Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Mengapa Nabi Tidak Pernah Terjebak dalam Ledakan Emosi?

6 menit baca 608 dibaca
KH Khariri Makmun, Lc, DPL, M.A

Oleh: KH Khariri Makmun, Lc, DPL, M.A

Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI/Pengasuh Pesantren Algebra, Bogor

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Mengendalikan Emosi adalah Ajaran Nabi
Ilustrasi seorang muslim tersenyum dan bersalaman dengan temannya. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Perkembangan ilmu psikologi modern telah melahirkan berbagai teori mengenai manajemen konflik, regulasi emosi, dan negosiasi. Salah satu konsep yang banyak mendapat perhatian adalah “tactical empathy” atau empati taktis, yakni kemampuan memahami dan mengakui emosi orang lain tanpa harus menyetujui perilakunya.

Konsep ini dipopulerkan oleh mantan negosiator FBI, Chris Voss, sebagai strategi efektif untuk meredakan konflik dan mengembalikan lawan bicara ke kondisi berpikir rasional.

Menariknya, apa yang hari ini dipresentasikan sebagai temuan psikologi modern sesungguhnya telah lama dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam banyak peristiwa, Rasulullah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam membaca kondisi emosional manusia, meredakan kemarahan, dan mengubah permusuhan menjadi penerimaan. Bahkan, jika ditelaah lebih dalam, sunnah Nabi mengandung prinsip-prinsip yang sangat dekat dengan teori regulasi emosi dan empati taktis yang berkembang saat ini.

Baca juga: Al-Muzzammil: Misteri di Balik Sapaan “Orang Berselimut” pada Nabi

Kemarahan dan Hilangnya Kendali Rasional

Psikologi modern menjelaskan bahwa kemarahan yang memuncak dapat menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan berpikir jernih. Dalam istilah neurosains, kondisi ini dikenal sebagai “amygdala hijack”, yaitu ketika sistem emosi mengambil alih fungsi berpikir rasional.

Empat belas abad yang lalu, Rasulullah telah memberikan perhatian besar terhadap bahaya kemarahan. Dalam sebuah hadis terkenal disebutkan:

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ أَوْصِنِي، قَالَ: لَا تَغْضَبْ، فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لَا تَغْضَبْ

Dari Abu Hurairah, seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW: ‘Berilah aku nasihat.’ Beliau bersabda: ‘Jangan marah.’ Orang itu mengulanginya berkali-kali dan beliau tetap menjawab: ‘Jangan marah.’” (HR Bukhari)

Hadis ini sering dipahami secara sederhana sebagai larangan marah. Sementara para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan menghilangkan emosi marah—karena marah adalah naluri manusia—melainkan mengendalikan diri agar tidak dikuasai oleh kemarahan.

Pesan Nabi tersebut sejalan dengan temuan psikologi modern bahwa kemampuan mengelola emosi lebih menentukan kualitas keputusan seseorang dibanding kecerdasan intelektual semata.

Dalam budaya modern, kekuatan sering diidentikkan dengan kemampuan mendominasi atau mengalahkan orang lain. Namun Nabi justru mendefinisikan kekuatan secara berbeda. Beliau bersabda:

 لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengandung revolusi psikologis yang luar biasa. Nabi menggeser definisi kekuatan dari dominasi fisik menuju penguasaan diri (self-mastery).

Baca juga: Jaminan Petunjuk Allah bagi Pendakwah

Dalam bahasa psikologi kontemporer, kemampuan tersebut disebut “emotional regulation”, yaitu kemampuan seseorang mengelola dorongan emosional agar tidak berubah menjadi perilaku destruktif.

Jika diterapkan dalam konteks modern, hadis ini relevan bagi pemimpin organisasi, pejabat publik, guru, orang tua, hingga pengguna media sosial. Kemampuan mengendalikan reaksi sering kali jauh lebih penting daripada kemampuan memenangkan perdebatan.

Meredakan Emosi dengan Memahami Akar Masalah

Salah satu contoh paling menakjubkan dalam sirah Nabi adalah peristiwa seorang pemuda yang datang meminta izin untuk berzina. Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa seorang pemuda mendatangi Rasulullah dan berkata:

 يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا

“Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina.”

Para sahabat marah dan hampir menghardiknya. Namun Nabi tidak ikut marah. Beliau justru mempersilakan pemuda itu mendekat. Kemudian Rasulullah bertanya:

أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟

“Apakah engkau menyukai hal itu terjadi pada ibumu?

Pemuda itu menjawab tidak. Lalu Nabi melanjutkan pertanyaan yang sama tentang putrinya, saudara perempuannya, bibinya, dan kerabat perempuannya yang lain.

Pemuda itu menjawab tidak pada setiap pertanyaan. Setelah itu Nabi meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut dan mendoakannya. (HR Ahmad)

Peristiwa ini merupakan contoh sempurna empati taktis. Nabi tidak memulai dengan hukuman, ancaman, atau kemarahan. Beliau terlebih dahulu memahami kondisi psikologis pemuda tersebut lalu mengajak berpikir melalui perspektif emosional yang dapat dipahaminya.

Baca juga: Pesan Tersirat Surat Al-Qalam Menyembuhkan Lelah Mental dalam Dakwah

Dalam teori negosiasi modern, metode ini dikenal sebagai “perspective taking”, yaitu mengajak seseorang melihat persoalan dari sudut pandang lain sehingga terjadi perubahan kesadaran secara sukarela.

Peristiwa lain yang sangat relevan adalah kisah seorang Arab Badui yang kencing di dalam masjid. Dalam riwayat sahih disebutkan:

أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِي الْمَسْجِدِ

“Seorang Arab Badui kencing di masjid.”

Para sahabat spontan berdiri dan hendak memarahinya. Namun Nabi justru bersabda:

دَعُوهُ وَلَا تُزْرِمُوهُ

“Biarkan dia dan jangan kalian hentikan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Setelah orang itu selesai, Nabi tidak mempermalukannya di depan umum. Beliau menjelaskan dengan tenang bahwa masjid adalah tempat untuk berdzikir, shalat, dan membaca Alquran.

Berkat pendekatan tersebut, orang Badui itu tidak marah, tidak merasa dipermalukan, dan justru menerima nasihat Nabi dengan lapang dada.

Dari sudut pandang psikologi sosial, tindakan Nabi mencegah terjadinya eskalasi konflik. Jika sahabat langsung menghardik dan mempermalukannya, kemungkinan besar orang tersebut akan bereaksi defensif atau bahkan agresif.

Menghadapi Kekasaran dengan Ketenangan

Salah satu peristiwa paling terkenal terjadi ketika seorang Arab Badui menarik selendang Nabi dengan keras hingga meninggalkan bekas pada leher beliau. Riwayat dalam Shahih Bukhari menyebutkan:

فَجَذَبَ رِدَاءَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً

“Ia menarik selendang Nabi dengan sangat keras.”

Lalu orang itu berkata:

مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ

“Berikan kepadaku harta Allah yang ada padamu.”

Alih-alih marah, Nabi justru tersenyum dan memerintahkan agar orang tersebut diberi bantuan.

Peristiwa ini menunjukkan tingkat pengendalian emosi yang luar biasa. Nabi tidak terjebak dalam perilaku kasar yang tampak di permukaan, tetapi memahami kebutuhan dan kondisi sosial yang melatarbelakanginya.

Baca juga: Nabi Ibrahim dan Keabadian Nama di Tengah Budaya Viral

Dalam teori psikologi konflik, ini disebut kemampuan membedakan antara posisi dan kepentingan (position versus interest). Perilaku kasar hanyalah posisi yang tampak. Kebutuhan yang belum terpenuhi adalah kepentingan yang sebenarnya.

Masyarakat modern menghadapi ledakan konflik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Media sosial memungkinkan kemarahan menyebar dalam hitungan detik. Perdebatan politik berubah menjadi permusuhan. Perbedaan pendapat berubah menjadi pembatalan sosial (cancel culture). Banyak orang lebih tertarik menyerang daripada memahami.

Dalam situasi seperti ini, sunnah Nabi menawarkan pendekatan yang sangat relevan. Rasulullah mengajarkan bahwa manusia yang sedang marah tidak membutuhkan serangan balik. Mereka membutuhkan ruang untuk didengar. Mereka membutuhkan kesempatan untuk menurunkan suhu emosinya sebelum diajak berpikir rasional.

Prinsip ini identik dengan apa yang kini dikenal dalam psikologi sebagai deeskalasi konflik. Ketika seseorang merasa dipahami, sistem pertahanan psikologisnya menurun. Ketika ia merasa dihormati, peluang dialog terbuka lebih besar.

Karena itu, kemenangan dalam konflik bukanlah ketika kita berhasil membungkam lawan. Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu mengubah kemarahan menjadi pemahaman, permusuhan menjadi dialog, dan ketegangan menjadi penyelesaian.

Baca juga: Urgensi Akhlak Mulia dalam Kepemimpinan

Apa yang hari ini disebut empati taktis oleh para pakar negosiasi modern sesungguhnya telah dicontohkan Rasulullah SAW sejak empat belas abad yang lalu. Bedanya, jika psikologi modern memandangnya sebagai teknik komunikasi, Nabi menjadikannya sebagai manifestasi akhlak yang lahir dari kasih sayang, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Dari perspektif ilmiah, hadis-hadis Nabi tentang kemarahan bukan sekadar nasihat moral, tetapi juga mengandung prinsip-prinsip psikologi sosial, neurosains perilaku, dan manajemen konflik yang baru banyak dijelaskan secara sistematis oleh ilmu pengetahuan modern pada abad ke-20 dan ke-21.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.