Lewati ke konten utama
Jumat, 28 Agustus 2026 / 15 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Resep Kepemimpinan yang Terlupakan: Menata Hati, Bukan Menguasai

5 menit baca 611 dibaca
Dr Muhammad Irfanudin Kurniawan, M.Ag

Oleh: Dr Muhammad Irfanudin Kurniawan, M.Ag

Penulis buku “Organisme Pesantren” dan Dosen Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Resep Kepemimpinan yang Terlupakan: Menata Hati, Bukan Menguasai
Ilustrasi seorang pemimpin muslim menyampaikan gagasannya di depan masyarakat. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Dalam hitungan hari, bangsa ini akan menyaksikan salah satu panggung politik terbesar organisasi massa Islam: Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, 27–31 Agustus 2026. Sejumlah nama besar, dari Gus Yahya, Gus Kikin, Gus Rozin, Gus Yusuf Chudlori, hingga Menteri Agama Nasaruddin Umar, bersaing memperebutkan kursi Ketua Umum PBNU.

Di balik hiruk-pikuk bursa calon dan isu intervensi kekuasaan yang ikut memanas, ada pertanyaan yang jarang diungkap: mampukah para pemimpin ini dan pemimpin kita pada umumnya menata hatinya sendiri sebelum menata hati orang lain? Ataukah kepemimpinan akan terus dimaknai sebagai perebutan kekuasaan, bukan sebagai amanat untuk mendamaikan?

Tentu itu bukan sekadar pertanyaan retoris. Hal itu mengingatkan kita pada nasihat KH Hasan Abdullah Sahal, pemimpin Pondok Modern Gontor yang tahun ini pondoknya juga berumur 100 tahun seperti NU.

KH Hasan Abdullah merumuskan empat tingkatan kepemimpinan dalam bahasa Jawa: “noto atine dewe” (menata hati sendiri), “noto atine wong liyo” (menata hati orang lain, yang setara maupun yang lebih muda), “noto atine wong sing luwih tuwek (menata hati orang yang lebih tua), dan “noto atine wong sing luwih tuwek sing lagi tukaran” (menata hati orang-orang yang lebih tua yang sedang berselisih).

Menurut saya, inti dari semua tingkatan itu sederhana namun berat: kepemimpinan sejati bukan tentang menguasai, tetapi tentang menata hati.

Jika kita cermati, piramida kepemimpinan noto atine ini berbanding terbalik dengan piramida kekuasaan yang lazim kita kenal. Dalam birokrasi dan partai politik, puncak karier selalu diukur dari seberapa tinggi jabatan dan seberapa luas kendali atas orang lain. Sementara dalam piramida noto atine, puncak kepemimpinan justru adalah kemampuan mendamaikan, dan untuk mencapainya, seorang pemimpin wajib memulai dari fondasi paling dasar: menguasai dirinya sendiri.

Baca juga: ISO Pesantren: Antara Standar Mutu dan Ruh Pendidikan

Fondasi pertama, noto atine dewe, adalah batu ujian yang paling sering diabaikan. Bagaimana mungkin seorang pemimpin mampu menenangkan rakyat atau anggotanya jika hatinya sendiri kacau oleh ambisi, dendam, atau ketakutan?

Dalam psikologi kepemimpinan modern, Daniel Goleman menyebut kemampuan ini sebagai self-awareness dan self-management, komponen inti dari kecerdasan emosional. Goleman menegaskan bahwa pemimpin yang gagal mengelola emosinya sendiri bukan hanya merugikan dirinya, tetapi juga meracuni seluruh tim yang dipimpinnya. Namun di Indonesia, pendidikan kepemimpinan kita masih sangat miskin pelatihan batin.

Kita sibuk mengasah visi-misi dan retorika, tetapi lupa memberi ruang bagi calon pemimpin untuk merenung, berkaca, dan menata hatinya terlebih dahulu.

Lalu melangkah pada tingkatan kedua dan ketiga, noto atine wong liyo dan noto atine wong sing luwih tuwek, mengingatkan bahwa memimpin adalah seni membangun relasi yang sehat, baik ke bawah maupun ke atas. Seorang pemimpin yang baik tidak menakuti bawahannya, tetapi juga tidak sekadar menjilat atasannya. Pemimpin yang baik memperlakukan bawahan dengan empati dan menghormati atasan dengan tulus, bukan dengan kepura-puraan.

Di banyak institusi hari ini, kita melihat fenomena sebaliknya: pemimpin yang galak terhadap stafnya, namun tunduk patuh pada kekuasaan di atasnya. Jelas ini bukan kepemimpinan yang baik. Lebih tepatnya, politik bertahan hidup.

Puncak dari nasihat KH Hasan Abdullah Sahal adalah tingkatan keempat: noto atine wong sing luwih tuwek sing lagi tukaran, menata hati orang-orang yang lebih tua yang sedang berselisih. Inilah ujian paling berat bagi seorang pemimpin. Ketika dua pihak yang sama-sama senior, sama-sama keras kepala, dan sama-sama memiliki pengaruh besar bertikai, seperti yang sering kita saksikan dalam konflik internal partai atau ormas, di mana posisi pemimpin?

Pemimpin sejati tidak akan memilih kubu atau memanaskan suasana demi keuntungan politik jangka pendek. Ia harus berani turun tangan menjadi penengah, meski itu berarti ia harus mengambil risiko kehilangan dukungan dari salah satu kubu.

Sejarah Indonesia mencatat terlalu banyak peristiwa di mana konflik elite menghancurkan sendi-sendi kebangsaan, mulai dari peristiwa 1965, krisis 1998, hingga polarisasi pasca-2014. Dalam setiap momen itu, yang paling sulit dicari adalah figur yang bersedia menjadi pendamai, bukan justru menjadi pembakar perselisihan demi kepentingan sesaat.

Baca juga: Menemukan “Mengapa” Pesantren Bertahan di Tengah Perubahan

Bagi saya, yang membuat filosofi kepemimpinan noto atine begitu khas adalah urutannya yang sangat humanis dan berjenjang. Ia mengajarkan bahwa untuk memimpin orang banyak, seseorang harus bisa memimpin dirinya sendiri. Untuk mendamaikan orang lain, ia harus lebih dulu damai dengan dirinya sendiri. Ini adalah etika kepemimpinan yang berakar pada budaya Nusantara, namun memiliki resonansi universal.

Selayaknya hal itu bisa menjadi jawaban atas arus globalisasi yang menekankan kepemimpinan karismatik dan vokal, supaya kita tidak kehilangan kekayaan lokal yang tidak kalah unggul ini.

Kita sudah terlalu lama memuja model kepemimpinan Barat yang heroik dan ekstrovert, sementara lupa bahwa di tanah sendiri kita memiliki tradisi kepemimpinan yang mengutamakan ketenangan, empati, dan mediasi.

Noto atine bukan sekadar ungkapan bijak di papan pesantren. Lebih dari sekadar itu, ia adalah sebuah sistem etika yang relevan untuk menjawab krisis kepemimpinan modern.

Sepertinya sudah saatnya kita berhenti mengukur kualitas pemimpin dari seberapa banyak orang yang berhasil dikendalikannya, dan mulai mengukurnya dari seberapa banyak hati yang berhasil ditatanya.

Sudah saatnya kita tidak hanya bertanya “Apa visi dan misimu?” kepada para calon pemimpin, tetapi juga melontarkan pertanyaan yang lebih fundamental: “Apakah engkau cukup jernih hatinya untuk menata hati kami semua?”

Kepemimpinan sejati bukan tentang menguasai, tetapi tentang menata hati. Dan itu, mungkin, adalah satu-satunya obat yang tak pernah kedaluwarsa untuk negeri yang terus sakit karena konflik kekuasaan.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.