Nabi Muhammad SAW: “Anomali” Pemimpin Dunia
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Jika kita menengok lanskap politik global hari ini, kita sedang menyaksikan krisis kepemimpinan yang sangat mendasar. Dunia politik modern hampir selalu digerakkan oleh satu hukum tak tertulis: survival and interest.
Bagi sebagian
pemimpin besar dan politikus sepanjang zaman, kekuasaan dijadikan titik tujuan
utama, sementara pelanggaran etika dan pencitraan dipraktikkan sebagai mata
uang utamanya. Kepemimpinan tersandera oleh utang politik, agenda oligarki,
hingga hasrat melanggengkan dinasti.
Namun demikian,
jika lembaran sejarah dibaca secara objektif dan jernih, muncul satu sosok yang
meruntuhkan seluruh kalkulasi politik pragmatis tersebut: Nabi Muhammad SAW.
Bagi para
pemerhati sejarah sekuler maupun politolog, gaya kepemimpinan Rasulullah bukan
sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah anomali total—sebuah standar moral
tertinggi yang menelan kegagalan ideologi-ideologi besar ciptaan manusia.
Kebobrokan
Ideologi Global
Untuk memahami
betapa hebatnya keteladanan Nabi Muhammad, kita harus berani melihat secara
kritis bagaimana ideologi-ideologi besar dunia gagal menghadirkan kepemimpinan
yang murni dan adil.
Dalam sistem kapitalisme,
politik praktis bertekuk di depan pemilik modal. Kepemimpinan menjadi barang
dagangan. Para pejabat publik tersandera oleh utang kampanye kepada para oligarki,
sehingga kebijakan yang lahir sering kali memprioritaskan akumulasi kekayaan
segelintir elit dibandingkan kesejahteraan rakyat banyak.
Hukum menjadi
fleksibel: tajam ke bawah, tumpul ke atas bagi mereka yang memegang kekuatan
finansial. Rakyat hanya diperalat atas nama demokrasi saat kampanye, namun
dilupakan saat berkuasa.
Di sisi lain, komunisme
berjanji menghapus kelas sosial, tetapi sejarah mencatat bahwa ia justru
melahirkan kelas baru: elit partai yang totaliter. Atas nama “kepentingan
kolektif”, hak-hak individu digilas, kebebasan dibungkam, dan kekuasaan
dipusatkan pada segelintir pimpinan Politbiro. Manusia tidak lagi dipandang
sebagai jiwa yang mulia, melainkan sekadar instrumen mekanis negara.
Sementara sosialisme
mencoba mengambil jalan tengah, dalam praktiknya ia sering terjebak dalam
birokrasi yang gemuk, ketidakefisienan, dan korupsi sistemik. Kekuasaan negara
yang terlalu besar tanpa kontrol moral menciptakan celah tempat elit birokrat
menikmati hak istimewa (privilese) yang tidak diperoleh oleh rakyat
biasa.
Ketiga ideologi di atas menempatkan materi dan kekuasaan sebagai panglima, sementara kepemimpinan Nabi Muhammad SAW hadir membedah kebuntuan tersebut melalui ketulusan yang murni.
Baca juga: Menghidupkan Cinta kepada Rasulullah Setiap Saat
Perbandingan
Komparatif Historis
Ketika kita “membandingkan”
Rasulullah dengan para tokoh besar penakluk dunia seperti Alexander Agung,
Julius Caesar, atau Napoleon Bonaparte, kontras moral ini menjadi semakin
terang benderang.
Alexander Agung menguasai
imperium masif dari Yunani hingga India, namun hidupnya dikendalikan oleh
ambisi penaklukan tanpa batas, kemabukan, dan kemarahan yang meledak-ledak.
Ketika ia wafat
di usia muda, imperiumnya langsung runtuh karena diperebutkan oleh para
jenderalnya melalui pertumpahan darah antarsaudara. Alexander menaklukkan
dunia untuk memuaskan egonya, lalu wilayah kekuasaannya pecah seketika saat ia
wafat tanpa warisan tatanan hukum yang utuh.
Julius Caesar,
seorang bangsawan Romawi yang menggunakan kepiawaian politik, populisme, dan
kekuatan militer untuk meruntuhkan Republik demi ambisi kekuasaan absolut
(diktator abadi). Ia terlibat dalam intrik kekuasaan, suap, dan akhirnya terbunuh
di tangan lingkaran terdekatnya sendiri yang berebut pengaruh. Caesar
menempatkan Sungai Rubicon demi menyelamatkan karier politiknya dari jerat
hukum Roma, yang akhirnya berakhir pada perang saudara.
Sementara Napoleon
Bonaparte, seorang jenius militer yang bangkit dari Revolusi Prancis, akhirnya menobatkan dirinya sendiri sebagai kaisar, membagikan mahkota Eropa
kepada anggota keluarganya, dan meninggalkan Prancis dalam kelelahan perang.
Napoleon mengorbankan ribuan nyawa demi keagungan pribadi dan hegemoninya.
Tokoh ketiga ini
menggunakan kekuasaan untuk membangun dinasti, mengumpulkan harta rampasan
perang bagi diri dan keluarga, serta mengabadikan nama mereka dalam monumen
kemegahan. Ketiganya menjadikan puncak kejayaan sebagai panggung kemewahan,
hegemoni dinasti, dan pemuasan ambisi pribadi.
Sebaliknya, Rasulullah SAW berhasil menyatukan Jazirah Arab—sebuah pencapaian geopolitik yang bahkan gagal dilakukan oleh kekaisaran Romawi maupun Persia. Namun, beliau keluar dari arena kemenangan itu tanpa membawa selembar jubah emas, tanpa menunjuk putranya sebagai putra mahkota, dan tanpa membangun satu pun bangunan kemegahan untuk mengenangnya.
Baca juga: Tadabbur Makna “Bismillahirrahmanirrahim”
Sebuah Paradoks
Dalam realitas
politik modern, kesepakatan kekuasaan tanpa pertumpahan darah dipandang sebagai
pencapaian pragmatis tertinggi. Ketika Nabi Muhammad memulai dakwah di Makkah
tanpa kekuatan militer, tanpa anggaran, dan tanpa perlindungan hukum, para elite
Quraisy menyodorkan penawaran yang sangat menggiurkan. Mereka menawarkan
kekayaan berlimpah, wanita berkedudukan tinggi, hingga takhta kerajaan Makkah,
dengan satu syarat tunggal: menghentikan dakwahnya atau menyetujui kompromi
politik.
Politikus praktis mana pun tentu akan mengambil kesepakatan itu untuk mengamankan posisi.
Namun, Rasulullah menolaknya secara mutlak. Dampaknya, beliau dan pengikutnya
mengalami boikot ekonomi yang ekstrem, intimidasi fisik, hingga ancaman
pembunuhan. Keputusan ini secara historis membuktikan bahwa pergerakannya tidak
didorong oleh oportunisme atau pencarian status sosial.
Ketiadaan ambisi
materi ini paling jelas terlihat di dalam ruang domestik, sebuah ruang di mana
kekuasaan paling mudah disalahgunakan untuk kepentingan anak dan istri.
Kekuasaan hari
ini kerap membusuk menjadi alat akumulasi material, bukan lagi mandat
pelayanan. Dari ranah organisasi terkecil hingga puncak pimpinan negara, posisi
puncak diperlakukan bak harta warisan untuk membagikan jabatan strategis,
fasilitas, dan hak istimewa khusus bagi trah serta kroni.
Prinsip
kesetaraan hukum tumpul di hadapan dinding istana penguasa. Hukum ditekuk demi
melayani dan melindungi lingkaran terdekat penguasa, sementara posisi kunci
dijajakan atas dasar pertalian darah dan loyalitas buta dari tim sukses,
dibungkus oleh kemewahan pengawalan dan protokoler berlebihan.
Inilah anomali
kepemimpinan materialistik: penguasa yang dikawal ketat oleh negara, namun
sepenuhnya terasing dari jerit rakyat. Ketika etika digantikan oleh nepotisme
dan transaksi kekeluargaan, lembaga publik mengambil lebih dari dinasti privat
yang menindas martabat warga negara.
Rasulullah SAW
menetapkan standar etika yang sangat tinggi dan tak tertandingi. Ketika timbul
desakan untuk mengintervensi penegakan hukum terhadap seorang wanita dari
kalangan bangsawan yang terbukti mencuri, sebagian sahabat mencoba meminta
melalui bantuan Usamah bin Zaid, sosok yang sangat dicintai Nabi. Apa tanggapan
Beliau? Rasulullah berdiri dan menegaskan sebuah prinsip keadilan universal
yang membakar kesadaran.
Rasulullah bersabda,
yang artinya: “Apakah kamu ingin memberi syafaat (bantuan) dalam hukum
Allah? Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad yang mencuri, niscaya aku
sendiri yang akan memotong tangan.” (HR An-Nasa’i)
Ini adalah
pukulan telak atas yang bersifat keistimewaan dan nepotisme. Beliau menegaskan
bahwa di hadapan hukum dan keadilan, tidak ada keutamaan garis keturunan dan
tidak ada perlindungan politik bagi anak penguasa.
Sikap ini
berbanding lurus dengan pengelolaan harta negara. Beliau mengharamkan zakat dan
sedekah bagi diri dan keluarganya (ahlul bait). Ketika putri
tercintanya, Fatimah radhiyallahu ‘anha, datang dengan tangan yang kasar
akibat menumbuk gandum dan meminta seorang pembantu dari tawanan perang untuk
meringankan beban rumah tangganya, Rasulullah tidak menggunakan kewenangannya
sebagai “kepala negara” untuk memberi fasilitas. Beliau justru memberikan
ajaran kejiwaan, mengingatkan bahwa kepentingan para fakir miskin, ahlus shuffah,
jauh lebih utama untuk dipenuhi dari harta negara tersebut.
Apalagi ketika wafat, beliau menegaskan bahwa para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham. Harta yang ditinggalkan menjadi milik umum, bukan milik ahli warisnya. Pemimpin tertinggi seluruh Jazirah Arab ini tetap tidur di atas tikar pelepah kurma yang meninggalkan bekas di punggungnya, mengenakan pakaian yang ditambal sendiri, dan tidak meninggalkan dinasti politik maupun harta benda pribadi.
Baca juga: Resep Kepemimpinan yang Terlupakan: Menata Hati, Bukan Menguasai
Perspektif
Ahli Sejarah Sekuler
Integritas luar
biasa ini memicu ketakjuban bagi pelestarian dunia. Thomas Carlyle (Sejarawan
Skotlandia) menepis tuduhan bahwa Muhammad bertindak atas dasar ambisi pribadi.
Carlyle menegaskan bahwa seorang penipu berbohong untuk mempermudah hidupnya,
tetapi setiap langkah yang diambil Nabi Muhammad justru membuat hidupnya secara
fisik semakin berat dan penuh bahaya.
W. Montgomery
Watt (Orientalis Barat), menggarisbawahi bahwa menganggap Rasulullah sebagai
pencari keuntungan adalah kekeliruan logika, karena beliau tidak pernah
menikmati buah dari kekuasaan itu dalam bentuk kemewahan pribadi.
Michael H. Hart (penulis),
menempatkannya pada urutan teratas tokoh paling berpengaruh dalam sejarah
justru karena keberhasilannya memadukan dimensi keagamaan dan sekuler secara
sempurna, tanpa pernah tergelincir menjadi penguasa yang haus materi.
Maulid Nabi
Muhammad sebagai Sarana Evaluasi Diri
Peringatan Maulid
Nabi setiap tahunnya kerap terjebak menjadi rutinitas fisik yang megah namun
miskin dampak peradaban. Dzikir berkumandang, panggung megah didirikan, dan
lautan manusia berkumpul. Semua itu adalah bentuk kecintaan yang patut
dihargai, namun perayaan ini wajib dikritisi: Apakah Maulid Nabi telah
menyentuh substansinya, atau sekadar menjadi penenang hati tahunan?
Kritik ini tidak
boleh hanya ditujukan kepada para penguasa di puncak pimpinan negara, melainkan
harus menjadi sarana evaluasi diri para pimpinan di tingkat bawah, birokrasi
daerah, hingga para elite di panggung dakwah, lembaga tarbiyah, dan organisasi
Islam. Hari ini, betapa banyaknya tokoh yang membawa narasi keagamaan, namun
bertindak layaknya “raja-raja kecil”.
Mereka haus akan pengawalan, penghormatan, fasilitas, melingkari diri dengan pengagungan, alergi
terhadap kritik, dan mengubah lembaga dakwah maupun lembaga pendidikan Islam
menjadi imperium pribadi untuk membagikan akses ekonomi serta hak istimewa
kepada anak, kerabat, dan kroninya sendiri.
Bagaimana mungkin
kita bermimpi membangun kembali peradaban Islam jika pilar dakwah dan tarbiyah
kita digerakkan oleh mentalitas feodalistik yang dibungkus jubah religiusitas?
Rasulullah SAW
mendidik para sahabat bukan untuk mencetak pengagung dinasti, melainkan
melahirkan manusia-manusia merdeka yang tunduk hanya kepada keadilan Ilahi.
Beliau tidak pernah membagikan jabatan atas dasar pertalian darah, melainkan
atas dasar kesiapan melayani umat.
Inilah tolok ukur
tertinggi yang menelanjangi kepalsuan pencitraan kepemimpinan masa kini. Puncak
kepemimpinan sejati tidak diukur dari megahnya perayaan mimbar, riuhnya gemuruh
shalawat di gedung, atau luasnya dinasti kekuasaan yang dibangun.
Kepemimpinan
sejati yang diajarkan Nabi diukur dari keberanian mengabdi kepada rakyat tanpa
syarat, kesediaan mengorbankan hak istimewa pribadi, dan keteguhan menjaga
keadilan hukum bahkan terhadap lingkaran terdekatnya sendiri.
Jika perayaan Maulid Nabi tidak berani mengungkap mentalitas “raja kecil” dalam diri dan lembaga kita, maka pada hakikatnya, kita belum sungguh-sungguh meneladani Rasulullah, kita hanya sedang merindukan kerinduan yang palsu.