Millata Ibrahim Hanifa dalam Menghadapi Algoritma Mobokratis
Oleh: Ismail Fahmi PhD, Wakil Ketua Komisi Infokomdigi MUI Bidang Riset dan Digital
Foto: freepik
Sebuah refleksi tauhid di era disinformasi, polarisasi, dan ledakan emosi digital
Jakarta, MUI Digital— Di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat pesat, umat manusia—termasuk umat Islam—tidak hanya dihadapkan pada kemudahan akses informasi, tetapi juga pada tantangan baru dalam menjaga kejernihan iman dan akal sehat.
Salah satu tantangan utama tersebut adalah munculnya apa yang dapat disebut sebagai algoritma mobokratis, yakni sistem digital yang bekerja dengan mengedepankan reaksi massa, emosi kolektif, dan dorongan instingtif, alih-alih pertimbangan kebenaran dan kemaslahatan.
Dalam konteks ini, saya menggunakan frase yang digunakan Alquran dalam surat an-Nahl ayat 123 yaitu ‘millata Ibrahim hanifa’—jalan atau agama lurus Nabi Ibrahim—menawarkan kerangka spiritual dan etis yang sangat relevan untuk direnungkan kembali.
Api digital dan keteguhan tauhid
Kisah Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh api Namrud merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah kenabian. Peristiwa ini sering dipahami sebagai mukjizat fisik. Namun, lebih dari itu, ia juga merupakan simbol keteguhan tauhid dalam menghadapi tekanan sistemik dan psikologis yang luar biasa.
Api yang dihadapi Nabi Ibrahim bukan sekadar kobaran fisik, melainkan manifestasi kekuasaan, tekanan massa, dan ketakutan kolektif yang dibangun oleh penguasa dan masyarakat di zamannya. Ibrahim berada di tengah api, tetapi tidak ikut terbakar, karena hatinya tidak tunduk kepada selain Allah SWT.
Dalam konteks hari ini, api tersebut menjelma dalam bentuk yang berbeda: banjir informasi, flame war, ujaran kebencian, dan konten provokatif yang dirancang untuk memancing kemarahan, ketakutan, dan polarisasi.
Algoritma digital sering kali memprioritaskan konten semacam ini karena terbukti meningkatkan keterlibatan publik, meskipun berpotensi merusak nalar, persaudaraan, dan ketenteraman sosial.
Millata Ibrahim mengajarkan bahwa keberimanan bukan diukur dari seberapa keras seseorang bereaksi, tetapi dari kemampuannya menjaga ketenangan, keadilan, dan kejernihan sikap di tengah situasi yang memanas. Tidak semua api harus dibalas dengan api, dan tidak semua provokasi harus direspons dengan kemarahan.
Pengorbanan Ismail dan etika cinta yang berjarak
Ujian Nabi Ibrahim tidak berhenti pada api. Ujian berikutnya justru datang melalui sesuatu yang sangat dicintainya: putranya, Ismail. Perintah berkurban bukanlah perintah untuk meniadakan cinta, melainkan untuk memastikan bahwa cinta tersebut tidak berubah menjadi bentuk penghambaan selain kepada Allah SWT.
Di era digital, kecintaan manusia sering kali melekat pada figur, kelompok, ide, atau narasi tertentu. Ketika kecintaan ini tidak disertai jarak kritis, ia dapat berubah menjadi fanatisme, pembelaan membabi buta, dan penolakan terhadap kebenaran yang tidak sejalan dengan preferensi pribadi atau kelompok.
Semangat kurban Ibrahim mengajarkan bahwa iman yang sehat adalah iman yang mampu mengendalikan cinta, bukan dikendalikan olehnya. Membela sesuatu yang dicintai tidak boleh mengorbankan keadilan, akal sehat, dan nilai-nilai kebenaran. Dalam perspektif tauhid, tidak ada figur, kelompok, atau narasi yang kebal dari koreksi.
Algoritma massa dan tantangan moral umat
Algoritma mobokratis bekerja dengan memanfaatkan dua dorongan utama manusia: ketakutan dan keterikatan emosional. Ketakutan akan kehilangan pengakuan, posisi sosial, atau rasa aman sering kali membuat seseorang mengikuti arus mayoritas tanpa pertimbangan matang.
Di sisi lain, keterikatan emosional yang berlebihan dapat membuat seseorang sulit menerima kritik, bahkan ketika kritik tersebut bertujuan untuk kebaikan.
Di sinilah millata Ibrahim hanifa berfungsi sebagai kompas moral. Ia bukan sekadar warisan teologis, tetapi juga metodologi etik: berani berpikir jernih, berani bersikap adil, dan berani menjaga tauhid di tengah tekanan sosial.
Jalan ini bukan jalan yang ditentukan oleh kerumunan, bukan pula oleh algoritma, melainkan oleh kesadaran akan kehadiran Allah SWT sebagai pusat orientasi hidup.
Renungan
Dalam dunia yang semakin bising oleh opini, emosi, dan polarisasi, umat Islam dituntut untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penjaga nilai. Millata Ibrahim Hanifa mengingatkan bahwa keteguhan iman bukanlah hasil dari penghindaran terhadap realitas, melainkan dari kemampuan menghadapi realitas tanpa kehilangan prinsip.
Pertanyaan yang patut kita renungkan bersama adalah:
Apakah dalam menghadapi dinamika digital hari ini, kita masih menempatkan Allah sebagai pusat orientasi hidup, ataukah tanpa sadar menyerahkan arah sikap dan emosi kita kepada tekanan massa dan algoritma?
Meneladani Ibrahim berarti berani berada di tengah api zaman, tanpa ikut terbakar olehnya.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.