Lewati ke konten utama
Senin, 7 September 2026 / 25 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Gus Kikin dan Momentum Kebangkitan Ekonomi Umat

3 menit baca 71 dibaca
Dr H A Iskandar Zulkarnain

Oleh: Dr H A Iskandar Zulkarnain

Ketua Bidang Wakaf Uang LW MUI

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Gus Kikin dan Momentum Kebangkitan Ekonomi Umat
Gus Kikin bersama para calon ketua umum PBNU saat pembukaan Muktamar NU ke-35, Jombang. Foto: Dok. Istimewa/muktamar.nu.id
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU 2026–2031 menarik untuk dibaca bukan sekadar sebagai pergantian kepemimpinan. Ada momentum untuk menghidupkan kembali salah satu DNA awal Nahdlatul Ulama, yakni kemandirian ekonomi umat.

Gus Kikin adalah pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus cicit pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Ia pernah menjadi profesional BUMN sebelum memasuki dunia usaha, termasuk sektor pertambangan. Di sini saya melihat kombinasi menarik: businessman yang menjadi kiai, sekaligus kiai yang memahami bisnis.

Ini bukan sesuatu yang asing dalam sejarah NU. Sebelum NU berdiri pada 1926, para ulama pesantren telah menggagas Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Para Saudagar pada 1918. Tidak lain, karena KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah memahami bahwa perjuangan umat membutuhkan kemandirian ekonomi.

Bahkan Hasan Gipo, Ketua Tanfidziyah NU pertama, adalah saudagar dan pengusaha yang ikut menopang organisasi. Kiai, saudagar, dan perjuangan umat sejak awal bukanlah dunia yang terpisah.

Baca juga: Mengenal Gus Kikin Ketua Umum PBNU 2026-2031: Kaya Pengalaman Profesional, Pengasuh Utama Pesantren Tebuireng

Qanun Asasi dan Ekonomi Umat

Menarik ketika Gus Kikin menempatkan kembali “Qanun Asasi” karya KH Hasyim Asy’ari sebagai salah satu pedoman NU memasuki abad kedua.

Qanun Asasi memang bukan kitab ekonomi. Namun, spirit persatuan dan saling menguatkan relevan dengan ekonomi umat. Kekuatan ekonomi tidak hanya lahir dari modal, tetapi juga dari jamaah, kepercayaan dan kemampuan bekerja bersama.

Abad pertama NU telah membangun social power melalui jaringan jamaah yang besar. Abad kedua menjadi momentum mentransformasikan social power menjadi economic power untuk kemaslahatan.

NU memiliki jamaah, pesantren, lembaga pendidikan dan kesehatan, UMKM, pengusaha serta aset sosial dan wakaf. Kekuatan ini perlu dihubungkan menjadi ekosistem ekonomi yang produktif.

Di sinilah wakaf produktif dan wakaf uang dapat menjadi social capital umat. Pokoknya dijaga dan dikembangkan, sementara hasilnya mengalir untuk pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi dan kemaslahatan lintas generasi.

Baca juga: Sebuah Resensi: Menghayati Pemaknaan Baru “Kitab Babon” Warga NU

NU Abad Kedua Membangun Peradaban

Kebangkitan ekonomi NU dapat berjalan beriringan dengan Muhammadiyah. Muhammadiyah kuat dengan jaringan amal usahanya, sedangkan NU memiliki pesantren, jamaah, saudagar dan ekonomi rakyat. Keduanya dapat menjadi dua kekuatan ekonomi umat yang saling melengkapi.

Kepemimpinan Gus Kikin dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali Nahdlatut Tujjar abad ke-21, yang kemudian mampu melahirkan pengusaha santri, membuat aset umat produktif, memperkuat wakaf dan membangun kemandirian ekonomi.

Tidak bisa dipungkiri, salah satu agenda besar NU di abad kedua adalah membangun peradaban. Bukan hanya menjaga tradisi dan membesarkan organisasi, tetapi juga membangun pendidikan, kesehatan, ekonomi dan kemandirian umat untuk generasi mendatang.

Sebagai cicit pendiri NU, Gus Kikin membawa “darah biru” keluarga muassis. Namun, yang lebih penting bukan sekadar sanad biologis, melainkan sanad gagasan dan perjuangan.

Dari Qanun Asasi menuju persatuan. Dari persatuan menuju kekuatan jamaah. Dari kekuatan jamaah menuju kemandirian ekonomi. Dan dari kemandirian ekonomi menuju peradaban.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.