Lewati ke konten utama
Sabtu, 26 September 2026 / 14 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Masud
KH Abdullah Mas'ud dalam Tasyakur Yaumil Milad Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh. Foto: Sadam/ MUI Digital
Berita

Rahasia Spiritual di Balik Kesuksesan Kiai Ni'am yang Diungkap Sahabat Karib

Rahasia Spiritual di Balik Kesuksesan Kiai Ni'am yang Diungkap Sahabat Karib

/ 14 Dzulhijjah 1447 H 3 menit baca 935 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Di balik reputasi akademik dan kebijakan besarnya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof Dr KH Asrorun Ni’am Sholeh ternyata memiliki konsistensi luar biasa dalam menjalankan riyadhah (olah spiritual), khususnya puasa sunnah Senin-Kamis yang tidak pernah terputus sejak masa mahasiswa.

Hal tersebut diungkapkan sahabat karibnya, Bendahara Umum Presidium Pusat Majelis Alumni IPNU, KH Abdullah Mas'ud saat menyampaikan tausiyah dalam acara Tasyakur Yaumil Milad ke-50 sekaligus soft launching buku biografi "ASRAR: Rahasia Pengabdian Antara Mimbar dan Kebijakan. Biografi 50 Tahun Prof KH Asrorun Niam Sholeh."

"Saya tahu betul sejak mahasiswa, beliau tidak pernah putus puasa Senin-Kamis. Saya dulu pernah suatu saat ke rumah kakak beliau di Klender, bertemu Prof Niam dan beliau sedang berpuasa," kenang Kiai Mas'ud di Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat, Ahad (31/5/2026). 

Menurut Kiai Mas'ud, kesuksesan yang diraih Prof Niam hari ini adalah buah dari keseimbangan antara ikhtiar lahiriah dan batiniah. 

Dia menegaskan bahwa kecerdasan dan kegigihan belajar saja tidak akan cukup tanpa dibarengi dengan pendekatan diri kepada Allah SWT.

"Prof Niam selalu menyampaikan kita tidak cukup dengan giat belajar, meskipun sangat penting giat belajar. Tapi tidak cukup hanya belajar saja, harus dibarengi riyadhoh, melatih diri. Salah satunya puasa, shalat malam, tahajud, kalau perlu shalat hajat 12 rakaat. Insya Allah apa yang diinginkan akan dimudahkan oleh Allah," jelasnya.

Nilai disiplin spiritual inilah yang kini ditanamkan kuat di Pondok Pesantren An-Nahdlah. Kiai Mas'ud menceritakan bahwa seluruh santri di pesantren yang didirikan oleh Prof Niam tersebut kini diwajibkan untuk menjalankan puasa Senin-Kamis demi mengikuti jejak sang muassis (pendiri).

"Makanya anak-anak santri, sejak berdiri (Ponpes An-Nahdlah), wajib puasa Senin-Kamis. Meskipun secara syar'i itu sunnah, tapi di An-Nahdlah menjadi wajib sebagai bentuk latihan," tambahnya.

Lebih lanjut, Kiai Mas'ud mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan momentum milad emas ke-50 ini bukan sekadar perayaan, melainkan ruang refleksi untuk meneladani produktivitas dan ketangguhan Prof Niam yang mampu memaksimalkan potensi di tengah keterbatasan masa lalu.

"Hari ini kita tidak sekadar memperingati milad sosok yang luar biasa, tetapi menjadi ruang refleksi kita untuk meneladani apa yang sudah dilakukan oleh muassis An-Nahdlah ini. Beliau sekolah dalam keterbatasan, tetapi tidak pernah tidak belajar. Dalam keterbatasan, bisa maksimal," tuturnya.

Ketua PCNU Kota Tangerang Selatan ini mengingatkan bahwa esensi usia 50 tahun adalah bagaimana seseorang bisa terus konsisten memproduksi kemanfaatan bagi umat (khoirunnas anfahum linnas) dan meninggalkan warisan kebaikan (legacy) yang abadi.  

BAGIKAN: