Renungan Muslim Fans Bola Pasca Perhelatan Piala Dunia
Oleh: Ahmad Yani, M.A
Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat/Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Perhelatan akbar sepak bola dunia 2026 usai sudah. Dukung-mendukung pun perlahan mulai reda. Tentu saja, dalam setiap kompetisi hanya akan melahirkan dua kemungkinan, menang atau kalah, juara atau tersisih.
Sebagaimana kita
saksikan, Pildun 2026 memberikan angin segar buat tim Spanyol. Lewat
perjuangan, kegigihan dan soliditas tim, Spanyol tampil ke atas mimbar dan
menggondol tropi kebanggaan yang menjadi obsesi setiap tim sepak bola. Spanyol
mampu menggulingkan langganan juara dunia, Argentina, dengan skor akhir 1-0.
Euforia Piala Dunia
FIFA selalu menyisakan lebih dari sekadar skor dan trofi. Ia melahirkan kisah,
emosi, dan yang paling mencolok, lahirnya idola baru. Dari lapangan hijau,
nama-nama seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Kylian Mbappé, Erling
Haaland, bahkan bintang muda Spanyol Lamine Yamal menjelma menjadi simbol
kekaguman lintas batas.
Lalu, di balik kekaguman itu, muncul pertanyaan penting, sebagai seorang muslim yang juga merupakan fans sepak bola, bagaimanakah Islam memandang cinta terhadap idola, dan apa implikasi psikologisnya?
Baca juga: Intimidasi dan Kekerasan Verbal: Antara Lisan dan Kezaliman
Antara Cinta dan
Idola
Alquran tidak
menafikan adanya rasa cinta dalam diri manusia. Bahkan, cinta adalah fitrah.
Allah berfirman, yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia
kecintaan kepada apa-apa yang diingini…” (QS. Ali ‘Imran: 14)
Ayat tersebut
menunjukkan bahwa ketertarikan, termasuk pada figur publik, adalah bagian dari
naluri manusia. Namun, Islam memberi batas tegas agar cinta tidak melampaui
proporsinya. Dalam ayat lain Allah berfirman, yang artinya: “Dan di antara
manusia ada orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mencintai Allah…” (QS. Al-Baqarah: 165)
Sementara itu, Rasulullah
SAW juga bersabda, yang artinya: “Tidak sempurna iman seseorang hingga Allah
dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya.” (HR Bukhari dan
Muslim)
Bagi seorang muslim,
harusnya hadis ini menjadi parameter, cinta kepada idola boleh saja, selama
tidak menggeser posisi cinta utama kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ulama klasik seperti
Imam al-Ghazali memandang cinta sebagai kekuatan jiwa yang bisa mengangkat atau
menjatuhkan manusia. Dalam Ihya’ Ulumuddin, beliau menjelaskan bahwa
cinta yang benar adalah yang mendekatkan kepada kebaikan dan kebenaran.
Lebih lanjut, al-Ghazali
menegaskan bahwa hati manusia itu
seperti cermin, ia akan memantulkan apa yang paling sering dihadapkannya. Jika
yang dihadapkan adalah tokoh-tokoh duniawi tanpa filter nilai, maka hati
perlahan akan menjadikan mereka sebagai pusat orientasi hidup.
Sementara, Ibnu Qayyim
al-Jauziyyah menegaskan bahwa tidak ada cinta yang berlebihan terhadap makhluk,
sebab lambat laun dapat menjerumuskan pada “penghambaan hati” yang keliru.
Lebih tajam lagi, Ibnu Qayyim mengingatkan, cinta berlebihan kepada makhluk sebagai “‘ubudiyyah al-qalb”, penghambaan hati yang tidak disadari. Seseorang mungkin tidak bersujud kepada idolanya, tetapi ia mengikuti, membela, dan bahkan mengorbankan nilai demi idolanya.
Di era kontemporer,
ulama seperti Syekh Yusuf al-Qaradawi mengingatkan bahwa mengagumi prestasi
seseorang adalah hal yang wajar, bahkan bisa menjadi motivasi, selama tidak
menimbulkan fanatisme buta (ta’asshub) atau melanggar nilai syariat.
Lebih lanjut, Syekh Yusuf al-Qaradawi memberi jalan tengah bahwa mengagumi prestasi adalah bagian dari apresiasi terhadap keunggulan manusia, tetapi fanatisme yang menutup akal adalah bentuk penyimpangan.
Baca juga: Ketika Debat Kehilangan Adab
Fenomena Idola
Pasca Piala Dunia
Setiap Piala Dunia
menciptakan narasi heroik. Seorang pemain bisa berubah dari atlet biasa menjadi
ikon global dalam semalam. Media sosial mempercepat proses ini, klip gol,
selebrasi, hingga kehidupan pribadi pemain tersebar luas dan membangun
kedekatan semu dengan penggemar.
Fenomena ini
melahirkan apa yang disebut “kultus selebritas”, di mana penggemar tidak hanya
mengagumi kemampuan, tetapi juga meniru gaya hidup, cara berpikir, bahkan
nilai-nilai sang idola.
Dalam psikologi,
kecenderungan mengidolakan figur publik dapat dijelaskan melalui beberapa
konsep. Pertama, identifikasi diri (self-identification), pada konsep
ini, seseorang melihat idola sebagai representasi dari diri ideal yang ingin
dicapai. Kedua, hubungan parasosial (parasocial relationship), yaitu
hubungan satu arah di mana penggemar merasa dekat secara emosional dengan figur
publik yang tidak mengenalnya. Dan ketiga, kebutuhan akan makna dan inspirasi,
di mana kisah perjuangan atlet memberi harapan dan motivasi
Di sisi lain, psikologi juga memperingatkan beberapa risiko, antara lain, kehilangan identitas diri karena terlalu meniru, kekecewaan ekstrem ketika idola gagal atau terlibat skandal, dan fanatisme yang bisa memicu konflik sosial. Ini semua perlu diantisipasi dengan pemahaman yang baik, bahwa berlebihan dalam hal mencintai maupun membenci akan berdampak buruk pada diri seseorang.
Baca juga: Cinta dan Kekerasan: Kelembutan Hati yang Berubah Arah
Menjaga Keseimbangan
Piala Dunia bukan
sekadar turnamen, ia adalah “pabrik emosi” global. Dalam waktu singkat, ia
mampu mengangkat seorang pemain menjadi legenda, mengubah narasi hidup
seseorang menjadi mitos inspiratif, dan membentuk loyalitas jutaan manusia
Di era digital, proses
ini semakin cepat dan dalam. Media sosial menciptakan ilusi kedekatan. Seorang
penggemar merasa “mengenal” idolanya, padahal hubungan itu sepenuhnya satu
arah. Akibatnya, lahirlah generasi yang lebih hafal statistik pemain daripada
ayat-ayat kehidupan, lebih emosional saat tim kalah daripada saat kehilangan
arah hidup, dan lebih cepat membela idola daripada membela kebenaran.
Tentu ini bukan
sekadar fenomena olahraga, tetapi fenomena pergeseran orientasi jiwa. Pada
dasarnya, mengidolakan pemain bola bukanlah sesuatu yang harus dihindari
sepenuhnya. Tidak menutup kemungkinan, ia bisa menjadi pintu inspirasi.
Disiplin latihan,
kerja keras, dan ketangguhan mental para atlet adalah nilai positif yang layak
diteladani. Lalu di sini, Islam dan akal sehat mengajarkan keseimbangan. Artinya,
boleh kita mengagumi prestasinya, tapi bukan mengultuskan pribadinya. Boleh
kita ambil nilai baiknya, tapi bukan menelan semuanya tanpa kritik yang selektif.
Begitu juga, boleh kita menjadikan idola sebagai motivasi, tapi bukan tujuan
hidup.
Sepak bola tidak salah. Idola pun tidak salah. Yang menjadi persoalan adalah ketika kita berhenti pada kekaguman, bukan melanjutkannya menjadi kesadaran.
Baca juga: Membaca Akar Masalah dan Meminimalisir Konflik Sosial
Seharusnya, kita belajar dari Messi, ketekunan tanpa putus asa. Dari Ronaldo, Mbappé, Haaland, keberanian dan kepercayaan diri. Lalu, belajar dari Lamine Yamal, kegigihan berjuang meraih cita-cita berbasis spiritualitas yang kokoh sejak usia dini. Begitu juga dari setiap pertandingan sepak bola, bahwa kemenangan butuh proses perjuangan dan pengalaman jatuh bangun yang panjang, yang tentunya tidak mudah.
Namun lebih dari itu,
sebagai seorang muslim, kita harus ingat, mereka para atlet sepak bola hebat juga manusia yang bisa salah, jatuh, dan fana.
Sedangkan hati kita terlalu berharga untuk ditambatkan pada sesuatu yang tidak
abadi.
Pasca perhelatan Piala
Dunia berakhir, dunia mungkin kembali tenang, tetapi jejak idola tetap hidup di
hati para penggemar. Lalu di sinilah ujian mungkin dimulai kembali, apakah
kekaguman itu menjadi energi untuk bertumbuh, atau justru menjauhkan dari jati
diri dan nilai-nilai spiritual?
Sepak bola boleh melahirkan idola, tetapi hati tetap harus tahu kepada siapa cinta tertinggi bermuara: Allah SWT.