Khubah Jumat: Mempertahankan Spirit Qurban dan Haji Pasca-Idul Adha
Oleh: Admin
Editor: Admin
KH. Misbahul Munir, S.Ag. MM, Sekretaris umum MUI Kota Tangerang
Khutbah I
السّلام عليكم
ورحمة الله ويركاته
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
الَّذِيْ جَعَلَ الْأَعْيَادَ وَسِيْلَةً لِلطَّاعَاتِ، وَأَفَاضَ عَلٰى عِبَادِهِ
فِيْهَا الرَّحْمَةَ وَالْبَرَكَاتِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ
وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ وَالنَّذِيْرُ
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ،
فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ
الْكَرِيْمِ: (لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ
يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا
اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ)
Jamaah Jumat
yang Dirahmati Allah,
Marilah kita
senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Takwa yang
sebenar-benarnya, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi
segala larangan-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada
uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW.
Baru saja kita
melewati hari-hari yang penuh berkah: Hari Raya Idul Adha dan kita masih berada di hari-hari Tasyrik. Sebagian dari saudara kita sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, dan sebagian lainnya di tanah air telah melaksanakan ibadah penyembelihan hewan qurban.
Namun, pertanyaan
besar yang harus kita renungkan hari ini adalah: Apakah setelah momentum Idul
Adha berlalu, semangat (spirit) ibadah tersebut juga ikut berlalu?
Jamaah yang
Dimuliakan Allah,
Ketika kita berqurban,
Allah SWT secara tegas mengingatkan kita bahwa yang sampai ke haribaan-Nya,
yang mengetuk pintu rida-Nya, bukanlah tumpukan daging yang melimpah, bukan
pula tetesan darah hewan yang membasahi bumi. Allah SWT sama sekali tidak
membutuhkan itu semua. Yang Dia tatap dengan penuh rahmat, yang Dia timbang di
atas neraca keadilan-Nya, adalah ketakwaan yang terhujam kuat di dalam lubuk
hati kita yang paling dalam.
Hakikat dari ibadah qurban
bukanlah tentang seberapa mahal harga hewan yang kita beli, seberapa gemuk
fisiknya, atau seberapa megah nama kita tertulis di papan pengumuman masjid.
Semua itu hanyalah bungkus luar. Isi yang sesungguhnya adalah keikhlasan yang
murni, ketundukan jiwa tanpa tapi, dan rasa takut kita kepada Allah SWT.
Di sinilah letak ujian
batin bagi setiap mudhahi (orang yang berqurban). Allah ingin melihat apakah di
dalam setiap rupiah yang kita keluarkan ada rasa pamer (riya’), ataukah
murni karena rindu akan cinta-Nya. Jika ketakwaan menjadi motor penggeraknya, maka qurban tersebut akan menjelma menjadi cahaya yang menerangi hati kita pasca-Idul Adha, yang membuat kita sadar bahwa segala yang kita miliki di dunia ini adalah titipan yang sewaktu-waktu harus siap kita kembalikan kepada-Nya.
Maka celakalah jika
kita berqurban namun hati kita masih dipenuhi rasa sombong. Merasa lebih mulia daripada tetangga yang belum mampu membeli hewan qurban. Ingatlah, hewan qurban
yang kita sembelih itu akan sirna dan menjadi daging yang habis dikonsumsi,
namun catatan takwa di dalam hati kita, itulah yang akan abadi menghadap Allah
di akhirat kelak.
Allah SWT berfirman
dalam QS. Al-Hajj: 37:
لَن يَنَالَ
اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ
“Daging-daging unta
dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi
ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.”
Spirit qurban pada
hakikatnya adalah tentang “menyembelih” egoisme, mengikis ketamakan, dan
meruntuhkan menara kesombongan yang sering kali tumbuh subur di dalam dada
kita. Hewan ternak yang kita sembelih kemarin hanyalah simbolik, namun target
sejatinya adalah menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri
manusia; seperti rakus, mau menang sendiri, dan acuh terhadap penderitaan
sesama.
Jamaah
Rahimakumullah,
Jika saat momentum Idul Adha kita begitu ringan tangan dan ikhlas mengorbankan sebagian harta yang kita cintai demi membeli hewan qurban, maka lembaran baru pasca Idul Adha adalah ujian konsistensi yang sesungguhnya. Kita dituntut untuk tetap menjaga nyala api keikhlasan tersebut dalam setiap amal perbuatan kita sehari-hari, tanpa lagi mengharapkan pujian (riya’) maupun popularitas (sum’ah).
Pasca hari raya ini,
mari kita buang jauh-jauh sifat kikir dan pelit. Jangan sampai setelah qurban
berlalu, tangan kita kembali menggenggam erat harta dunia dan menutup mata dari
jeritan kaum dhuafa. Sebaliknya, jiwa kita harus bertransformasi menjadi
pribadi yang selalu siap berkorban—baik mengorbankan waktu, tenaga, pikiran,
hingga materi—demi terwujudnya kemaslahatan umat, tegaknya keadilan sosial, dan
kejayaan agama Allah SWT. Sebab, seorang mukmin sejati tidak akan pernah
berhenti berqurban hingga ia melangkahkan kaki ke dalam surga-Nya.
“Maka tanyakan pada
diri kita masing-masing: Jika untuk membeli hewan qurban jutaan rupiah kita
mampu, mengapa untuk sekadar bersedekah ribuan rupiah di kotak amal masjid
setiap Jumat kita masih merasa berat?”
Oleh karena itu, mari
kita buktikan bersama-sama bahwa kebaikan, ketaatan, dan kesalehan yang kita
tunjukkan selama ini bukan sekadar ibadah musiman yang datang dan pergi
mengikuti kalender tahunan. Kita bukan hamba Allah yang saleh hanya di bulan
Ramadan atau saat Idul Adha saja, lalu kembali menjadi pribadi yang lalai
ketika momentum itu berlalu. Kesalehan kita jangan seperti riak gelombang yang
pasang saat hari raya, namun surut dan kering di hari-hari biasa.
Sebaliknya, mari kita
transformasikan spirit ibadah tersebut menjadi sebuah kepribadian, sebuah
karakter, dan identitas diri yang melekat erat dalam sanubari hingga akhir
hayat menjemput. Kita ingin agar sifat dermawan, keikhlasan berkorban,
semangat berjamaah di masjid, dan kebersihan hati dari sifat sombong,
benar-benar menyatu dalam darah dan urat nadi kita.
Ketika kebaikan telah
menjelma menjadi kepribadian yang mengakar, maka dalam kondisi pasang-surut
kehidupan pun kita akan tetap istiqamah. Inilah sejatinya pembuktian iman yang
jujur: menjadi hamba Allah yang setia di setiap waktu dan tempat, hingga kelak
Allah memanggil kita pulang dalam keadaan husnul khatimah, membawa
catatan amal kebaikan yang tak pernah terputus.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Bagi saudara-saudara
kita yang melaksanakan ibadah haji, puncak perjuangan mereka bukanlah saat
melempar jumrah atau tawaf wada’, melainkan saat mereka kembali ke tanah air.
Rasulullah SAW
bersabda dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim mengenai balasan haji
yang mabrur:
وَالْحَجُّ
الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ
“Dan haji mabrur
tidak ada balasan baginya melainkan surga.”
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu tanda utama haji yang mabrur adalah adanya perubahan perilaku ke arah yang lebih baik setelah pulang dari Tanah Suci. Jika sebelum haji ia
jarang ke masjid, setelah haji ia menjadi ahli masjid. Jika sebelum haji ia
kurang peduli pada sesama, setelah haji ia menjadi sosok yang dermawan.
Spirit ini juga
berlaku bagi kita yang belum berhaji. Kebersamaan, kesetaraan tanpa memandang
kasta (yang disimbolkan dengan pakaian ihram), serta fokus berdzikir kepada
Allah selama hari raya harus tetap membekas dalam kehidupan sosial kita
sehari-hari.
Jamaah Jumat
yang Dirahmati Allah,
Konsistensi atau
istiqamah dalam menjaga spirit ibadah adalah kunci utama sekaligus tolok ukur
utama diterimanya amal shaleh kita di sisi Allah SWT. Para ulama sering kali
mengingatkan bahwa tanda paling nyata dari sebuah ibadah yang diterima (maqbul)
adalah lahirnya ibadah dan kebaikan baru setelahnya. Jika semangat bertauhid,
berbagi, dan mendekatkan diri kepada Allah menguap begitu saja seiring
berlalunya gema takbir Idul Adha, maka kita patut khawatir bahwa ritual yang
kita lakukan kemarin barulah sebatas penggugur kewajiban, belum menyentuh
esensi takwa.
Istiqamah pasca-Idul
Adha adalah ujian keimanan yang sesungguhnya. Beramal secara musiman atau hanya
saat berada di momen-momen besar keagamaan memang indah, namun mempertahankan
ritme ibadah tersebut di hari-hari biasa jauh lebih mulia. Allah SWT tidak melihat
seberapa besar ledakan amal kita pada satu waktu, melainkan seberapa kokoh
kontinuitas amal tersebut dalam mengarungi pasang surutnya kehidupan.
Di sinilah letak
rahasianya: istiqamah dalam kebaikan—meskipun hal itu tampak kecil dan
sederhana di mata manusia—memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Ia adalah
benteng yang menjaga hati kita agar tidak layu setelah musim ibadah usai,
sekaligus menjadi bukti paling jujur bahwa kita menyembah Allah yang Maha
Kekal, bukan menyembah bulan atau momentum yang akan hilang.
Maka ketahuilah, wahai
saudaraku, Allah SWT tidak mendesain Idul Adha agar kita menjadi saleh selama
empat hari saja. Idul Adha adalah madrasah spiritual singkat yang kurikulumnya
harus kita praktikkan sepanjang tahun. Konsistensi kita setelah hari raya ini
adalah jawaban konkret, apakah qurban kita benar-benar karena Allah, ataukah
hanya sekadar rutinitas budaya yang berulang tanpa makna.
Jangan pernah biarkan
Idul Adha yang mulia ini menguap begitu saja dan hanya menjadi sekadar ritual
tahunan yang tanpa bekas dalam kehidupan kita. Amat disayangkan jika jutaan
rupiah yang kita keluarkan untuk berqurban, atau lelahnya fisik saudara kita
dalam menunaikan manasik haji, hanya menyisakan cerita sejarah tanpa membawa
perubahan pada kualitas akhlak kita sehari-hari. Jangan biarkan momentum ini
berlalu bagai angin lalu, di mana setelah Idul Adha usai, kita kembali
bergelimang dalam kelalaian, kembali memelihara sifat egois, dan kembali
menjauh dari masjid-masjid Allah.
Sebaliknya, jadikanlah
momentum Idul Adha ini sebagai batu loncatan (starting point) yang kokoh
untuk mengakselerasi dan meningkatkan ketaatan kita kepada Allah SWT di
bulan-bulan berikutnya. Anggaplah qurban dan haji kemarin sebagai bahan bakar
spiritual yang baru saja diisi ulang. Hari ini dan hari-hari ke depan adalah
pembuktiannya. Jika kemarin kita mampu takbir berhari-hari, maka hari ini lidah
kita harus lebih basah dengan dzikir. Jika kemarin kita mampu berbagi daging qurban,
maka hari-hari ke depan kepedulian sosial kita kepada tetangga dan fakir miskin
harus semakin nyata.
Mari kita langkahkan
kaki keluar dari masjid ini dengan komitmen baru: menjadikan hari esok lebih
bertakwa, lebih ikhlas, dan lebih bermanfaat bagi sesama, demi menyongsong rida
Allah SWT sebelum ajal menjemput kita.
Jamaah Shalat
Jumat yang Berbahagia,
Mari kita tutup
khutbah yang singkat ini dengan berdoa kepada Allah SWT, Semoga kita senantiasa
diberikan kekuatan dan keistiqamahan untuk mempertahankan spirit qurban dan
haji dalam kehidupan kita sehari-hari. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
بَارَكَ اللّٰهُ
لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا
وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا
إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ
الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ،
أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ
ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ
وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ،
فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ
وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ
وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.