Dari Surau Kampung hingga Ruang Strategis Negara, Jejak Kiai Ni'am dalam Buku ‘ASRAR’
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Depok, MUI Digital – Menyambut usia emas setengah abad, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, menggelar acara Tasyakur Yaumil Milad ke-50.
Momentum sakral ini ditandai dengan pelaksanaan soft launching buku terbaru yang berjudul "ASRAR: Rahasia Pengabdian Antara Mimbar dan Kebijakan. Biografi 50 Tahun Prof KH Asrorun Niam Sholeh".
Buku setebal 256 halaman tersebut ditulis oleh Mohammad Fadhilah Zein, dan menjadi refleksi otobiografis serta spiritual mengenai perjalanan hidup lima dekade sang profesor.
Di dalamnya, termaktub kisah transformasi seorang santri dari desa kecil di Nganjuk, Jawa Timur, hingga menjadi salah satu tokoh strategis dalam perumusan kebijakan publik di tingkat nasional.
Prof Asrorun Niam mengenang kembali masa kecilnya di Dusun Karang Tengah, Desa Garu, Kabupaten Nganjuk. Dibesarkan dalam atmosfer keluarga yang menempatkan agama sebagai poros kehidupan, ia mewarisi tradisi keilmuan dari sang kakek, Bani Sholehuddin, yang merupakan salah satu pendiri Madrasah Hayya ‘alal Falah.
"Dari keluarga, saya belajar bahwa agama bukan hanya diajarkan, tetapi dihidupkan; bukan sekadar diwariskan, melainkan diteladankan dalam keseharian," ungkap Prof. Niam, dikutip MUI Digital dalam prolog bukunya saat soft launching, Ahad (31/5/2026).
Di madrasah tersebut, ia mulai menempa pengetahuan dasar keagamaan. Proses itu tidak hanya menanamkan kecintaan pada ilmu, tetapi juga membangun kesadaran tanggung jawab sosial.
Perjalanan intelektual dan spiritualnya kemudian berlanjut melalui pendidikan pesantren klasik yang lebih luas dan mendalam.
Di lingkungan pesantren, ia tidak hanya diasah dalam khazanah Islam klasik (kitab turats), tetapi juga ditempa untuk hidup mandiri, berdisiplin, dan berkhidmat kepada masyarakat.
"Pesantren membentuk cara berpikir yang tawazun (seimbang), menghargai tradisi, sekaligus terbuka terhadap perubahan. Dari ruang-ruang halaqah itulah tumbuh kesadaran bahwa ilmu agama harus hadir sebagai solusi bagi persoalan umat dan bangsa. Belajar agama bukan semata mengumpulkan pengetahuan, melainkan membangun tanggung jawab moral," jelasnya.
Baca juga: Masjidil Haram Jadi Saksi Peringatan Setengah Abad Prof Niam: Istiqamah, Doa, dan Menebar Manfaat
Harmoni antara ulama dan umara
Hal yang menarik dari buku "ASRAR" ini adalah bagaimana Prof Niam membedah peran gandanya sebagai ulama (pemimpin agama) sekaligus umara (birokrat/pemimpin pemerintahan).
Menurutnya, ruang mimbar dan ruang kebijakan negara tidak boleh dipertentangkan, melainkan harus berjalan beriringan.
Ketika dipercaya masuk ke dalam birokrasi, ia menegaskan bahwa identitas keulamaan tidak boleh luntur, melainkan wajib menjadi kompas moral dalam setiap pengambilan keputusan.
"Ketika amanah publik datang, saya menyadari bahwa keulamaan tidak berhenti di atas mimbar, tetapi diuji dalam keberanian menjaga nilai di tengah kompleksitas kebijakan. Pesantren mengajarkan saya bahwa kedalaman ilmu harus berjalan seiring dengan kerendahan hati, dan kedisiplinan adalah bentuk lain dari keikhlasan," tegas Guru Besar UIN Jakarta ini.
Perpaduan antara pendidikan pesantren sejak dini dan pendidikan tinggi dinilai telah memperluas cakrawala intelektualnya. Kombinasi dua tradisi ini membentuk sosok ulama yang tidak hanya piawai memahami teks keagamaan, tetapi juga cakap membaca konteks zaman dan tantangan kebangsaan secara kritis, jernih, dan bijaksana.
Dakwah yang meneduhkan dan relevan
Selain mengulas sisi birokrasi, buku ini juga merekam konsistensi pemikiran Prof Niam yang dituangkan dalam berbagai karya tulis ilmiah yang argumentatif maupun tulisan populer yang mencerahkan di media massa.
Di atas mimbar, ia dikenal sebagai pendakwah yang rasional dan meneduhkan. Ia tidak sekadar mengulang dalil, melainkan menghidupkan nilai Islam agar relevan dengan realitas sosial.
Baca juga: Rahasia Spiritual di Balik Kesuksesan Kiai Ni'am yang Diungkap Sahabat Karib
Dakwah tersebut diuji secara nyata ketika ia terlibat langsung menjembatani idealitas ajaran agama dengan kompleksitas tata kelola pemerintahan.
Menutup refleksinya di usia 50 tahun, Prof Niam menegaskan bahwa kesetiaan pada tradisi bukan berarti menutup diri dari modernitas, melainkan menjadikannya pijakan untuk merespons zaman secara bijaksana.
"Dalam perjalanan hidup ini, saya berupaya menghadirkan harmoni antara peran ulama dan umara. Pengabdian kepada umat dan negara tidak harus dipertentangkan, melainkan dapat disatukan dalam satu napas perjuangan. Menoleh ke belakang, saya melihat perjalanan ini bukan sebagai rangkaian pencapaian pribadi, melainkan sebagai proses panjang pembelajaran dan amanah yang terus diuji," kata dia.