6 Macam Thawaf dalam Ibadah Haji dan Umroh, Begini Penjelasannya
A Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Penulis
Hakim
Editor
Jakarta, MUI Digital — Thawaf merupakan salah satu ibadah utama dalam rangkaian manasik haji dan umroh yang dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran.
Ibadah ini menjadi simbol penghambaan serta
ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT, sekaligus bentuk penghormatan kepada
Baitullah sebagai kiblat umat Islam.
Adapun perintah melaksanakan thawaf ini disebutkan
secara langsung dalam Alquran. Allah SWT berfirman:
وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ
الْعَتِيقِ
Artinya: “Dan hendaklah mereka melakukan thawaf di sekeliling al-Bait al-‘Atiq (Baitullah).” (QS Al-Hajj: 29)
Baca juga: 10 Kewajiban Thawaf dalam Ibadah Haji dan Umroh yang Harus Diketahui
Dalam praktiknya, thawaf tidak hanya
terdiri dari satu jenis. Para ulama mazhab Syafi’i membagi thawaf menjadi enam
macam, yaitu thawaf qudum, thawaf ifadhah, thawaf wada’, thawaf tahallul karena
luput haji (fawat), thawaf nadzar, dan thawaf sunnah.
Dari enam macam thawaf tersebut, sebagiannya
termasuk rukun haji dan umroh, sebagian lain hukumnya wajib, dan adapula yang
bernilai sunnah. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Mausu’ah
al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah:
وَعَدَّهَا الشَّافِعِيَّةُ سِتَّةً:
طَوَافُ الْقُدُومِ، طَوَافُ الرُّكْنِ، طَوَافُ الْوَدَاعِ، طَوَافُ مَا
يَتَحَلَّل بِهِ فِي الْفَوَاتِ، طَوَافُ النَّذْرِ، طَوَافُ التَّطَوُّعِ
“Kalangan Syafi’iyyah mengkategorikan thawaf menjadi enam macam, yaitu: Thawaf qudum, thawaf rukun, thawaf wada’, thawaf untuk tahallul karena luputnya haji (fawat), thawaf nadzar, dan thawaf sunnah (tathawwu’).” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [Mesir: Dar as-Shafwah], vol. 29, h. 121)
Baca juga: Doa dan Dzikir yang Dibaca saat Thawaf
Berikut penjelasan masing-masing dari
keenam macam thawaf tersebut:
1. Thawaf Qudum
Thawaf qudum adalah thawaf yang dilakukan
ketika jamaah pertama kali memasuki kota Makkah sebagai bentuk penghormatan
kepada Ka’bah. Karena itu, thawaf ini juga dikenal dengan sebutan thawaf
kedatangan atau thawaf tahiyyat.
Menurut keterangan ulama mazhab Syafi’i,
thawaf qudum hukumnya sunnah bagi jamaah haji yang datang dari luar Makkah
sebelum melaksanakan wukuf di Arafah, baik yang menjalankan haji ifrad maupun
qiran.
Adapun bagi penduduk Makkah, thawaf ini
tidak disunnahkan lantaran mereka tidak dianggap sebagai orang yang datang ke
Makkah.
Syekh Dr Wahbah az-Zuhaili (wafat 1436 H) dalam kitabnya menerangkan bahwa thawaf qudum tidak lagi disunnahkan setelah seseorang melaksanakan wukuf di Arafah. Begitu pula bagi orang yang sedang melaksanakan umroh, sebab waktu thawaf wajib mereka telah tiba.
Baca juga: Doa Shalat Sunnah Dua Rakaat Setelah Thawaf
Kendati demikian, thawaf qudum juga
dianjurkan bagi orang yang memasuki Makkah meskipun tidak sedang berihram,
sebagai bentuk penghormatan kepada Masjidil Haram dan Baitullah.
أَمَّا طَوَافُ الْقُدُومِ: فَهُوَ
سُنَّةٌ عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ لِحَاجٍّ دَخَلَ مَكَّةَ قَبْلَ الْوُقُوفِ
بِعَرَفَةَ، سَوَاءٌ أَكَانَ مُفْرِدًا أَمْ قَارِنًا، وَلَيْسَ عَلَى أَهْلِ
مَكَّةَ طَوَافُ الْقُدُومِ؛ لِانْعِدَامِ الْقُدُومِ فِي حَقِّهِمْ، وَأَمَّا
غَيْرُ أَهْلِ مَكَّةَ فَسُنَّةٌ لَهُمْ بِدَلِيْلِ الثَّابِتِ فِي خَبَرِ
الصَّحِيْحَيْنِ، وَلَا يُسَنُّ لِلْحَاجِّ بَعْدَ الْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ وَلَا
لِلْمُعْتَمِرِ؛ لِأَنَّهُ دَخَلَ وَقْتُ طَوَافِهِمَا الْمَفْرُوضِ. وَيُسَنُّ
أَيْضًا عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ طَوَافُ الْقُدُومِ لِلْحَلَالِ (غَيْرِ
الْمُحْرِمِ) الدَّاخِلِ إِلَى مَكَّةَ؛ لِأَنَّهُ يُسَمَّى طَوَافَ الْقَادِمِ
وَالْوُرُودِ وَالْوَارِدِ وَالتَّحِيَّةِ
“Adapun thawaf qudum, maka hukumnya
sunnah menurut mayoritas fuqaha bagi jamaah Haji yang memasuki Makkah sebelum
wukuf di Arafah, baik ia melaksanakan haji ifrad maupun qiran. Penduduk Makkah
tidak disunnahkan melakukan thawaf qudum, karena dalam hak mereka tidak ada
makna kedatangan. Adapun selain penduduk Makkah, maka thawaf qudum disunnahkan
bagi mereka berdasarkan dalil dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam
Muslim. Thawaf qudum tidak disunnahkan bagi jamaah haji setelah wukuf di
Arafah, dan juga tidak bagi orang yang melaksanakan Umroh, karena waktu thawaf
wajib bagi keduanya telah tiba. Menurut ulama Syafi‘iyah, thawaf qudum juga
disunnahkan bagi orang yang tidak berihram ketika memasuki Makkah, karena
thawaf ini juga disebut thawaf orang yang datang, thawaf kedatangan, dan thawaf
penghormatan.” (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu
[Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir], vol. 3, h. 2201)
2. Thawaf Ifadhah
Thawaf ifadhah merupakan salah satu rukun
haji yang paling penting. Thawaf ini dilakukan setelah jamaah kembali dari
Arafah. Thawaf ini juga termasuk amalan yang tidak boleh ditinggalkan dalam
ibadah haji. Sebab, kedudukannya sebagai rukun ibadah haji. Maka ibadah haji
dianggap tidak sah jika tanpa thawaf ifadhah.
Dalam literatur fiqih, thawaf ifadhah juga
dikenal dengan beberapa nama lain, seperti thawaf ziyarah, thawaf fardhu, dan
thawaf rukun.
Pelaksanaan thawaf ifadhah biasanya dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah jamaah melempar jumroh Aqabah, menyembelih hewan qurban, serta mencukur rambut sebagai tahallul. Meski begitu, waktunya dapat dimulai sejak lewat tengah malam hari Nahr dan tidak memiliki batas akhir tertentu.
Baca juga: Thawaf dan Kedalaman Makna Spiritual
Dalam kitab Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah
al-Kuwaitiyyah diterangkan bahwa seorang jamaah tidak dapat memperoleh
tahallul akbar sebelum melaksanakan thawaf ifadhah. Sehingga, thawaf ini
menjadi bagian inti dalam rangkaian manasik haji.
طَوَافُ الإِفَاضَةِ رُكْنٌ مِنْ
أَرْكَانِ الْحَجِّ الْمُجْمَعِ عَلَيْهَا لاَ يَتَحَلَّلُ الْحَاجُّ بِدُوْنِهِ
التَّحَلُّل الأَْكْبَرَ، وَلاَ يَنُوْبُ عَنْهُ شَيْءٌ أَلْبَتَّةَ وَيُؤَدِّيْهِ
الْحَاجُّ بَعْدَ أَنْ يُفِيْضَ مِنْ عَرَفَةَ، وَيَبِيْتَ بِالْمُزْدَلِفَةِ، فَيَأْتِي
مِنًى يَوْمَ الْعِيْدِ فَيَرْمِي وَيَنْحَرُ وَيَحْلِقُ، وَيَأْتِي مَكَّةَ
فَيَطُوْفُ بِالْبَيْتِ طَوَافَ الإِفَاضَةِ، وَيُسَمَّى أَيْضًا طَوَافَ
الزِّيَارَةِ، وَيُسَمَّى طَوَافَ الْفَرْضِ وَالرُّكْنِ؛ لأَنَّهُ فَرْضٌ
وَرُكْنٌ مِنْ أَرْكَانِ الْحَجِّ
“Thawaf ifadhah merupakan salah satu
rukun Haji yang telah disepakati para ulama. Seorang jamaah haji tidak dapat
memperoleh tahallul akbar tanpa melaksanakannya, dan tidak ada sesuatu pun yang
dapat menggantikannya. Thawaf ini dilakukan oleh jamaah haji setelah bertolak
dari Arafah, bermalam di Muzdalifah, lalu datang ke Mina pada hari raya untuk
melempar jumroh, menyembelih hewan qurban, dan mencukur rambut. Setelah itu ia
menuju Makkah dan melakukan thawaf di Ka’bah, yaitu thawaf ifadhah. Thawaf ini
juga disebut thawaf ziyarah, thawaf fardhu, dan thawaf rukun, karena itu
merupakan kewajiban dan termasuk rukun haji.” (Al-Mausu’ah
al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [Mesir: Dar as-Shafwah], vol. 29, h. 122)
3. Thawaf Wada’
Thawaf wada’ adalah thawaf perpisahan yang
dilakukan tatkala jamaah hendak meninggalkan kota Makkah setelah menuntaskan
rangkaian ibadah haji atau umroh. Mayoritas ulama, termasuk mazhab Hanafi,
Hanbali, dan pendapat kuat dalam mazhab Syafi’i memandang thawaf wada’ sebagai
kewajiban. Sementara itu, menurut mazhab Maliki hukumnya sunnah.
Dasar kewajiban thawaf wada’ berasal dari
hadis Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan bahwa Nabi
Muhammad SAW memerintahkan agar akhir perjumpaan jamaah dengan Baitullah
ditutup dengan thawaf. Meski demikian, terdapat keringanan bagi perempuan yang
sedang haid, yakni tidak diwajibkan melaksanakan thawaf wada’.
ثَالِثًا: طَوَافُ الْوَدَاعِ،
وَيُسَمَّى طَوَافَ الصَّدَرِ وَطَوَافَ آخِرِ الْعَهْدِ. وَهُوَ وَاجِبٌ عِنْدَ
الْجُمْهُورِ (الْحَنَفِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ وَهُوَ الأَْظْهَرُ عِنْدَ
الشَّافِعِيَّةِ) وَمُسْتَحَبٌّ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ. وَاسْتَدَل الْجُمْهُورُ
عَلَى وُجُوبِهِ بِمَا رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ
النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ أَمَرَ النَّاسَ أَنْ يَكُوْنَ
آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ، إِلاَّ أَنَّهُ خَفَّفَ عَنِ الْمَرْأَةِ
الْحَائِضِ
“Ketiga, thawaf wada‘. Dinamakan juga thawaf shadar dan thawaf akhirul ‘ahd. Hukumnya wajib menurut kebanyakan ulama yaitu mazhab Hanafi, Hanbali, dan pendapat kuat dalam mazhab Syafi’i, sedangkan menurut mazhab Maliki hukumnya sunnah. Mayoritas ulama berargumentasi perihal kewajiban thawaf wada’ ini dengan riwayat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi SAW memerintahkan manusia agar akhir pertemuan mereka dengan Ka’bah, hanya saja beliau memberikan keringanan bagi perempuan haid.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [Mesir: Dar as-Shafwah], vol. 29, h. 122)
Baca juga: Doa Hendak Meninggalkan Baitullah atau Thawaf Wada’
4. Thawaf Umroh
Selain dalam ibadah haji, thawaf juga
menjadi rukun utama dalam ibadah umroh. Thawaf umroh dilakukan setelah
seseorang berniat ihram umroh dan memasuki Masjidil Haram. Sebagaimana thawaf
ifadhah dalam haji, thawaf umroh juga tidak boleh ditinggalkan sebab termasuk
rukun yang menentukan sah atau tidaknya ibadah umroh seseorang.
Dalam kitab Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah
al-Kuwaitiyyah dijelaskan bahwa thawaf umroh dimulai setelah ihram dan
tidak memiliki batas akhir waktu tertentu.
رَابِعًا: طَوَافُ الْعُمْرَةِ، وَهُوَ
رُكْنٌ فِيهَا وَأَوَّلُ وَقْتِهِ بَعْدَ الإِحْرَامِ بِالْعُمْرَةِ وَلاَ آخِرَ
لَهُ
“Keempat, thawaf Umroh. Thawaf ini merupakan rukun dalam umroh. Waktu pelaksanaannya dimulai setelah ihram umroh, dan tidak memiliki batas akhir waktu tertentu.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [Mesir: Dar as-Shafwah], vol. 29, h. 122)
Baca juga: 4 Doa Perjalanan Haji dan Umroh yang Dianjurkan: Dari Berangkat hingga Tiba di Tanah Suci
5. Thawaf Nadzar
Thawaf nadzar adalah thawaf yang dilakukan
untuk memenuhi nadzar atau janji yang pernah diucapkan seseorang. Lantaran
berasal dari nadzar, maka hukum thawaf ini menjadi wajib.
Seseorang yang bernadzar untuk melaksanakan
thawaf berkewajiban menunaikannya sebagaimana bentuk ibadah wajib lainnya. Adapun
waktu pelaksanaannya tidak dibatasi, kecuali apabila orang yang bernadzar
menentukan waktu tertentu dalam nadzarnya.
خَامِسًا: طَوَافُ النَّذْرِ: وَهُوَ
وَاجِبٌ وَلاَ يَخْتَصُّ بِوَقْتٍ إِذَا لَمْ يُعَيِّنِ النَّاذِرُ فِيْ نَذْرِهِ
لِلطَّوَافِ وَقْتًا
“Kelima, thawaf nadzar. Thawaf ini hukumnya wajib dan tidak terikat dengan waktu tertentu apabila orang yang bernadzar tidak menentukan waktu khusus untuk melaksanakan thawaf tersebut dalam nadzarnya.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [Mesir: Dar as-Shafwah], vol. 29, h. 123)
Baca juga: Doa dan Dzikir Terbaik Jamaah Haji saat di Arafah
6. Thawaf Sunnah
Thawaf sunnah adalah thawaf yang dilakukan
secara sukarela di luar rangkaian wajib haji dan umroh. Thawaf ini dapat
dilakukan kapan saja selama berada di Masjidil Haram sebagai bentuk ibadah dan
mendekatkan diri kepada Allah SWT. Termasuk dalam kategori ini ialah thawaf
tahiyyatul masjid bagi orang yang memasuki Masjidil Haram.
سَادِسًا: طَوَافُ التَّطَوُّعِ،
وَمِنْهُ طَوَافُ تَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَزَمَنُهُ كَمَا سَبَقَ
عِنْدَ الدُّخُول. أَمَّا طَوَافُ التَّطَوُّعِ غَيْرُ طَوَافِ التَّحِيَّةِ،
فَلاَ يَخْتَصُّ بِزَمَانٍ دُونَ زَمَانٍ وَيَجُوزُ فِي أَوْقَاتِ كَرَاهَةِ
الصَّلاَةِ عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ. وَلاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَتَطَوَّعَ
وَيَكُوْنَ عَلَيْهِ غَيْرُهُ مِنْ سَائِرِ الْفُرُوضِ
“Keenam, thawaf sunnah. Termasuk di dalamnya ialah thawaf sebab menghormati Masjidil Haram, dan waktunya sebagaimana telah disebutkan ketika masuk ke masjid. Adapun thawaf sunnah selain thawaf sebab menghormati Masjidil Haram, maka tidak dikhususkan pada waktu tertentu. Thawaf tersebut juga boleh dilakukan pada waktu-waktu yang dimakruhkan untuk shalat menurut mayoritas fuqaha. Namun, tidak selaiknya seseorang melakukan thawaf sunnah sementara ia masih memiliki kewajiban lain dari berbagai ibadah fardhu yang belum ditunaikan.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [Mesir: Dar as-Shafwah], vol. 29, h. 123)
Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa
Demikianlah enam macam thawaf dalam ibadah
haji dan umroh menurut penjelasan ulama mazhab Syafi’i.
Perbedaan jenis thawaf tersebut menunjukkan
bahwa ibadah thawaf memiliki fungsi dan kedudukan beragam, mulai dari yang
menjadi rukun, kewajiban, hingga ibadah sunnah semuanya bertujuan tidak lain
untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Adapun mengetahui macam-macam thawaf ini menjadi hal penting bagi setiap jamaah agar dapat melaksanakan manasik haji dan umroh dengan baik sesuai tuntunan syariat. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.