Lewati ke konten utama
Selasa, 3 November 2026 / 23 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
WhatsApp Image 2026-11-02 at 11.43.44
Di luar jadwal ibadah, bagi penulis dan jemaah Kloter 75 SOC Banyumas, mencuci dan menjemur pakaian menjadi rutinitas harian yang cukup menyenangkan sekaligus lumayan melelahkan. Menariknya, rutinitas ini berlanjut dengan kumpul bareng, ngopi, hingga tercetuslah agenda "forum bicara republik" di atap pemondokan. Foto: Dok. Pribadi/Muhamad Saefullah
Opini

Catatan Pengalaman Haji 2026: “Republik Rooftop”, Negara Kecil Para Penikmat Kopi

Catatan Pengalaman Haji 2026: “Republik Rooftop”, Negara Kecil Para Penikmat Kopi

/ 22 Jumadil Awal 1448 H 6 menit baca 218 dibaca
Muhamad Saefullah

Oleh: Muhamad Saefullah

Anggota Komisi Infokomdigi MUI

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital —

“Mohon kepada jemaah yang sudah menjemur pakaian agar segera diangkat jika sudah kering. Beri kesempatan kepada jemaah lain. Terima kasih.”

Pesan semacam itu sesekali muncul di grup WhatsApp jemaah Kloter 75 SOC Banyumas, Jawa Tengah. Isinya bukan cuma imbauan gilir jemur. Kadang ada pula pengumuman kehilangan slayer, sarung, baju, hingga barang-barang kecil lainnya.

Di rooftop Hotel Diamond 917, Sektor 9 Misfalah, pakaian memang bukan cuma perlu dicuci dan dikeringkan, tetapi pemiliknya juga harus bersiap melacak ke mana barangnya menghilang. Tali-tali jemuran hampir tak pernah menganggur. Pakaian yang sudah kering sejak siang sering kali masih bergelantungan hingga sore, sementara jemaah lain sibuk mengantre lapak kosong.

Matahari menyengat dak beton lantai teratas pemondokan hingga suhu merayap mendekati 45 derajat Celsius. Di sanalah barisan tali jemuran terentang dari tiang ke tiang, penuh dengan busana jemaah: kain ihram putih, sarung, seragam batik, hingga daster berwarna mencolok.

Angin gurun sering kali bertiup kencang tanpa kompromi. Sekali hembusannya menguat, sehelai daster bisa mendadak terbang melompati tembok atap sebelah. Sementara pemiliknya yang sedang khusyuk beribadah di Masjidil Haram baru sadar saat pulang. Kejadian sepele ini kerap menjadi bahan tertawaan yang mencairkan kelelahan satu kloter.

Begitulah romantika harian kami di luar jadwal tawaf, sa’i, dan salat berjemaah. Di kala senggang, rooftop pun bertukar fungsi menjadi ruang kumpul jemaah pria, terutama para ahli hisab (perokok). Tanpa perabot khusus, ember-ember plastik yang dibalik dijadikan bangku. Kopi saset hangat disajikan bersama roti jatah dari sektor—yang kerap dijuluki “roti kanebo” karena bentuknya persegi panjang, mirip kain pencuci kendaraan.

Dari sinilah sebuah republik kecil terbentuk. Namanya “Republik Rooftop”. Wilayahnya tak seberapa luas, hanya sebidang dak beton di puncak Hotel Diamond 917. Penduduknya bapak-bapak satu kloter dengan beragam latar belakang. Tidak ada gedung parlemen, tidak ada ruang sidang, apalagi protokoler kenegaraan. Fasilitas utamanya justru ember plastik terbalik, tali jemuran, kopi saset, dan sedikit ruang untuk mengepulkan asap rokok.

Republik ini juga punya konstitusi sendiri, meski tidak pernah ditulis. Salah satunya: pakaian yang sudah kering sebaiknya segera diangkat agar warga lain mendapat giliran menjemur. Pelanggaran atas aturan itu biasanya cukup diselesaikan melalui pesan WhatsApp atau teguran sambil bercanda. Tidak perlu sidang, apalagi pengadilan.

Dari atas dak inilah urusan sepele di tali jemuran bergeser menjadi obrolan hangat. Suasana biasanya dipimpin oleh Haji Ahmad Sholeh, sang pembimbing ibadah. Tak mau ketinggalan, Ketua Kloter Ahmad Tantowi, bahkan para ketua regu ikut berpartisipasi.

Mereka tidak sedang mengikuti diklat materi fiqih haji atau merancang manajemen perhajian. Agenda republik ini jauh lebih sederhana: membagikan cerita-cerita konyol yang sanggup meluruhkan rasa penat.

“Jan... sarunge sinten puniki yang kabur ke pojok dak? Tekan Makkah kok sarunge kabur!” celoteh seorang jemaah sambil mengejar jemurannya yang nyaris terbang.

Di republik inilah memang waktunya tertawa lepas. Bagi orang-orang kampung yang terbiasa melihat langit terbuka, berdiam diri di kamar hotel ber-AC terus-menerus bisa membuat pikiran suntuk dan kaki gatal. Maka, rooftop atau atap hotel pun menjelma menjadi alun-alun multifungsi.

Di sini semua sekat melebur. Tidak ada urusan siapa kepala sekolah, guru, pedagang, petani, pensiunan, atau pengurus organisasi. Semua sama-sama bapak-bapak berkain sarung yang sedang selonjoran mengistirahatkan betis yang pegal usai tawaf. Di atas ember yang sama, semua punya hak bicara dan kesempatan tertawa.

Cerita-cerita lucu meluncur riuh rendah tanpa sensor. Ada yang menceritakan pengalaman konyolnya tersesat di Misfalah karena semua bangunan hotel terlihat serupa.  

“Saya tadi bingung, Mas. Perasaan pintunya hijau semua. Saya ketuk kamar orang, pas dibuka yang keluar orang Nigeria brewokan. Kaget saya, pikir saya pangeran Arab,” seloroh salah satu jemaah yang sekaligus anggota Republik Rooftop. Tawa pun pecah menyambar angin sore.

Ada lagi cerita jemaah yang keliru memakai lotion atau sabun karena tulisan bahasa Arabnya tak dapat dipahami, hingga kepolosan jemaah sepuh yang mengira es krim gratis di pemondokan sebagai obat demam. Canda tawa itu lepas, jujur, dan menjadi penawar paling ampuh atas rasa lelah fisik dan rindu kampung halaman.

Haji Jafaruddin tak ketinggalan. Sambil menyeruput kopi hitamnya yang tinggal separuh, ia terkekeh melihat ulah kawan-kawannya. Di republik kecil ini, kopi menjadi minuman persatuan, rokok menjadi teman diplomasi, sedangkan ember terbalik merupakan fasilitas publik paling populer.

Barangkali, orang-orang di luar sana sibuk membicarakan diplomasi antarnegara dengan segala kepentingannya. Di rooftop Misfalah, diplomasi berlangsung jauh lebih sederhana. Cukup secangkir kopi, obrolan ringan, dan kesediaan mendengarkan cerita orang lain. Tidak ada perjanjian yang perlu ditandatangani. Tidak ada kepentingan yang harus dipertahankan. Yang penting, semua mendapat tempat untuk duduk dan tertawa bersama.

Menjaga Tradisi

Sesungguhnya, kebersamaan kami tidak lahir begitu saja selama 42 hari di Tanah Suci. Jauh sebelum pesawat membawa kami menuju Arab Saudi, ikatan itu sudah mulai dirajut sejak kegiatan manasik haji, sekitar setahun sebelum keberangkatan. KBIH Arrofat PCNU Banyumas menjadi ruang pertemuan pertama. Dari yang semula hanya saling mengenal nama, perlahan tumbuh rasa saling memiliki.

Di Makkah, ikatan itu menemukan bentuknya. Ada yang saling mengingatkan jadwal ibadah, membantu teman sekamar, mencarikan sandal yang tertukar, dan berbagi cerita di rooftop. Kami datang dengan latar belakang, pekerjaan, dan kebiasaan yang berbeda. Namun, selama di Tanah Suci, perbedaan itu seperti kehilangan sekat. Kami menjadi satu keluarga besar: “keluarga haji 2026”.

Pulang ke tanah air ternyata tidak serta-merta mengakhiri cerita. Kami sepakat menjaga silaturahim yang sudah terbangun. Setiap Ahad Pahing, kami kembali berkumpul dalam pertemuan yang diisi dengan pengajian. Bukan sekadar temu kangen untuk mengulang cerita lucu selama di Makkah dan Madinah, melainkan juga ikhtiar merawat persaudaraan sekaligus mengisi kembali bekal rohani.

Ahad Pahing kini menjadi semacam penanda. Ada hari yang kami tunggu untuk kembali bertemu, saling menyapa, mendengarkan tausiah, dan tentu saja mengulang cerita-cerita lama. Sebab, selalu ada saja kisah di Tanah Suci yang belum selesai diceritakan, meski sudah berkali-kali menjadi bahan tertawaan.

Atap Hotel Diamond 917 mungkin sudah lama kami tinggalkan. Tali jemurannya tak lagi menjadi tempat berebut lapak. Ember-ember plastik yang dahulu menjadi kursi darurat pun sudah kembali ke fungsi semula. Tak ada lagi kopi saset yang diseduh di bawah terik Misfalah, atau obrolan panjang yang sesekali diselingi kepulan asap rokok. Tetapi, kenangan tentang semua itu tetap tinggal.

Kini, kami punya ruang pertemuan yang berbeda. Bukan lagi di atas atap hotel di Misfalah, melainkan di kampung halaman, setiap Ahad Pahing. Jika dahulu kebersamaan tumbuh karena berada di tempat yang sama, sekarang hal itu dijaga karena kami tak ingin kehilangan satu sama lain.

Dulu, kami naik ke rooftop hotel untuk menjemur pakaian, mengusir penat, menyeruput kopi, dan menghabiskan waktu bersama. Tak pernah terpikir bahwa dari tempat sesederhana itu akan lahir persaudaraan yang terus kami rawat hingga pulang ke kampung halaman.

Kini, tak ada lagi jemuran yang harus diperebutkan, tak ada lagi sarung yang kabur diterbangkan angin gurun. Tetapi, ada sesuatu yang tak boleh ikut hilang: persaudaraan. Sebab, rupanya, yang paling lama tinggal dari perjalanan haji bukanlah kenangan tentang jauhnya perjalanan menuju Baitullah, melainkan orang-orang yang membuat perjalanan itu terasa begitu dekat.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads