Lewati ke konten utama
Jumat, 14 Agustus 2026 / 1 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Google Ads
Khutbah

Khutbah Jumat: Kebinekaan sebagai Kekuatan dalam Menjaga Keutuhan NKRI

11 menit baca 651 dibaca
Admin

Oleh: Admin

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Khutbah Jumat: Kebinekaan sebagai Kekuatan dalam Menjaga Keutuhan NKRI
Foto: MUI Digital
Bagikan:

Oleh: Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA, Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia/Guru Besar Ilmu Fikih Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Khutbah I

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ،  فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ)

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ketakwaan itu bukan hanya soal kesalehan pribadi. Ketakwaan juga harus melahirkan kesalehan sosial: menghadirkan kedamaian, keadilan, persaudaraan, ketertiban, dan kemaslahatan di tengah kehidupan bersama.

Pada hari ini, Jumat, 14 Agustus 2026, kita berada di tengah suasana menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Delapan puluh satu tahun adalah perjalanan yang panjang. Karena itu, momentum kemerdekaan jangan hanya kita rayakan secara seremonial. Jangan hanya memasang bendera, mengadakan perlombaan, atau menyelenggarakan upacara.

Lebih dari itu, kemerdekaan harus menjadi momentum muhasabah; dari mana kemerdekaan ini kita peroleh? Siapa yang telah mengorbankan jiwa dan raganya? Dan apa yang sudah kita lakukan untuk mengisi serta mempertahankan kemerdekaan ini?

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Kemerdekaan adalah nikmat dan karunia dari Allah SWT. Dan setiap nikmat itu menuntut rasa syukur. Sebagaimana Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

Maka, kemerdekaan harus kita syukuri. Namun, syukur tidak cukup diucapkan dengan alhamdulillah. Syukur harus diwujudkan dalam perbuatan. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah buah dari perjuangan panjang. Ia tidak datang dengan cuma-cuma. Ada darah yang tertumpah. Ada air mata yang mengalir. Ada keluarga yang kehilangan orang-orang yang dicintainya. Ada ulama. Ada santri. Ada tentara. Ada rakyat biasa. Ada juga pemuda-pemuda bangsa.

Mereka semua mempertaruhkan harta, tenaga, bahkan jiwa dan raga. Mereka berjuang dengan semangat yang begitu kuat; merdeka atau mati. Santri dan ulama bergerak dengan kesadaran keagamaan; ’isy kariiman au mut syahidan. Artinya, hidup mulia atau mati syahid.

Maka, benarlah para bijak bestari yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa para pendahulunya.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Lalu bagaimana cara kita mensyukuri kemerdekaan tersebut? Setidaknya ada tiga hal yang bisa kita lakukan sebagai generasi penerus kemerdekaan.

Pertama, mendoakan para pahlawan dan pejuang bangsa. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ

“Janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154)

Kita tidak gegabah menetapkan seseorang secara individual sebagai syahid, karena hakikat kedudukan seseorang di sisi Allah adalah urusan Allah SWT. Tetapi kita diberikan tuntunan, untuk mendoakan para kyai, mujahid dan pejuang santri yang telah gugur dalam perjuangan membela agama, bangsa, tanah air, dan kemanusiaan, agar Allah SWT menerima amal mereka, mengampuni dosa mereka, dan menempatkan mereka dalam kemuliaan di sisi-Nya.

Kedua, meneladani jiwa kepahlawanan. Pahlawan bukan hanya orang yang berperang di medan tempur. Setiap zaman mempunyai medan perjuangannya sendiri. Setiap zaman melahirkan pahlawan.

Dahulu medan perjuangan adalah medan perang. Hari ini medan perjuangan kita jauh lebih kompleks. Ada medan perjuangan di bidang pendidikan. Ada medan ekonomi. Ada medan kesehatan. Ada medan sosial. Ada medan kebudayaan. Bahkan ada medan digital.

Guru berjuang untuk mendidik. Ulama berjuang dengan ilmu dan keteladanan. Orang tua berjuang membentuk akhlak anak-anaknya, memberikan nafkah yang halal untuk menghidupi keluarga. Petani berjuang menyediakan pangan, menjamin ketersediaan dan kedaulatan pangan. Pedagang berjuang dengan perputaran roda ekonomi, dengan semangat kejujuran. Aparatur negara berjuang dengan integritas dan pelayanan prima. Tenaga kesehatan berjuang menyelamatkan kehidupan dan melakukan riset-riset di bidang kesehatan. Anak muda berjuang dengan ilmu, kreativitas, inovasi, dan akhlak. Inilah kepahlawanan dalam konteks zaman kita.

Karena itu, pertanyaan seorang muslim sejati, seharusnya bukan hanya: “Apa yang telah negara berikan kepada saya?” Tetapi juga: “Apa yang telah saya berikan kepada bangsa, agama, dan sesama?”

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Maka, menjadi warga negara yang baik adalah bagian dari aktualisasi kemanfaatan itu.

Ketiga, meneruskan perjuangan. Para pahlawan telah mewariskan kemerdekaan kepada kita. Tugas kita bukan hanya menikmati warisan tersebut. Tugas kita adalah merawat, mengisi, dan meneruskannya.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengajarkan orientasi masa depan. Jangan sampai generasi kita hanya menikmati hasil perjuangan generasi terdahulu, tetapi tidak menanam sesuatu untuk generasi sesudah kita. Jangan sampai kita mewarisi Indonesia yang merdeka, tetapi meninggalkan Indonesia yang terpecah. Jangan sampai kita menerima persatuan sebagai warisan, tetapi justru meninggalkan permusuhan kepada anak cucu kita.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Di sinilah pentingnya kita memahami kebinekaan. Indonesia adalah bangsa yang sangat beragam. Beragam suku, bahasa, adat, budaya, dan juga organisasi serta pilihan. Bahkan dalam memahami sebagian persoalan keagamaan, terdapat perbedaan pendapat. Tetapi perbedaan itu bukan alasan untuk saling meniadakan.

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 22)

Perbedaan adalah bagian dari sunnatullah. Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Dalam ayat tersebut Allah tidak mengatakan agar kita saling meniadakan. Allah berfirman, lita’arafu”, yakni agar kamu sekalian saling mengenal. Maka kebinekaan itu harus dikelola. Dan jika dikelola dengan baik, kebinekaan menjadi kekuatan. Tetapi jika dikelola dengan kebencian, kebinekaan dapat menjadi ancaman, bahkan menjadi sumber perpecahan.

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Dalam konteks itu, kita perlu memahami batas toleransi. Tidak setiap perbedaan harus dipertentangkan. Tetapi tidak setiap perbedaan pula harus dibenarkan. Dalam khazanah fikih Islam terdapat perbedaan pendapat yang mu’tabar; perbedaan yang memiliki dasar keilmuan dan berada dalam ruang yang memang memungkinkan terjadinya perbedaan. Dalam wilayah seperti ini, kita harus belajar menghormati perbedaan.

Dalam bahasa MUI, perbedaan yang ditoleransi adalah perbedaan terhadap masalah yang berada dalam “majal al-ikhtilaf”, yaitu wilayah yang dibolehkan dan dimungkinkan terjadinya perbedaan. Terhadap hal seperti ini, kita harus membangun kesepahaman dan toleransi, tidak boleh memaksakan diri. Sementara, perbedaan pada wilayah yang “muttafaq ’alaih” atau ketentuan yang disepakati dan tidak boleh ada perbedaan, maka ia bukan wilayah toleransi, melainkan harus diamputasi.

Jika suatu persoalan telah memiliki ketentuan yang jelas dalam agama, atau suatu perbuatan nyata-nyata melanggar hukum yang berlaku, maka tidak tepat menjadikan “kebebasan” dan “penghargaan terhadap perbedaan” sebagai alasan untuk melakukan apa saja. Kebebasan selalu beriringan dengan tanggung jawab.

Dalam perspektif maqashid as-syari’ah, para ulama seperti Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa syariat hadir untuk menjaga kemaslahatan manusia, antara lain menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Karena itu, hukum tidak dimaksudkan untuk mematikan kehidupan, tetapi untuk menjaga kehidupan agar berjalan secara tertib, adil, dan bermaslahat.

Maka kita perlu membedakan antara  toleransi dengan permisivisme. Toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan tidak boleh menolerir tindakan kemaksiatan dan membiarkannya. Seperti halnya kasus penyimpangan seksual semacam LGBT. Islam memiliki batas moral yang jelas mengenai hubungan seksual dan keluarga. Karena itu, atas nama kebebasan, kita tidak boleh mempromosikan atau membenarkan perilaku seksual yang bertentangan dengan prinsip syariat.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Ancaman terhadap persatuan juga dapat muncul ketika kebebasan digunakan untuk merendahkan agama. Belakangan publik dibuat prihatin oleh adanya tindakan yang menjadikan bacaan Alquran sebagai bagian dari tantangan untuk mendapatkan minuman keras.

Hal semacam itu bukan bentuk ekspresi kebebasan yang menjadi bagian ruang toleransi, atas nama kreativitas dan perhargaan terhadap perbedaan. Itu jelas perendahan norma agama, yang mengancam sendi kebersamaan dan persatuan sebagai bangsa.

Kita wajib mengambil pelajaran. Alquran bukan permainan, bukan pula bahan lelucon dan guyonan. Alquran bukan bahan tantangan, apalagi disandingkan dengan sesuatu yang diharamkan. Alquran bukan alat untuk memperoleh sesuatu yang haram. Alquran adalah kalam Allah yang harus dimuliakan.

Allah SWT berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah. Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Apalagi jika bacaan Alquran diposisikan sebagai permainan untuk mendapatkan minuman keras. Sebagaimana kita ketahui, minuman keras sendiri telah dilarang secara tegas oleh Allah dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah.” (QS. Al-Ma’idah: 90)

Pelajaran pentingnya, jangan menjadikan sesuatu yang suci bagi umat beragama sebagai bahan permainan atau penghinaan. Inilah salah satu etika hidup dalam masyarakat majemuk.

Jika kita ingin agama kita dihormati, kita juga harus belajar menghormati agama dan keyakinan orang lain. Kebinekaan tidak akan menjadi kekuatan jika setiap orang merasa berhak merendahkan apa yang dianggap suci oleh orang lain.

Namun demikian, ketika terjadi penghinaan terhadap agama, jangan dibalas dengan kekerasan. Allah SWT berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Kita boleh marah terhadap penghinaan agama, bahkan kita harus marah. Tetapi jangan menjadi zalim. Kita harus menolak kemaksiatan, tetapi tidak dengan melakukan kekerasan. Kita harus menuntut penegakan hukum, tetapi jangan main hakim sendiri. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan memutus persaudaraan. Inilah keseimbangan Islam: kokoh dalam prinsip, tetapi santun dalam muamalah.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Tantangan terhadap persatuan pada zaman kita juga hadir melalui ruang digital. Dahulu penjajah datang dengan senjata. Dahulu kita dipecah-belah dengan kebijakan politik “divide et impera. Hari ini perpecahan dapat masuk melalui telepon genggam kita. Satu berita bohong dapat memecah masyarakat. Satu potongan video yang tidak utuh dapat menimbulkan prasangka. Satu komentar kasar dapat memutus persaudaraan. Satu unggahan provokatif dapat mempertemukan kelompok dengan kebencian, pertentangan, bahkan disintegrasi bangsa.

Karena itu, kita harus menjadi penjaga persatuan, termasuk di ruang digital. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Dan sebuah riwayat hadis, Rasulullah SAW juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Maka sebelum mengirim sebuah pesan, bertanyalah: Benarkah? Bermanfaatkah? Pantaskah? Mendamaikankah? Kalau benar dan bermanfaat, silakan disebarkan. Kalau belum jelas, stop. Berhenti di tangan, jangan menyebarkan, lakukan tabayyun atau klarifikasi. Kalau hanya akan menimbulkan fitnah, kebencian, dan perpecahan, tinggalkan. Jari-jari kita jangan menjadi alat untuk memecah bangsa. Jadikan jari-jari kita alat untuk menyebarkan ilmu, kebaikan, persaudaraan, dan kemaslahatan.

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Pada momentum HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 ini, mari kita teguhkan beberapa komitmen ini:

Pertama, syukuri kemerdekaan dengan mendoakan para pahlawan dan pejuang bangsa. Jangan lupakan mereka.

Kedua, teladani jiwa kepahlawanan mereka. Berikan kontribusi terbaik sesuai profesi, kemampuan, dan kesempatan kita.

Ketiga, teruskan perjuangan. Jangan hanya mewarisi kemerdekaan. Wariskan pula persatuan. Wariskan ilmu. Wariskan akhlak. Wariskan keadilan. Wariskan kehidupan yang lebih baik kepada generasi berikutnya. 

Keempat, rawat kebinekaan. Berbeda tidak harus bermusuhan. Berbeda tidak harus saling meniadakan. Berbeda tidak berarti tidak bisa bekerja sama.

Kelima, hormati batas-batas agama dan hukum. Toleransi bukan berarti membenarkan dan membolehkan semua hal. Kebebasan bukan berarti bebas tanpa tanggung jawab.

Keenam, jadilah penjaga persatuan di tengah ancaman kontemporer. Jaga keluarga. Jaga lingkungan. Jaga akhlak. Jaga ruang digital. Jaga persaudaraan. Jaga ketertiban. Dan jaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

NKRI tidak akan kokoh hanya karena kuatnya pemerintah. NKRI akan kokoh jika masyarakatnya juga kuat. Kuat imannya. Kuat ilmunya. Kuat ekonominya. Kuat akhlaknya. Kuat persaudaraannya. Dan kuat kesadarannya untuk hidup bersama dalam perbedaan.

Karena itu, mari kita tanamkan dalam diri: Aku boleh berbeda, tetapi aku tidak boleh memecah-belah. Aku boleh memiliki pilihan, tetapi aku tidak boleh merendahkan. Aku boleh kritis, tetapi aku harus tetap adil.  Aku boleh teguh pada keyakinan, tetapi aku harus tetap menghormati sesama. Dan yang paling penting, kita berbeda-beda, tetapi kita adalah satu Indonesia.

Semoga Allah menjaga Indonesia. Semoga Allah menjaga persatuan kita. Semoga Allah menjaga anak cucu kita. Semoga Allah menerima pengorbanan para pahlawan kita. Semoga Allah memberikan kepada bangsa Indonesia kekuatan untuk mengisi kemerdekaan dengan keadilan, kemakmuran, ilmu pengetahuan, akhlak, dan kemaslahatan. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِىْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِىْ فَاسْتَغْرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الِلّٰهِ، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ. فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى: (يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ).

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ تَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا حَيْثُ قَالَ: (إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا). اَللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ.

اللّٰهُمَّ احْفَظْ إِنْدُونِيْسِيَا وَأَهْلَهَا وَشَعْبَهَا، وَاحْفَظْ وَحْدَتَهَا وَسَلَامَتَهَا.

“Ya Allah, jagalah Indonesia, rakyatnya, persatuan dan keselamatannya.”

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِشُهَدَائِنَا وَأَبْطَالِنَا وَمَنْ ضَحَّوْا مِنْ أَجْلِ دِيْنِهِمْ وَوَطَنِهِمْ وَأُمَّتِهِمْ، وَارْحَمْهُمْ وَتَقَبَّلْ أَعْمَالَهُمْ.

“Ya Allah, ampunilah para pejuang dan pahlawan kami. Rahmatilah mereka dan terimalah pengorbanan mereka.”

اللّٰهُمَّ وَحِّدْ قُلُوْبَنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.

“Ya Allah, satukan hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.”

اللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا وَشَبَابَنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

“Ya Allah, lindungilah anak-anak dan generasi muda kami dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi.”

اللّٰهُمَّ احْفَظْهُمْ مِنْ فِتْنَةِ الْفَضَاءِ الرَّقْمِيِّ، وَاجْعَلْهُمْ جِيْلًا صَالِحًا، مُتَعَلِّمًا، مُبْدِعًا، وَنَافِعًا لِدِيْنِهِ وَوَطَنِهِ.

“Ya Allah, jaga mereka dari fitnah digital, jadikan generasi muda kami generasi yang saleh, berilmu, kreatif, produktif, dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.”

اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ خَيْرُ الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ، وَاجْعَلْهُمْ أُمَنَاءَ عَلَى مَصَالِحِ الشَّعْبِ وَالْوَطَنِ.

“Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Berikan mereka petunjuk untuk mengambil kebijakan yang membawa kemaslahatan bagi rakyat dan negara.”

اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الْعَدْلَ وَالْأَمَانَةَ وَالْعِلْمَ وَالْحِكْمَةَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ بِالْخَيْرِ وَالْإِصْلَاحِ.

“Ya Allah, karuniakan kepada kami keadilan, amanah, ilmu, dan hikmah. Jadikan kami orang-orang yang senantiasa berusaha menghadirkan kebaikan dan perbaikan.”

اللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيْسِيَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَاجْعَلْهَا دَارَ عَدْلٍ وَسَلَامٍ وَرَحْمَةٍ.

“Ya Allah, jadikan Indonesia negeri yang aman, tenteram, adil, makmur, dan penuh rahmat.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Google Ads
Google Ads