Lewati ke konten utama
Minggu, 18 Oktober 2026 / 7 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Sekjen dan istri
Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia MUI, Amirsyah Tambunan, didampingi istri saat menghadiri Talkshow Membangun Literasi dan Inklusi Ekonomi dan Keuangan Syariah di Tengah Arus Global: Lewat Gagasan 99 Ekonom Syariah Indonesia dalam rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (16/10/2026). Foto: Irma/ MUI Digital
Berita

Ibu Madrasah Pertama dan Kedudukan Strategis dalam Wawasan Sekaligus Internasalisasi Nilai Halal

Ibu Madrasah Pertama dan Kedudukan Strategis dalam Wawasan Sekaligus Internasalisasi Nilai Halal

/ 7 Jumadil Awal 1448 H 2 menit baca 96 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Ada syair tersohor menyatakan “Al-ummu madrasatun ūlā, idzā a‘dadtahā, a‘daddta sya‘ban ṭayyiba al-a‘rāq”. 

Bait tersebut kurang lebih bermakna bahwa ibu adalah sekolah pertama, jika engkau mempersiapkannya (dengan baik), Maka engkau telah mempersiapkan (kelahiran) suatu bangsa yang baik (mulia) akar-akarnya (keturunannya).

Bait tersebut merupakan sebuah ungkapan terkenal dari seorang penyair Mesir bernama Hafiz Ibrahim (1872-1932). 

Penggalan kalimat dalam bait ini lantas menjadi adagium yang sangat kuat menggambarkan betapa penting dan krusialnya peran ibu. Sosok ibu laksana sebuah sekolah, madrasah yang menjadi penempaan pertama, fondasi bagi proses intelektual sekaligus spiritual anak. 

Demikian pula dalam hal literasi ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia MUI  Amirsyah Tambunan, menyebut ibu memiliki posisi strategis dalam menanamkan nilai-nilai ekonomi syariah sejak dini kepada anak-anak sekaligus menggerakkan perekonomian keluarga.

Hal tersebut disampaikan Buya Amirsyah saat menghadiri Talkshow Membangun Literasi dan Inklusi Ekonomi dan Keuangan Syariah di Tengah Arus Global: Lewat Gagasan 99 Ekonom Syariah Indonesia dalam rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (16/10/2026).

“Pertama, ibu adalah madrasah pertama untuk mendidik anak-anak dan keluarga menjadi anak yang saleh. Itu sudah merupakan sunatullah,” ujarnya.

Menurutnya, peran ibu juga sangat penting dalam memperkuat literasi ekonomi dan keuangan syariah karena perempuan berhadapan langsung dengan pengelolaan ekonomi rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika ibu memahami prinsip-prinsip ekonomi dan keuangan syariah, nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan kepada anak melalui kebiasaan sehari-hari.

Dengan demikian, pemahaman ekonomi syariah tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga membentuk perilaku sejak dini.

“Dengan kata-kata ibu yang demikian berkesan, itu akan menjadi kebiasaan bagi anak. Itu akan menjadi habit bagi anak,” jelasnya.

Selain berperan dalam pendidikan keluarga, dia menyoroti kontribusi perempuan dalam menggerakkan perekonomian.

Menurutnya, perempuan tidak hanya berperan dalam mengelola keuangan rumah tangga, tetapi juga memiliki potensi besar untuk membangun kemandirian ekonomi.

Dia menilai, potensi tersebut perlu diperkuat melalui pembekalan literasi ekonomi dan keuangan syariah agar perempuan semakin mampu mengembangkan usaha serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Jadi, dengan tiga poin ini, menurut saya, ke depan ibu-ibu harus kita bekali,” ungkapnya. (Irma)

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads