Seni “Tabattul” di Era Digital
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Bagaimana mungkin sebuah gagasan yang dibawa oleh satu orang, di tengah kepungan peradaban yang reaktif, konfrontatif, dan agresif, mampu bertahan tanpa kompromi lalu berbalik mengubah jalannya sejarah? Kurang lebih demikianlah gambaran singkat betapa beratnya dakwah Islam Nabi Muhammad SAW di masa awal risalah kenabiannya.
Ketika menatap
sejarah fase Makkah, sering kali kita terjebak dalam romantisme heroisme fisik.
Kita lupa bahwa sebelum terjadi benturan di ruang publik, ada pertempuran karakter
yang melelahkan di ruang privat.
Perjuangan
generasi awal Islam bukanlah diskursus intelektual di ruang seminar yang
nyaman, melainkan sebuah konfrontasi eksistensial melawan tatanan jahiliyah
yang zalim.
Di tengah
intimidasi yang meneror mental, kecerdasan taktis dan kelihaian verbal terbukti
tidak memadai. Diperlukan sebuah jangkar psikologis yang melampaui logika
material, yaitu ketabahan hati dan ketegaran mental yang mutlak.
Di sinilah sebuah
paradoks “nubuwwah” yang indah bekerja. Untuk menggerakkan perubahan
besar di siang hari yang bising dan penuh agitasi, Allah justru tidak
memerintahkan pembentukan barisan militer terlebih dahulu, melainkan
menginstruksikan Nabi-Nya untuk “menepi” ke dalam keheningan malam. Inilah sebuah
formula transformasi jiwa dan psikoterapi Ilahi yang diabadikan dalam surat
Al-Muzzammil ayat 8, Allah SWT berfirman:
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ
وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا
“Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan (tabattul).”
Baca juga: Tartil Alquran: Fondasi Spiritual dan Intelektual yang Menopang Peradaban Islam
Dua Pilar
Kekuatan Ruhani
Berdasarkan
penjelasan para pakar tafsir terkemuka, ayat pendek ini sebenarnya menyimpan
dua pilar utama untuk menjaga kesehatan jiwa sang pejuang dakwah.
Pertama, “Wadzkurisma
rabbika” (sebutlah nama
Tuhanmu).
Perintah ini
mencakup segala jenis dzikir, yaitu tasbih, tahmid, tahlil, doa, hingga membaca
Alquran. Dzikir merupakan proses menarik kembali kesadaran kita yang berserakan
di dunia untuk berlabuh pada satu titik: Allah.
Dzikir yang
berkualitas bukanlah yang diucapkan terburu-buru, melainkan yang memberi waktu
bagi hati untuk menghayati setiap jengkal kalimat yang diucapkan.
Kedua, “Wa tabattal
ilaihi tabtiila” (fokus total
dan putuskan keterikatan).
Secara bahasa, “tabattul”
berarti memotong atau memisahkan sesuatu. Bagi penggerak dakwah, ini berarti
kontemplasi Ilahi. Tabattul bukan berarti kita harus pergi ke gunung,
hutan atau gua, mengasingkan diri menjadi rahib, dan meninggalkan medan dakwah.
Arti sebenarnya adalah memastikan dunia dan segala urusan dakwah hanya ada di genggaman tangan, sementara hati sepenuhnya milik Allah. Saat menghadapi-Nya, semua ekspektasi pada makhluk kita rontokkan, dan yang tersisa hanyalah kepasrahan yang utuh kepada Allah.
Baca juga: Ketika Doa dalam Qiyamul Lail “Belum Terkabul”
Dalam kacamata
psikologi dakwah, pergerakan ini menuntut keseimbangan dua sayap. Pertama, ketegaran
spiritual (resiliensi) yang diisi melalui qiyamul lail sebagai ruang
komunikasi intim dengan Al-Khaliq. Kedua, transformasi intelektual (kognisi) yang
diasah melalui tartilul qur’an untuk menembus makna ayat-ayat qauliyah,
serta tadabbur mendalam atas fenomena alam (ayat-ayat kauniyah).
Saat manusia
terjun ke masyarakat, nalar profannya dituntut bekerja secara manifestatif
dengan mengelola properti duniawi, merancang strategi, dan merespons kebutuhan
logistik.
Jika aktivitas
manifes ini tidak diimbangi dengan kembali ke ranah prinsip, ambisi dan
benturan di lapangan akan bertindak bagaikan angin kencang yang meniup
permukaan danau yang tenang.
Jiwa manusia
sejatinya adalah danau jernih itu. Ketika ia tenang, bayangan “matahari Ilahi”
dapat terpantul dengan presisi di kedalamannya. Namun, ketika angin ambisi
material dan kecemasan sosial bertiup terlalu kuat, riak gelombang yang keruh
akan muncul. Ego membesar, kesombongan menyeruak, dan manusia perlahan terseret
ke dalam jurang materialisme yang melupakan Dzat Yang Maha Mengatur.
Perintah “wa
tabattal ilaihi tabtila” adalah manifesto iman untuk meredakan gelombang
ego tersebut. Saat seorang hamba mengambil jeda secara sengaja di antara shalat
dan dzikir malamnya, ia sedang melakukan kontemplasi Ilahi. Di titik hening
inilah nalar profan yang lelah diistirahatkan. Perannya diserahkan kepada hati
(qalb) yang tersambung langsung dengan Allah.
Melalui kontinuitas jeda ini, fungsi kognitif otak disegarkan kembali (refresh). Efeknya, saat fajar menyingsing, intelektualitasnya bisa menjadi jauh lebih tajam, jernih, dan siap memimpin pergerakan tanpa kehilangan arah kompas spiritualnya.
Baca juga: Menjahit Napas Perjuangan Dakwah Melampaui Batas Usia
Sirah Nabawi:
Perisai Spiritual di Fase Makkah
Sejarah mencatat
betapa masifnya destruksi mental yang diarahkan kepada generasi awal Islam.
Tragedi yang menimpa keluarga Yasir, penyiksaan di atas pasir panas terhadap
Bilal bin Rabah, hingga boikot total secara kalkulasi rasional, harusnya sudah
lebih dari cukup untuk meruntuhkan struktur gerakan apa pun.
Lalu mengapa
mereka tidak goyah? Tidak lain, karena mereka mengoperasikan instalasi surat
Al-Muzzammil ayat 8 yang disinggung di atas secara konsisten dalam kurikulum
tarbiyah mereka.
Dzikir yang
menghujam dan tabattul di sepertiga malam membuat para sahabat mampu
mengeliminasi “ego” mereka sendiri. Ketika ego pribadinya telah melebur, rasa
takut terhadap represi makhluk runtuh, lalu digantikan oleh kesadaran ma’rifatullah.
Bentukan spiritual inilah yang melahirkan anomali karakter sahabat. Mereka memiliki ketegasan yang tak terbeli di hadapan kezaliman, namun menyimpan kelembutan yang dalam saat merangkul sesama manusia. Mereka memiliki optimisme rasional yang kokoh di tengah situasi makro yang tampak mustahil.
Baca juga: Tiga Pilar Sistemik Siklus Kehidupan Seorang Mukmin
Langkah Nyata
Setiap ledakan
perubahan sosial yang berdampak luas selalu dipicu dari ruang-ruang sunyi yang
tidak terdeteksi oleh radar publik. Kita tidak akan pernah bisa memperbaiki
carut-marut retorika publik, kegaduhan media sosial dan kezaliman struktural di
luar sana jika danau jiwa kita sendiri masih bergolak oleh ego, ambisi
personal, dan kecemasan duniawi.
Sebagai langkah
taktis untuk mengadopsi ketegaran mental generasi Makkah, mari kita instal dua
kebiasaan sederhana yang disinggung dalam ayat 8 surat Al-Muzammil mulai malam
ini.
Jangan sampai
kita menjadi sebatang lilin yang sibuk menerangi ruangan di luar, namun
perlahan habis terbakar dan hancur di dalam.
Menjadi penggerak dakwah di era kekinian membutuhkan stamina spiritual yang melampaui batas normal. Kepiawaian kita menyusun strategi di siang hari, mutlak ditentukan oleh seberapa khusyuk kita bersimpuh di hadapan-Nya pada malam hari.
Baca juga: Qiyamul Lail sebagai Wasilah Mengukur Rasa Butuh kepada Allah
Dzikir dan tabattul
bukanlah pelarian dari realitas, melainkan sebuah persiapan untuk menaklukkan
realitas. Ia membulatkan cinta kita yang sempat terserak, mempertajam cita-cita
yang mulai buram, melahirkan optimisme, dan menjaga komitmen demi tegaknya
kalimat Allah.
Maka, ketika malam mulai melabuhkan tirainya dan dunia mulai sunyi, tinggalkan sejenak gawai dan tutup laptop. Lalu masuklah ke dalam “Madrasah Al-Muzzammil”. Temui Rabb dalam keheningan dzikir dan tabattul, karena di sanalah kekuatan sejati berada. Bersiaplah untuk mengetuk pintu langit, agar bumi mampu ditaklukkan dengan keindahan Islam.