Sebuah Renungan: Jangan Menunggu Bencana untuk Mengingat Allah
Sebuah Renungan: Jangan Menunggu Bencana untuk Mengingat Allah
Oleh: Khoirul Anam, S.Sos.I
Dosen STIQ Ash-Shiddiq/Pengisi Kajian Alquran dan Tafsir di Hidayatullah Medan Al-Quran Learning Centre
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Pernahkah kita membayangkan bagaimana perasaan seseorang ketika berada di tengah lautan lepas yang sangat luas, sementara angin bertiup sangat kencang, ombak dan gelombang tinggi menjulang, dan kapal yang ditumpanginya terombang-ambing tanpa kepastian?
Pada saat seperti itu, manusia menyadari betapa kecil dan lemahnya dirinya. Harta, jabatan, kekuatan fisik, bahkan kecanggihan teknologi yang dimilikinya terasa tidak berarti ketika berhadapan dengan kedahsyatan kekuatan alam.
Dalam keadaan terdesak, tidak sedikit orang yang spontan berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah. Mereka berharap agar badai segera berlalu dan reda, kapal tetap selamat sampai ke tujuan, dan mereka dapat kembali ke daratan.
Namun, bagaimana jika setelah diselamatkan, manusia justru kembali melupakan Allah, mengingkari nikmat-Nya, dan menjalani kehidupan seolah-olah tidak lagi membutuhkan pertolongan-Nya?
Inilah salah satu pelajaran penting yang dapat kita renungkan dari surat Al-Isra’ ayat 69. Allah mengingatkan manusia bahwa keselamatan yang telah mereka rasakan bukanlah jaminan bahwa mereka akan selalu terhindar dari bahaya. Allah Mahakuasa untuk menguji manusia kembali dengan sesuatu yang jauh lebih dahsyat daripada yang pernah mereka alami.
Allah SWT berfirman:
أَمْ أَمِنْتُمْ أَنْ يُعِيدَكُمْ فِيهِ تَارَةً أُخْرَىٰ فَيُرْسِلَ عَلَيْكُمْ قَاصِفًا مِنَ الرِّيحِ فَيُغْرِقَكُمْ بِمَا كَفَرْتُمْ ثُمَّ لَا تَجِدُوا لَكُمْ عَلَيْنَا بِهِ تَبِيعًا
“Atau apakah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan mengembalikan kamu ke laut sekali lagi, lalu Dia mengirimkan kepadamu angin badai yang menghancurkan, kemudian Dia menenggelamkan kamu karena kekafiranmu? Kemudian kamu tidak akan mendapatkan seorang penolong pun yang dapat menuntut balas terhadap Kami karena penenggelaman itu.” (QS. Al-Isra’: 69)
Ayat ini merupakan peringatan tegas tentang kekuasaan Allah, sekaligus teguran keras bagi manusia yang melupakan nikmat dan merasa aman dari hukuman-Nya.
Salah satu kata penting dalam ayat ini adalah قَاصِفًا (qashifan), yang digunakan untuk menggambarkan angin yang sangat dahsyat dan merusak. Dalam penjelasan kebahasaan yang dikutip Imam al-Qurthubi, kata ini berkaitan dengan kata kerja: قَصَفَ الشَّيْءَ يَقْصِفُهُ artinya “mematahkan atau menghancurkan sesuatu dengan keras”.
Dari akar kata tersebut, kita dapat memahami mengapa kata qashif digunakan untuk menggambarkan angin yang memiliki daya rusak yang sangat besar. Angin semacam ini bukan sekadar membuat permukaan laut bergelombang, melainkan dapat menghancurkan sesuatu yang diterjangnya.
Dalam ungkapan bahasa Arab, dikenal pula kalimat: قَصَفَتِ الرِّيحُ السَّفِينَةَ artinya, “angin telah menghancurkan kapal”.
Kata qashf sendiri mengandung makna pematahan atau penghancuran. Adapun kata taqashshuf berkaitan dengan keadaan sesuatu yang patah-patah atau hancur lebur.
Penjelasan bahasa ini membantu kita menangkap kekuatan gambaran yang disampaikan Alquran. Allah tidak sekadar mengingatkan manusia tentang angin biasa, tetapi tentang angin yang dapat menimbulkan kehancuran yang sangat besar.
Bayangkan sebuah kapal yang dirancang dengan teknologi modern, dilengkapi mesin yang kuat, alat navigasi yang canggih, dan berbagai perlengkapan keselamatan. Semua itu tentu sangat bermanfaat. Akan tetapi, manusia dengan segala kelebihan dan kecanggihan teknologi yang dibuatnya tetap memiliki keterbatasan. Tidak semua bahaya dapat dikendalikan, dan tidak semua keadaan dapat diatasi dengan kemampuan yang dimilikinya serta teknologi yang diciptakannya .
Di sinilah ayat tersebut mengajak manusia untuk menyadari bahwa kekuatan dan kemampuan yang mereka miliki tidak pernah menjadikan mereka terbebas dari ketergantungannya kepada Allah.
Ketika Tidak Ada Lagi Tempat untuk Melarikan Diri
Dalam ayat yang disinggung di atas, Allah berfirman:
فَيُغْرِقَكُمْ بِمَا كَفَرْتُمْ
“Kemudian Dia menenggelamkan kamu karena kekafiranmu.”
Ungkapan بِمَا كَفَرْتُمْ dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi dengan ungkapan: أَيْ بِكُفْرِكُمْ artinya, “yakni karena kekafiranmu”.
Penjelasan ini menunjukkan hubungan antara kekafiran dan ancaman hukuman yang disebutkan dalam ayat. Manusia yang mengingkari Allah dan tidak mensyukuri nikmat-Nya diingatkan agar tidak merasa bahwa mereka dapat terus-menerus hidup tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Namun, penting untuk diingat dan dipahami bahwa ayat ini tidak berarti bahwa setiap orang yang mengalami musibah pasti sedang dihukum karena dosanya. Musibah bisa saja menjadi ujian, peringatan, atau bahkan memiliki hikmah lain yang tidak sepenuhnya kita ketahui. Karena itu, ayat ini terutama harus menjadi bahan introspeksi bagi diri sendiri, bukan menjadi dalih dan dalil serta alasan untuk menuduh orang lain yang tertimpa bencana.
Peringatan Alquran ini mengarahkan kita untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, bukan malah sibuk menghakimi orang lain yang sedang mengalami kesulitan atau musibah.
Tidak Ada yang Mampu Menuntut Allah
Bagian akhir ayat di atas mengandung pesan yang sangat kuat:
ثُمَّ لَا تَجِدُوا لَكُمْ عَلَيْنَا بِهِ تَبِيعًا
“Kemudian kamu tidak akan mendapatkan seorang penolong pun yang dapat menuntut balas terhadap Kami karena hal itu.”
Imam al-Qurthubi mengutip penjelasan Mujahid mengenai kata تَبِيعًا (tabi'an), yaitu: ثَائِرًا artinya “seseorang yang menuntut balas atau membela pihak yang mengalami kerugian”.
Dalam penjelasan kebahasaannya, kata tersebut berkaitan dengan kata tsa’ir, yang berasal dari akar kata الثَّأْرُ, yaitu tuntutan balas.
Kata tabi‘ juga digunakan untuk menyebut orang yang mengikuti suatu perkara, mengejar tuntutan, atau menuntut hak.
Maksud ayat ini ialah bahwa manusia tidak akan menemukan pihak yang mampu membatalkan keputusan Allah atau menuntut balas kepada-Nya atas apa yang telah Allah tetapkan.
Ketika Allah menunjukkan kekuasaan-Nya, tidak ada makhluk yang dapat menandingi-Nya. Tidak ada raja, tentara, kekayaan, ataupun kekuatan manusia dengan segala kecanggihan teknologinya yang dapat menjadi tandingan bagi kekuasaan Allah.
Tentu saja, hal ini tidak berarti Allah bertindak zalim. Allah Mahasuci dari kezaliman. Kekuasaan-Nya sempurna dan keputusan-Nya tidak berada dan tunduk di bawah kekuasaan makhluk mana pun. Manusia justru harus menyadari keterbatasan dirinya dan kembali kepada-Nya dengan iman, ketaatan, serta kerendahan hati dan bersyukur.
Pesan Tersirat
Pesan ayat ini tidak hanya relevan bagi orang yang melakukan perjalanan laut. Ia juga menyentuh kehidupan kita sehari-hari.
Ada orang yang dahulu hidup dalam kesulitan, kemudian Allah memberinya kelapangan. Dahulu ia rajin berdoa, tetapi setelah memperoleh pekerjaan yang mapan dan penghasilan yang baik, ia mulai melalaikan ibadah.
Ada pula orang yang ketika sakit begitu dekat dengan Allah. Ia memperbanyak doa, membaca Alquran, dan memohon kesembuhan. Namun, setelah sehat kembali, ia justru kembali tenggelam dan hanyut dalam kelalaian.
Ada yang ketika menghadapi masalah keluarga bersungguh-sungguh memohon pertolongan Allah. Akan tetapi, ketika masalahnya selesai, ia melupakan doa dan ketaatan yang dahulu begitu dijaganya. Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa manusia itu terkadang lebih mudah mengingat Allah ketika sedang dalam keadaan sangat membutuhkan pertolongan daripada ketika sedang menikmati pemberian-Nya.
Padahal, keselamatan, kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, ilmu, waktu, dan rezeki , semuanya merupakan nikmat yang semestinya membuat kita semakin dekat dan bersyukur kepada Allah. Jangan sampai kita hanya mengingat Allah ketika ombak dan gelombang kehidupan sedang meninggi, tetapi kemudian melupakan-Nya ketika laut kembali tenang.
Empat Pelajaran Penting
Merenungkan makna ayat yang saya bahasa di atas, setidaknya di sini kita bisa memetik empat pelajaran penting, yaitu sebagai berikut:
1. Jangan merasa aman dari kekuasaan Allah
Manusia sering merasa aman ketika keadaan berjalan dengan baik. Usaha berkembang, kesehatan terjaga, keluarga berkecukupan, dan kehidupan terasa nyaman. Semua itu patut disyukuri, tetapi tidak boleh membuat kita merasa bahwa kehidupan ini akan selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita saja. Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak terperdaya oleh kelapangan hidup dan tidak merasa bebas dari pertanggungjawaban di hadapan Allah.
2. Nikmat keselamatan harus melahirkan rasa syukur
Keselamatan bukan sekadar kesempatan untuk melanjutkan aktivitas duniawi. Ia juga merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan menunaikan kewajiban kepada Allah. Orang yang benar-benar memahami nikmat keselamatan tidak hanya bersyukur dengan ucapan, tetapi juga berusaha menggunakan kesempatan hidupnya untuk melakukan kebaikan.
3. Kekufuran dan kemaksiatan bukan perkara sepele
Ungkapan بِمَا كَفَرْتُمْ mengingatkan manusia tentang betapa seriusnya konsekuensi dari kekafiran. Karena itu, seorang mukmin harus menjaga iman, menjauhi kemaksiatan, dan segera bertobat ketika melakukan kesalahan.
Namun, kita tidak boleh menetapkan bahwa bencana yang menimpa seseorang atau suatu masyarakat pasti merupakan hukuman akibat dosa tertentu. Pengetahuan tentang hikmah khusus di balik suatu musibah tidak selalu berada dalam jangkauan manusia. Sikap yang tepat bagi kita ialah mengambil pelajaran, memperbaiki diri, dan membantu orang yang tertimpa musibah.
4. Ibadah tidak boleh hanya dilakukan ketika susah
Doa, dzikir, membaca Alquran, belajar agama, dan berbagai bentuk ketaatan seharusnya menjadi bagian dari kehidupan yang terus dijaga. Jangan sampai ibadah hanya menjadi tempat pelarian ketika masalah datang, kemudian ditinggalkan ketika keadaan membaik.
Seorang mukmin sejati senantiasa berusaha mengenal Allah ketika dalam keadaan lapang maupun sempit, ketika sehat maupun sakit, ketika memperoleh nikmat maupun ketika menghadapi ujian.
Ingatlah Selalu kepada Allah
Surat Al-Isra’ ayat 69 mengajak kita merenungkan betapa terbatasnya kemampuan manusia di hadapan kekuasaan Allah. Angin yang sangat dahsyat dapat menghancurkan kapal, dan manusia tidak selalu mampu mengendalikan keadaan yang mengancam kehidupannya. Namun, pesan terbesar ayat ini bukan sekadar tentang kedahsyatan badai. Lebih dari itu, ayat ini mengingatkan kita agar tidak melupakan Allah setelah memperoleh keselamatan dan kelapangan.
Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari arti sebuah nikmat. Jangan menunggu kesulitan datang untuk kembali memperbanyak doa dan ibadah.
Selagi Allah masih memberikan kesempatan hidup, gunakanlah kesempatan itu untuk memperbaiki diri, mensyukuri nikmat-Nya, dan meningkatkan ketaatan kepada-Nya. Sebab, manusia yang bijaksana bukan hanya orang yang mampu bertahan ketika badai datang, melainkan juga orang yang tetap mengingat Allah ketika badai telah berlalu. Wallahu a‘lam bisshawab.