Alquran dan Ilmu Pengetahuan: Antara Wahyu, Akal, dan Realitas
Alquran dan Ilmu Pengetahuan: Antara Wahyu, Akal, dan Realitas
Oleh: Abd. Hakim Abidin
Redaktur Keislaman MUI Digital
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Setiap kali ilmu pengetahuan menemukan sesuatu yang baru, ada satu godaan yang selalu muncul. Orang-orang bergegas mencari ayat Alquran yang dianggap “cocok”, lalu berseru bahwa kitab suci ini telah membuktikan penemuan itu jauh sebelum sains modern ada.
Kecenderungan itu sepertinya terdengar mulia. Tapi di saat yang
sama, hal itu menyimpan bahaya yang jarang disadari, bahaya yang justru bisa “mencederai”
wibawa Alquran itu sendiri.
Untuk memahami hal ini, ada baiknya kita mulai dari sebuah
gagasan yang sejak lama dijadikan prinsip para sarjana muslim. Pada dasarnya,
Alquran bukanlah kitab yang hanya dibaca dan dihafalkan, tetapi juga mukjizat
Allah yang senantiasa relevan sepanjang zaman.
Alquran merupakan “kitabullah al-masthur”, kitab
Allah yang tertulis dan terbaca, sementara alam semesta adalah “kitabullah
al-mandhur”, kitab Allah yang terbentang dan dapat diamati. Keduanya
berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT. Karena itu, antara wahyu dan
realitas alam semestinya tidak diposisikan sebagai dua hal yang saling
bertentangan. Keduanya datang dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT.
Dengan demikian, pada dasarnya, wahyu dan alam tidak pernah
benar-benar bertentangan. Yang sering bertentangan bukan keduanya, melainkan
cara manusia memahaminya.
Allah SWT berfirman dalam Alquran:
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
“Ketahuilah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak
Allah.” (QS. Al-A’raf ayat 54)
Ayat ini menegaskan hal yang sederhana namun penting.
Penciptaan dan segala ketentuan berada dalam satu kekuasaan yang sama. Dari
sinilah tradisi keilmuan Islam mengenal dua jalan menuju pengetahuan, yaitu
wahyu dan alam nyata.
Wahyu menuntun manusia pada kebenaran dan tujuan hidup. Alam
menyediakan ruang bagi manusia untuk mengamati dan menemukan tanda-tanda
kebesaran Allah.
Menurut lembaga fatwa Mesir, Dar al-Ifta al-Mishriyyah, sebagaimana yang ditulis oleh Syekh Hasunah an-Nawawi dalam artikelnya yang berjudul “Hukm at-Ta’wil al-‘Ilmi lil-Quran”, dinyatakan bahwa cara pandang seperti inilah yang justru ikut menumbuhkan tradisi keilmuan dan peradaban Islam.
Memahami Makna “Ilmiah”
Sebelum membahas lebih jauh soal penafsiran ilmiah Alquran,
ada pertanyaan mendasar yang sering terlewat. Apa sebenarnya yang kita maksud
dengan “ilmu”?
Istilah “tafsir ‘ilmi” atau “ta’wil
‘ilmi” terhadap Alquran perlu terlebih dahulu dipahami secara tepat. Sebab,
kata “ilmiah” dapat memiliki pengertian yang berbeda tergantung pada kerangka
epistemologi yang digunakan.
Dunia modern sering menganggap ilmu hanya sah kalau bisa
diamati, diukur, dan diuji lewat pancaindra. Cara pandang ini memang penting
dalam penelitian sains. Tapi bisa menjadi keliru kalau dipaksakan sebagai
satu-satunya cara untuk menilai semua bentuk pengetahuan manusia.
Coba bayangkan akibatnya. Kalau ilmu hanya diakui saat bisa
diamati secara inderawi, maka pertanyaan tentang keberadaan Tuhan, yang memang
berada di luar jangkauan laboratorium, otomatis dianggap bukan pengetahuan.
Padahal tradisi keilmuan Islam tidak pernah sesempit itu. Pengetahuan bisa
diraih lewat penelitian dan pengamatan, tapi juga lewat penalaran yang masuk
akal dan bisa dipertanggungjawabkan.
Islam memiliki pengertian ilmu yang lebih luas. Pengetahuan
tidak hanya diperoleh melalui eksperimen, tetapi juga melalui kebiasaan yang
berulang dan konsisten serta melalui argumentasi rasional yang dapat
dipertanggungjawabkan. Dalam kerangka ini, ilmu dapat mencakup penelitian
empiris sekaligus penalaran rasional.
Artinya, dalam pandangan Islam, ilmu adalah pengetahuan yang
benar dan sesuai kenyataan, yang didukung oleh dalil yang kuat. Dalil itu bisa
berupa hasil penelitian, pola alam yang terus berulang, atau penalaran yang
masuk akal. Membedakan hal ini menjadi penting, sebab di sinilah sering muncul
kesalahpahaman antara agama dan sains, yaitu karena keduanya memakai definisi
ilmu yang berbeda tanpa disadari.
Cara pandang yang luas inilah yang dulu membuat peradaban Islam begitu terbuka menerima ilmu dari peradaban lain. Para ulama dan ilmuwan muslim pada masa lalu tidak sekadar menerima pengetahuan dari luar begitu saja. Mereka meneliti, menguji, mengkritik, dan bila perlu mengoreksinya. Dan sikap ini membuktikan satu hal, bahwa terbuka terhadap ilmu pengetahuan tidak berarti harus kehilangan prinsip agama.
“Ta’wil ‘Ilmi” dan Tradisi Keilmuan Islam
Upaya menafsirkan Alquran dengan bantuan ilmu pengetahuan
sebenarnya bukan hal baru. Sejak dahulu, para ulama berusaha memahami ayat-ayat
yang berbicara tentang alam sesuai dengan pengetahuan zaman mereka.
Masalah baru muncul ketika arahnya dibalik. Bukan lagi ilmu
yang membantu memahami ayat, tapi Alquran yang dipaksa mengikuti satu teori
ilmiah tertentu. Ilmu yang seharusnya jadi alat bantu, malah dijadikan penentu
tunggal benar atau salahnya sebuah tafsir.
Cara pandang seperti ini sebaiknya dihindari. Alasannya
sederhana. Ilmu pengetahuan itu terus berubah. Teori bisa diperbaiki, direvisi,
bahkan ditinggalkan begitu ada bukti baru. Sementara Alquran sebagai wahyu
Allah tidak ikut berubah hanya karena teori manusia berubah.
Karena itu, penting membedakan antara kebenaran wahyu dan tafsiran manusia atas fenomena alam. Jangan sampai sebuah teori yang masih dalam proses pembuktian justru dijadikan makna final sebuah ayat. Sebab kalau suatu saat teori itu runtuh, orang bisa keliru mengira Alquran ikut terbantahkan, padahal yang sebenarnya runtuh hanyalah tafsiran manusia yang terburu-buru.
Kehati-hatian dalam Mencari “Bukti Ilmiah” Alquran
Pembahasan soal kemukjizatan ilmiah Alquran, atau dikenal
dengan istilah “i’jaz ‘ilmi”, memang punya tempat tersendiri dalam
kajian keislaman masa kini. Ketika sebuah temuan sains ternyata selaras dengan
makna sebuah ayat, hal itu bisa menjadi sarana untuk memperlihatkan betapa
luasnya tanda kekuasaan Allah.
Tentu, mencari kaitan semacam itu boleh saja dilakukan,
asalkan dengan cara yang wajar dan tidak berlebihan. Jadi usaha menghubungkan
ayat dengan temuan sains tidak perlu dianggap sebagai sebuah masalah.
Namun demikian, di sini perlu dicatat secara tegas, bahwa yang
jadi masalah adalah kecenderungan memaksakan ayat agar cocok dengan satu teori
tertentu, seolah-olah Alquran adalah buku panduan teknis.
Selain itu, pandangan tersebut juga bisa membuat Alquran justru
dipaksa mengikuti satu paradigma ilmu pengetahuan tertentu yang sejak awal
menolak keberadaan segala sesuatu yang berada di luar wilayah empiris. Dalam
keadaan demikian, bukan lagi ilmu yang digunakan untuk membantu memahami Alquran,
melainkan Alquran yang dipaksa tunduk kepada batasan epistemologis tertentu.
Padahal ketika sebuah ayat berbicara tentang penciptaan
manusia, langit, bumi, hujan, atau tumbuhan, itu tidak otomatis berarti Alquran
sedang menulis teori ilmiah dalam pengertian modern. Semua itu hadir sebagai
tanda yang mengajak manusia berpikir dan mengenal kebesaran Allah.
Di sinilah kehati-hatian menjadi penting. Tidak semua
kemiripan antara temuan sains dan bunyi ayat layak langsung diklaim sebagai
bukti ilmiah Alquran. Klaim seperti itu butuh kajian tafsir yang kuat,
pemahaman bahasa yang cermat, serta kesadaran bahwa ilmu pengetahuan terus
bergerak dan berubah.
Yang jelas, memaksakan makna ilmiah yang sebenarnya tidak didukung oleh teks Alquran bisa jadi masalah di kemudian hari. Kalau teori itu berubah atau muncul data baru yang bertentangan, orang bisa salah paham dan menganggap Alquran yang keliru. Padahal yang berubah sebenarnya hanyalah cara manusia menafsirkan.
Alquran Bukan Buku Pelajaran Sains
Ada satu hal yang perlu ditegaskan. Alquran bukan buku
fisika, bukan buku biologi, bukan pula buku astronomi, atau buku sains lainnya.
Alquran adalah kitab petunjuk hidup, atau oleh sebagian sarjana muslim disebut
sebagai kitab hidayah.
Ketika Alquran berbicara tentang alam semesta, manusia,
hujan, atau tumbuhan, tujuannya bukan menyusun teori ilmiah seperti buku sains
pada umumnya. Alquran mengajak manusia melihat semua itu sebagai jejak
kekuasaan dan kebijaksanaan Allah.
Dari sini kita bisa melihat pembagian perannya dengan lebih
jelas. Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami bagaimana suatu fenomena
terjadi. Sementara wahyu memberi arah untuk apa manusia memahami kehidupan, dan
bagaimana pengetahuan itu semestinya digunakan.
Dengan kata lain, hubungan Alquran dan ilmu pengetahuan
seharusnya dibangun di atas dialog antara wahyu, akal, dan realitas, bukan
pertentangan di antara ketiganya. Sebab dari sinilah tradisi keilmuan Islam
dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar spiritualnya.
Oleh karena itu, seorang muslim tidak seharusnya cenderung
pada dua sikap yang berlebihan. Yang pertama adalah takut berlebihan terhadap
sains. Yang kedua adalah menundukkan wahyu pada setiap teori yang sedang
populer.
Sikap yang lebih tepat adalah menghormati wilayah
masing-masing. Sains bekerja lewat pengamatan, eksperimen, dan pengujian atas
fenomena yang bisa diamati. Tafsir bekerja lewat ilmu bahasa Arab, pemahaman
konteks ayat, hadis, tradisi keilmuan tafsir, dan penalaran yang bertanggung
jawab.
Ketika keduanya bertemu, yang dibutuhkan adalah ketelitian,
bukan ketergesa-gesaan. Ayat tidak boleh dipaksa mengatakan sesuatu yang tidak
ditunjukkan oleh bahasanya. Sebaliknya, kemajuan ilmu pengetahuan juga tidak
seharusnya dipakai untuk menolak kemungkinan adanya hal-hal yang memang berada
di luar jangkauan penelitian empiris.
Jadi, penafsiran ilmiah atas Alquran lebih baik dipahami sebagai salah satu cara untuk membaca hubungan antara wahyu dan alam. Bukan sebagai cara untuk membuktikan semua teori sains lewat ayat-ayat suci.
Sebuah Prinsip
Kekuatan Alquran tidak pernah bergantung pada nasib sebuah
teori ilmiah, entah teori itu terbukti benar atau kelak terbantahkan. Teori
manusia bisa berubah berkali-kali, sementara wahyu tetap menjadi sumber
petunjuk yang tidak lekang oleh waktu.
Namun demikian, umat Islam perlu terus merawat tradisi
keilmuan. Alternatifnya adalah dengan membaca Alquran secara mendalam, memahami
bahasa dan tradisi tafsirnya, sekaligus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan
modern, tanpa mencampuradukkan mana yang tetap dan mana yang terus berubah.
Demikianlah sikap yang sehat dalam membaca kitab suci. Tidak
mempertentangkan wahyu dengan akal, tapi juga tidak melebur keduanya hingga
kehilangan batas.
Yang jelas, Alquran menuntun manusia memahami makna kehidupan. Sedangkan ilmu pengetahuan membantu manusia menangkap sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di sepanjang kehidupan itu. Dan pemahaman secara proporsional terkait hal ini akan menunjukkan letak keindahan yang sesungguhnya.