Lewati ke konten utama
Minggu, 12 Juli 2026 / 26 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Dunia Butuh “Lita’arofu”, Bukan Dehumanisasi

5 menit baca 57 dibaca
Khoirul Anam, S.Sos.I

Oleh: Khoirul Anam, S.Sos.I

Dosen STIQ Ash-Shiddiq/Pengisi Kajian Alquran dan Tafsir di Hidayatullah Medan Al-Quran Learning Centre

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Dunia Butuh “Lita’arofu”, Bukan Dehumanisasi
Seorang muslim menyimak dengan saksama seseorang yang bertanya kepadanya, mencerminkan sikap yang baik dalam menerapkan perintah agama agar saling mengenal. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Sesekali kita semua perlu merenungkan mengapa dunia hari ini begitu bising oleh konflik. Mulai dari diskriminasi rasial, gesekan kelas sosial, hingga tragedi kemanusiaan dan genosida yang menimpa bangsa-bangsa seperti di Palestina, Sudan, dan Rohingya.

Jika kita bedah akar masalahnya, semua kekacauan ini sebenarnya bermuara pada satu penyakit mental yang akut, yaitu: merasa diri atau kelompoknya lebih mulia dari yang lain.

Lebih dari 14 abad yang lalu, Alquran sudah memberikan “obat penawar” sekaligus cetak biru sosiologis yang luar biasa untuk mengatasi penyakit sosial ini. Pesan itu tertulis abadi di dalam surat Al-Hujurat ayat 13.

Menariknya, jika ayat-ayat sebelumnya menyapa orang-orang yang  beriman (Ya ayyuhalladzina amanu), maka di ayat ke-13 ini Allah mengetuk kesadaran universal seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.(QS. Al-Hujurat: 13)

Baca juga: Rahasia Hidup Sehat dan Bahagia di Balik Langkah Kaki ke Masjid

Satu Akar, Beragam Cabang untuk Saling Mengenal

Syaikh as-Sa’diy dalam tafsirnya mengingatkan sebuah fakta biologis dan teologis yang setara, bahwa kita semua—apa pun warna kulit, bahasa, dan latar belakangnya—adalah berasal dari rahim nenek moyang dan darah sejarah yang sama, yaitu Adam dan Hawa.

Allah SWT “sengaja memecah mengembangbiakkan” keturunan yang satu ini menjadi suku-suku besar dan kecil, bukan untuk saling mengisolasi diri, apalagi saling memusnahkan.

Manusia diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa, tujuan besarnya hanya satu kata kunci: “lita’arofu” (saling mengenal).

Mengapa saling mengenal itu penting?Karena manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup sendiri. Manusia itu hidup saling bergantung satu sama lain. Baik untuk memenuhi kebutuhan harian, untuk mendapatkan dukungan emosional, maupun sekadar berbagi kebahagiaan. Dengan kata lain, kehadiran orang lain adalah hal yang hakiki.

Interaksi dengan sesama sangat dibutuhkan agar manusia bisa terus tumbuh, berkembang, dan menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.

Dari proses saling mengenal inilah lahir harmoni kehidupan: saling tolong-menolong (tanashur) saat kesusahan, bahu-membahu (ta'awun) dalam membangun peradaban dan menjaga silsilah (nasab) demi menunaikan hak-hak kerabat dan persaudaraan.

Artinya, mengetahui garis keturunan atau asal-usul suku adalah hal yang disyariatkan. Namun, menyombongkan garis keturunan  adalah sebuah kekeliruan yang besar  dan menyalahi tujuan besar penciptaan.

Baca juga: Keteladanan Karakter Nabi Ibrahim sebagai Kompas Hidup di Tengah Arus Modernisasi

Jebakan Kelas Sosial dan Ilusi Kemuliaan Duniawi

Dalam realitas sosial, manusia sering kali salah membuat tolok ukur. Banyak orang yang mati-matian berebut status sosial, mengejar jabatan yang tinggi, menumpuk dan memupuk kekayaan finansial, hingga memamerkan sederetan gelar akademis yang pernah diraihnya demi mendapatkan label “mulia” di mata masyarakat.

Padahal, dalam pandangan Allah SWT, semua itu hanyalah aksesori duniawi yang  bernilai nol jika tanpa dilandasi moralitas yang tinggi. Allah SWT sudah menegaskan hal itu dalam firman-Nya, sebagaimana disinggung di atas:

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu sekalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”

Syaikh as-Sa’diy memperjelas bahwa takwa adalah kombinasi dari banyaknya ketaatan dan kemampuan menahan diri dari kemaksiatan.

Secara sosiologis, hukum alam pun berlaku selaras. Ketika seseorang sudah berada di strata sosial tertinggi, namun pada saat yang sama dia memiliki moralitas yang bobrok, maka secara otomatis seseorang tersebut akan dijuluki sebagai “sampah masyarakat”. Mereka mungkin merasa tinggi karena kuasa dan harta yang mereka raih, tetapi di mata publik, mereka sebenarnya telah jatuh ke tempat yang paling rendah.

Baca juga: Menyelami Makna Hakiki Hijrah dalam Kehidupan Modern

Akar Kesombongan Kaum “Mala’” dan Dehumanisasi

Jika kita tarik garis merah dengan ayat-ayat sebelumnya (yaitu ayat 11-12 surat Al-Hujurat), maka kita akan mendapati Alquran melarang keras tindakan saling mencaci-maki, menghina, merendahkan, memata-matai, dan bergunjing.

Lalu, kalau kita mencoba melacak lebih jauh untuk menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan, mengapa seseorang suka menghina orang lain? Maka kita akan mendapati bahwa semua itu karena mereka merasa kelas sosialnya lebih tinggi dari orang lain.

Dalam “catatan sejarah” yang diabadikan Alquran, para penentang kebenaran yang dibawa oleh para nabi selalu datang dari kalangan “mala’”—yaitu para pemuka masyarakat, oligarki, dan tokoh-tokoh masyarakat yang mabuk kekuasaan dan gila hormat. Strata sosial yang tinggi sering kali melahirkan keangkuhan yang membutakan mata hati.

Ketika keangkuhan ini naik ke level antarbangsa, maka efek dan dampaknya menjadi sangat mengerikan: “dehumanisasi”.

Nazi Jerman menganggap ras Arya sebagai ras unggul, dan menganggap bangsa lain sebagai bangsa yang rendah dan layak dimusnahkan. Bangsa Israel menganggap diri mereka sebagai ras yang mulia, dan menganggap bangsa Palestina lebih rendah, sehingga legal untuk diusir dan dibantai.

Begitulah senantiasa, ketika suatu kelompok manusia atau sebuah bangsa menganggap kelompok atau bangsa lain bukan lagi sebagai manusia melainkan dianggap sebagai “binatang melata”, maka saat itulah genosida terjadi.

Baca juga: Shalat Kita: Sebuah Rutinitas “Menggugurkan Kewajiban” atau “Dialog yang Dirindukan”?

Kembalilah kepada Takwa dan Akhlak Mulia

Sungguh indah ketika Allah SWT menutup ayat yang kita singgung di atas dengan sebuah kalimat pengingat yang menggetarkan jiwa manusia: “Innallaha ‘Alimun Khabir” (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal).

Allah SWT tahu persis siapa di antara manusia ini yang bertakwa secara lahir dan batin, dan siapa yang hanya bersandiwara dan berpura-pura di balik topeng hak asasi, demokrasi, dan status sosialnya.

Di dunia modern yang kian terfragmentasi saat ini, pesan yang terkandung dalam surat Al-Hujurat ayat 13 menjadi sebuah petunjuk sekaligus rambu-rambu moral dalam lalu lintas kehidupan sosial kita hari ini.

Sudah saatnya kita berhenti menilai manusia dari warna kulit, jabatan, atau sukunya. Karena kemuliaan yang hakiki tidak pernah dijual di pasar saham status sosial. Ia hanya bisa dirajut lewat ketakwaan, kemuliaan akhlak, dan tingginya nilai moral. Wallahu A’lam.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.