Lewati ke konten utama
Minggu, 20 September 2026 / 8 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Asrorun Niam Sholeh
Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh. Foto: Miftah/ MUI Digital
Berita

Hikmah Kiai Ni'am: Dzikrullah Kunci Ketenangan Hati dan Penentu Kesuksesan Hidup

Hikmah Kiai Ni'am: Dzikrullah Kunci Ketenangan Hati dan Penentu Kesuksesan Hidup

/ 8 Rabiul Akhir 1448 H 5 menit baca 103 dibaca

JAKARTA, MUI Digital— Ketenangan hati yang bersumber dari dzikir kepada Allah SWT (dzikrullah) merupakan salah satu kunci utama kesuksesan hidup seseorang. 

Sebaliknya, kepanikan, kesembronoan, dan hilangnya ketenangan jiwa kerap menjadi faktor dominan yang memicu kegagalan dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, saat mengisi pengajian rutin mingguan yang digelar Pondok Pesantren An-Nahdlah dengan membedah Kitab Nashaihul Ibad pada Sabtu (19/9/2026). 

Pengajian ini dilaksanakan secara rutin setiap Sabtu pagi, mulai pukul 05.15-06.00 WIB diikuti seluruh santri Pondok Pesantren An-Nahdlah dan disiarkan juga melalui platform digital Zoom yang diikuti oleh jamaah umum. 

Jamaah yang selama ini rutin mengikuti berasal dari seluruh Indonesia dari berbagai kelompok, ada dari Pegadaian, alumni UIN, alumni IPNU, Kemenag hingga para amil zakat. 

Dalam tausiahnya, Kiai Ni’am mengurai pentingnya menjaga kesehatan rohani di tengah tingginya dinamika kehidupan modern yang kerap memicu stres, kegelisahan, hingga perasaan gundah gulana tanpa sebab yang jelas.

"Ingat, dengan dzikir kepada Allah akan menyebabkan hati tenang. Nah, salah satu kunci kesuksesan itu adalah ketenangan hati. Salah satu faktor kegagalan di dalam hidup, apa? Kesemberonoan dan ketidaktenangan hati," ujar Kiai Ni’am. 

Lebih lanjut, Kiai Ni’am menerangkan bahwa manusia tidak hanya bisa terserang penyakit jasmani seperti demam atau cedera fisik, tetapi juga sangat rentan dihinggapi penyakit rohani. 

Penyakit rohani sering kali tidak terlihat secara fisik, namun dampaknya sangat merusak, seperti sifat iri hati melihat keberhasilan orang lain, dengki, pelit, egois, hingga enggan menyambung tali silaturahim.

Menurutnya, sebagaimana penyakit fisik yang membutuhkan dokter spesialis yang tepat, penyakit rohani pun membutuhkan penanganan yang proporsional melalui pendekatan keagamaan. 

Ketika hati dan pikiran seseorang kosong dari mengingat Allah SWT, jiwa akan mudah goyah dan rentan dihinggapi berbagai gangguan spiritual maupun penyakit mental.

"Fisik yang sehat, tetapi rohaninya, qalbunya sakit. Punya banyak harta fisik, tetapi dia pelit. Itu berarti rohani. Hebat dia punya intelektualitas, punya ilmu, tetapi dia egois. Dia gak mau kerja sama. Itu penyakit rohani,” kata dia.  

Dia mengatakan, di situlah butuh proporsionalitas mengenali penyakit dan mengundang ahli yang pas untuk menyelesaikan masalah yang dideritanya.

Apalagi penyakitnya adalah penyakit rohani, penyakit mental, penyakit nonfisik, solusinya adalah solusi keagamaan.

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat ini memaparkan dampak langsung ketenangan jiwa terhadap performa akademis maupun profesional seseorang. 

Kiai Ni’am mengilustrasikan momen-momen krusial seperti wawancara kerja, ujian masuk perguruan tinggi, hingga seleksi kenaikan pangkat yang sering kali terganggu akibat rasa gugup. 

Ketika seseorang dikuasai rasa gugup (nervous) dan tidak tenang, wawasan atau hafalan yang sebelumnya sudah dikuasai bisa mendadak hilang.

Di sinilah pentingnya membiasakan lisan dan hati dengan dzikir, baik tahlil, bacaan hauqalah, maupun selawat pendek seperti shollallahu 'ala Muhammad.

"Jangan pernah lupa untuk berdzikir dan membaca shalawat yang akan melahirkan ketenangan. Sementara ketenangan akan melahirkan konsentrasi penuh kita,” tutur dia.  

“Dan konsentrasi penuh akan menghasilkan apa yang disebut dengan mekanisme recalling, mekanisme memanggil apa yang pernah kita tahu," kata dia menambahkan. 

Guru Besar Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menekankan agar tradisi dzikrullah dijadikan kebiasaan sehari-hari, terutama bagi para santri dan generasi muda. 

Hal ini bertujuan agar refleks lisan yang keluar saat menghadapi situasi mengejutkan atau mengagetkan selalu berupa kalimat-kalimat thayyibah, bukan ucapan yang tidak pantas.

Tidak hanya sebagai sarana meraih konsentrasi, dzikrullah juga menjadi benteng pertahanan psikologis yang ampuh saat seseorang menghadapi kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan harapan. 

Kiai Ni’am menyoroti fakta banyaknya orang yang mengalami gegar emosi (emotional shock) ketika gagal meraih promosi jabatan, ditolak dalam ikhtiar, atau mengalami dinamika karier yang tak terduga. 

Dia menegaskan tanpa kematangan emosional dan ketenangan batin yang dibimbing oleh nilai-nilai tauhid, guncangan akibat melesetnya ekspektasi dapat membawa seseorang pada tindakan destruktif.

"Kalau nggak mampu mengendalikan emosi, nggak mampu mengendalikan diri, itu sudah bisa down, nggak mau ketemu orang, bahkan bunuh diri," tutur dia.  

Tapi, menurut dia, karena ada resepnya tersebut akan segera switch on dari yang shock yang sifatnya manusiawi, tetapi tidak boleh dituruti karena itu adalah hawa nafsu. 

“Baru setelah itu dinormalisasi dengan akal pikir kita. Kita menjadi hebat itu kan karena dikendalikan oleh akal dan hati," tutur dia menasihati. 

Untuk menjaga kesehatan mental dan kestabilan jiwa, Prof Niam membagikan tiga resep utama dari ajaran para ulama hikmah dalam kitab Nashih al-'Ibad. 

Langkah pertama adalah memperbanyak dzikrullah melalui lisan dan hati dengan lafaz apa saja secara istikamah. 

Langkah kedua adalah menemui para kekasih Allah (liqa'u auliya'ihi) dengan cara membangun interaksi, bergaul, dan bersilaturahim bersama para ulama, kiai, serta orang-orang saleh agar tertular etos positif dalam berbuat kebaikan. 

Adapun langkah ketiga adalah rajin mendengarkan nasihat kehikmaan (kalamul hukama'), yaitu menyimak motivasi, pemikiran konstruktif, serta gagasan dari para tokoh dan ulama yang menunjukkan jalan menuju kebaikan dunia dan akhirat.

Kiai Ni’am juga mengimbau umat Islam untuk menjauhi tontonan, bacaan, maupun obrolan yang tidak produktif seperti menggunjing orang lain, karena hal itu hanya akan menurunkan kualitas diri dan mengotori ketenangan hati. 

Dia mengingatkan bahwa dalam tingkatan kualitas diri seseorang, tema pembicaraan yang paling rendah adalah membicarakan kejelekan, aib dan kekurangan orang lain. Sementara tingkat yang lebih tinggi adalah membicarakan gagasan, ilmu, dan masa depan.

Ketua Majelis Alumni IPNU ini berpesan agar masyarakat senantiasa optimis dan berserah diri dalam mengarungi dinamika kehidupan. 

Sebab, dalam kehidupan ini ada kalanya naik, ada kalanya turun, ada kalanya sehat, ada kalanya sakit, ada kalanya sukses dan ada kalanya tertunda kesuksesannya. 

"Tetapi percayalah ujung-ujungnya adalah melahirkan kebaikan jika kita memiliki penyikapan yang bersifat baik, husnudzon billah, pakai tsiqah bin nafsi (percaya diri) dan kemudian kita tetap optimis dengan dzikrullah," kata Kiai Ni’am meyakinkan.  

BAGIKAN: