Lewati ke konten utama
Kamis, 10 September 2026 / 28 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
IMG-20260910-WA0045
Berita

Pasukan Pemerintah Yaman Rebut Hais dari Houthi, Seberapa Signifikan?

Pasukan Pemerintah Yaman Rebut Hais dari Houthi, Seberapa Signifikan?

/ 28 Rabiul Awal 1448 H 4 menit baca 67 dibaca

Jakarta, MUI Digital –  Pasukan pemerintah Yaman dilaporkan berhasil merebut kembali wilayah Hais (Hays) di selatan Provinsi Hodeidah dari kelompok Houthi. 

Perkembangan tersebut menjadi salah satu kemajuan terbaru pasukan pemerintah di tengah meningkatnya pertempuran yang memunculkan kekhawatiran akan kembalinya konflik berskala besar di Yaman.

Dikutip MUI Digital dari Aljazeera, Selasa (8/9/2026), Hais merupakan wilayah yang memiliki posisi strategis karena berada di persimpangan Provinsi Hodeidah, Taiz, dan Ibb. 

Penguasaan wilayah tersebut dinilai dapat memberikan keuntungan bagi pasukan pemerintah dalam memperkuat posisi mereka di kawasan barat Yaman.

Selain Hais, pasukan pemerintah juga dilaporkan merebut kembali sejumlah wilayah di sekitar persimpangan al-Barh, Taiz bagian barat, dan bergerak menuju posisi yang dikuasai Houthi.

Wakil Sekretaris Kementerian Informasi Yaman, Fayad al-Numan,  mengatakan pasukan pemerintah juga menangkap puluhan pejuang Houthi dalam bentrokan di Distrik al-Jarahi, selatan Hodeidah.

Namun, kelompok Houthi belum memberikan komentar mengenai perkembangan tersebut.

Lebih lanjut, pertempuran meningkat setelah Houthi melancarkan serangan besar-besaran di sepanjang garis depan Taiz bagian barat dan Hodeidah selatan pada Kamis. 

Serangan tersebut melibatkan rudal balistik, drone, dan artileri, sementara pasukan darat Houthi berupaya bergerak menuju wilayah yang dikuasai pemerintah di sepanjang pesisir Laut Merah.

Bentrokan di Taiz pada Sabtu dilaporkan menewaskan lebih dari 60 orang, termasuk warga sipil, menurut laporan AFP.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) juga melaporkan sekitar 1.800 keluarga mengungsi dalam dua hari terakhir akibat meningkatnya pertempuran di Taiz.

Pertempuran kembali meningkat sejak awal Agustus setelah sebelumnya terjadi periode relatif tenang. Pasukan pemerintah Yaman saat itu melancarkan serangan terhadap sejumlah posisi Houthi di berbagai garis depan.

Meskipun keberhasilan merebut Hais dinilai strategis, perkembangan tersebut belum dapat disebut sebagai perubahan besar dalam keseimbangan kekuatan di Yaman.

Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, menyatakan angkatan bersenjata Yaman mampu memulihkan kendali atas seluruh wilayah negara dan memperingatkan bahwa apa yang disebutnya sebagai kesalahan perhitungan Houthi dapat menyebabkan keruntuhan total kelompok tersebut.

Namun, analis senior International Crisis Group (ICG), Ahmed Nagi, menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa pasukan pemerintah telah mengubah peta kekuasaan secara signifikan.

Menurut Nagi, dalam jangka pendek pasukan pemerintah berupaya merebut kembali wilayah yang sebelumnya direbut Houthi dalam dua hari terakhir. 

Sementara dalam jangka panjang, tujuan pemerintah adalah memukul mundur Houthi dan memulihkan otoritas pemerintah di seluruh Yaman.

“Tujuan yang dinyatakan pemerintah tetap untuk mengakhiri kendali Houthi dan memulihkan otoritasnya di seluruh Yaman. Pertanyaannya adalah seberapa jauh pemerintah sebenarnya dapat mencapai tujuan tersebut,” kata Nagi.

Di sisi lain, Houthi juga dilaporkan berhasil merebut sejumlah posisi di dekat Taiz sebelum pasukan pemerintah melancarkan serangan balasan.

Pasukan Houthi bahkan berupaya memutus akses menuju pelabuhan al-Makha yang dikuasai pemerintah serta bergerak menuju wilayah yang berbatasan dengan Selat Bab al-Mandeb.

Besarnya korban di pihak pemerintah juga menunjukkan sengitnya pertempuran. Menurut sumber militer yang dikutip AFP, sedikitnya 26 tentara pemerintah tewas dalam pertempuran yang berlangsung selama beberapa jam pada Sabtu.

Meski demikian, Nagi menilai terdapat perkembangan positif dalam koordinasi pasukan yang bersekutu dengan pemerintah.

“Bahkan ketika Houthi bergerak maju menuju pantai barat, pasukan pemerintah memberikan tekanan kepada mereka di berbagai front lainnya,” ujarnya.

Arab Saudi dan posisi strategis Bab al-Mandab 

Eskalasi terbaru di Yaman juga tidak terlepas dari dinamika konflik regional yang lebih luas. Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi pada Juli dan mulai menargetkan kapal serta wilayah Saudi.

Arab Saudi kemudian melakukan serangan udara terhadap posisi Houthi di Taiz.

Situasi tersebut semakin meningkatkan arti strategis Selat Bab al-Mandeb, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz bagi pelayaran komersial. 

Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi bagian dari rute perdagangan serta energi global.

Kemajuan Houthi menuju wilayah yang berbatasan dengan selat tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran internasional.

Pada Juli, Arab Saudi juga mengumumkan rencana membentuk aliansi internasional untuk menjaga keamanan Laut Merah dari serangan terhadap kapal-kapal yang dilakukan kelompok Houthi.

Dengan demikian, keberhasilan pasukan pemerintah merebut Hais memiliki arti strategis secara lokal, tetapi belum cukup untuk menunjukkan bahwa keseimbangan kekuatan dalam perang Yaman telah berubah secara menentukan. 

Perkembangan di sejumlah front dalam beberapa pekan mendatang akan menjadi penentu apakah kemajuan tersebut dapat berkembang menjadi momentum yang lebih besar bagi pemerintah Yaman. (Fitri)


BAGIKAN: