Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

“Nun” dan Rahasia Al-Qalam

6 menit baca 2.318 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
“Nun” dan Rahasia Al-Qalam
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Dalam tartib nuzulul quran (runtutan diturunkannya Alquran), para jumhur ulama tafsir menyepakati bahwa surat Al-Qalam hadir sebagai wahyu kedua, menyusul surat Al-‘Alaq 1-5 sebagai surat pertama turun.

Jika Al-‘Alaq adalah perintah untuk membaca (iqra’), maka Al-Qalam adalah instrumen untuk dokumentasi ilmu pengetahuan.

Surat ini dibuka dengan huruf muqatta’ah,Nun, yang menjadi pintu masuk menuju ruang tadabbur yang luas. Meskipun merupakan bagian dari khazanah bahasa Arab yang digunakan masyarakat saat itu, para ulama tafsir memiliki beragam sudut pandang dalam memaknainya. Sebagian besar mufasir mengembalikan kebenaran hakikat maknanya hanya kepada Allah Sang Pemilik Kalam.

Secara filosofis, kehadiran Nun di awal surat merupakan “strategi” komunikatif yang bersifat Ilahiah. Allah menegaskan bahwa Alquran meski diturunkan dalam bahasa yang dipahami manusia (bahasa Arab), tetap membawa dimensi mukjizat yang melampaui logika bahasa itu sendiri.

Baca juga: Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam

Allah memperlihatkan kemahakuasaan-Nya dengan menyusun wahyu dari huruf-huruf yang sehari-hari digunakan orang Arab, namun pada saat yang sama, mereka tidak serta-merta mampu menjangkau hakikat maknanya tanpa petunjuk-Nya.

Hal ini menunjukkan bahwa Alquran bukan sekadar karya sastra manusia, melainkan firman Allah yang memiliki kedalaman metafisika. Ia adalah bukti bahwa bahasa manusia memiliki keterbatasan saat digunakan untuk membungkus pesan-pesan Allah yang tak terbatas.

Melalui huruf Nun, Allah mengundang orang beriman untuk memiliki kerendahan hati intelektual. Bahwa setinggi apa pun ilmu yang diraih melalui proses iqra’ dan pena, puncaknya tetap ada rahasia Ilahi yang tak terjangkau. Nun adalah pengingat bahwa segala ilmu bermuara pada Allah.

Estafet Pencerahan dari Al-‘Alaq ke Al-Qalam

Hubungan antara wahyu pertama dan kedua ini membentuk mata rantai peradaban literasi Islam yang utuh. Surat Al-Alaq menanamkan urgensi proses (belajar-mengajar) melalui perantara pena. Surat Al-Qalam memberikan legitimasi dan kehormatan pada instrumen tersebut melalui sumpah Allah: “Demi Pena dan apa yang mereka tulis.”

Korelasi antara surat Al-Alaq dan surat Al-Qalam menyentuh esensi terdalam dari sejarah peradaban Islam. Hubungan kedua surat ini bukan sekadar urutan turunnya wahyu, melainkan sebuah desain besar (grand design) Allah SWT untuk membangun umat yang berbasis literasi dan dokumentasi.

Dalam kaidah Alquran, sumpah Allah atas suatu makhluk senantiasa menandakan adanya keistimewaan yang luar biasa pada objek tersebut. Pena (Al-Qalam) adalah objek sumpah yang melampaui dimensi materi.

Baca juga: Epistemologi Al-‘Alaq sebagai Fondasi Peradaban

Pena secara maknawi memiliki posisi penting dalam Islam. Al-Maraghi berpendapat bahwa penggunaan diksi ini adalah untuk mendorong umat untuk mendidik diri dan membangun peradaban agar bisa menjadi umat terbaik (khair ummah) dengan budaya literasi.

Wahbah az-Zuhaili melihat bahwa pena yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah SWT menunjukkan agungnya nikmat menulis sebagai salah satu nikmat terbesar dari Allah.

Setelah berpikir, berbicara, dan kemudian menjelaskan melalui tulisan, menjadi wasilah dalam membangun peradaban dan penyebaran ilmu pengetahuan di antara umat manusia, dan tentunya menjadi kunci bagi kemajuan suatu bangsa.

Kedudukan “Pena”

Merujuk pada makna “pena”, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali Allah SWT ciptakan adalah Al-Qalam. Dan Dia memerintahkan untuk menulis tiap-tiap sesuatu yang ada.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la (1/126) dan Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wash Shifat (h. 271).

Malaikat, sebagai makhluk pilihan, dibekali “modal” pena untuk mencatat amal perbuatan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa dalam tatanan ketuhanan pun, dokumentasi adalah standar keadilan yang utama.

Allah berfirman:

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 17-18)

Sebagai wahyu kedua, Al-Qalam mempertegas bahwa dakwah Nabi Muhammad SAW tidak hanya bersandar pada kekuatan lisan, tetapi juga pada kekuatan tulisan. Ini adalah batu pertama pembangunan peradaban Islam yang berbasis data dan fakta.

Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam

Para sahabat Nabi menghidupkan spirit pena ini dengan mencatat setiap tetesan wahyu di atas pelepah kurma, kulit binatang, batu, hingga kepingan kayu. Jauh sebelum penemuan kertas secara massal, umat Islam telah mempraktikkan budaya literasi tingkat tinggi.

Ketekunan mencatat inilah yang kemudian menjadi cikal bakal pengumpulan mushaf di era Khalifah Utsman bin Affan, sebuah mahakarya dokumentasi yang menjaga orisinalitas wahyu hingga akhir zaman.

Berkat kebijakan itu, akhirnya hari ini kita bisa menikmati mukjizat Alquran karena ada goresan pena dari para sahabat.

Lalu, goresan apa yang kita wariskan kepada generasi selanjutnya?

Pesan “Pena”

Pesan dalam surat Al-Qalam ayat pertama ini memberikan peringatan bagi orang beriman bahwa Islam tidak pernah memisahkan kesalehan ritual dari kemajuan intelektual.

Al-‘Alaq mendorong kemampuan untuk membaca realitas dan Al-Qalam memberi otoritas untuk menuliskan sejarah.

Sumpah Allah dalam Al-Qalam adalah penegasan bahwa Islam adalah agama literasi. Menulis bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan bentuk mengikuti sunnah penciptaan takdir. Umat yang “memuliakan” pena adalah umat yang tidak akan mudah terombang-ambing oleh narasi kebohongan, karena mereka memiliki tradisi mencatat, membuktikan, dan mengabadikan kebenaran.

Baca juga: Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin

Sejarah mencatat bahwa peradaban yang besar tidak dibangun oleh mereka yang sekadar bicara, tapi oleh mereka yang berani memegang pena untuk mencatat janji-janji masa depan.

Keterbatasan “Pena” Manusia

“Pena” adalah sebuah ironi yang agung. Di satu sisi, ia adalah kunci bagi manusia untuk membuka pintu-pintu ilmu pengetahuan dan menemukan jejak kebesaran Sang Pencipta. Namun di sisi lain, pena jugalah yang menjadi saksi paling jujur bahwa seluruh kecerdasan manusia takkan pernah sanggup merangkum keagungan Allah SWT.

Dalam surat Luqman ayat 27 dan surat Al-Kahfi ayat 109 Allah menghamparkan sebuah perumpamaan yang melampaui imajinasi dan menggetarkan jiwa manusia

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.” (QS. Luqman: 27)

“Katakanlah (Muhammad), 'Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai (ditulis) meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).'” (QS. Al-Kahfi: 109)

Dua ayat ini bukan sekadar hiperbola puitis, melainkan sebuah fakta epistemologis. Seberapa pun tajamnya pena manusia dan seberapa pun luasnya tinta ilmu yang manusia miliki, ia akan menemui titik kering di hadapan kalimat-kalimat Allah yang tak bertepi.

Baca juga: Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran

Penggunaan angka “tujuh laut” dalam tradisi sastra Arab bukan sekadar angka bilangan, melainkan simbol bagi jumlah yang tak terbatas.

Allah ingin menegaskan bahwa Kalimat Allah yakni ciptaan-Nya, takdir-Nya, hikmah-Nya, dan sifat-sifatnya adalah entitas yang infinite (tak terhingga).

Pena dari pohon akan patah dan tinta dari samudera akan mengering. Ini adalah pengakuan bahwa seluruh sarana fisik peradaban manusia (teknologi, buku, server data, hingga kecerdasan buatan) memiliki titik jenuh dan kehancuran, sementara ilmu Allah tetap abadi.

Pena manusia adalah simbol perjuangan intelektual yang tak berujung, apa yang sanggup dituliskan oleh pena manusia hanyalah setetes dari samudera.

Ketidakmampuan pena menuliskan semua kalimat Allah bukan berarti tidak perlu menulis atau berhenti menulis. Sebaliknya, ini adalah suntikan motivasi untuk terus menggali ilmu tanpa putus asa dan rasa sombong.

Baca juga: Menemukan Jati Diri Manusia Melalui Surat Al-‘Alaq

Pena adalah saksi bahwa kita telah berusaha membaca (iqra’) dan bentuk syukur (syukr bi al-qalam) meski sadar samudra ilmu-Nya takkan pernah habis kita tuliskan. Membaca dan menulis adalah bentuk implementasi keimanan untuk menemukan dan meyakini kekuasaan Allah.

Di tengah dunia yang penuh dengan narasi palsu, hoaks, pena yang digunakan untuk menuliskan kebenaran meski hanya setitik adalah pena yang dimuliakan oleh sumpah Allah di awal surat Al-Qalam.

Kita menggunakan “pena” (teknologi/ilmu) sehebat mungkin sebagaimana perintah Al-‘Alaq dan Al-Qalam, namun kita tetap bersujud serendah mungkin sebagaimana pengakuan keterbatasan dalam Al-Kahfi dan Luqman. Wallahu A’lam bish shawab.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.