Lewati ke konten utama
Selasa, 14 Juli 2026 / 28 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Seni “Tabattul” di Era Digital

5 menit baca 105 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Seni “Tabattul” di Era Digital
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Bagaimana mungkin sebuah gagasan yang dibawa oleh satu orang, di tengah kepungan peradaban yang reaktif, konfrontatif, dan agresif, mampu bertahan tanpa kompromi lalu berbalik mengubah jalannya sejarah? Kurang lebih demikianlah gambaran singkat betapa beratnya dakwah Islam Nabi Muhammad SAW di masa awal risalah kenabiannya.

Ketika menatap sejarah fase Makkah, sering kali kita terjebak dalam romantisme heroisme fisik. Kita lupa bahwa sebelum terjadi benturan di ruang publik, ada pertempuran karakter yang melelahkan di ruang privat.

Perjuangan generasi awal Islam bukanlah diskursus intelektual di ruang seminar yang nyaman, melainkan sebuah konfrontasi eksistensial melawan tatanan jahiliyah yang zalim.

Di tengah intimidasi yang meneror mental, kecerdasan taktis dan kelihaian verbal terbukti tidak memadai. Diperlukan sebuah jangkar psikologis yang melampaui logika material, yaitu ketabahan hati dan ketegaran mental yang mutlak.

Di sinilah sebuah paradoks “nubuwwah” yang indah bekerja. Untuk menggerakkan perubahan besar di siang hari yang bising dan penuh agitasi, Allah justru tidak memerintahkan pembentukan barisan militer terlebih dahulu, melainkan menginstruksikan Nabi-Nya untuk “menepi” ke dalam keheningan malam. Inilah sebuah formula transformasi jiwa dan psikoterapi Ilahi yang diabadikan dalam surat Al-Muzzammil ayat 8, Allah SWT berfirman:

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

“Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan (tabattul).”

Baca juga: Tartil Alquran: Fondasi Spiritual dan Intelektual yang Menopang Peradaban Islam

Dua Pilar Kekuatan Ruhani

Berdasarkan penjelasan para pakar tafsir terkemuka, ayat pendek ini sebenarnya menyimpan dua pilar utama untuk menjaga kesehatan jiwa sang pejuang dakwah.

Pertama, “Wadzkurisma rabbika” (sebutlah nama Tuhanmu).

Perintah ini mencakup segala jenis dzikir, yaitu tasbih, tahmid, tahlil, doa, hingga membaca Alquran. Dzikir merupakan proses menarik kembali kesadaran kita yang berserakan di dunia untuk berlabuh pada satu titik: Allah.

Dzikir yang berkualitas bukanlah yang diucapkan terburu-buru, melainkan yang memberi waktu bagi hati untuk menghayati setiap jengkal kalimat yang diucapkan.

Kedua, “Wa tabattal ilaihi tabtiila” (fokus total dan putuskan keterikatan).

Secara bahasa, “tabattul” berarti memotong atau memisahkan sesuatu. Bagi penggerak dakwah, ini berarti kontemplasi Ilahi. Tabattul bukan berarti kita harus pergi ke gunung, hutan atau gua, mengasingkan diri menjadi rahib, dan meninggalkan medan dakwah.

Arti sebenarnya adalah memastikan dunia dan segala urusan dakwah hanya ada di genggaman tangan, sementara hati sepenuhnya milik Allah. Saat menghadapi-Nya, semua ekspektasi pada makhluk kita rontokkan, dan yang tersisa hanyalah kepasrahan yang utuh kepada Allah.

Baca juga: Ketika Doa dalam Qiyamul Lail “Belum Terkabul”

Dalam kacamata psikologi dakwah, pergerakan ini menuntut keseimbangan dua sayap. Pertama, ketegaran spiritual (resiliensi) yang diisi melalui qiyamul lail sebagai ruang komunikasi intim dengan Al-Khaliq. Kedua, transformasi intelektual (kognisi) yang diasah melalui tartilul qur’an untuk menembus makna ayat-ayat qauliyah, serta tadabbur mendalam atas fenomena alam (ayat-ayat kauniyah).

Saat manusia terjun ke masyarakat, nalar profannya dituntut bekerja secara manifestatif dengan mengelola properti duniawi, merancang strategi, dan merespons kebutuhan logistik.

Jika aktivitas manifes ini tidak diimbangi dengan kembali ke ranah prinsip, ambisi dan benturan di lapangan akan bertindak bagaikan angin kencang yang meniup permukaan danau yang tenang.

Jiwa manusia sejatinya adalah danau jernih itu. Ketika ia tenang, bayangan “matahari Ilahi” dapat terpantul dengan presisi di kedalamannya. Namun, ketika angin ambisi material dan kecemasan sosial bertiup terlalu kuat, riak gelombang yang keruh akan muncul. Ego membesar, kesombongan menyeruak, dan manusia perlahan terseret ke dalam jurang materialisme yang melupakan Dzat Yang Maha Mengatur.

Perintah “wa tabattal ilaihi tabtila” adalah manifesto iman untuk meredakan gelombang ego tersebut. Saat seorang hamba mengambil jeda secara sengaja di antara shalat dan dzikir malamnya, ia sedang melakukan kontemplasi Ilahi. Di titik hening inilah nalar profan yang lelah diistirahatkan. Perannya diserahkan kepada hati (qalb) yang tersambung langsung dengan Allah.

Melalui kontinuitas jeda ini, fungsi kognitif otak disegarkan kembali (refresh). Efeknya, saat fajar menyingsing, intelektualitasnya bisa menjadi jauh lebih tajam, jernih, dan siap memimpin pergerakan tanpa kehilangan arah kompas spiritualnya.

Baca juga: Menjahit Napas Perjuangan Dakwah Melampaui Batas Usia

Sirah Nabawi: Perisai Spiritual di Fase Makkah

Sejarah mencatat betapa masifnya destruksi mental yang diarahkan kepada generasi awal Islam. Tragedi yang menimpa keluarga Yasir, penyiksaan di atas pasir panas terhadap Bilal bin Rabah, hingga boikot total secara kalkulasi rasional, harusnya sudah lebih dari cukup untuk meruntuhkan struktur gerakan apa pun.

Lalu mengapa mereka tidak goyah? Tidak lain, karena mereka mengoperasikan instalasi surat Al-Muzzammil ayat 8 yang disinggung di atas secara konsisten dalam kurikulum tarbiyah mereka.

Dzikir yang menghujam dan tabattul di sepertiga malam membuat para sahabat mampu mengeliminasi “ego” mereka sendiri. Ketika ego pribadinya telah melebur, rasa takut terhadap represi makhluk runtuh, lalu digantikan oleh kesadaran ma’rifatullah.

Bentukan spiritual inilah yang melahirkan anomali karakter sahabat. Mereka memiliki ketegasan yang tak terbeli di hadapan kezaliman, namun menyimpan kelembutan yang dalam saat merangkul sesama manusia. Mereka memiliki optimisme rasional yang kokoh di tengah situasi makro yang tampak mustahil.

Baca juga: Tiga Pilar Sistemik Siklus Kehidupan Seorang Mukmin

Langkah Nyata

Setiap ledakan perubahan sosial yang berdampak luas selalu dipicu dari ruang-ruang sunyi yang tidak terdeteksi oleh radar publik. Kita tidak akan pernah bisa memperbaiki carut-marut retorika publik, kegaduhan media sosial dan kezaliman struktural di luar sana jika danau jiwa kita sendiri masih bergolak oleh ego, ambisi personal, dan kecemasan duniawi.

Sebagai langkah taktis untuk mengadopsi ketegaran mental generasi Makkah, mari kita instal dua kebiasaan sederhana yang disinggung dalam ayat 8 surat Al-Muzammil mulai malam ini.

Jangan sampai kita menjadi sebatang lilin yang sibuk menerangi ruangan di luar, namun perlahan habis terbakar dan hancur di dalam.

Menjadi penggerak dakwah di era kekinian membutuhkan stamina spiritual yang melampaui batas normal. Kepiawaian kita menyusun strategi di siang hari, mutlak ditentukan oleh seberapa khusyuk kita bersimpuh di hadapan-Nya pada malam hari.

Baca juga: Qiyamul Lail sebagai Wasilah Mengukur Rasa Butuh kepada Allah

Dzikir dan tabattul bukanlah pelarian dari realitas, melainkan sebuah persiapan untuk menaklukkan realitas. Ia membulatkan cinta kita yang sempat terserak, mempertajam cita-cita yang mulai buram, melahirkan optimisme, dan menjaga komitmen demi tegaknya kalimat Allah.

Maka, ketika malam mulai melabuhkan tirainya dan dunia mulai sunyi, tinggalkan sejenak gawai dan tutup laptop. Lalu masuklah ke dalam “Madrasah Al-Muzzammil”. Temui Rabb dalam keheningan dzikir dan tabattul, karena di sanalah kekuatan sejati berada. Bersiaplah untuk mengetuk pintu langit, agar bumi mampu ditaklukkan dengan keindahan Islam.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.