Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Di Arafah, Kita Ini Sebenarnya Siapa?
Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Di Arafah, Kita Ini Sebenarnya Siapa?
Oleh: Muhamad Saefullah
Anggota Komisi Infokomdigi MUI
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda dengan begitu tegas: “Al-Hajj ‘Arafah”—haji itu adalah Arafah. Di atas hamparan suci inilah inti perjalanan rohani itu dipertaruhkan, sekaligus melemparkan pertanyaan yang menghantam dada tanpa permisi: Di Arafah, kita ini sebenarnya siapa?
Ketika dua helai
kain putih tak berjahit membungkus raga, seluruh atribut duniawi mendadak
rontok bagai daun kering ditiup angin. Apakah kita ini pejabat, pengusaha,
kiai, atau sekadar “wong Ngapak” dari Kloter 75 SOC Banyumas yang
kesehariannya orang biasa? Debu Arafah tak pernah peduli. Ia menempel di jidat
siapa saja dengan kearifan yang sama mulianya.
Serasa bermimpi.
Kaki-kaki kami akhirnya benar-benar memijak bumi Arafah—hamparan gersang di
timur Makkah tempat penantian panjang selama 14 tahun dibayar tuntas oleh Gusti
Allah dengan nikmat wukuf. Dari kejauhan, Jabal Rahmah berdiri kokoh
memancarkan kehangatan sejarah.
Sejak matahari
tergelincir di ufuk Dzuhur pada 9 hingga fajar 10 Dzulhijjah menyingsing, waktu
seolah berhenti berdetak. Udara Arafah menjelma menjadi hening yang bergetar; tempat
jutaan lidah melafadzkan dzikir, istighfar, dan menggantungkan doa-doa paling
rahasia langsung ke pintu langit yang sedang dibuka lebar-lebar.
Kekhusyukan di bawah tenda Arafah itu tidak jatuh begitu saja dari langit. Ia adalah muara dari rangkaian kepasrahan yang telah dilatih sejak kami masih berada di hotel Makkah, satu hari sebelum puncak haji ini tiba. Di sana, ujian kesabaran melatih ego kami pelan-pelan—dimulai dari hal-hal kecil, termasuk menata keinginan ibadah agar tak berlebihan.
Petugas haji (PPIH)
Sektor 9 dari awal sebenarnya sudah mewanti-wanti kami dengan kearifan yang
sejuk dan bersahaja: “Sampun, Pak, Bu... Simpan tenaganya. Jangan ngoyo
ibadah berlebihan ke Masjidil Haram sebelum puncak.”
Demikianlah sebuah
imbauan fiqih yang amat rasional. Namun ya dasar wong Ngapak, tidak
sering sowan ke Masjidil Haram mumpung “ana nang Mekah” itu rasanya
persis seperti sudah kepanasan masuk ke pasar tapi lupa tak membeli mendoan
hangat—ada rasa mengganjal yang mengendap di ulu hati. Namun kami nurut. Kami
memilih ikhlas beribadah di masjid hotel di bawah bimbingan pembimbing ibadah kloter
kiai Sholeh dan jemaah yang sudah maqom kiai, seperti KH Sofyan,
pengasuh sebuah pondok pesantren di banyumas
Soal urusan perut, Kementeruan
Haji dan Umroh sebetulnya sudah berikhtiar baik. Menjelang pergeseran 8
Dzulhijjah (25 Mei 2026), kami dibekali satu paket kotak ransum ready-to-eat
untuk bekal Armuzna. Isinya macem-macem, ada rendang, ayam kuah, dan lain-lain.
Di tenda, persediaan mi instan, kopi saset, hingga sekerat roti padat yang
seloroh dijuluki jemaah sebagai “Roti Kanebo” tersedia aman. “Angger
dipangan ya lumayan nggo ganjal weteng”, walau penampakannya agak mirip
kain pembersih kaca mobil.
Namun, Gusti Allah
selalu punya cara yang teramat halus dan jenaka untuk membedah rahasia jiwa
manusia di balik senyum pelayanan Kementerian Haji dan pihak syarikah. Sejak
fajar menyingsing usai Subuh, tubuh-tubuh kami sudah terbungkus rapi oleh
putihnya kain ihram, menanti jam tujuh pagi yang dijanjikan sebagai jadwal
bertolak ke Arafah.
Namun penantian itu
melar bagai karet; bus baru merapat ketika matahari sudah merambat naik pukul
sembilan tiga puluh. Itu pun, kendaraan yang tiba rupanya membawa kapasitas
yang kelewat sesak. Alhasil, kami berhimpitan di dalam kabin bus; sebagian
duduk saling mengapit lutut dan siku, sementara yang lain terpaksa berdiri
pasrah, bergantung rapat pada tiang-tiang besi yang terasa dingin di telapak
tangan.
Suasananya persis
nostalgia naik bus kota Jakarta era 80-an—lengket, impit-impitan, dan sarat bau
ketiak sesama musafir. Tetapi di sinilah keajaiban sufistik itu bekerja: tidak
ada satu pun bibir yang mengumpat.
Ego duniawi rontok
seketika saat kalimat “Labbaikallahumma Labbaik” meluncur deras dari
tenggorokan, memeluk lutut kami sendiri-sendiri dalam keheningan batin. Dengung
talbiyah itulah yang menjelma tali gaib, menopang persendian kami agar
tetap kokoh melangkah menuju muara cinta: Arafah.
Meski ruang fisik bus dan perencanaan transportasi mikro kedodoran menampung jasad kami, keikhlasan jemaah rupanya membentang jauh lebih luas dari sempitnya kabin bus mana pun di bumi.
Arafah dan Air Mata
Tenda Arafah
menyambut kami dengan wajah tanahnya yang hangat. Masuknya mulus, walau urusan
klasik seperti antrean kamar mandi yang mengular dan sengatan terik udara tetap
setia hadir menguji napas kesabaran. Namun justru di situlah magisnya Arafah.
Saat waktu wukuf mengepung, hukum-hukum fiqih yang tadinya berupa barisan huruf
mati di kitab-kitab lama langsung meresap menjadi pengalaman batin yang
menggetarkan.
Di padang penantian
ini, gambaran Mahsyar dipentaskan secara cilik. Tangis pecah di setiap sudut
tenda. Air mata jemaah menetes deras di atas sajadah, membasahi debu,
menanggalkan kesombongan jabatan, serta dosa-dosa yang selama ini kita
sembunyikan dengan rapi di balik baju bagus.
Mendengar tangis
jemaah di sekeliling saya, ingatan saya mendadak melayang jauh pada cerita
tentang Arafah yang dulu kerap disampaikan oleh guru ngaji kami saat kami kecil
di langgar kampung. Di bawah temaram lampu teplok, beliau bercerita dengan
suara bergetar tentang tangis para sahabat Nabi—terutama sahabat Abu Bakar
Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—ketika mendengar Khutbah Wada’ yang
disampaikan Rasulullah SAW di tempat ini pada 10 Hijriah.
Kala itu, Rasulullah
menatap ratusan ribu umatnya seraya bersabda dengan nada yang teramat halus
namun merobek dada:
“Wahai manusia,
dengarkanlah perkataanku ini. Aku tidak tahu apakah aku bakal dapat bertemu
lagi dengan kalian di tempat ini setelah tahun ini….”
Di hamparan bumi
Arafah ini pulalah, di tengah heningnya wukuf, ayat wahyu penyempurna syariat
diturunkan Allah SWT mengunci genapnya risalah Islam:
“...Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam
itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Sahabat Abu Bakar
Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—orang yang paling lembut jiwanya—menangis
tersedu-sedu di pojok tenda. Sebagaimana kisah yang kami dengar di langgar
dulu, ketika sahabat lain bertanya heran mengapa ia menangis di hari seagung
ini, Abu Bakar menjawab lirih: “Setelah kesempurnaan, tidak ada lagi yang
tersisa selain perpisahan.” Beliau paham betul firasat itu: tugas Sang
Pembawa Risalah telah genap dan Beliau tak lama lagi bakal dipanggil pulang
oleh Tanah Asal. Dan benar saja, hanya berselang tak sampai tiga bulan setelah
khutbah dan turunnya ayat penyempurna di Arafah itu, Rasulullah SAW wafat di
Madinah.
Beliau meninggalkan amanat luhur yang senantiasa diteladankan kepada kita: larangan menumpahkan darah, larangan mengambil harta secara zalim (riba), perintah memuliakan perempuan, dan penegasan bahwa tidak ada bedanya antara orang Arab, orang Jawa, atau suku mana pun—kecuali dari kadar ketakwaannya.
Usai wukuf ditutup,
rencana pergeseran dari Arafah menuju Muzdalifah dan Mina kembali diuji oleh
keadaan. Rencana awal keluar tenda selepas Maghrib molor hingga usai Isya. Di
halte bus, penjemputan menganut hukum alam “siapa cepat dia naik angkot”—tidak
ada lagi urutan rombongan, campur aduk antara yang muda dan sepuh dalam pusaran
aksi saling dorong. Karena kami membawa jemaah lansia dan tak tega
berdesak-desakan, kami memilih mengalah dan menunggu hingga akhir. Penantian
bus melar begitu lama dalam penat yang menumpuk.
Alhasil, kami baru
terangkut di gelombang paling buncit. Bus yang kami naiki bahkan baru melintas
di Muzdalifah belum tengah malam—tak sempat mabit secara ideal maupun
dipasangkan skema murur yang pas—lalu langsung merayap membawa kami menuju
Mina.
Ujian belum selesai. Sesampainya di Mina dalam pekat malam, kami justru tidak mendapat jatah tempat di dalam tenda karena telah ditempati rombongan lain. Namun di atas hamparan tanah Mina dan di bawah naungan langit malam itu, kepasrahan kami sudah benar-benar meluas tanpa sisa.