Lewati ke konten utama
Selasa, 28 Juli 2026 / 13 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Melalui Jubirnya, Kiai Ma’ruf Amin Serukan Arab Saudi dan Houthi Hentikan Pertikaian

4 menit baca 60 dibaca
Maruf Amin
Wapres ke-13 RI KH Ma'ruf Amin (kanan). Foto: Latifahtul Jannah/ MUI Digital
Bagikan:

JAKARTA — Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang berdampak hingga kawasan strategis Bab el-Mandeb, mendapat perhatian serius dari Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia, Prof KH Ma’ruf Amin.

Melalui juru bicaranya, KH Masduki Baidlowi, Kiai Ma’ruf menyampaikan keprihatinan mendalam atas konflik yang terus berlangsung dan menyerukan agar kedua belah pihak segera menghentikan aksi militer serta membuka ruang dialog demi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.

Kiai Masduki mengatakan, Kiai Ma’ruf sangat sedih melihat kondisi mutakhir ini. Beliau mengetuk hati nurani para pemimpin di Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman untuk segera menghentikan angkat senjata. 

Baca juga: KUII VIII Cetuskan 12 Rekomendasi Strategis, Ini Beberapa Poin Globalnya

“Sebagai sesama Muslim, darah dan kehormatan adalah hal yang suci. Sudah saatnya senjata diturunkan dan meja dialog digelar secara konstruktif,” kata Masduki di Jakarta, Selasa (28/7/2026) menyampaikan pesan Kiai Ma’ruf. 

Menurut Kiai Ma’ruf, konflik yang melibatkan sesama bangsa dan negara Muslim tidak hanya menimbulkan penderitaan bagi masyarakat yang berada di wilayah konflik, tetapi juga membawa dampak luas terhadap stabilitas ekonomi, politik, dan psikologis dunia Islam. 

“Dampak tersebut bahkan dirasakan hingga negara-negara yang jauh dari kawasan konflik, termasuk Indonesia,” tutur Kiai Masduki menyampaikan pesan Kiai Ma’ruf.

Dia menilai situasi yang terjadi di jalur pelayaran Bab el-Mandeb harus segera mendapat perhatian serius karena menyangkut keamanan perdagangan internasional dan stabilitas ekonomi global. 

“Serangan terhadap kapal-kapal tanker di kawasan tersebut dinilai berpotensi mengganggu distribusi energi dan rantai pasok dunia,” tutur Kiai Masduki. 

Baca juga: Wamenko Polkam Ajak Umat Islam Perkuat Nasionalisme di Tengah Gejolak Geopolitik Global

Sebagai bentuk kontribusi pemikiran Indonesia dalam mendorong penyelesaian konflik, Kiai Ma’ruf menawarkan konsep “Jembatan Dialog Empat Pilar” yang berlandaskan prinsip moderasi atau wasathiyah sebagai jalan tengah untuk meredakan ketegangan.

Pilar pertama adalah gencatan senjata kemanusiaan sesegera mungkin. Menurut Kiai Ma’ruf, seluruh operasi militer dan serangan di Bab el-Mandeb maupun wilayah sekitarnya perlu dihentikan untuk sementara guna mencegah memburuknya krisis kemanusiaan serta menjamin keamanan jalur perdagangan internasional.

“Jeda konflik sangat penting untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban dan menjaga stabilitas ekonomi global yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, termasuk di negara-negara berkembang,” ujar Kiai Masduki.

Pilar kedua adalah mengaktifkan kembali poros dialog internal umat Islam atau ukhuwah Islamiyah. Dalam pandangan Kiai Ma’ruf, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bersama para ulama dan tokoh Muslim dunia perlu mengambil peran sebagai mediator yang netral guna menjembatani komunikasi antara pihak-pihak yang bertikai.

Baca juga: Jawab Krisis Generasi Global, Universitas Darunnajah Dukung Konsep Pendidikan Holistik Pesantren

“Konflik ini harus diselesaikan dengan semangat persaudaraan Islam, bukan melalui intervensi kepentingan asing yang justru dapat memperpanjang dan memperumit persoalan,” kata Kiai Masduki.

Pilar ketiga adalah rekonsiliasi berbasis inklusivitas politik. Kiai Ma'ruf mendorong Arab Saudi dan kelompok Houthi untuk duduk bersama menyusun peta jalan keamanan kawasan yang menjunjung tinggi prinsip saling menghormati kedaulatan masing-masing pihak.

Menurutnya, stabilitas dan kedaulatan Yaman merupakan faktor penting bagi keamanan Arab Saudi. Sebaliknya, keamanan Arab Saudi juga berpengaruh terhadap masa depan kawasan secara keseluruhan.

Adapun pilar keempat adalah jaminan keamanan jalur logistik internasional melalui pembentukan zona bebas konflik di Selat Bab el-Mandeb. Langkah tersebut dinilai penting demi menjaga kepentingan masyarakat dunia serta mencegah dampak ekonomi yang lebih luas.

Baca juga: Menag: Hasil KUII VIII akan Kami Jadikan Program Kerja Pemerintah

“Terganggunya jalur pelayaran internasional di Bab el-Mandeb dapat memicu inflasi global yang pada akhirnya paling dirasakan oleh masyarakat kecil di berbagai negara,” ujar Kiai Masduki.

Di akhir pesannya, Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia siap mendukung setiap upaya perdamaian yang dilakukan oleh berbagai pihak.

“Perang tidak pernah melahirkan pemenang sejati. Yang ada hanyalah kehancuran bagi generasi masa depan umat. Mari kita sudahi pertikaian ini dan bangun kembali jembatan dialog yang bermartabat,” kata Kiai Masduki mengutip pesan Kiai Ma’ruf. 

Seruan tersebut sekaligus menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mendorong penyelesaian konflik melalui dialog, rekonsiliasi, dan pendekatan damai demi terciptanya stabilitas kawasan serta terjaganya persaudaraan di antara sesama umat Islam.