Lewati ke konten utama
Jumat, 9 Oktober 2026 / 27 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Amalan Setelah Shalat Jumat yang Besar Faedahnya
Ilustrasi seseorang yang membaca amalan setelah selesai shalat Jumat. Foto: Pinterest/
hasan al-shaar
Tuntunan Ibadah

Amalan Setelah Shalat Jumat yang Besar Faedahnya

Amalan Setelah Shalat Jumat yang Besar Faedahnya

/ 27 Rabiul Akhir 1448 H 4 menit baca 197 dibaca

Jakarta, MUI Digital — Hari Jumat memiliki sejumlah keistimewaan bagi umat Islam. Salah satunya adalah keberadaan satu waktu istimewa yang sangat mustajab untuk berdoa. Siapa pun yang berdoa pada waktu tersebut, maka besar harapannya permohonan itu dikabulkan oleh Allah.

Oleh karena itu, pada hari Jumat kaum muslimin dianjurkan memperbanyak berbagai amalan, seperti membaca Alquran, berdzikir, bershalawat, berdoa, serta melakukan ragam ibadah lainnya.

Hari Jumat menjadi momentum untuk meningkatkan kedekatan kepada Allah sekaligus memperbanyak amal kebaikan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah berikut:

يُسْتَحَبُّ الإِكْثَارُ مِنَ الدُّعَاءِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ لَعَلَّهُ يُوَافِقُ سَاعَةَ الإِجَابَةِ؛ لأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَال: فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَل اللَّهَ شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

“Disunnahkan memperbanyak doa pada hari Jumat dengan harapan bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW ketika beliau menyinggung perihal hari Jumat: ‘Pada hari Jumat terdapat suatu waktu yang apabila seorang muslim bertepatan dengannya dalam keadaan sedang shalat dan memohon sesuatu kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan permohonannya.’ Nabi SAW lalu memberi isyarat dengan tangannya bahwa waktu tersebut sangat singkat.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [Kuwait: Dar As-Salasil], vol. 45, h. 306)

Selain memperbanyak doa sepanjang hari Jumat, terdapat pula amalan yang dianjurkan khusus setelah selesai melaksanakan shalat Jumat. Amalan ini dapat dilakukan oleh jamaah yang memiliki waktu luang sebelum beranjak dari tempat duduknya.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami (wafat 974 H) dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj menuturkan sebuah riwayat tentang amalan setelah shalat Jumat. Menurutnya, usai salam shalat Jumat dan sebelum mengubah posisi duduk, seseorang dianjurkan membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing sebanyak tujuh kali. Simak teks penjelasan berikut:

فَائِدَةٌ: وَرَدَ أَنَّ مَنْ قَرَأَ عَقِبَ سَلَامِهِ مِنْ الْجُمُعَةِ قَبْلَ أَنْ يُثْنِيَ رِجْلَهُ الْفَاتِحَةَ وَالْإِخْلَاصَ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ سَبْعًا سَبْعًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَأُعْطِيَ مِنْ الْأَجْرِ بِعَدَدِ مَنْ آمَنَ بِاَللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Faedah: Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa barang siapa setelah salam shalat Jumat, sebelum mengubah posisi duduknya, membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan an-Nas masing-masing sebanyak tujuh kali, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Ia juga diberi pahala sebanyak jumlah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Lalu Ibnu Hajar melanjutkan penjelasannya sebagai berikut:

وَفِي رِوَايَةٍ لِابْنِ السُّنِّيِّ أَنَّ ذَلِكَ بِإِسْقَاطِ الْفَاتِحَةِ يُعِيذُ مِنْ السُّوءِ إلَى الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى وَفِي رِوَايَةٍ بِزِيَادَةٍ وَقَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ حُفِظَ لَهُ دِينُهُ وَدُنْيَاهُ وَأَهْلُهُ وَوَلَدُهُ

“Dalam riwayat Ibn as-Sunni disebutkan bahwa amalan tersebut, tanpa membaca surat Al-Fatihah, dapat menjadi perlindungan dari keburukan hingga Jumat berikutnya. Dalam riwayat lain terdapat tambahan bahwa jika bacaan tersebut dilakukan sebelum berbicara, maka agama, urusan dunia, keluarga, dan anak-anaknya akan dijaga.” (Tuhfah al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 2, h. 464)

Keterangan ini menunjukkan bahwa usai shalat Jumat merupakan waktu yang baik untuk menyempatkan diri tetap duduk sejenak, berdzikir, membaca Alquran, serta berdoa. Sehingga, jamaah tidak tergesa-gesa meninggalkan masjid, melainkan memanfaatkan momen itu untuk memperbanyak amalan baik.

Tata Cara Melakukan Amalan Mustajab Setelah Shalat Jumat

Tata cara mengamalkan amalan tersebut sebetulnya sederhana. Setelah selesai shalat Jumat dan sebelum mengubah posisi duduk, jamaah dianjurkan membaca beberapa surat sebagaima berikut:

1. Membaca surat Al-Fatihah sebanyak tujuh kali
2. Membaca surat Al-Ikhlas sebanyak tujuh kali
3. Membaca surat Al-Falaq sebanyak tujuh kali
4. Membaca surat An-Nas sebanyak tujuh kali.

Setelah itu, amalan dapat dilanjutkan dengan membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ يَا غَنِيُّ يَا حَمِيدُ، يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيدُ، يَا رَحِيمُ يَا وَدُودُ، أَغْنِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ

Allahumma ya Ghaniyyu ya Hamidu, ya Mubdiu ya Muidu, ya Rahimu ya Wadudu, aghnini bi halalika ‘an haramika, wa bi fadhlika amman siwaka, wa bi tha‘atika an ma’shiyatika.

Artinya: “Ya Allah, wahai Zat Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji, wahai Zat Yang Maha Memulai penciptaan dan Maha Mengembalikannya, wahai Zat Yang Maha Penyayang lagi Maha Mencintai. Cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal sehingga aku terhindar dari yang haram, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu, dan cukupkanlah aku dengan ketaatan kepada-Mu sehingga aku terjauh dari kemaksiatan kepada-Mu.” (Busyra al-Karim bi Syarhi Masail at-Ta’lim [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 398)

Doa ini berisi permohonan yang sangat penting bagi kehidupan seorang muslim. Di dalamnya terdapat permintaan agar Allah mencukupkan hamba-Nya dengan rezeki halal, menjauhkannya dari yang haram, mencukupkannya dengan karunia Allah sehingga tidak bergantung kepada selain-Nya, serta menolongnya untuk tetap berada dalam ketaatan.

Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’isyan ad-Dau’ani (wafat 1270 H) mengutip penjelasan Imam asy-Syarqawi terkait salah satu keutamaan amalan ini. Menurut keterangan tersebut, orang yang istiqamah membacanya akan diberi kecukupan oleh Allah, dianugerahi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, serta diampuni dosa-dosanya.

Tak hanya itu, Allah juga akan menjaga agama dan kehidupan dunianya, termasuk keluarga serta anak-anaknya. Berikut keterangannya:

قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ: مَنْ وَاظَبَ عَلَيْهِ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ مَعَ مَا تَقَدَّمَ أَغْنَاهُ اللهُ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَغَفَرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرَ، وَحَفِظَ لَهُ دِينَهُ وَدُنْيَاهُ وَأَهْلَهُ وَوَلَدَهُ

“Imam asy-Syarqawi berkata: Barang siapa membiasakan membaca doa tersebut sebanyak empat kali, disertai amalan yang telah disebutkan sebelumnya, maka Allah akan memberinya kecukupan, menganugerahkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, serta menjaga agama, kehidupan dunia, keluarga, dan anak-anaknya.” (Busyra al-Karim bi Syarhi Masail at-Ta’lim [Jeddah: Dar al-Minhaj], vol. 1, h. 398)

Demikianlah tuntunan amalan setelah shalat Jumat yang dapat diamalkan sebagai bagian dari cara menghidupkan keutamaan hari Jumat. Amalan tersebut dapat menjadi sarana penting yang membantu untuk memperbanyak bacaan dzikir, doa, serta permohonan ampun kepada Allah. Terlebih, hari Jumat merupakan hari yang penuh keutamaan dan menjadi salah satu waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah. Wallahu a’lam bis shawab.

BAGIKAN: