Berdoalah Saja, Jangan Mengatur Allah!
Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital —
Ada kecenderungan baru dalam sebagian konten motivasi keagamaan: seseorang
dianjurkan tidak lagi menggunakan kata “semoga”, “mudah-mudahan”, “mohon”,
atau “Ya Allah, berikanlah…”. Kata-kata tersebut dianggap menunjukkan
keraguan.
Sekilas, ungkapan
demikian tampak positif, penuh optimisme dan keyakinan. Namun, ketika afirmasi
dijadikan alasan untuk meninggalkan bahasa doa, persoalannya bukan lagi sekadar
pilihan diksi. Ia telah menyentuh wilayah teologi, yakni bagaimana seorang
hamba memandang dirinya, Allah, kehendak, takdir, dan hubungan antara ikhtiar
dengan kekuasaan Tuhan.
Islam tidak melarang
optimisme. Islam justru mengajarkan “husnudzon billah” atau prasangka
baik kepada Allah, keyakinan, harapan, semangat, dan sikap pantang menyerah.
Islam juga menegaskan
bahwa manusia tetaplah hamba. Ia berharap, berusaha dan memohon; bukan mendikte
Tuhan, memastikan sesuatu yang belum Allah tetapkan, atau menganggap
kehendaknya pasti menjadi kenyataan hanya karena terus diucapkan.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara berdoa dengan penuh keyakinan dan merasa dapat menentukan keputusan Allah melalui kekuatan pikiran dan ucapan.
Baca juga: Sebuah Refleksi ketika Kehormatan Diukur dengan Kekayaan
Doa Bukan Sekadar
Meminta, tetapi Penghambaan
Allah berfirman:
وَقَالَ
رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ
عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Tuhanmu berfirman:
‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkan untukmu.’ Sesungguhnya
orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk ke
dalam Jahanam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60)
Perhatikan susunan
ayat tersebut. Pada bagian awal Allah mengatakan, “Berdoalah kepada-Ku,” tetapi
pada bagian selanjutnya Allah menyebut orang yang tidak mau berdoa sebagai
orang yang menyombongkan diri dari “beribadah kepada-Ku.” Hal ini menunjukkan
bahwa doa adalah ibadah.
Imam at-Thabari menjelaskan bahwa kata اُدْعُونِي"" mengandung makna: sembahlah Aku dan ikhlaskanlah ibadah hanya kepada-Ku. Sedangkan "أَسْتَجِبْ لَكُمْ" bermakna Allah menjawab doa, mengampuni, dan merahmati hamba-Nya. Dengan demikian, doa menggabungkan permintaan, tauhid, keikhlasan, dan pengakuan terhadap kekuasaan Allah.
Imam al-Qurthubi juga
menegaskan, bahwa hal ini menunjukkan, sejatinya doa adalah ibadah. Yang jelas,
mayoritas mufasir memahami ayat tersebut sebagai perintah untuk menauhidkan dan
menyembah Allah. Di samping itu, doa dalam ayat ini juga mencakup dzikir dan
permohonan seorang hamba kepada-Nya.
Nabi Muhammad SAW
bersabda:
الدُّعَاءُ
هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa adalah
ibadah.” (HR Abu Dawud)
Kemudian disebutkan
dalam riwayat lengkap hadis tersebut, bahwa beliau lalu membaca surat Ghafir
ayat 60.
Hadis tersebut tidak
hanya mengatakan bahwa doa merupakan bagian dari ibadah, tetapi menggunakan
bentuk pembatasan. Seolah-olah doa merupakan inti yang memperlihatkan hakikat
seluruh ibadah. Sebab ketika berdoa, seorang manusia sedang mengakui beberapa
perkara sekaligus: dirinya lemah, Allah Mahakuasa; dirinya membutuhkan, Allah
Mahakaya; dirinya tidak mengetahui masa depan, Allah Maha Mengetahui; dirinya
tidak memiliki hasil, Allah-lah yang menentukannya.
Karena itu, meninggalkan
doa bukanlah tanda kemandirian spiritual. Sebaliknya, justru hal itu dapat
menjadi tanda bahwa manusia mulai kehilangan kesadaran akan kehambaannya.
Nabi SAW bersabda:
مَنْ
لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ
“Barang siapa tidak
meminta kepada Allah, Allah murka kepadanya.” (HR Tirmidzi)
Manusia biasanya merasa terganggu apabila terus-menerus dimintai sesuatu. Allah justru murka apabila hamba-Nya enggan meminta. Sebab keengganan meminta dapat mengandung rasa cukup dari Allah, sedangkan permohonan adalah pernyataan tauhid dan kefakiran seorang hamba.
Baca juga: Mengobati Krisis Spiritualitas Umat di Era Digital
Kedekatan Allah
Dirasakan dalam Doa
Allah berfirman:
وَإِذَا
سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا
دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku
mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka
hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka
memperoleh petunjuk.” (QS. Al-Baqarah:
186)
Dalam banyak ayat,
ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, jawabannya didahului dengan
kata "قُلْ", yang berarti “Katakanlah.” Namun, dalam ayat tentang doa ini, Allah tidak
mengatakan, “Katakanlah kepada mereka bahwa Aku dekat.” Allah langsung
menyatakan "فَإِنِّي
قَرِيبٌ", yang
berarti: “Sesungguhnya Aku dekat.” Sebagian ulama melihat susunan ini sebagai
isyarat kelembutan: antara seorang hamba dan Allah dalam doa tidak diperlukan
perantara yang menghalangi kedekatan itu.
At-Thabari menafsirkan
kedekatan tersebut dengan makna bahwa Allah mendengar doa para hamba dan
menjawab permohonan orang yang memohon kepada-Nya. Sementara Imam al-Qurthubi
menjelaskan kedekatan itu sebagai kedekatan melalui ilmu, pengabulan, dan
karunia-Nya—bukan kedekatan fisik yang menyerupakan Allah dengan makhluk.
Karena itu, doa bukanlah laporan kepada Allah tentang sesuatu yang belum diketahui-Nya. Allah telah mengetahui kebutuhan kita sebelum kita mengucapkannya. Doa adalah jalan yang Allah tetapkan agar seorang hamba memasuki pintu kedekatan, penghambaan, tawakal, dan pendidikan rohani.
Baca juga: Tafsir Peradaban atas Doa Nabi Nuh
Bahasa Doa Para
Nabi
Alquran mengajarkan
doa melalui lisan para nabi dan orang-orang saleh. Bahasa yang mereka gunakan
adalah bahasa permohonan, kerendahan hati dan penyerahan diri.
Nabi Adam AS dan Siti Hawa
berdoa, sebagaimana diabadikan dalam Alquran:
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ
مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Wahai Tuhan kami,
kami telah menzalimi diri kami. Apabila Engkau tidak mengampuni dan merahmati
kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A‘raf: 23)
Nabi Ibrahim AS berdoa:
رَبِّ هَبْ لِي
مِنَ الصَّالِحِينَ
“Wahai Tuhanku,
anugerahkanlah kepadaku keturunan yang termasuk orang-orang saleh.” (QS. As-Shaffat: 100)
Nabi Zakariyya AS
berdoa:
رَبِّ لَا
تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
“Wahai Tuhanku,
janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah sebaik-baik
yang mewarisi.” (QS. Al-Anbiya’:
89)
Nabi Musa AS berdoa:
رَبِّ اشْرَحْ
لِي صَدْرِي. وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي
“Wahai Tuhanku,
lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku.” (QS. Thaha: 25–26)
Rasulullah SAW sendiri
diajarkan berdoa, sebagaimana disebutkan dalam Alquran:
وَقُلْ رَبِّ
زِدْنِي عِلْمًا
“Katakanlah: Wahai
Tuhanku, tambahkanlah ilmuku.”
(QS. Taha: 114)
Tidak satu pun dari
para nabi itu merasa bahwa kata “berikanlah”, “ampunilah”, “mudahkanlah” atau
“tambahkanlah” merupakan tanda keraguan. Justru kata-kata permohonan itulah
yang menunjukkan kedudukan mereka sebagai hamba Allah.
Maka mengatakan,
“Jangan lagi menggunakan kata semoga, mudah-mudahan, atau meminta kepada Allah
karena itu menunjukkan keraguan,” tidak sejalan dengan bahasa doa Alquran. Bukankah
para Nabi adalah manusia yang paling kuat keyakinannya, tetapi mereka tetap
meminta, berharap, menangis, merendahkan diri dan menyerahkan hasil kepada
Allah.
Jadi, pada hakikatnya, memohon bukanlah berarti ragu. Sebaliknya, memohon dalam doa berarti memahami kedudukan diri di hadapan Allah.
Baca juga: Sebuah Renungan: Inflasi, Ketamakan, dan Hilangnya Keberkahan
Keyakinan dalam Doa
Tidak Berarti Mengatur Hasil
Islam memang
mengajarkan agar seseorang berdoa dengan keyakinan, bukan dengan hati yang
bermain-main. Namun, keyakinan tersebut adalah keyakinan bahwa Allah mendengar,
Mahakuasa, dan akan memberikan yang terbaik—bukan keyakinan bahwa Allah wajib
memberikan persis sebagaimana keinginan manusia.
Pengabulan doa berada
di bawah ilmu dan hikmah Allah. Seorang hamba boleh meminta dengan
sungguh-sungguh, tetapi ia tidak memiliki hak untuk menentukan bentuk, waktu
dan cara pengabulannya.
Rasulullah SAW bersabda
bahwa setiap muslim yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan
pemutusan silaturahmi akan memperoleh salah satu dari tiga perkara:
إِمَّا أَنْ
يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ،
وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا
“Allah menyegerakan
permohonannya, menyimpannya untuknya di akhirat, atau menghindarkan darinya
keburukan yang sebanding dengannya.”
Mendengar sabda
tersebut, para sahabat berkata, “Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.” Rasulullah
SAW lalu menjawabnya, "اللهُ أكثرُ", artinya: “Karunia Allah itu lebih banyak.”
Jelas tidak ada doa
yang sia-sia. Akan tetapi, terkabulnya doa tidak selalu identik dengan
diterimanya seluruh keinginan dalam bentuk yang kita tentukan sendiri.
Seorang anak mungkin meminta benda berbahaya karena mengira benda itu baik. Orang tua yang menyayanginya tidak memberikannya. Penolakan tersebut bukan karena orang tua tidak mendengar, melainkan karena orang tua mengetahui sesuatu yang belum diketahui anak. Demikian pula seorang hamba. Ia mengetahui apa yang diinginkannya, tetapi Allah mengetahui apa yang sesungguhnya dibutuhkannya.
Baca juga: Nabi Ibrahim dan Keabadian Nama di Tengah Budaya Viral
Afirmasi Positif
Dalam psikologi,
istilah “self-affirmation” memiliki makna yang lebih khusus daripada
sekadar mengulang kalimat positif. Ia merujuk pada upaya meneguhkan nilai-nilai
diri yang penting agar seseorang tidak mudah defensif ketika menghadapi ancaman
terhadap citra dirinya.
Riset menunjukkan
bahwa intervensi semacam ini, dalam kondisi tertentu, dapat memberi manfaat
kecil hingga moderat bagi kesejahteraan psikologis dan perubahan perilaku.
Namun hasilnya bergantung pada konteks, bentuk intervensi, dan kondisi
individu; ia bukan kekuatan metafisik yang otomatis mengubah kenyataan.
Karena itu, kalimat
seperti berikut dan sejenisnya, pada dasarnya dapat diterima: “Dengan
pertolongan Allah, saya akan terus belajar.” Kalimat demikian ini berfungsi
sebagai motivasi, penguatan mental, dan pengingat tanggung jawab.
Persoalan muncul
apabila afirmasi berubah menjadi keyakinan bahwa pikiran manusia memiliki daya
kosmis yang pasti menarik kekayaan, kesembuhan atau keberhasilan; atau bahwa
alam semesta akan memenuhi apa pun yang terus divisualisasikan dan diucapkan
seseorang.
Lebih bermasalah lagi
apabila “alam semesta” ditempatkan sebagai kekuatan yang memberi rezeki,
mengatur nasib dan mengabulkan permohonan.
Dalam tauhid Islam,
yang menciptakan sebab dan akibat bukanlah afirmasi, frekuensi pikiran atau
alam semesta. Semua itu adalah makhluk. Sekali lagi harus ditegaskan, bahwa yang
menentukan hasil hanyalah Allah SWT. Sebagaimana ditegaskan dalam firman
berikut:
وَمَا
تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Kamu tidak dapat
menghendaki sesuatu kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 29)
Namun demikian, memang afirmasi dapat menjadi sarana mengelola pikiran, tetapi ia tidak boleh berubah menjadi akidah tentang siapa yang mengatur kenyataan. Optimisme diperintahkan, tetapi mengultuskan pikiran sendiri harus dihindari.
Baca juga: Keteladanan Karakter Nabi Ibrahim sebagai Kompas Hidup di Tengah Arus Modernisasi
Doa Tidak
Bertentangan dengan Ikhtiar
Ada yang beranggapan
bahwa terlalu banyak berdoa membuat manusia pasif. Pandangan ini tentu keliru.
Dalam Islam, doa bukan pengganti usaha, sebagaimana usaha bukan pengganti doa.
Allah memerintahkan
Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin untuk berusaha, bermusyawarah, bekerja,
berobat, menyiapkan kekuatan, dan mengambil sebab-sebab kehidupan. Lalu setelah
keputusan diambil, Allah berfirman:
فَإِذَا
عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
“Apabila engkau
telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Urutannya adalah tekad
dan ikhtiar, kemudian tawakal. Namun tawakal itu sendiri telah menyertai
seluruh proses. Misalnya, sebelum bekerja seseorang memohon bimbingan; ketika
bekerja ia meminta pertolongan; setelah bekerja ia menyerahkan hasil.
Ibn al-Qayyim menyebut
doa sebagai salah satu obat yang paling bermanfaat dan sebagai sesuatu yang
dapat menghadapi bala: mencegahnya, mengangkatnya, atau meringankannya dengan
izin Allah. Namun beliau juga mengingatkan bahwa pengaruh doa dapat melemah
karena kelemahan hati, kandungan doa yang tidak patut, atau adanya penghalang
bagi pengabulannya.
Artinya, doa bukan
mantra yang bekerja secara mekanis. Doa adalah sebab syar‘i yang berjalan di
bawah kehendak Allah, sebagaimana obat, pekerjaan dan pendidikan merupakan
sebab-sebab kauni, atau alamiah.
Dengan kata lain, orang yang sakit, perlu berdoa dan berobat; orang ingin mendapatkan harta yang cukup, maka harus berdoa dan bekerja; orang ingin berilmu, perlu berdoa dan belajar; orang ingin memiliki keturunan saleh, perlu berdoa dan mendidik. Yang keliru ialah berdoa tanpa ikhtiar, padahal ikhtiar mampu dilakukan. Namun lebih keliru lagi apabila seseorang berikhtiar lalu merasa tidak membutuhkan doa.
Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global
Jangan Terburu-buru
Menilai Doa Tidak Dikabulkan
Salah satu penyakit
spiritual manusia modern adalah tuntutan serba cepat. Pesan harus segera
dibalas, barang harus tiba pada hari yang sama, target harus tercapai sesuai
jadwal. Pola pikir instan ini kemudian terbawa ke dalam doa: setelah berdoa
beberapa kali, seseorang bertanya, “Mengapa belum terjadi?”
Rasulullah SAW
bersabda:
يُسْتَجَابُ
لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
“Doa salah seorang
di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa dengan
mengatakan: Aku telah berdoa, tetapi doaku tidak dikabulkan.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat Imam Muslim,
diterangkan bahwa seseorang terus berkata telah berdoa tetapi belum melihat
jawaban, lalu ia merasa letih dan meninggalkan doa.
Yang jelas, doa bukanlah transaksi bisnis: manusia mengucapkan kalimat tertentu lalu Allah harus memberikan hasil sesuai batas waktu manusia. Doa adalah ibadah. Bahkan ketika sesuatu yang diminta belum diberikan, kegiatan memohon itu sendiri mendekatkan seseorang kepada Allah, melembutkan hati, serta mendidiknya dalam sabar dan tawakal.
Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa
Antara Yakin,
Berharap, dan Berserah Diri
Sikap seorang muslim
dalam berdoa yang sepatutnya, dapat dirangkum dalam tiga unsur, sebagai
berikut:
Pertama, yakin kepada Allah. Artinya yakin bahwa Allah
mendengar, mengetahui, berkuasa dan tidak pernah menyia-nyiakan doa hamba-Nya.
Kedua, berharap dengan sungguh-sungguh, yakni meminta
kebaikan secara jelas, berulang-ulang, penuh kerendahan hati dan tidak mudah
berputus asa.
Ketiga, berserah kepada hikmah Allah. Dengan kata
lain menerima bahwa bentuk pengabulan, waktunya, dan akibat akhirnya berada
dalam ilmu Allah.
Keyakinan tanpa
penyerahan diri dapat berubah menjadi tuntutan kepada Tuhan. Penyerahan diri
tanpa harapan dapat berubah menjadi kepasrahan yang lesu. Adapun doa Islam
memadukan keduanya: harapan yang kuat dan kehambaan yang dalam.
Allah berfirman:
ادْعُوا
رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada
Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A‘raf: 55)
Kata "تَضَرُّعًا" di sini menggambarkan kerendahan, kebutuhan dan ketundukan. Sedangkan larangan melampaui batas juga mencakup sikap yang tidak beradab dalam berdoa: meminta kemaksiatan, memutus silaturahmi, memaksakan rincian yang tidak pantas, atau memosisikan Allah seolah harus mengikuti kehendak hamba.
Baca juga: Menghidupkan Kembali Makna Syukur dalam Perspektif Alquran dan Sains Modern
Kembali Menjadi
Hamba
Fenomena meninggalkan
bahasa doa demi afirmasi “sudah” perlu ditanggapi secara proporsional. Tidak
setiap afirmasi salah. Tidak setiap kalimat positif bertentangan dengan tauhid.
Dalam batas tertentu, afirmasi dapat menjadi sarana psikologis untuk membangun
keberanian, kedisiplinan, dan cara berpikir yang sehat.
Namun demikian, afirmasi
tidak boleh menggantikan doa. Motivasi tidak boleh mengambil alih kedudukan
ibadah. Optimisme tidak boleh berubah menjadi ilusi penguasaan takdir.
Keyakinan tidak boleh bergeser menjadi kehendak “mengatur” Allah.
Seorang mukmin boleh
berkata: “Saya yakin Allah Mahakuasa menyembuhkan, maka saya berdoa dan
berobat.” Di saat yang sama, tidak patut ia berkata: “Saya sudah pasti
sembuh karena ucapan saya menciptakan kenyataan.”
Seorang mukmin boleh
berkata: “Dengan pertolongan Allah, saya akan bekerja keras dan berharap
memperoleh rezeki yang halal.” Tetapi tidak patut berkata: “Saya pasti
kaya karena alam semesta akan mengikuti frekuensi pikiran saya.”
Aktivitas berdoa
jangan disalahpahami. Doa tidak menjadikan manusia lemah. Doa justru
membebaskannya dari kesombongan semu. Artinya, tetap bekerja sekuat tenaga
tanpa menyembah pekerjaannya; memiliki rencana tanpa menuhankan rencananya;
mengejar keberhasilan tanpa merasa dirinya penguasa hasil.
Harus dipahami, bahwa
kehormatan tertinggi manusia bukan ketika ia merasa mampu menentukan segala
sesuatu, tetapi ketika ia sadar kepada siapa ia harus memohon. Tidak lain, adalah
hanya bergantung kepada Allah.
Berdoalah dengan yakin, tetapi jangan mengatur Allah. Berharaplah setinggi-tingginya, tetapi tetaplah sebagai hamba. Berikhtiarlah sepenuh tenaga, lalu serahkan hasilnya kepada Dia Yang Mahatahu. Sebab doa bukanlah tanda keraguan. Doa adalah pengakuan paling jernih bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.