Puncak Armuzna Melelahkan, Jamaah Haji Diingatkan Jangan Memaksakan Diri
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Makkah, MUI Digital— Ketua Musyrif Diny, KH M Cholil Nafis mengimbau seluruh jamaah haji Indonesia untuk tidak memaksakan diri dalam mengejar ibadah sunah maupun memaksakan ritual fisik yang berat selama fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Wakil Ketua Umum MUI ini mengingatkan bahwa fase Armuzna sangat menguras energi, sementara kondisi fisik jamaah harus menjadi prioritas utama demi keselamatan jiwa.
Kiai Cholil menjelaskan, berdasarkan data sejarah penyelenggaraan haji dari tahun ke tahun, tingkat kelelahan ekstrem hingga angka kematian jamaah paling rawan terjadi pada hari-hari krusial di Armuzna ini.
Baca juga: 'Aku Cinta Indonesia' Kesan Petugas Bandara Jeddah Asal Pakistan Atas Kedermawanan Jamaah Haji
"Kita ingatkan itu pada mereka, karena memang biasanya jumlah kematian itu banyak terjadi pada Armuzna ini. Karena, ya, proses ini cukup melelahkan," kata ulama kelahiran Sampang, Madura, Jawa Timur ini di Arafah, Arab Saudi, Selasa (26/5/2026).
Mengingat cuaca ekstrem dengan suhu udara yang sangat menyengat di Arab Saudi, Kiai Cholil meminta jamaah haji Indonesia, terutama lansia dan wanita yang mendominasi kuota tahun ini, untuk bersikap realistis dan tidak menyamakan ketahanan fisik mereka dengan jamaah dari negara lain.
Sebagai solusi syariah, Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini menekankan pentingnya mengambil ijtihad atau kelonggaran hukum Islam (rukhsah) yang telah disepakati para ulama demi kemaslahatan jamaah.
"Cara beragama kita juga tidak boleh memaksakan diri. la yukallifullahu nafsan illa wus'aha, jangan sampai membahayakan diri sendiri. Oleh karena itu, ada ijtihad ulama terkait waktu jawaz (boleh), seperti halnya melontar jumrah itu boleh saja dilakukan sebelum dzuhur, meskipun waktu utamanya setelah dzuhur," terangnya.
Kiai Cholil mencontohkan, jamaah bertubuh besar dari negara-negara seperti Nigeria atau Pakistan mungkin lebih kuat menghadapi terik matahari di waktu utama.
Namun, bagi jamaah Indonesia yang fisik atau faktor usianya tidak memungkinkan, berdesakan di tengah cuaca panas justru bisa berakibat fatal.
Lebih lanjut, CEO Amanah Zakat ini mengapresiasi kebijakan mitigasi yang telah dilakukan pemerintah sejak pra-puncak haji. Salah satunya adalah penghentian sementara operasional Bus Shalawat menjelang wukuf untuk membatasi pergerakan jamaah ke Masjidil Haram.
Langkah ini dinilai tepat agar jamaah, khususnya lansia, bisa menyimpan energi demi rukun haji yang paling utama.
Baca juga: Senyum Damiri Tetap Lebar, Meski Kehilangan Jempol Kaki saat Jalani Haji di Tanah Suci
"Bukan tidak utama ke Masjidil Haram, tapi tujuan mereka itu yang paling utama adalah haji sehingga menyiapkan tenaga untuk (puncak) haji itu adalah lebih penting daripada ibadah sunah bolak-balik yang bagi lansia mungkin bisa bermasalah," kata Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah (DSN) MUI ini.
Kiai Cholil mengungkapkan, penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 ini, jumlah jamaah haji lansia tergolong cukup besar dengan proporsi jamaah wanita mencapai 54 persen dari total kuota Indonesia.
Kiai Cholil menegaskan bahwa esensi haji bukanlah pemaksaan fisik, melainkan ketulusan spiritual, tapak tilas, dan keintiman berkomunikasi dengan Allah SWT dalam kepasrahan.