medan konflik, saling tuding, saling menyesatkan, bahkan saling meniadakan.
Padahal, jika kita kembali mengkaji Alquran, kita akan menemukan bahwa persatuan bukan sekadar anjuran moral, melainkan perintah ilahi yang bersifat tegas dan final.
Baca juga: Menghidupkan Kembali Makna Syukur dalam Perspektif Alquran dan Sains Modern
Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini turun dalam suasana sosial yang sangat konkret. Menurut Imam Al-Thabari dalam Jami‘ al-Bayan, ayat ini berkaitan dengan potensi konflik antara Aus dan Khazraj di Madinah, dua kabilah yang dahulu bermusuhan sengit sebelum dipersatukan oleh Islam. Ketika api lama hampir menyala kembali, Allah menurunkan ayat ini sebagai peringatan agar jangan mengulangi sejarah permusuhan itu.
Imam Al-Qurthubi menafsirkan “hablullah” sebagai Alquran, Islam, dan jamaah kaum Muslimin. Artinya, siapa yang melepaskan diri dari persatuan umat, sejatinya ia telah melepaskan diri dari tali itu sendiri.
Sementara Ibn Ashur menegaskan bahwa larangan berpecah tidak hanya mencakup tindakan lahir, tetapi juga mencakup perpecahan hati, orientasi, dan visi peradaban.
Tidak berhenti di situ, Alquran bahkan mendefinisikan identitas umat:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Ḥujurāt: 10)
Dalam tadabburnya di hadapan para Kyai, Pimpinan Pesantren Alumni Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, mengatakan bahwa ini adalah ayat yang sangat sakral, yang paling ditakuti oleh musuh-musuh Islam, maka dengan berbagai cara mereka melakukan propaganda, adu domba, rencana, dan skenario jahat agar umat Islam saling bermusuhan, saling curiga dan menyalahkan satu sama lain sehingga kita lemah dalam berbagai hal.
Baca juga: Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis
Ibn Katsir menegaskan dalam tafsirnya bahwa ukhuwah iman lebih kuat daripada hubungan darah. Maka perlu dipahami secara serius bahwa merusak ukhuwah bukan sekadar kesalahan sosial, tetapi kerusakan teologis dalam bangunan iman itu sendiri.
Belajar dari Sejarah, ketika Perbedaan Menjadi Luka
Pada kenyataannya, sejarah umat tidak selalu sejalan dengan tuntunan ideal agama. Fitnah besar dalam sejarah Islam menjadi titik awal luka panjang.
Terbunuhnya Umar ibn al-Khattab, kemudian Uthman ibn Affan, disusul konflik pada masa Ali ibn Abi Talib, hingga tragedi Karbala yang merenggut nyawa Husein ibn Ali, semuanya bukan sekadar episode politik, tetapi luka peradaban yang panjang bayangannya hingga hari ini.
Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wa al-Nihayah menggambarkan bahwa konflik tersebut membuka pintu bagi lahirnya berbagai faksi dalam tubuh umat. Apa yang awalnya merupakan perbedaan politik tentang kepemimpinan, berkembang menjadi perbedaan teologis yang mengeras dan diwariskan lintas generasi.
Dalam perspektif modern, Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menegaskan bahwa banyaknya konflik dalam sejarah Islam tidak semata-mata disebabkan oleh perbedaan doktrin, tetapi oleh interaksi kompleks antara kekuasaan, identitas keagamaan, dan kepentingan politik.
Dengan kata lain, perbedaan tidak selalu menjadi masalah, tetapi cara manusia mempolitisasi perbedaan itulah yang menjadi sumber konflik.
Baca juga: Antara Istiqamah dan Ketergantungan Hati
Akar konflik Sunni–Syiah pun tidak bisa dilepaskan dari konteks ini. Ia bermula dari persoalan politik pasca wafatnya Rasulullah SAW terkait kepemimpinan, bukan dari perbedaan akidah yang sistematis seperti yang berkembang kemudian. Namun, seiring waktu, perbedaan itu mengalami proses “teologisasi”, yakni diberi legitimasi keagamaan hingga akhirnya menjadi identitas mazhab yang rigid.
Di era modern, konflik tersebut tidak hanya diwariskan, tetapi juga direproduksi dan mengalami transformasi menjadi konflik geopolitik yang jauh lebih kompleks.
Perang Iran–Iraq sering dipersepsikan sebagai konflik sektarian (Sunni-Syiah).
Demikian pula konflik di Suriah yang berkembang menjadi perang proxy. Kajian hubungan internasional modern menyebut fenomena ini sebagai proxy war, yaitu konflik tidak langsung yang melibatkan kekuatan besar melalui aktor lokal.
Dalam analisis Graham E. Fuller, dunia Islam sering menjadi arena perebutan pengaruh global, di mana identitas agama kerap digunakan sebagai alat mobilisasi.
Dalam kajian modern, ini disebut sebagai instrumentalisasi agama, di mana agama digunakan sebagai alat kepentingan politik. Akibatnya, umat Islam sering kali tidak lagi menjadi subjek sejarah, tetapi objek permainan kekuatan global.
Rasulullah SAW telah menggambarkan kondisi ini dengan sangat tajam: “Hampir saja umat-umat lain mengerumuni kalian seperti orang-orang mengerumuni hidangan.” (HR Abu Dawud)
Ketika ditanya apakah karena jumlah sedikit, beliau menjawab: “Tidak, kalian banyak, tetapi seperti buih di lautan.”
Buih itu banyak, tetapi tidak memiliki kekuatan. Para ulama menjelaskan bahwa kondisi ini muncul ketika umat kehilangan kesatuan hati dan arah perjuangan.
Baca juga: Setelah Ramadhan Berlalu, Apakah Jiwa Kita Berubah?
Alquran menegaskan:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilanglah anginmu (kekuatanmu).” (QS. Al-Anfal: 46)
Menurut Fakhruddin al-Razi, “hilangnya angin” dalam ayat ini berarti hilangnya kekuatan, wibawa, dan pengaruh umat dalam peradaban.
Namun, Islam tidak menafikan perbedaan. Hadis tentang umat yang akan terpecah menjadi banyak golongan sering disalahpahami sebagai legitimasi untuk menghakimi pihak lain. Padahal ulama seperti as-Shatibi menegaskan bahwa hadis tersebut adalah peringatan agar tidak terjerumus dalam perpecahan, bukan pembenaran untuk menciptakannya.
Demikian pula, Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa tidak semua perbedaan menjadikan seseorang keluar dari kebenaran. Yang menjadi prinsip adalah pemahaman yang adil dan proporsional dalam mengkaji petunjuk agama.
Ketika Ukhuwah Melahirkan Kemenangan
Ketika umat mampu melampaui perbedaan, mereka mampu bangkit. Sosok seperti Salahuddin al-Ayyubi menjadi bukti nyata. Ia tidak hanya membangun kekuatan militer, tetapi terlebih dahulu membangun persatuan umat, rekonstruksi spiritual, dan kesadaran kolektif.
Menurut Ibn al-Athir dalam Al-Kamil fi al-Tarikh, keberhasilan Salahuddin bukan hanya karena strategi perang, tetapi karena kemampuannya menyatukan umat yang sebelumnya terpecah, memperkuat institusi pendidikan, dan membangun kembali spiritualitas umat.
Hal ini menunjukkan bahwa kemenangan tidak dimulai dari kekuatan militer, tetapi dari rekonstruksi ukhuwah dan kesadaran umat. Kemenangan atas Perang Salib adalah buah dari persatuan, bukan sekadar strategi perang.
Di sinilah kita sampai pada titik krusial: bagaimana membangun kembali ukhuwah di era modern? Rekonstruksi ukhuwah harus dimulai dari kesadaran bahwa persatuan bukan berarti menyeragamkan semua pendapat, tetapi menyatukan tujuan di atas perbedaan.
Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam
Ulama harus kembali menjadi penjernih, bukan pemecah. Pemimpin harus menjadi pelindung, bukan provokator. Umat harus dididik menjadi dewasa, bukan mudah tersulut emosi.
Pendidikan harus melahirkan generasi yang memahami bahwa khilafiyah adalah bagian dari tradisi ilmiah. Dakwah harus menjadi jembatan, bukan tembok. Dai harus menjadi perekat umat, bukan malah memproduksi dan mempropagandakan perpecahan dan menambah jurang perbedaan.
Begitu juga media, khususnya yang basisnya adalah keislaman, perannya harus menjadi penerang, bukan penyulut konflik.
Menyembuhkan Memoar Luka dengan Doa
Sejarah telah cukup memberi pelajaran. Darah telah terlalu banyak tertumpah. Perpecahan telah melahirkan penyesalan panjang.
Kini saatnya umat ini bangkit. Bukan dengan saling menyalahkan dan mengalahkan, tetapi dengan saling memahami dan menguatkan. Bukan dengan memperbesar perbedaan, tetapi dengan memperluas persaudaraan. Karena pada akhirnya, kemuliaan Islam dan orang-orang muslim tidak akan lahir dari umat yang saling mencurigai, tetapi dari umat yang saling percaya, saling menjaga, dan saling menguatkan.
Dan mungkin, kebangkitan itu tidak dimulai dari panggung besar. Ia dimulai dari hati yang mau berdamai.
Baca juga: Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran
Mari sesering mungkin kita berdoa kepada Allah untuk kemulian Islam dan kaum muslimin, sekaligus juga untuk persatuan umat. Doa ini bersumber dari hadis riwayat Abu Dawud dan lainnya.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلاةَ أُمُورِنَا، وَاجْمَعْ كَلِمَتَنَا عَلَى الْحَقِّ وَالدِّينِ.
“Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik,
hancurkanlah musuh-musuh agama, dan tolonglah hamba-hamba-Mu yang bertauhid. Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami, dan satukanlah kalimat kami di atas kebenaran dan agama-Mu.”
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ، مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا.
“Ya Allah, satukanlah hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, tunjukkanlah kami jalan-jalan keselamatan, selamatkan kami dari kegelapan menuju cahaya, jauhkan kami dari segala kejahatan, yang tampak maupun tersembunyi, berkahilah pendengaran, penglihatan, dan hati kami, jadikan kami hamba yang bersyukur atas nikmat-Mu, yang memuji-Mu atasnya dan menerimanya, dan sempurnakanlah nikmat itu atas kami.”
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman,dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hashr: 10)
اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوفَ الْمُسْلِمِينَ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ، وَأَزِلِ الشَّحْنَاءَ وَالْبَغْضَاءَ مِنْ قُلُوبِهِمْ، وَاجْعَلْهُمْ إِخْوَانًا مُتَحَابِّينَ فِيكَ، مُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى.
“Ya Allah, satukan barisan kaum Muslimin, satukan kalimat mereka di atas kebenaran, hilangkan permusuhan dan kebencian dari hati mereka, jadikan mereka saudara yang saling mencintai karena-Mu,
dan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.”
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم، وَارْفَعْ عَنْهَا الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاجْعَلْهَا أُمَّةً وَاحِدَةً كَمَا أَمَرْتَ، وَأَعِزَّهَا بِالْحَقِّ وَالْإِيمَانِ.
“Ya Allah, perbaikilah umat Muhammad SAW, angkatlah dari mereka segala fitnah, yang tampak maupun tersembunyi, jadikan mereka satu umat sebagaimana Engkau perintahkan, dan muliakan mereka dengan kebenaran dan keimanan.”
Amin.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.