Lewati ke konten utama
Senin, 12 Oktober 2026 / 1 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Catatan Pengalaman Haji 2026: Dari Misfalah ke Madinah, Menapaki Jejak Sejarah
Penulis bersama rombongan jemaah haji dalam perjalanan dari Misfalah ke Madinah. Foto: Dok. Pribadi/Muhamad Saefullah
Opini

Catatan Pengalaman Haji 2026: Dari Misfalah ke Madinah, Menapaki Jejak Sejarah

Catatan Pengalaman Haji 2026: Dari Misfalah ke Madinah, Menapaki Jejak Sejarah

/ 1 Jumadil Awal 1448 H 6 menit baca 73 dibaca
Muhamad Saefullah

Oleh: Muhamad Saefullah

Anggota Komisi Infokomdigi MUI

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Pagi itu, 7 Juni 2026, Hotel Diamond 917 di Misfalah mendadak terasa lebih lengang. Lebih dari sebulan, tempat itu menjadi rumah sementara kami.

Di sana, hari-hari berlalu dengan ritme yang hampir sama: bangun, beribadah, makan, beristirahat, lalu kembali mengejar waktu dan kesempatan beribadah. Di antara rutinitas itu, tumbuh banyak hal yang tidak tercatat dalam jadwal perjalanan. Ada tawa, keakraban, kelelahan, kerinduan, dan kesabaran.

Kini semuanya harus ditinggalkan. Koper-koper sudah masuk bagasi, kartu identitas diperiksa, dan tangan-tangan petugas PPIH melambai dengan senyum hangat sebagai tanda perpisahan.

Satu per satu,  jemaah Kloter 75 SOC naik ke bus yang akan membawa kami menuju Madinah. Bus bergerak perlahan meninggalkan Makkah. Dari balik kaca, gurun dan bukit-bukit batu terbentang sejauh mata memandang.

Ada satu pertanyaan yang mengganjal di kepala: di mana jejak jalan yang pernah dilalui Nabi? Mungkin jalannya masih ada; sebagian berubah menjadi jalan raya, tertutup pembangunan, atau tinggal nama. Yang jelas, bagi kami yang duduk nyaman di dalam bus ber-AC, perjalanan hijrah Nabi tiba-tiba terasa sangat jauh sekaligus sangat dekat.

Di barisan kursi tengah, keheningan itu mendadak dipecahkan oleh suara sengau khas Banyumasan. Haji Jafaruddin, yang akrab disapa Pak Udin—tetangga satu RT saya dari Ajibarang yang sejak berangkat selalu memakai kopiah hitam agak miring—menempelkan jidatnya ke kaca jendela bus. Matanya menatap hamparan gurun batu yang membisu.

“Lha, Kang Saeful,” ujar Pak Udin dengan nada khasnya yang lugas.

“Rika tahu tidak? Kita ini melintas di atas jalan tol canggih, tapi jalur hijrah Kanjeng Nabi malah seperti tidak ada bekasnya sama sekali. Apa iya jejaknya sudah habis tertutup jalan aspal semua? Kemarin saya tanya muthawif. Dia juga bingung mau jawab apa. Jan, aneh betul ya, Kang!”

Pertanyaan Pak Udin itu telak. Kejelian jemaah yang rajin ke sawah ini sejatinya menelanjangi kegelisahan besar yang sudah lama mengendap di pikiran para pencinta sejarah Islam.

Di balik kenyamanan bus ber-AC dan hamparan aspal mulus sepanjang 470 kilometer menuju Madinah, ada jejak peradaban agung yang selama berpuluh-puluh tahun seolah sengaja dibiarkan terkikis oleh waktu dan doktrin masa lalu.

Jejak Komite Hijaz

Bayangkan saja, rute hijrah Rasulullah SAW bersama Abu Bakar ash-Shiddiq—sebuah lintasan dramatis tempat kabilah kecil beranggotakan empat orang itu mengukir garis demarkasi antara era kegelapan dan cahaya—dahulu nyaris dibiarkan menguap tanpa penanda spiritual yang layak.

Perjalanan kabilah suci itu, yang melewati Gua Tsur yang penuh tantangan, kemah Ummu Ma’bad yang legendaris, hingga jalur meliuk di pesisir Laut Merah, selama berpuluh-puluh tahun seolah dikubur di balik doktrin ketakutan berlebihan terhadap ancaman syirik. Bukit-bukit batu diratakan, rute kuno dipangkas dengan alat berat, dan naskah sejarah dibiarkan berdebu di lembaran buku.

Jika kita mau sedikit nakal membandingkannya dengan bangsa lain, betapa ironisnya pengelolaan sejarah ini. Di Eropa, rute pejalan kaki spiritual seperti Camino de Santiago di Spanyol dipelihara dengan sangat cermat. Jalurnya dijaga, batu-batunya dirawat, dan narasi sejarahnya dikemas sedemikian rupa hingga mendatangkan ribuan pejalan kaki serta menghasilkan devisa triliunan rupiah. Memang bangsa Barat amat paham cara mengubah kisah masa lalu menjadi pundi-pundi fulus modern tanpa kehilangan ruh penghormatan kepada leluhur.

Sementara di tanah Hijaz, potensi sejarah sejauh 470 kilometer itu lama terabaikan. Jalur yang merekam perjuangan Nabi saat dikejar kaum Quraisy tertutup oleh pembangunan kota modern. Papan penunjuk arah sederhana seperti lokasi kemah Ummu Ma’bad pun sulit ditemukan. Jamaah dari berbagai belahan dunia hanya disuguhi megahnya menara beton dan pusat perbelanjaan, sementara ingatan sejarah mereka dibiarkan menguap.

Padahal, sejarah mencatat betapa bangsa Indonesia memiliki keterikatan batin yang sangat dalam terhadap upaya penyelamatan situs-situs suci. Kita tidak boleh lupa bahwa pada 1926, ketika gelombang pembersihan situs-situs bersejarah mengancam Makkah dan Madinah—termasuk gagasan ekstrem yang sempat mengusik keberadaan Makam Rasulullah SAW—para ulama Nusantara bergerak cepat.

Saat itu, atas instruksi dan restu Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah memprakarsai pembentukan Komite Hijaz. Delegasi ulama pemberani ini berangkat menemui Raja Ibn Saud, membawa diplomasi yang santun namun tegas demi menyelamatkan Makam Agung Rasulullah SAW, yang hingga hari ini tetap berdiri anggun menaungi jutaan kerinduan umat.

Angin Perubahan

Kini, zaman rupanya sedang berputar membawa angin perubahan. Pemerintah Arab Saudi, melalui General Entertainment Authority di bawah payung Saudi Vision 2030, mulai menyadari bahwa masa depan negeri mereka tidak bisa selamanya digantungkan pada minyak bumi. Diversifikasi ekonomi dilakukan, termasuk dengan menargetkan 150 juta pengunjung. Dalam target itu, rute hijrah diharapkan menarik hingga 5 juta peziarah per tahun pada 2030.

Salah satu manifestasi paling menakjubkan adalah peluncuran proyek imersif bertajuk “Ala Khutah” yang dalam bahasa Arab ditulis "على خطة". Jalur interaktif ini memungkinkan umat Islam menelusuri secara langsung lintasan sejarah hijrah Nabi. Jalur pejalan kaki sepanjang 305 kilometer ini melewati 41 situs bersejarah yang telah direstorasi.

Sejak diluncurkan pada November 2025, tak kurang dari 300 ribu peserta terpilih dari total satu juta pendaftar di seluruh dunia telah mengambil bagian dalam perjalanan spiritual ini. Indonesia disebut sebagai negara dengan antusiasme tertinggi.

Fasilitas pendukungnya pun dirancang dengan matang. Tersedia delapan pos istirahat beratap, lima stasiun multimedia interaktif, hingga Museum Hijrah di pinggiran Madinah. Bahkan, pendakian ke Gua Tsur yang semula memakan waktu dua jam kini bisa ditempuh hanya dalam tiga menit dengan kendaraan khusus.

Selain itu, tersedia pos medis, pusat kerajinan, dan tempat penampungan yang mampu menampung hingga 12 ribu pengunjung per hari. Dari sini, tampaklah Kerajaan Saudi akhirnya menyadari bahwa jejak kaki sang Nabi bukan sekadar warisan iman, melainkan juga aset peradaban dan potensi ekonomi bernilai tinggi.

“Sing penting Rika aja melu-melu bingung,” ujar saya, memecah lamunannya sambil menepuk pundak Pak Udin yang masih memandangi gurun dari kaca bus.

“Pemerintah Saudi sekarang sudah mulai menata rute hijrah lewat proyek Ala Khutah. Sudah ada stasiun multimedia, museum, bahkan untuk naik ke Gua Tsur pun sekarang tersedia kendaraan khusus. Jadi, besok kalau anak cucunya Pak Udin naik haji, mereka sudah bisa menapak tilas rute Kanjeng Nabi secara lengkap dan nyaman.”

Pak Udin manggut-manggut. Senyum lugas tersungging di wajahnya. “Oalah, begitu, ya, Kang? Bagus yen kaya kuwi. Mumpung inyong masih sanggup jalan, ingin rasanya tahu bagaimana rasanya berjuang naik unta.”  

Saya tersenyum mendengar jawabannya. Di balik kelakar sederhana itu, tersimpan keinginan yang sesungguhnya tidak sederhana, yaitu mendekati sejarah, bukan hanya melalui cerita, melainkan juga melalui pengalaman.

Dari Misfalah menuju Madinah, saya menyadari bahwa menapaki jejak sejarah bukan semata-mata soal menemukan jalur di atas peta. Ada ikhtiar untuk memahami kembali peristiwa besar yang membentuk peradaban Islam, sekaligus memastikan bahwa ingatan tentangnya tidak berhenti sebagai kisah yang berulang kali diceritakan.

Sepanjang perjalanan, kami terus melantunkan shalawat, merawat rindu kepada Rasulullah, dan berharap kelak digolongkan sebagai umat yang memperoleh syafaat beliau. Sebab, jejak sejarah layak dirawat bukan hanya agar bisa dikunjungi, melainkan agar keteladanan di dalamnya tetap hidup.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads