Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran
Oleh: KH M Cholil Nafis, Ph.D
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Ramadhan menghadirkan suasana yang khas dalam kehidupan umat Islam di Indonesia. Masjid-masjid mengumandangkan lantunan ayat suci.
Tadarus digelar hampir
di setiap sudut kampung. Mushaf Alquran dibaca di rumah-rumah, di musholla,
bahkan di ruang-ruang publik. Ramadhan selalu menguatkan kembali hubungan umat
Islam dengan kitab sucinya.
Tidak mengherankan jika bulan ini dikenal sebagai Syahrul Quran, bulan ketika Alquran pertama kali diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia.
Namun, di tengah
suasana religius yang hangat itu, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan secara
jujur tapi sangat patut direnungkan: Seberapa banyak umat Islam yang
benar-benar mampu membaca Alquran dengan baik?
Pertanyaan ini menjadi
penting ketika kita melihat realitas literasi Alquran di Indonesia. Sebagai
negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, kemampuan membaca Alquran
seharusnya menjadi sesuatu yang sangat umum. Tetapi, data justru menunjukkan
gambaran yang tidak sederhana.
Meningkatkan Budaya
Membaca
Hasil kajian Institut
Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta 2024 menunjukkan persentase buta aksara Alquran di
Indonesia mencapai 58 persen sampai dengan 65 persen.