Menempa Militansi Jiwa Sabar
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Di tengah ruang nyaman zamannya, ketika panggilan dakwah dan amanah sejarah diletakkan di atas bahu seorang pejuang, rintangan terbesar sering kali bukan datang dari medan perang yang bergemuruh. Rintangan paling mematikan justru hadir dalam bentuk dinginnya penerimaan, prasangka yang menyudutkan, kepenatan jiwa, hingga keterbatasan yang terasa menyedihkan.
Di titik krusial
inilah, Alquran menyapa ruang batin para pembawa risalah melalui firman-Nya
yang sangat ringkas, namun mampu menggetarkan pilar-pilar jiwa. Allah
berfirman:
وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ
“Dan untuk
(memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah.” (QS. Al-Muddatstsir: 7)
Ayat ini bukanlah sekedar kalimat penghibur moril biasa. Ia adalah kurikulum “pembajaan” (dari kata: baja) mental yang diturunkan di fajar kenabian Rasulullah SAW. Sebuah fondasi spiritual paling vital bagi siapa saja yang bercita-cita mengemban amanah besar, melatih militansi diri, dan menggerakkan roda peradaban Islam.
Baca juga: Kemerdekaan tanpa Empati
Muara Sentral: “Lillahi Ta’ala”
Syaikh
Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah, pakar tafsir terkemuka,
menangkap kedalaman orientasi ayat di atas. Beliau menegaskan bahwa kesabaran
yang dituntut di sini bukanlah pasifisme yang lunglai atau kepasrahan yang
hampa, melainkan kesabaran aktif yang berporos murni pada tauhid.
Ayat di atas mengandung
makna: “Dan berharaplah pahala Allah dengan kesabaranmu itu, serta
niatkanlah murni hanya untuk Allah.”
Menurut Syaikh
as-Sa’di, dari ayat tersebut terpancar kesabaran paling sempurna—kesabaran
kelas ulul ’azmi yang melahirkan militansi, dalam arti mencakup ranah
berikut:
1. Sabar dalam ketaatan.
Artinya bersegera menyebarkan penelitian dan melakukan kebaikan meski iklim
sosial ditolak dengan keras.
2. Sabar dalam menjauhi
kemaksiatan. Yaitu menyucikan lahir dan batin dari segala pelanggaran kejahatan
dan penyimpangan moral.
3. Sabar atas takdir
yang menyayat. Dengan kata lain, tetap mengalirkan kemanfaatan kepada agung
manusia tanpa sedikit pun mengemis pujian, popularitas, atau ucapan terima
kasih.
Ketika kata “Lirabbika” (hanya untuk Rabbmu) telah menghujam menjadi fondasi batin, maka rasa kecewa terhadap perlakuan manusia seketika lumpuh. Kita tidak lagi bersabar demi tepuk tangan masyarakat, melainkan demi keridhaan Sang Pencipta.
Baca juga: Menjaga Ketulusan Dakwah
Dari Heningnya Malam Menuju Gelanggang Terbuka
Pakar Alquran
dari Universitas Islam, Madinah, Syaikh Prof Dr Imad Zuhair Hafidz, memberikan
garis tegas terkait aspek psikologis ayat ini. Beliau menjelaskan bahwa
perintah sabar di sini adalah panggilan untuk menanggung beban pertentangan di
tengah lapangan. Tafsirnya menyiratkan makna: “Dan demi keridhaan Allah,
bersabarlah dalam menanggung kesulitan. Bersabarlah saat mendengar, melihat,
dan menerima gangguan dari kaummu akibat dakwah menuju petunjuk yang kau
sampaikan.”
Inilah garis
demarkasi yang indah dalam “sistematika wahyu”: Jika surat Al-Muzzammil fokus
pada pemantapan spiritual pribadi dalam heningnya malam (kekuatan batin), maka surat
Al-Muddatstsir ayat 7 adalah “pembajaan” mental untuk tandang ke gelanggang
terbuka ( Action ).
Seorang penggerak peradaban akan dihadapkan dengan “seribu satu karakter” manusia. Tanpa jiwa baja yang diasah di kawah candradimuka kesabaran, seseorang pasti akan gugur dan mundur teratur di tengah jalan.
Baca juga: Refleksi “War-rujza Fahjur” di Era Digital
Ujian Realitas di Lapangan Perjuangan
Sejarah
pergerakan adalah jejak yang sangat manusiawi namun mengagumkan. Keteguhan
militansi tidak diuji saat berorasi di podium yang megah, melainkan saat
dihadapkan pada kepolosan, ketidakpedulian, penolakan hingga cibiran di
lapangan.
Pendiri
Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, pernah mengenangkan dinamika dakwah di awal
perjuangannya di Makassar. Saat mengisi pengajian di sebuah mushalla kecil
dengan jamaah yang dingin dan sedikit, dia bertanya apakah sebaiknya berceramah
dalam bahasa Makassar atau Bugis. Jawaban jujur jamaahnya terasa meremukkan
ego. Jamaah berkata, “Terserah ustadz saja, kami di sini duduk hanya karena
belas kasihan melihat ustadz sendirian.”
Bisa dilihat di
sini, jika bukan karena benteng kesabaran “Lirabbika”, seorang penyeru
kebaikan pasti memilih pulang dan tak akan pernah kembali. Namun lewat
kesabaran yang konsisten, hati yang keras itu perlahan meluluh menjadi cinta.
Beliau juga
mengenang fenomena ironis dalam manajemen pergerakan: Seorang dai berbusa-busa
ceramah tentang kesabaran, namun malamnya terlantar di mushalla tanpa diberi
makan oleh panitia. Pagi harinya, panitia dengan santai berkata, “Sabar ya
Ustadz, ini ujian Tuhan.” Padahal sang dai belum menyentuh makanan sejak
semalam!
Kesadaran akan “Lirabbika” menjadikan seorang pejuang tidak memelihara rasa jengkel. Ketidaksempurnaan manusia dan sistem dikembalikan kepada Allah, sementara ia terus bergerak memperbaiki tatanan agar menjadi lebih beradab.
Baca juga: Menyucikan “Pakaian” dan Niat
Kematangan
Jiwa Sang Pemimpin Peradaban
Militansi
kesabaran juga mewujud dalam kelapangan dada saat martabat diri terusik. Ustadz
Abdullah Said dalam salah satu nasihatnya mengutip kisah klasik Khalifah Umar
bin Abdul Aziz. Disebutkan, bahwa suatu malam di masjid yang gelap gulata, sang
khalifah tak sengaja menyenggol seseorang yang sedang tidur. Orang itu
berteriak kaget dan membentak, “Apakah kamu gila hingga menabrakku?!”
Umar bin Abdul
Aziz dengan sangat tenang menjawab, “Tidak, saya tidak gila. Saya Umar bin
Abdul Aziz.” Begitulah teladannya. Tidak ada kemarahan kekuasaan, karena dia
menyadari posisinya sebagai hamba yang sedang berjalan di bawah perlindungan
Allah.
Pesan monumental
dari KH Muhammad Isa Anshary, tokoh mubaligh kawakan Indonesia, merangkum
hakikat ini dengan begitu puitis dan tajam. Beliau menyampaikan, “Lakukanlah
tugas kewajiban ini dengan segala kesabaran dan ketahanan. Sabar menerima
musibah yang menimpa, ujian dan percobaan yang datang silih bergantian. Sabar
mengendalikan diri, menanti pohon yang Anda tanam berpucuk dan berbuah.”
Lalu ditegaskan, “Jangan putus asa atau kecewa melihat hasil yang belum seimbang dengan pengorbanan yang diberikan. Hanya umat yang sabar yang mendapat kesuksesan sejati dan kemenangan hakiki. Hanya jiwa yang sabarlah yang akan sampai pada muara cita-cita.”
Baca juga: Ketika “Personal Branding” Menggeser “Wa Rabbaka Fakabbir”
Menanam Hari
Ini, Memetik di Keabadian
Membangun kembali
peradaban Islam adalah perjalanan maraton, bukan lari cepat (sprint). Di
sepanjang jalurnya, kita akan menjumpai ketidakpahaman publik, penolakan,
sistem yang belum mapan, serta kelelahan fisik dan emosional yang menekan.
Namun, ketika
jiwa kita kembali menggemakan bisikan Ilahi: وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ ( Dan
untuk Rabbmu, bersabarlah! ), seluruh beban berat itu seketika menjadi
ringan.
Kita bersabar
bukan demi pengakuan manusia, melainkan karena kita tahu pasti ke mana setiap
tetes peluh, pengorbanan, dan air mata ini dipersembahkan.
Kita menanam hari ini dengan senyuman militan, dan membuahkan hasil di keabadian akhirat.