Lewati ke konten utama
Senin, 27 Juli 2026 / 12 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

MES Sebut Pertumbuhan Ekonomi Belum Sejalan dengan Kesejahteraan Masyarakat

2 menit baca 73 dibaca
MES
Wakil Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) sekaligus Chairman Indonesia SMU Global League, Dr Aries Mufti, dalam pemaparannya pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Ahad (26/7/2026). Foto: Latifahtul Jannah/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital – Pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat dinilai belum sepenuhnya diikuti dengan pemerataan kesejahteraan masyarakat. 

Kondisi tersebut menjadi paradoks yang harus segera diatasi melalui penguatan konsolidasi ekonomi syariah agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) sekaligus Chairman Indonesia SMU Global League, Dr Aries Mufti, dalam pemaparannya pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Ahad (26/7/2026).

Baca juga: Aset Keuangan Syariah Tembus Rp 5 T, OJK Perkuat Industri Sektor Ini Melalui 5 Program Prioritas

Aries menjelaskan, berbagai indikator menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif baik dalam satu dekade terakhir. Namun, peningkatan tersebut belum sepenuhnya berdampak pada pemerataan kesejahteraan sehingga kesenjangan masih menjadi tantangan.

"Paradoksnya, ekonomi bertumbuh, tetapi kesejahteraan masyarakat belum meningkat secara merata,” kata dia.  

Artinya, ujar dia, hasil pertumbuhan lebih banyak dinikmati oleh kelompok tertentu sehingga perlu ada terobosan untuk memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat. 

Baca juga: Bank Indonesia Nilai Danantara Syariah Potensi Ubah Aset Wakaf Jadi Penggerak Ekonomi

Menurut Aries, salah satu solusi yang perlu dilakukan adalah mengonsolidasikan seluruh potensi ekonomi syariah, mulai dari investasi syariah hingga aset sosial seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf. 

“Dengan pengelolaan yang profesional, potensi tersebut diyakini mampu menjadi motor pemerataan ekonomi nasional,” tutur Aries.

Dia menyebut, apabila ekosistem ekonomi syariah dapat dikonsolidasikan secara optimal hingga 2030, Indonesia berpotensi memiliki aset ekonomi syariah bernilai lebih dari Rp5.300 triliun. 

“Potensi tersebut diperkirakan mampu menciptakan sekitar 2,2 juta lapangan kerja sekaligus menurunkan angka kemiskinan,” kata dia. 

Baca juga: Tepis Stigma Bank Syariah 'Lebih Mahal', Waketum MUI: Ini Soal Skala Bisnis, Bukan Sistem

Aries juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam pembangunan ekonomi. Menurutnya, orientasi pembangunan tidak boleh hanya berfokus pada keuntungan jangka pendek, tetapi juga harus menciptakan nilai tambah dan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Dia menambahkan, cita-cita menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia hanya dapat terwujud apabila seluruh potensi ekonomi umat dikelola secara profesional, terintegrasi, dan didukung kelembagaan yang kuat.

"Konsolidasi adalah kuncinya. Ketika seluruh potensi ekonomi syariah bergerak dalam satu ekosistem yang terintegrasi, maka pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga mampu menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat," jelas dia.