Lewati ke konten utama
Sabtu, 15 Agustus 2026 / 2 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Menjaga Ketulusan Dakwah

6 menit baca 41 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Menjaga Ketulusan Dakwah
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Di era di mana segala hal dengan mudah dihitung dengan angka—mulai dari jumlah pengikut, tingkat tontonan, hingga nominal honorarium, berdiri tegak di atas jalur dakwah menjadi ujian yang tidak pernah sederhana. Sering kali batas antara membiayai dakwah dan menyampaikan risalah menjadi sangat tipis.

Di tengah riuk pikuk tersebut, firman Allah SWT dalam surat Al-Muddatstsir ayat 6 menjadi petunjuk arah moral yang menyampaikan kembali jiwa para pengemban risalah. Allah berfirman:

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS. Al-Muddatstsir: 6)

Di tengah bentangan tugas kenabian yang sangat berat, Allah tidak hanya membekali Rasulullah SAW dengan keberanian, melainkan juga menanamkan kompas paling mendasar melalui surat Al-Muddatstsir ayat 1- 6. Allah berfirman, yang artinya: “Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu beri peringatan! Dan Agungkanlah Tuhanmu! Kebersihan pakaianmu, jagalah! Dan tinggalkanlah perbuatan maksiat! Andai kata kamu memberi, janganlah dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak.”

Melalui ayat ini, para ulama menetapkan landasan dasar dalam berdakwah dengan menjaga keikhlasan hati. Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asyqar menegaskan, ayat ini berfungsi sebagai benteng agar seorang pejuang dakwah tidak merasa berbesar diri atau merasa telah berjasa atas beban perjuangan yang dipikulnya.

Pengorbanan besar dalam mendidik dan membimbing umat tidak boleh meninggalkan benih kesombongan, apalagi rasa iri terhadap takdir dan kemudahan yang didapat oleh pejuang lainnya.

Di sisi lain, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengulasnya dari dimensi hubungan antarmanusia. Beliau menegaskan bahwa kebaikan, baik berupa ilmu, gagasan, maupun materi harus dialirkan tanpa kalkulasi balasan duniawi. Beliau berkata, Torehkan kebaikan, lalu biarkan. Biarkan perhitungannya menjadi urusan Allah SWT, seraya menempatkan setiap manusia dalam kedudukan yang setara.”

Tradisi tafsir klasik (seperti pandangan Ibnu Abbas, Hasan Al-Bashri, dan Ibnu Zaid) pun memberikan peringatan keras terhadap “transaksi terselubung”. Jangan sampai suatu kebaikan diniatkan sebagai pancingan untuk mendapatkan keuntungan materi yang lebih besar, dan jangan pernah merasa telah berbuat terlalu banyak di hadapan Sang Maha Pencipta.

Sebelum Rasulullah SAW menerima berbagai tawaran strategi dari struktur sosial-politik Quraisy yang sarat kepentingan, keikhlasan hati beliau telah disterilkan terlebih dahulu melalui ayat ini.

Baca juga: Refleksi “War-rujza Fahjur” di Era Digital

Dialektika Risalah vs Pragmatisme

Menarik garis lurus ke dalam konteks hari ini, pesan surat Al-Muddatstsir menemukan relevansinya yang sangat tajam. Kita tengah menyaksikan persimpangan paradigma dalam dunia dakwah: Apakah dakwah dijalankan murni sebagai panggilan risalah, atau telah tergelincir menjadi ruang transaksi?

Secara realitas, seorang dai adalah manusia yang hidup dalam ruang fisik. Mereka membutuhkan daya dukung kehidupan, pakaian yang layak, serta akses literatur agar narasi keagamaan yang disampaikan tetap relevan dan adaptif. Ini adalah kebutuhan yang wajar dan rasional.

Namun, persoalan mendasar muncul ketika kebutuhan tersebut bergeser menjadi tujuan utama. Ketika nilai materi menjadi variabel penentu dalam memilih medan dakwah, di situlah integritas dakwah sedang diuji.

Fenomena yang memilah antara medan dakwah “tempat basah” (yang berpotensi menghasilkan materi) dan “tempat kering” (yang sedikit apresiasi materi) adalah cermin bagaimana gagasan luhur bisa tersandera oleh kalkulasi jangka pendek.

Persoalan pragmatisme tidak cukup diselesaikan dengan imbauan moral, melainkan harus diselesaikan melalui solusi struktural dan sistemik. Belajar dari keteladanan pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, gerakan dakwah membutuhkan tata kelola yang memerdekakan dai.

Ekosistem yang memerdekakan melalui tata kelola organisasi yang profesional, tentunya kebutuhan operasional dan manajemen finansial dai ditopang oleh lembaga. Ketika dai tercukupi secara kebutuhan, pikiran mereka merdeka dari bayang-bayang “amplop” atau pemberian panitia. Mereka dapat fokus pada pembinaan umat tanpa membedakan medan dakwah.

Menghidupkan misi kerasulan (QS. Asy-Syu’ara: 127), semboyan “Aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam” dijadikan prinsip gerakan dakwah. Ketika dakwah disampaikan tanpa kalkulasi transaksi, ketulusan yang terpancar menjadi magnet perekat silaturahim dan penggerak dukungan masyarakat secara berkelanjutan.

Integritas yang diteladankan adalah keteladanan lahir dari tindakan nyata sebagaimana Ustadz Abdullah Said menolak honor besar pada pelatihan mubaligh di Pomala (1981) dan mengalihkannya untuk anak-anak yatim. Beliau menegaskan prinsip: “Kita tidak bertransaksi dengan narasi yang kita ucapkan”.

Baca juga: Menyucikan “Pakaian” dan Niat

Realitas Medan Dakwah dan Ujian Niat

Dalam struktur masyarakat modern, ladang dakwah terfragmentasi ke dalam beberapa ruang gerak. Setiap medan memiliki peluang syiar sekaligus titik rawan transaksinya masing-masing.

Dai selebriti menguasai panggung media sosial dan majelis-majelis megah dengan jangkauan audiens yang sangat masif hingga ribuan yang mengikutinya. Namun, titik rawannya adalah jebakan rating, views, follower menjadi panggung komersialisasi. Panggilan dakwah menuntut mereka menjadikan popularitas semata sebagai alat (wasilah) untuk membimbing umat kembali pada esensi agama, bukan sebagai tujuan akhir.

Dai kantoran dan elite hadir di gedung pencakar langit, korporasi, serta lingkaran pejabata dan pengusaha pemegang kebijakan. Titik rawannya adalah menjadi penyedia “jasa ceramah profesional” bertarif atau sekedar menjadi batang keagamaan demi mempertahankan posisi dan fasilitas. Panggilan dakwah mereka adalah memanfaatkan akses tersebut untuk menanamkan etika ketauhidan, kejujuran, dan keberanian yang mencerminkan keadilan di pusat-pusat keputusan bangsa.

Dai pedalaman menembus kawasan Terluar, Tertinggal, dan Terdepan (3T) dengan segala keterbatasan fasilitas. Titik rawannya adalah keputusasaan finansial, rasa iri pada dai kota, atau mengeksploitasi penderitaan medan dakwah demi donasi pribadi. Panggilan dakwah di medan ini adalah penuh kesabaran; menjaga akidah umat di garis depan tanpa peduli kilatan kamera dan amplop panggung.

Dai kampung mengajar Iqra’ dan memimpin majelis di desa-desa sebagai referensi harian warga di akar rumput. Titik rawannya adalah munculnya rasa berkecil hati, minder, kekurangan materi serta godaan kompromi dalam pragmatisme politik lokal. Panggilan dakwah mereka adalah menjadi benteng moralitas masyarakat, konsisten merawat nilai agama meskipun sering kali hanya berbalas ucapan terima kasih atau hasil bumi.

Baca juga: Ketika “Personal Branding” Menggeser “Wa Rabbaka Fakabbir”

Keheningan Niat di Atas Mimbar

Keberagaman profil dai di atas adalah keniscayaan zaman dalam struktur masyarakat yang kompleks. Islam tidak melarang seorang dai berada di panggung selebriti, gedung bertingkat, di rumah susun, maupun surau kayu di pedalaman.

Namun, peringatan Al-Muddatstsir ayat 6 berlaku sama nyaringnya untuk semua. Dai selebrit dan elite diuji dengan godaan materi dan panggung, sementara dai pedalaman dan kampung diuji dengan kesabaran dalam kesunyian.

Pada akhirnya, tampilnya seorang dai di hadapan Allah tidak diukur dari seberapa megah mimbar tempat ia berdiri atau seberapa tebal amplop yang ia terima atau seberapa banyak yang mendengarkannya, melainkan dari seberapa murni niatnya dalam menyampaikan risalah-Nya.

Mari sejenak menengok ke dalam relung hati kita masing-masing. Di balik riuh tepuk tangan atau sepinya apreasiasi pengabdian, untuk siapakah sebenarnya dakwah, taklim, taushiah dan nasihat kita berikan?

Semoga Allah Ta’ala senantiasa membersihkan langkah dakwah kita dari riya, menyelamatkan niat kita dari kalkulasi duniawi, dan menghimpun kita di antara hamba-hamba-Nya yang ikhlas memelihara kesucian dakwah.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.