Pesan Tersirat Surat Al-Qalam Menyembuhkan Lelah Mental dalam Dakwah
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Derasnya arus informasi di era digital sering kali membawa residu lama dalam kemasan baru, seperti pembunuhan karakter (character assassination). Dan tahukah kita, bahwa serangan terhadap kredibilitas pribadi pendakwah ini sebenarnya telah menjadi senjata utama musuh-musuh kebenaran sejak zaman kenabian?
Ketika cahaya
Islam mulai memancar dari Gua Hira dengan diangkatnya Muhammad menjadi nabi dan
rasul terakhir, elite Quraisy yang gusar, marah, kecewa dan panik lalu menyerang
dengan labelisasi dan hoaks.
Mereka menyebut Rasulullah SAW sebagai majnun (orang gila), dukun, penyihir, penyair, pembohong, tukang cerita. Namun, Allah SWT tidak membiarkan kekasih-Nya berjuang sendirian dalam sesak dada yang menghimpit.
Baca juga: Ketika Label “Gila” Menjadi Strategi Membunuh Karakter Para Nabi
“Hoax”
dan “Buzzer” Zaman Dulu
Al-Walid bin
al-Mughirah, arsitek propaganda Quraisy, menyadari satu hal bahwa narasi Islam
terlalu manis dan logis, tidak mungkin bisa dipatahkan. Maka, alih-alih melawan
argumen dengan argumen, ia memilih menyerang pribadi Nabi Muhammad SAW.
Menjelang musim
haji, Al-Walid memanfaatkan “buzzer” pertama di Semenanjung Arab. Ia
menugaskan enam belas pria terpilih, orang-orang yang pandai bersilat lidah, untuk
menyebarkan isu dusta di empat jalur utama menuju Makkah. Tugas mereka
sederhana namun mematikan, yaitu mencegat setiap peziarah dan mempertahankan
narasi tunggal bahwa Muhammad adalah dukun yang gila.
Operasi ini merupakan
bentuk “hoax” yang telah terencana dengan rapi, yang dalam bahasa
sekarang disebut rencana TSM (Terstruktur, Sistematis dan Masif).
Para “pendengung”
ini bekerja sif demi sif untuk memastikan tidak ada satu pun pendatang yang
sempat mendengar kebenaran langsung dari lisan Rasulullah SAW. Tujuannya tidak
lain untuk menciptakan ketakutan psikologis agar orang-orang merasa ngeri
sebelum sempat bertemu Nabi Muhammad SAW.
Meski taktik ini berhasil membuat dada Nabi Muhammad terasa sesak, namun sejarah mencatat kegagalan total strategi tersebut. Fitnah mungkin bisa menguasai jalanan Makkah selama beberapa malam, namun ia tak pernah mampu memadamkan cahaya kebenaran yang sudah terlanjur mengetuk pintu hati manusia yang jujur.
Secara kemanusiaan, Rasulullah SAW adalah sosok yang lembut dan peka. Mendapat cacian, makian, dan dituduh gila oleh orang-orang yang sebelumnya menyebut beliau “Al-Amin” (orang yang terpercaya) tentu menimbulkan adanya sedikit banyak rasa berat di hati Rasulullah.
Baca juga: “Nun” dan Rahasia Al-Qalam
Allah SWT merekam
beban mental ini dalam firman-Nya:
“Dan Kami
sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka
ucapkan.” (QS. Al-Hijr :
97)
Untuk memulihkan
kondisi psikis Nabi Muhammad SAW, Allah tidak hanya menurunkan satu ayat
pembelaan. Dalam rangkaian awal surat Al-Qalam, Allah “menyusun” argumentasi
berlapis untuk meruntuhkan bangunan fitnah Quraisy.
Argumentasi pertama,
Allah memulai pembelaan-Nya dengan menegaskan status mental dan spiritual Nabi. Allah menegaskan, “Maa
anta bini'mati rabbika bimajnuun”, artinya
“Berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukanlah orang gila.”
(QS. Al-Qalam: 2)
Penggunaan kata “ni’mat”
di sini sangat krusial. Para mufassir menjelaskan bahwa nikmat yang dimaknai
adalah kenabian, dan wahyu Alquran.
Seakan Allah ingin
menyampaikan bahwa mustahil seseorang yang diberi amanah sebesar Alquran memiliki
cacat mental. Dan cahaya ilmu berupa surat Al-‘Alaq yang sebelumnya telah diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW adalah antitesis dari kegilaan itu.
Argumentasi kedua,
setelah membela kewarasan Nabi Muhammad, Allah memberikan hiburan berupa
janji masa depan yang kontras dengan penderitaan saat di Makkah. Allah menegaskan
dalam firman-Nya, “Wa inna laka la-ajran
ghaira mamnun”, artinya, “Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala
yang besar yang tidak putus-putusnya.” (QS. Al-Qalam: 3)
Kata “ghaira mamnun”
(tidak putus-putus) adalah janji bahwa setiap tetes keringat, rasa sakit
hati akibat cercaan orang kafir, dan adanya kesabaran Nabi Muhammad SAW dalam
berdakwah akan dikonversi menjadi pahala yang terus mengalir abadi.
Dengan kata lain, Allah sedang mengalihkan fokus Nabi Muhammad SAW dari berisiknya gangguan orang-orang kafir Quraisy, menuju pahala yang tidak terhitung di akhirat.
Baca juga: Antara Syahadat dan Ketaatan
Dakwah Orientasi
Akhirat
Ayat ketiga surat
Al-Qalam ini secara fundamental melakukan dekonstruksi terhadap motif dan
orientasi dalam aktivitas dakwah.
Secara
aksiologis, keberhasilan seorang pendakwah tidak dapat diukur melalui
variabel-variabel profan yang bersifat temporal seperti euforia pujian, tepuk
tangan, pengakuan sosial (social recognition), akumulasi basis massa pengikut (followers), maupun kompensasi materiil yang bersifat transaksional.
Metrik-metrik
duniawi tersebut, mulai dari jumlah like hingga tinggi apresiasi
finansial, merupakan indikator yang terlalu rendah dan kerdil jika dibandingkan
dengan janji substansial yang ditawarkan Allah.
Pesan sentral
yang ingin ditekankan adalah pergeseran orientasi dari nilai-nilai pragmatis
menuju pahala yang bersifat “ghaira mamnun”. Sebuah ketidakseimbangan tujuan
akhir yang melampaui logika kalkulasi manusia dan tidak terinterupsi oleh
batasan ruang dan waktu.
Ketika seorang
pengemban dakwah berhasil menginternalisasi prinsip ini, maka ia akan memiliki
imunitas psikologis dan ketahanan keyakinan yang kokoh.
Dalam perspektif
ini, segala bentuk resistensi sosial, baik berupa stigma, marjinalisasi, hingga
serangan personal (pembunuhan karakter) tidak lagi dipandang sebagai hambatan
destruktif, melainkan sekadar dinamika bumbu-bumbu dakwah.
Kelurusan
orientasi yang fokus pada balasan ukhrawi berfungsi sebagai perisai
mental yang mencegah timbulnya keputusasaan, luka batin, futur (lelahnya mental), maupun
distorsi semangat di tengah badai ujian.
Dengan demikian, dakwah tetap berjalan di atas rel konsistensi (istiqamah) karena standar keberhasilannya tidak lagi bertumpu pada penilaian manusia yang fluktuatif, melainkan pada ridha dan balasan dari Allah yang bersifat absolut.
Baca juga: Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin
Upaya keji untuk
menghentikan dakwah melalui manipulasi informasi bukanlah hal baru. Jika dulu
kafir Quraisy menggunakan labelisasi “gila”, hari ini mesin propaganda bergerak
lebih masif melalui media komunikasi yang canggih untuk kepentingan global yang
kompleks.
Bagaimanapun keadaannya,
satu hal yang tetap konsisten: Allah adalah penjamin bagi mereka yang berpegang
pada kebenaran.
Islam yang tumbuh
subur di tengah badai fitnah Makkah adalah bukti nyata bahwa integritas moral
akan selalu menjadi pemenang mutlak atas segala bentuk pembunuhan karakter.
Kisah pembelaan
Allah terhadap Nabi Muhammad ini memberikan pelajaran penting untuk menghadapi
kenyataan modern.
Aktivis dakwah dan pembawa perubahan sering kali mengalami “kelelahan mental” akibat perundungan (bullying) di media sosial. Obatnya adalah menggeser orientasi dari mencari validasi manusia menuju mencari pahala yang tak terputus di sisi Allah, yakni berupa “ajran ghaira mamnun”.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.