Lewati ke konten utama
Senin, 3 Agustus 2026 / 19 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Berdoalah Saja, Jangan Mengatur Allah!

11 menit baca 77 dibaca
KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Berdoalah Saja, Jangan Mengatur Allah!
Seorang remaja muslim berdoa dengan khusyuk di tengah kesibukannya. Foto: Pexels/Emre Ateşoğlu
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Ada kecenderungan baru dalam sebagian konten motivasi keagamaan: seseorang dianjurkan tidak lagi menggunakan kata “semoga”, “mudah-mudahan”, “mohon”, atau “Ya Allah, berikanlah…”. Kata-kata tersebut dianggap menunjukkan keraguan. Sebagai gantinya, seseorang diarahkan untuk menggunakan kalimat afirmatif: “Saya sudah berhasil”, “Saya sudah kaya”, “Saya sudah sembuh”, “Keinginan saya pasti terwujud.”

Sekilas, ungkapan demikian tampak positif, penuh optimisme dan keyakinan. Namun, ketika afirmasi dijadikan alasan untuk meninggalkan bahasa doa, persoalannya bukan lagi sekadar pilihan diksi. Ia telah menyentuh wilayah teologi, yakni bagaimana seorang hamba memandang dirinya, Allah, kehendak, takdir, dan hubungan antara ikhtiar dengan kekuasaan Tuhan.

Islam tidak melarang optimisme. Islam justru mengajarkan “husnudzon billah” atau prasangka baik kepada Allah, keyakinan, harapan, semangat, dan sikap pantang menyerah.

Islam juga menegaskan bahwa manusia tetaplah hamba. Ia berharap, berusaha dan memohon; bukan mendikte Tuhan, memastikan sesuatu yang belum Allah tetapkan, atau menganggap kehendaknya pasti menjadi kenyataan hanya karena terus diucapkan.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara berdoa dengan penuh keyakinan dan merasa dapat menentukan keputusan Allah melalui kekuatan pikiran dan ucapan.

Baca juga: Sebuah Refleksi ketika Kehormatan Diukur dengan Kekayaan

Doa Bukan Sekadar Meminta, tetapi Penghambaan

Allah berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkan untukmu.’ Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk ke dalam Jahanam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60)

Perhatikan susunan ayat tersebut. Pada bagian awal Allah mengatakan, “Berdoalah kepada-Ku,” tetapi pada bagian selanjutnya Allah menyebut orang yang tidak mau berdoa sebagai orang yang menyombongkan diri dari “beribadah kepada-Ku.” Hal ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah.

Imam at-Thabari menjelaskan bahwa kata اُدْعُونِي"mengandung makna: sembahlah Aku dan ikhlaskanlah ibadah hanya kepada-Ku. Sedangkan "أَسْتَجِبْ لَكُمْ" bermakna Allah menjawab doa, mengampuni, dan merahmati hamba-Nya. Dengan demikian, doa menggabungkan permintaan, tauhid, keikhlasan, dan pengakuan terhadap kekuasaan Allah.

Imam al-Qurthubi juga menegaskan, bahwa hal ini menunjukkan, sejatinya doa adalah ibadah. Yang jelas, mayoritas mufasir memahami ayat tersebut sebagai perintah untuk menauhidkan dan menyembah Allah. Di samping itu, doa dalam ayat ini juga mencakup dzikir dan permohonan seorang hamba kepada-Nya.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah.” (HR Abu Dawud)

Kemudian disebutkan dalam riwayat lengkap hadis tersebut, bahwa beliau lalu membaca surat Ghafir ayat 60.

Hadis tersebut tidak hanya mengatakan bahwa doa merupakan bagian dari ibadah, tetapi menggunakan bentuk pembatasan. Seolah-olah doa merupakan inti yang memperlihatkan hakikat seluruh ibadah. Sebab ketika berdoa, seorang manusia sedang mengakui beberapa perkara sekaligus: dirinya lemah, Allah Mahakuasa; dirinya membutuhkan, Allah Mahakaya; dirinya tidak mengetahui masa depan, Allah Maha Mengetahui; dirinya tidak memiliki hasil, Allah-lah yang menentukannya.

Karena itu, meninggalkan doa bukanlah tanda kemandirian spiritual. Sebaliknya, justru hal itu dapat menjadi tanda bahwa manusia mulai kehilangan kesadaran akan kehambaannya.

Nabi SAW bersabda:

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

“Barang siapa tidak meminta kepada Allah, Allah murka kepadanya.” (HR Tirmidzi)

Manusia biasanya merasa terganggu apabila terus-menerus dimintai sesuatu. Allah justru murka apabila hamba-Nya enggan meminta. Sebab keengganan meminta dapat mengandung rasa cukup dari Allah, sedangkan permohonan adalah pernyataan tauhid dan kefakiran seorang hamba.

Baca juga: Mengobati Krisis Spiritualitas Umat di Era Digital

Kedekatan Allah Dirasakan dalam Doa

Allah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Dalam banyak ayat, ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, jawabannya didahului dengan kata "قُلْ", yang berarti “Katakanlah.”  Namun, dalam ayat tentang doa ini, Allah tidak mengatakan, “Katakanlah kepada mereka bahwa Aku dekat.” Allah langsung menyatakan "فَإِنِّي قَرِيبٌ", yang berarti: “Sesungguhnya Aku dekat.” Sebagian ulama melihat susunan ini sebagai isyarat kelembutan: antara seorang hamba dan Allah dalam doa tidak diperlukan perantara yang menghalangi kedekatan itu.

At-Thabari menafsirkan kedekatan tersebut dengan makna bahwa Allah mendengar doa para hamba dan menjawab permohonan orang yang memohon kepada-Nya. Sementara Imam al-Qurthubi menjelaskan kedekatan itu sebagai kedekatan melalui ilmu, pengabulan, dan karunia-Nya—bukan kedekatan fisik yang menyerupakan Allah dengan makhluk.

Karena itu, doa bukanlah laporan kepada Allah tentang sesuatu yang belum diketahui-Nya. Allah telah mengetahui kebutuhan kita sebelum kita mengucapkannya. Doa adalah jalan yang Allah tetapkan agar seorang hamba memasuki pintu kedekatan, penghambaan, tawakal, dan pendidikan rohani.

Baca juga: Tafsir Peradaban atas Doa Nabi Nuh

Bahasa Doa Para Nabi

Alquran mengajarkan doa melalui lisan para nabi dan orang-orang saleh. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa permohonan, kerendahan hati dan penyerahan diri.

Nabi Adam AS dan Siti Hawa berdoa, sebagaimana diabadikan dalam Alquran:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami. Apabila Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A‘raf: 23)

Nabi Ibrahim AS berdoa:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang termasuk orang-orang saleh.” (QS. As-Shaffat: 100)

Nabi Zakariyya AS berdoa:

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Wahai Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah sebaik-baik yang mewarisi.” (QS. Al-Anbiya’: 89)

Nabi Musa AS berdoa:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي. وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي

“Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku.” (QS. Thaha: 25–26)

Rasulullah SAW sendiri diajarkan berdoa, sebagaimana disebutkan dalam Alquran:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Katakanlah: Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmuku.” (QS. Taha: 114)

Tidak satu pun dari para nabi itu merasa bahwa kata “berikanlah”, “ampunilah”, “mudahkanlah” atau “tambahkanlah” merupakan tanda keraguan. Justru kata-kata permohonan itulah yang menunjukkan kedudukan mereka sebagai hamba Allah.

Maka mengatakan, “Jangan lagi menggunakan kata semoga, mudah-mudahan, atau meminta kepada Allah karena itu menunjukkan keraguan,” tidak sejalan dengan bahasa doa Alquran. Bukankah para Nabi adalah manusia yang paling kuat keyakinannya, tetapi mereka tetap meminta, berharap, menangis, merendahkan diri dan menyerahkan hasil kepada Allah.

Jadi, pada hakikatnya, memohon bukanlah berarti ragu. Sebaliknya, memohon dalam doa berarti memahami kedudukan diri di hadapan Allah.

Baca juga: Sebuah Renungan: Inflasi, Ketamakan, dan Hilangnya Keberkahan

Keyakinan dalam Doa Tidak Berarti Mengatur Hasil

Islam memang mengajarkan agar seseorang berdoa dengan keyakinan, bukan dengan hati yang bermain-main. Namun, keyakinan tersebut adalah keyakinan bahwa Allah mendengar, Mahakuasa, dan akan memberikan yang terbaik—bukan keyakinan bahwa Allah wajib memberikan persis sebagaimana keinginan manusia.

Pengabulan doa berada di bawah ilmu dan hikmah Allah. Seorang hamba boleh meminta dengan sungguh-sungguh, tetapi ia tidak memiliki hak untuk menentukan bentuk, waktu dan cara pengabulannya.

Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap muslim yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi akan memperoleh salah satu dari tiga perkara:

إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا

“Allah menyegerakan permohonannya, menyimpannya untuknya di akhirat, atau menghindarkan darinya keburukan yang sebanding dengannya.”

Mendengar sabda tersebut, para sahabat berkata, “Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.” Rasulullah SAW lalu menjawabnya, "اللهُ أكثرُ", artinya: “Karunia Allah itu lebih banyak.”

Jelas tidak ada doa yang sia-sia. Akan tetapi, terkabulnya doa tidak selalu identik dengan diterimanya seluruh keinginan dalam bentuk yang kita tentukan sendiri.

Seorang anak mungkin meminta benda berbahaya karena mengira benda itu baik. Orang tua yang menyayanginya tidak memberikannya. Penolakan tersebut bukan karena orang tua tidak mendengar, melainkan karena orang tua mengetahui sesuatu yang belum diketahui anak. Demikian pula seorang hamba. Ia mengetahui apa yang diinginkannya, tetapi Allah mengetahui apa yang sesungguhnya dibutuhkannya.

Baca juga: Nabi Ibrahim dan Keabadian Nama di Tengah Budaya Viral

Afirmasi Positif

Dalam psikologi, istilah “self-affirmation” memiliki makna yang lebih khusus daripada sekadar mengulang kalimat positif. Ia merujuk pada upaya meneguhkan nilai-nilai diri yang penting agar seseorang tidak mudah defensif ketika menghadapi ancaman terhadap citra dirinya.

Riset menunjukkan bahwa intervensi semacam ini, dalam kondisi tertentu, dapat memberi manfaat kecil hingga moderat bagi kesejahteraan psikologis dan perubahan perilaku. Namun hasilnya bergantung pada konteks, bentuk intervensi, dan kondisi individu; ia bukan kekuatan metafisik yang otomatis mengubah kenyataan.

Karena itu, kalimat seperti berikut dan sejenisnya, pada dasarnya dapat diterima: “Dengan pertolongan Allah, saya akan terus belajar.” Kalimat demikian ini berfungsi sebagai motivasi, penguatan mental, dan pengingat tanggung jawab.

Persoalan muncul apabila afirmasi berubah menjadi keyakinan bahwa pikiran manusia memiliki daya kosmis yang pasti menarik kekayaan, kesembuhan atau keberhasilan; atau bahwa alam semesta akan memenuhi apa pun yang terus divisualisasikan dan diucapkan seseorang.

Lebih bermasalah lagi apabila “alam semesta” ditempatkan sebagai kekuatan yang memberi rezeki, mengatur nasib dan mengabulkan permohonan.

Dalam tauhid Islam, yang menciptakan sebab dan akibat bukanlah afirmasi, frekuensi pikiran atau alam semesta. Semua itu adalah makhluk. Sekali lagi harus ditegaskan, bahwa yang menentukan hasil hanyalah Allah SWT. Sebagaimana ditegaskan dalam firman berikut:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Kamu tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 29)

Namun demikian, memang afirmasi dapat menjadi sarana mengelola pikiran, tetapi ia tidak boleh berubah menjadi akidah tentang siapa yang mengatur kenyataan. Optimisme diperintahkan, tetapi mengultuskan pikiran sendiri harus dihindari.

Baca juga: Keteladanan Karakter Nabi Ibrahim sebagai Kompas Hidup di Tengah Arus Modernisasi

Doa Tidak Bertentangan dengan Ikhtiar

Ada yang beranggapan bahwa terlalu banyak berdoa membuat manusia pasif. Pandangan ini tentu keliru. Dalam Islam, doa bukan pengganti usaha, sebagaimana usaha bukan pengganti doa.

Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin untuk berusaha, bermusyawarah, bekerja, berobat, menyiapkan kekuatan, dan mengambil sebab-sebab kehidupan. Lalu setelah keputusan diambil, Allah berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“Apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Urutannya adalah tekad dan ikhtiar, kemudian tawakal. Namun tawakal itu sendiri telah menyertai seluruh proses. Misalnya, sebelum bekerja seseorang memohon bimbingan; ketika bekerja ia meminta pertolongan; setelah bekerja ia menyerahkan hasil.

Ibn al-Qayyim menyebut doa sebagai salah satu obat yang paling bermanfaat dan sebagai sesuatu yang dapat menghadapi bala: mencegahnya, mengangkatnya, atau meringankannya dengan izin Allah. Namun beliau juga mengingatkan bahwa pengaruh doa dapat melemah karena kelemahan hati, kandungan doa yang tidak patut, atau adanya penghalang bagi pengabulannya.

Artinya, doa bukan mantra yang bekerja secara mekanis. Doa adalah sebab syar‘i yang berjalan di bawah kehendak Allah, sebagaimana obat, pekerjaan dan pendidikan merupakan sebab-sebab kauni, atau alamiah.

Dengan kata lain, orang yang sakit, perlu berdoa dan berobat; orang ingin mendapatkan harta yang cukup, maka harus berdoa dan bekerja; orang ingin berilmu, perlu berdoa dan belajar; orang ingin memiliki keturunan saleh, perlu berdoa dan mendidik. Yang keliru ialah berdoa tanpa ikhtiar, padahal ikhtiar mampu dilakukan. Namun lebih keliru lagi apabila seseorang berikhtiar lalu merasa tidak membutuhkan doa.

Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global

Jangan Terburu-buru Menilai Doa Tidak Dikabulkan

Salah satu penyakit spiritual manusia modern adalah tuntutan serba cepat. Pesan harus segera dibalas, barang harus tiba pada hari yang sama, target harus tercapai sesuai jadwal. Pola pikir instan ini kemudian terbawa ke dalam doa: setelah berdoa beberapa kali, seseorang bertanya, “Mengapa belum terjadi?”

Rasulullah SAW bersabda:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa dengan mengatakan: Aku telah berdoa, tetapi doaku tidak dikabulkan.” (HR Bukhari)

Dalam riwayat Imam Muslim, diterangkan bahwa seseorang terus berkata telah berdoa tetapi belum melihat jawaban, lalu ia merasa letih dan meninggalkan doa.

Yang jelas, doa bukanlah transaksi bisnis: manusia mengucapkan kalimat tertentu lalu Allah harus memberikan hasil sesuai batas waktu manusia. Doa adalah ibadah. Bahkan ketika sesuatu yang diminta belum diberikan, kegiatan memohon itu sendiri mendekatkan seseorang kepada Allah, melembutkan hati, serta mendidiknya dalam sabar dan tawakal.

Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa

Antara Yakin, Berharap, dan Berserah Diri

Sikap seorang muslim dalam berdoa yang sepatutnya, dapat dirangkum dalam tiga unsur, sebagai berikut:

Pertama, yakin kepada Allah. Artinya yakin bahwa Allah mendengar, mengetahui, berkuasa dan tidak pernah menyia-nyiakan doa hamba-Nya.

Kedua, berharap dengan sungguh-sungguh, yakni meminta kebaikan secara jelas, berulang-ulang, penuh kerendahan hati dan tidak mudah berputus asa.

Ketiga, berserah kepada hikmah Allah. Dengan kata lain menerima bahwa bentuk pengabulan, waktunya, dan akibat akhirnya berada dalam ilmu Allah.

Keyakinan tanpa penyerahan diri dapat berubah menjadi tuntutan kepada Tuhan. Penyerahan diri tanpa harapan dapat berubah menjadi kepasrahan yang lesu. Adapun doa Islam memadukan keduanya: harapan yang kuat dan kehambaan yang dalam.

Allah berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A‘raf: 55)

Kata "تَضَرُّعًا" di sini menggambarkan kerendahan, kebutuhan dan ketundukan. Sedangkan larangan melampaui batas juga mencakup sikap yang tidak beradab dalam berdoa: meminta kemaksiatan, memutus silaturahmi, memaksakan rincian yang tidak pantas, atau memosisikan Allah seolah harus mengikuti kehendak hamba.

Baca juga: Menghidupkan Kembali Makna Syukur dalam Perspektif Alquran dan Sains Modern

Kembali Menjadi Hamba

Fenomena meninggalkan bahasa doa demi afirmasi “sudah” perlu ditanggapi secara proporsional. Tidak setiap afirmasi salah. Tidak setiap kalimat positif bertentangan dengan tauhid. Dalam batas tertentu, afirmasi dapat menjadi sarana psikologis untuk membangun keberanian, kedisiplinan, dan cara berpikir yang sehat.

Namun demikian, afirmasi tidak boleh menggantikan doa. Motivasi tidak boleh mengambil alih kedudukan ibadah. Optimisme tidak boleh berubah menjadi ilusi penguasaan takdir. Keyakinan tidak boleh bergeser menjadi kehendak “mengatur” Allah.

Seorang mukmin boleh berkata: “Saya yakin Allah Mahakuasa menyembuhkan, maka saya berdoa dan berobat.” Di saat yang sama, tidak patut ia berkata: “Saya sudah pasti sembuh karena ucapan saya menciptakan kenyataan.”

Seorang mukmin boleh berkata: “Dengan pertolongan Allah, saya akan bekerja keras dan berharap memperoleh rezeki yang halal.” Tetapi tidak patut berkata: “Saya pasti kaya karena alam semesta akan mengikuti frekuensi pikiran saya.”

Aktivitas berdoa jangan disalahpahami. Doa tidak menjadikan manusia lemah. Doa justru membebaskannya dari kesombongan semu. Artinya, tetap bekerja sekuat tenaga tanpa menyembah pekerjaannya; memiliki rencana tanpa menuhankan rencananya; mengejar keberhasilan tanpa merasa dirinya penguasa hasil.

Harus dipahami, bahwa kehormatan tertinggi manusia bukan ketika ia merasa mampu menentukan segala sesuatu, tetapi ketika ia sadar kepada siapa ia harus memohon. Tidak lain, adalah hanya bergantung kepada Allah.

Berdoalah dengan yakin, tetapi jangan mengatur Allah. Berharaplah setinggi-tingginya, tetapi tetaplah sebagai hamba. Berikhtiarlah sepenuh tenaga, lalu serahkan hasilnya kepada Dia Yang Mahatahu. Sebab doa bukanlah tanda keraguan. Doa adalah pengakuan paling jernih bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.