‘Kami Shalat dengan Tangan dan Kaki Diborgol’, Getir Aktivis GSF yang Ditahan Israel
Latifahtul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital— Dengan suara bergetar dan beberapa kali menahan tangis, relawan kemanusiaan asal Ponorogo, Jawa Timur, Herman Budianto Sudarsono, mengungkap dugaan penyiksaan dan perlakuan brutal yang dialami relawan internasional saat ditahan aparat Israel dalam misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina.
Herman menyebut puluhan relawan mengalami luka berat, mulai dari patah tulang hingga dugaan kekerasan seksual selama proses penahanan.
Kesaksian itu disampaikan Herman dalam acara silaturahim dan syukuran atas bebasnya sembilan warga negara Indonesia (WNI) relawan delegasi Global Sumud Flotilla (GSF) yang digelar Majelis Ulama Indonesia di Aula Buya Hamka, Gedung MUI, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026) lalu dan kembali dinarasikan Kamis (28/5/2026).
Herman merupakan aktivis kemanusiaan dari lembaga filantropi Dompet Dhuafa yang tergabung dalam delegasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).
Dia bersama delapan WNI lainnya menjalankan misi kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan bagi masyarakat Gaza melalui jalur laut sebelum akhirnya diintersepsi otoritas Israel.
Baca juga: Sekjen MUI Apresiasi Upaya Pemerintah Bebaskan 9 WNI yang Ditahan Israel
Dalam keterangannya, Herman menegaskan bahwa penderitaan yang dialaminya tidak sebanding dengan kondisi rakyat Palestina yang telah lama hidup di tengah konflik dan blokade.
"Kami ini adalah orang-orang yang hanya diculik dan tidak melakukan perlawanan. Kami hanya membawa semangat kemanusiaan untuk memperjuangkan saudara-saudara kita di Palestina," ujarnya.
Menurut Herman, misi kemanusiaan tersebut melibatkan ratusan relawan dari berbagai negara dan latar belakang agama.
Dia mengaku terharu melihat solidaritas yang muncul di antara para peserta aksi kemanusiaan itu.
"Kami kadang-kadang malu dengan mereka. Kami yang Muslim punya keyakinan akan mendapat pahala dari Allah SWT. Tetapi relawan lain yang tidak memiliki keyakinan agama juga memiliki semangat yang sama untuk membantu Palestina," katanya.
Herman menyebut sejumlah peserta misi internasional mengalami luka serius akibat dugaan tindakan kekerasan selama penahanan
"Ada sekitar 40 orang yang patah rusuknya. Ada yang patah tangan dan patah kakinya, lebih dari 50 orang. Yang mengalami kekerasan seksual ada sekitar 52 orang, baik laki-laki maupun perempuan," ungkapnya.
Dalam kesaksiannya, Herman menggambarkan situasi mencekam sejak kapal relawan diintersepsi di laut hingga dipindahkan ke kapal militer Israel.
Dia mengaku para peserta misi dipukul, ditendang, dicaci maki, hingga dipaksa berganti pakaian dalam kondisi basah.
"Kami diikat, dicaci maki, dipukul, didorong. Saya sudah tidak bisa menghitung berapa pukulan dan tendangan yang mengenai saya," tuturnya.
Baca juga: Sambut 9 WNI yang Dibebaskan Israel dengan Syukur, Ketum MUI: Dukungan untuk Palestina Tetap Kokoh
Herman juga mengaku para peserta misi ditempatkan di kontainer gelap dan kembali mengalami kekerasan fisik.
"Kami ada yang disetrum, dilempar granat kejut, ada yang ditembak dengan peluru karet dari jarak sangat dekat," ujarnya.
Menurut Herman, para relawan juga dipaksa berada dalam posisi menunduk selama berjam-jam di bawah terik panas tanpa makanan dan minuman.
Herman menyebut para peserta misi mengalami penghinaan verbal selama proses interogasi.
"Kalau kepala sedikit naik langsung ditendang dan dipukul. Kami dipaksa berjalan dengan posisi membungkuk seperti rukuk," katanya.
Dalam proses pemeriksaan, Herman mengatakan para relawan dituduh sebagai pendukung teroris dan dipaksa menandatangani dokumen pengakuan.
Namun, para relawan menolak setelah mendapat pendampingan hukum dari pengacara.
Baca juga: Aktivis Global Sumud Flotilla: Di Kapal Penjara Kontainer Itu Kami Tidur Sambil Berdiri
"Salah satu isi dokumen itu adalah pengakuan bahwa kami bersalah dan siap dipenjara bersama tahanan Palestina. Alhamdulillah kami didampingi pengacara sehingga tidak menandatangani," ujarnya.
Herman juga mengungkap dugaan perlakuan tidak manusiawi lainnya, termasuk pemaksaan membuka seluruh pakaian saat pemeriksaan.
"Kami dipaksa telanjang dan melakukan push up, sit up, serta squat down. Banyak yang diduga mengalami pelecehan seksual dalam proses itu," katanya.
Meski mengalami kekerasan, Herman menegaskan semangat para relawan untuk mendukung Palestina tidak surut.
Dia mengaku penderitaan yang dialaminya justru membuatnya semakin memahami situasi warga Gaza.
"Setiap kami dipukul dan ditendang, kami membayangkan saudara-saudara kami di Palestina yang jauh lebih menderita dibandingkan kami," tuturnya.
Herman juga menceritakan bagaimana para relawan tetap berusaha menjalankan ibadah di tengah kondisi penahanan.
"Ada yang shalat dalam kondisi tangan dan kaki diborgol. Kami hanya bisa shalat sambil duduk dalam keadaan terikat," katanya.
Setelah melalui proses penahanan dan interogasi selama beberapa hari, Herman bersama relawan lain akhirnya dibebaskan dan dipulangkan melalui bantuan diplomatik Turki.
"Ketika masuk ke pesawat Turki dan bertemu kembali dengan relawan dari berbagai negara, kami berpelukan, bertakbir, dan meneriakkan 'Free Palestine'," ujarnya.
Di akhir kesaksiannya, Herman mengajak masyarakat internasional untuk terus mendukung perjuangan rakyat Palestina dan tidak takut menyuarakan solidaritas kemanusiaan.
"Jangan mengendurkan semangat walaupun ada penyiksaan dan kekerasan. Teruslah bersemangat membantu saudara-saudara kita di Palestina dengan kemampuan yang kita miliki," kata dia.