Lewati ke konten utama
Jumat, 25 September 2026 / 13 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
MES
Wakil Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) sekaligus Chairman Indonesia SMU Global League, Dr Aries Mufti, dalam pemaparannya pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Ahad (26/7/2026). Foto: Latifahtul Jannah/ MUI Digital
Berita

MES Sebut Pertumbuhan Ekonomi Belum Sejalan dengan Kesejahteraan Masyarakat

MES Sebut Pertumbuhan Ekonomi Belum Sejalan dengan Kesejahteraan Masyarakat

/ 12 Shafar 1448 H 2 menit baca 933 dibaca

Jakarta, MUI Digital – Pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat dinilai belum sepenuhnya diikuti dengan pemerataan kesejahteraan masyarakat. 

Kondisi tersebut menjadi paradoks yang harus segera diatasi melalui penguatan konsolidasi ekonomi syariah agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) sekaligus Chairman Indonesia SMU Global League, Dr Aries Mufti, dalam pemaparannya pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Ahad (26/7/2026).

Aries menjelaskan, berbagai indikator menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif baik dalam satu dekade terakhir. Namun, peningkatan tersebut belum sepenuhnya berdampak pada pemerataan kesejahteraan sehingga kesenjangan masih menjadi tantangan.

"Paradoksnya, ekonomi bertumbuh, tetapi kesejahteraan masyarakat belum meningkat secara merata,” kata dia.  

Artinya, ujar dia, hasil pertumbuhan lebih banyak dinikmati oleh kelompok tertentu sehingga perlu ada terobosan untuk memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat. 

Menurut Aries, salah satu solusi yang perlu dilakukan adalah mengonsolidasikan seluruh potensi ekonomi syariah, mulai dari investasi syariah hingga aset sosial seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf. 

“Dengan pengelolaan yang profesional, potensi tersebut diyakini mampu menjadi motor pemerataan ekonomi nasional,” tutur Aries.

Dia menyebut, apabila ekosistem ekonomi syariah dapat dikonsolidasikan secara optimal hingga 2030, Indonesia berpotensi memiliki aset ekonomi syariah bernilai lebih dari Rp5.300 triliun. 

“Potensi tersebut diperkirakan mampu menciptakan sekitar 2,2 juta lapangan kerja sekaligus menurunkan angka kemiskinan,” kata dia. 

Aries juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam pembangunan ekonomi. Menurutnya, orientasi pembangunan tidak boleh hanya berfokus pada keuntungan jangka pendek, tetapi juga harus menciptakan nilai tambah dan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Dia menambahkan, cita-cita menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia hanya dapat terwujud apabila seluruh potensi ekonomi umat dikelola secara profesional, terintegrasi, dan didukung kelembagaan yang kuat.

"Konsolidasi adalah kuncinya. Ketika seluruh potensi ekonomi syariah bergerak dalam satu ekosistem yang terintegrasi, maka pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga mampu menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat," jelas dia.  

BAGIKAN: