Keteladanan Karakter Nabi Ibrahim sebagai Kompas Hidup di Tengah Arus Modernisasi
Oleh: Khoirul Anam, S.Sos.I
Dosen STIQ Ash-Shiddiq/Pengisi Kajian Alquran dan Tafsir di Hidayatullah Medan Al-Quran Learning Centre
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Bayangkan jika terjadi sebuah kondisi di mana Anda menjadi satu-satunya orang yang berani untuk tegak memegang teguh kebenaran, sementara seluruh dunia di sekitar Anda berjalan ke arah yang sebaliknya?
Sungguh menjadi manusia
yang berani tampil berbeda ketika itu, tentu amat berat. Apalagi jika perbedaan itu menyangkut prinsip
hidup dan keyakinan yang paling mendasar.
Di sinilah Alquran
mengajak kita untuk menengok kembali potret agung Nabi Ibrahim ‘Alaihis
salam. Dalam surat An-Nahl ayat 120, Allah SWT “menggambarkan” sosok
Ibrahim dengan kalimat yang menggetarkan jiwa:
اِنَّ
اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ
الْمُشْرِكِيْنَۙ
“Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan, patuh kepada Allah (dan) menghadapkan diri (hanya kepada-Nya), dan dia tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. An-Nahl: 120 )
Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global
Kata “ummatan”
(اُمَّةً) artinya adalah pemimpin yang
menjadi teladan kebaikan. Kata “qanitan” (قَانِتًا) artinya adalah orang yang
selalu taat dan patuh kepada Allah SWT. Sedangkan kata “hanifa” (حَنِيْفًا) artinya adalah orang yang lurus, atau orang yang
selalu berpaling dari kesesatan menuju kebenaran.
Pada dasarnya, kata “ummatan”
(اُمَّةً) dalam bahasa Arab memiliki
banyak makna tergantung konteksnya, tidak hanya berarti “kaum” atau “umat” saja.
Para ulama tafsir
dan ahli bahasa mengartikan kata “ummatan” dalam ayat ini sebagai “imam”
atau “pemimpin yang menjadi teladan” setidaknya karena alasan-alasan berikut:
1. Karakteristik pribadi
Nabi Ibrahim AS
Nabi Ibrahim
disebut sebagai ummatan/ummah karena beliau mengumpulkan semua sifat
kebaikan yang biasanya ada pada suatu umat (banyak orang) ke dalam dirinya
sendiri.
Beliau adalah
satu-satunya orang yang beriman di bumi ini pada masanya, sehingga beliau
berdiri sendiri sebagai satu “umat” sekaligus menjadi pelopor ditengah-tengah umat
beliau.
Ketika dunia sedang
berada dalam gelap dengan kekafiran, Nabi Ibrahim AS adalah satu “umat” yang
menyala sendirian dengan cahaya imannya.
2. Makna linguistik kata
“ummatan”
Dalam kamus bahasa
Arab klasik, kata “ummatan” (أُمَّة) berasal dari akar kata yang sama dengan “umm”
(ibu) dan “amama” (menuju ke depan/di depan) serta “imam” (pemimpin).
Sesuatu disebut sebagai ummatan/ummah jika hal itu menjadi pusat urusan atau menjadi sasaran tujuan manusia.
3. Ragam arti “ummatan”
dalam Alquran
Kata “ummatan”
dalam Alquran memiliki setidaknya empat makna yang berbeda-beda, sebagai berikut:
Pertama, “ummatan”
yang berarti imam/pemimpin/ teladan/yang diikuti, seperti dalam ayat tentang Nabi Ibrahim yang sedang kita bicarakan sekarang ini, dalam surat An-Nahl ayat 120 berikut:
اِنَّ
اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ
“Sungguh, Ibrahim
adalah seorang “imam” (yang dapat dijadikan teladan), yang patuh kepada Allah.”
Kedua, “ummatan”
yang berarti kelompok manusia. Inilah makna yang paling umum kita pahami, contohnya dalam surat Al-A’raf ayat 159 berikut:
وَمِنْ
قَوْمِ مُوْسٰٓى اُمَّةٌ يَّهْدُوْنَ بِالْحَقِّ وَبِهٖ يَعْدِلُوْنَ
“Di antara kaumnya Musa terdapat suatu “umat” yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan (dasar) kebenaran dan
dengan itu (pula) mereka berlaku adil.”
Ketiga, “ummatan”
yang berarti jangka waktu atau waktu yang lama, sebagaimana contohnya dalam surat Yusuf ayat 45 berikut:
وَقَالَ
الَّذِيْ نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ اُمَّةٍ اَنَا۠ اُنَبِّئُكُمْ
بِتَأْوِيْلِهٖ فَاَرْسِلُوْنِ
“Orang yang
selamat di antara mereka berdua berkata dan teringat (perihal Yusuf) setelah ‘beberapa
waktu lamanya’, Aku akan memberitahukan kepadamu tentang (orang yang pandai)
menakwilkan mimpi itu. Maka, utuslah aku (kepadanya).
Keempat, “ummatan”
yang berarti agama atau keyakinan, seperti contoh dalam surat
Az-Zukhruf ayat 22 berikut:
بَلْ
قَالُوْٓا اِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ
مُّهْتَدُوْنَ
“Bahkan,
mereka berkata, sesungguhnya kami telah mendapati nenek moyang kami menganut
suatu ‘agama/keyakinan’ dan kami hanya mengikuti jejak mereka.”
Jadi, menerjemahkan ayat yang dibahas dalam tulisan ini sebagai “imam” bukan karena kata “ummatan/ummah” berubah menjadi imam, melainkan karena secara fungsi dan kedudukan, memang Nabi Ibrahim AS adalah sosok teladan yang memimpin manusia menuju kebenaran.
Baca juga: Nabi Ibrahim dan Keabadian Nama di Tengah Budaya Viral
4. Integrasi arti
kata “qanitan”
Kata “qanitan”
(قَانِتًا) dan “muthi’an” (مُطِيعًا) memang sama-sama berarti patuh
atau taat. Namun, Alquran memilih kata “qanitan” untuk Nabi Ibrahim
karena maknanya jauh lebih dalam dan spesifik daripada sekadar “muthi’an”.
Berikut adalah
perbedaan mendasar mengapa kata “qanitan” lebih tepat menggambarkan
sosok Nabi Ibrahim:
Pertama, tingkatan ketaatan yang lebih tinggi. Kata “muthi’an”
(مُطِيعًا) berarti patuh melakukan perintah.
Seseorang yang patuh karena takut dihukum atau sekadar menggugurkan kewajiban
sudah bisa disebut “muthi’an”.
Sementara “qanitan”
(قَانِتًا) berarti ketaatan yang
mutlak, konsisten, dan lahir dari rasa cinta serta pengagungan yang luar biasa
kepada Allah SWT, bukan karena takut dihukum atau sekadar menggugurkan
kewajiban.
Kedua, “qanitan” adalah ketaatan disertai kekhusyukan dan ketundukan. Kata “qunut”
(akar kata dari “qanitan”) secara bahasa mengandung unsur ketundukan
jiwa (al-khudhu’) dan ketenangan (as-sukun). Nabi Ibrahim bukan
hanya sekadar patuh menjalankan perintah secara fisik, tetapi hati dan
jiwanya sepenuhnya tunduk dan khusyuk kepada Allah SWT.
Ketiga, “qanitan” adalah ketaatan yang langgeng (istiqamah). Dalam ilmu
bahasa Arab, “qunut” juga berarti “dawamuth-tha’ah” (langgeng
dalam ketaatan).
Nabi Ibrahim AS berada dalam kondisi patuh sepanjang hidupnya tanpa pernah goyah, baik pada saat diperintahkan untuk menyembelih putranya maupun pada saat dilempar ke dalam api yang sedang berkobar membara.
Tetapi kata “muthi’an” tidak selalu menjamin
kelanggengan yang konstan seperti ini.
Keempat, “qanitan” berarti berdiri lama dalam ibadah. Secara istilah
ibadah, “qunut” juga bermakna berdiri lama dalam shalat untuk bermunajat
kepada Allah SWT. Ini menggambarkan kedekatan spiritual Nabi
Ibrahim AS yang sangat intens dengan Sang Maha Pencipta.
Jadi, kata “qanitan” dipilih karena mampu merangkum empat hal sekaligus: ketaatan, kekhusyukan, kelanggengan (istiqamah), dan cinta mendalam yang tidak bisa diwakili oleh kata “muthi’an”.
Baca juga: Millata Ibrahim Hanifa dalam Menghadapi Algoritma Mobokratis
5. Integrasi arti
kata “hanifan”
Kata “hanifan” (حَنِيفًا) secara umum diterjemahkan sebagai “yang
lurus”. Namun, dalam ilmu bahasa Arab (linguistik) dan tafsir Alquran, kata ini
memiliki makna yang sangat unik dan mendalam.
Berikut adalah
penjelasan mengapa kata “hanifan” dilekatkan kepada Nabi Ibrahim:
Pertama, “hanifan”
berarti sengaja berpaling (hanafa). Secara bahasa, kata “hanafa”
(حَنَفَ) justru berarti condong atau
berpaling.
Nabi Ibrahim
disebut “hanif” karena beliau secara sadar dan tegas berpaling dari
kesesatan (dari penyembahan berhala kaumnya) menuju kebenaran tauhid (hanya
menyembah Allah SWT).
Lurus (hanif) yang
dimaksud di sini adalah kelurusan yang kokoh karena berhasil membelokkan diri
dari segala bentuk penyimpangan yang merajalela di sekitarnya.
Kedua, “hanifan” berarti berdiri sendiri di jalan yang benar. Ketika
semua orang di bumi pada masa itu condong kepada perbuatan syirik dan perilaku maksiat, Nabi Ibrahim AS justru
“condong” (hanif) ke arah yang sebaliknya. Beliau mengambil jalan yang berbeda dari
mayoritas masyarakat demi mempertahankan kebenaran yang hakiki.
Ketiga, “hanifan” berarti ikhlas dan memurnikan agama. Dalam tafsir Alquran,
kata “hanif” selalu bergandengan dengan konsep “takhlishul ibadah” (memurnikan ibadah). Artinya, Nabi Ibrahim
beragama dengan sangat bersih, ikhlas, dan tanpa ada campuran tradisi syirik
sedikit pun. Itulah mengapa di akhir ayat An-Nahl 120 di atas ditegaskan: “… dan dia tidak termasuk orang-orang yang
mempersekutukan (Allah).” Jadi, beliau tidak pernah sekali pun menjadi
bagian dari orang-orang yang musyrik.
Mungkin di antara
kita ada yang bertanya, mengapa Allah SWT tidak menggunakan kata “mustaqiman”
yang juga berarti lurus? Begini penjelasan ringkasnya:
Kata “mustaqim”
berarti lurus jalannya (seperti jalan tol yang lurus). Sementara “hanif” itu artinya
lurus dalam bersikap, karena ia harus kuat dalam membelokkan ego pribadi,
meninggalkan kenyamanan keluarga, dan keluar dari tradisi kaumnya yang
menyimpang demi menuju keyakinan tauhid.
Jadi, kata “hanif”
menggambarkan sosok Nabi Ibrahim AS yang merdeka secara prinsip, berani
berhijrah dari kebatilan menuju kebenaran ilahi, dan fokus total hanya kepada
Allah SWT.
Senada dengan uraian
di atas, dalam Tafsir
Jalalain kata “ummatan” ini dimaknai sebagai
berikut:
(أُمَّةً)
إمَامًا قُدْوَةً جَامِعًا لِخِصَالِ الْخَيْرِ
“Kata ‘ummatan’ artinya (bahwa Ibrahim itu) sebagai imam (pemimpin) yang menjadi teladan,
yang terkumpul seluruh sifat-sifat kebaikan di dalam dirinya.”
Imam Jalaluddin menegaskan alasan mengapa Nabi Ibrahim yang hanya seorang diri disebut sebagai “ummatan” (umat), tidak lain karena beliau adalah “miniatur” kebaikan yang ada di dalam keseluruhan umat.
Baca juga: Menyelami Makna Hakiki Hijrah dalam Kehidupan Modern
Sifat-sifat mulia yang biasanya tersebar di satu bangsa yang besar, semuanya terkumpul lengkap di dalam diri Nabi Ibrahim AS seorang diri. Ketika seluruh penduduk negerinya bahkan keluarganya sendiri musyrik, hanya Ibrahim AS yang tetap tegar menegakkan tauhid.
Bahkan demi
menegakkan tauhid dalam dirinya, Ibrahim AS tidak takut untuk dibakar di dalam kobaran api. Bahkan demi tauhid pula, beliau rela menjalankan perintah Allah SWT
yang sangat ekstrem, yaitu menyembelih putranya sendiri, Ismail AS, yang tidak
lain hal itu untuk menguji ketauhidan beliau.
Ternyata beliau
berhasil membuktikan itu, maka Ismail pun diselamatkan oleh Allah, diganti
dengan domba kurban. Lalu dari keluarga beliaulah kemudian lahir manusia-manusia
pilihan, yaitu para nabi dan rasul.
Adapun ketika
menjelaskan makna “hanifan”, Tafsir Jalalain mengartikannya
sebagai berikut:
مَائِلًا إِلَى الدِّينِ الْقَيِّمِ
“Yaitu orang yang
cenderung/berpaling kepada agama yang lurus (Islam).”
Tentu makna ini sangat cocok dengan pembahasan linguistik kita di atas.
Imam Jalaluddin menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim
disebut “hanif” karena beliau dengan sengaja membelokkan arah hidupnya,
keluar dari agama mayoritas
kaumnya yang menyembah berhala,
dan mencondongkan diri sepenuhnya kepada agama yang lurus dan kokoh.
Tafsir Al-Jalalain nampaknya berhasil merangkum profil Nabi Ibrahim dalam ayat ini dengan sangat
padat: Bahwa beliau adalah sosok atau figur pemimpin teladan karena kebaikannya yang sempurna, hamba
yang sangat patuh kepada Allah swt
dalam menjalankan perintah-Nya yang paling ekstrem sekalipun, dan manusia yang punya prinsip yang sangat kokoh karena berani berpaling dari kesesatan mayoritas orang demi menuju
kebenaran Tauhid.
Sedangkan Tafsir
Al-Muyassar menjelaskan ayat yang disebutkan di awal tulisan ini sebagai
berikut:
إِنَّ
إِبْرَاهِيمَ كَانَ إِمَامًا فِي الْخَيْرِ، وَكَانَ طَائِعًا خَاضِعًا لِلَّهِ،
لَا يَمِيلُ عَنْ دِينِ الْإِسْلَامِ مُوَحِّدًا لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكٍ بِهِ
“Sungguh, Ibrahim
dahulu adalah seorang pemimpin dalam kebaikan, dan beliau adalah seorang yang taat
lagi tunduk kepada Allah, tidak berpaling dari agama Islam, senantiasa memurnikan
tauhid kepada Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
وَكَانَ
شَاكِرًا لِنِعَمِ اللَّهِ عَلَيْهِ، اخْتَارَهُ اللَّهُ لِرِسَالَتِهِ،
وَأَرْشَدَهُ إِلَى الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ، وَهُوَ الْإِسْلَامُ
“Beliau juga seorang yang bersyukur atas
nikmat-nikmat Allah swt
kepadanya. Sehingga Allah swt berkenan memilihnya untuk mengemban risalah-Nya, dan menunjukinya ke jalan yang
lurus, yaitu Islam.”
وَآتَيْنَاهُ
فِي الدُّنْيَا نِعْمَةً حَسَنَةً مِنَ الثَّنَاءِ عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ
وَالْقُدْوَةِ بِهِ، وَالْوَلَدِ الصَّالِحِ، وَإِنَّهُ عِنْدَ اللَّهِ فِي
الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ أَصْحَابِ الْمَنَازِلِ الْعَالِيَةِ
“Dan Kami berikan kepadanya di dunia kenikmatan yang baik, berupa pujian yang harum dari generasi-generasi setelahnya, dijadikan beliau sebagai teladan, dan dianugerahi anak yang shaleh (Ismail & Ishak). Dan sesungguhnya dia di sisi Allah, di akhirat kelak benar-benar termasuk dalam kategori orang-orang saleh yang memiliki kedudukan yang tinggi.”
Baca juga: Shalat Kita: Sebuah Rutinitas “Menggugurkan Kewajiban” atau “Dialog yang Dirindukan”?
Dalam tafsir ini,
setidaknya profil Nabi Ibrahim dibagi ke dalam tiga fase utama, yakni sebagai
berikut:
Pertama, karakter spiritual Nabi Ibrahim. Jadi, Nabi Ibrahim adalah pelopor gerakan tauhid yang mengumpulkan seluruh inti kebaikan dalam dirinya.
Nabi Ibrahim AS juga
merupakan sosok yang taat lagi
tunduk kepada Allah SWT. Ketaatannya
bukan sekadar formalitas yang hanya tampak secara dhahir belaka, melainkan ketaatan
yang lahir dari kepasrahan dan
ketundukan jiwa (khadhi’ah) yang sangat mendalam.
Selain itu, Nabi Ibrahim adalah sosok yang telah mengunci
arah hidupnya hanya pada Islam (tauhid) dan menutup rapat semua celah
kesyirikan.
Kedua, balasan Allah SWT di dunia. Karena beliau adalah orang yang senantiasa bersyukur, maka Allah membalas
dengan memilihnya sebagai rasul untuk mengemban misi risalah-Nya dan
membimbingnya selalu di jalan yang lurus.
Kenikmatan duniawi yang didapatkan oleh Nabi Ibrahim AS bisa
dilihat dalam tiga hal konkret:
1. Nama yang baik (الثَّنَاءِ
عَلَيْهِ)
Artinya, Nabi Ibrahim
dihormati dan dipuji oleh tiga agama besar yang ada di dunia hingga hari ini.
Keagungan beliau diakui lintas
agama. Semua agama samawi (Islam, Kristen, Yahudi) mengklaim kedekatan dengan
Nabi Ibrahim dan menjadikannya sebagai teladan spiritual mereka.
2. Menjadi “role model” (وَالْقُدْوَةِ
بِهِ)
Artinya Ibrahim menjadi kiblat keteladanan iman manusia sedunia.
3. Keturunan yang saleh (وَالْوَلَدِ
الصَّالِحِ)
Artinya, dari Nabi Ibrahim
inilah, lahir keturunan yang saleh seperti Nabi Ismail dan Nabi Ishaq, yang
dari merekalah lahir para nabi dan rasul yang telah menjadi manusia-manusia pengubah sejarah.
Ketiga, kedudukan di akhirat (jaminan masa depan). Jadi, Nabi Ibrahim AS mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, yang mana kelak di akhirat, beliau akan menempati derajat tertinggi di surga bersama para nabi yang tergolong dalam barisan ulul ‘azmi karena kesalehannya yang sempurna selama hidup di dunia.
Baca juga: Mengapa Nabi Tidak Pernah Terjebak dalam Ledakan Emosi?
Refleksi Keteladanan Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim AS adalah sosok “imamul muwahhidin”, yakni pemimpin orang-orang yang bertauhid (the father of monotheism) secara sempurna.
Karena totalitas iman, pengorbanan, dan rasa syukurnya yang tak putus atas nikmat Allah SWT, beliau dibalas dengan kemuliaan, dipilih menjadi Rasul kekasih Allah di dunia, dan dianugerahi nama yang baik.
Nabi Ibrahim AS juga
dijuluki sebagai “khalilullah” (kekasih Allah). Ini adalah gelar
tertinggi yang belum pernah diberikan kepada manusia di bumi.
Nabi Ibrahim mendapatkan
nama baik tersebut secara langsung dari langit, sebagaimana ditegaskan dalam surat
An-Nisa’ ayat 125, yang artinya: “…Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi
kesayangan-Nya (khalila).”
Melalui catatan
emas kehidupan Nabi Ibrahim ini, kita diajarkan oleh Allah SWT sebuah pelajaran
mahal, bahwa kebenaran tidak diukur dari seberapa banyak orang yang bersama
kita, melainkan dari seberapa setianya kita berdiri di atas petunjuk Allah SWT.
Di zaman modern ini, ketika arus modernisasi, tren zaman, dan opini publik sering kali menggoyang nilai-nilai keimanan kita, maka profil Ibrahim AS seharusnya bisa menjadi kompas spiritual yang kita jadikan penunjuk jalan.
Baca juga: Mengapa Rasulullah SAW Selalu Rindu Shalat?
Meskipun kita bukan seorang nabi, tetapi kita semua memiliki kesempatan untuk meniru dan meneladani karakter para nabi, termasuk dalam hal ini meneladani Nabi Ibrahim AS.
Mari kuatkan iman,
tingkatkan kualitas spiritual melalui dzikir dan ibadah. Perluaslah wawasan dengan
tidak berhenti belajar, agar kita bisa menjadi pribadi yang mampu
bertahan dari gerusan modernisasi, syukur-syukur kalau kita juga bisa memberi dampak, melalui peran kita menjadi penyebar, penyeru
maupun pengajar kebaikan di
lingkungan kita.
Jadilah manusia yang
berjiwa “ummatan”—yang meskipun mungkin kita berjalan sendirian, tetapi bobot
keimanan kita tak tergoyahkan, sebab
di era digital sekarang ini, setiap gerakan kita bisa dengan mudah menggema ke
seantero dunia. Maka jadilah teladan kebaikan.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua di atas millah (agama) Ibrahim AS yang lurus (hanif). Amin.