Lewati ke konten utama
Senin, 21 September 2026 / 9 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Cinta dan Air Mata di Jalur Mina
Jemaah haji berjalan menuju Jamarat di bawah terik matahari sambil bergandengan tangan bagi pasangan suami istri. Foto: Dok. Pribadi/Muhamad Saefullah
Opini

Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Cinta dan Air Mata di Jalur Mina

Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Cinta dan Air Mata di Jalur Mina

/ 9 Rabiul Akhir 1448 H 6 menit baca 68 dibaca
Muhamad Saefullah

Oleh: Muhamad Saefullah

Anggota Komisi Infokomdigi MUI

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Orang-orang dengan gampang menunjuk Jabal Rahmah sebagai petak tanah paling romantis di jagat raya. Katanya, di bukit batu gersang itulah Nabi Adam dan Siti Hawa bersua kembali dalam dekapan rahmat Allah setelah sekian abad terpisah gara-gara urusan sebutir buah khuldi.

Namun, bagi kami —wong Banyumas— kesimpulan itu agak meleset jauh dari sasaran. Di Padang Arafah, di bawah panggangan matahari yang sanggup melunakkan batok kepala, jangankan sempat kasmaran; mata saban orang sibuk menampung lelehan air mata. Semua sibuk memikul karung-karung dosa yang rasanya tak bakal muat walau diangkut truk gandeng. Mana sempat memikirkan romantisme itu?

Romantisme sejati justru bersemi di sepanjang lintasan beton Jamarat. Romansa itu tak butuh puisi mendayu-dayu, melainkan cukup diikat oleh sepasang sandal jepit Swallow bersol setipis kerupuk serta dzikir yang tak putus-putus.

Di atas jalan beton itulah, dari Maktab 48 menuju lokasi pelemparan kerikil, cinta mewujud nyata: ribuan pasangan menggenggam erat jemari kekasihnya agar tak mendadak tergilas oleh lautan manusia yang tumpah dari penjuru dunia.

Berdasarkan panduan fiqih haji, waktu afdhal melempar jumrah adalah mulai dari terbit matahari pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga matahari terbenam. Sementara itu, waktu yang diperbolehkan (rukhshah) dimulai sejak pertengahan malam, “mughibul qamar” (setelah lewat tengah malam) pada 10 Dzulhijjah, terutama bagi jemaah yang lemah, wanita, lansia, atau demi menghindari kepadatan ekstrem.

Menurut jumhur ulama, batas akhir sahnya pelemparan pada tanggal 10 Dzulhijjah adalah hingga matahari tenggelam, meski ada kelonggaran jika terpaksa hingga akhir malam. Jemaah biasanya dilarang atau diimbau untuk menghindari waktu yang sangat padat atau jam larangan resmi (seperti pukul 04.30–10.00 atau siang hari yang terik) demi keselamatan. Alternatif waktu longgar yang dianjurkan petugas adalah setelah waktu Maghrib, atau pada malam hari.

Setiap kloter berangkat ke Jamarat sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan pihak syarikah. Semula kami, Kloter 75 SOC, ingin melempar aqabah pada pukul 03.00 dini hari, tetapi tidak diperbolehkan lantaran bukan jadwal yang ditetapkan.

Pada 10 Dzulhijjah, Kloter 75 SOC dijadwalkan meluncur pukul 09.00 waktu setempat—persis saat matahari berada di puncak ketaatannya memanggang bumi. Udara menyengat hebat, dan angin Mina hanya berembus tipis-tipis sekadar untuk menyapa dahi kami yang mandi peluh.

Menempuh jarak delapan kilometer bolak-balik selama empat hari berturut-turut saat nafar tsani itu setara dengan berjalan kaki dari Ajibarang menuju Alun-Alun Purwokerto, balik lagi, lalu baru menyerah di Cilongok. Dengkul mana yang tidak bergoyang mirip dawet ayu? Betis mana yang tak kram dan keras bagai batu bata?

Kami mengikuti bimbingan syarikah, yang memegang tongkat dengan label bertuliskan Maktab 48 sebagai identitas jemaah Kloter 75 SOC. Di jalanan, lautan manusia meluap. Seperti pasangan lain, saya mengapit dan menggenggam jemari istri rapat-rapat. Mengapa? Ini bukan sekadar urusan cinta romantis, tapi kalau sampai terlepas di tengah jutaan manusia bertubuh tinggi besar bagai tiang listrik dari berbagai belahan dunia, urusannya bisa berabe. Bisa-bisa kami baru bersua lagi saat jam makan siang di tenda!

Genggem sing kenceng, Mbok. Aja ngasi terlepas!” bisik saya.

Di situlah letak indahnya. Saya merasakannya betul. Kami saling bantu merapikan payung, bergantian memegang botol air Zamzam, dan saling melempar senyum di tengah keringat yang membasahi dahi.

“Apartemen” Para Setan

Setelah tuntas beromantisme dan berdesak-desakan, kaki membawa kami ke kawasan Jamarat—sebuah karya megaarsitektur jempolan di tanah Mina.

Dulu, tempat itu cuma tiang pilar bundar mungil di tanah lapang yang dikepung pagar sepinggang orang dewasa. Kini, Pemerintah Arab Saudi menyulapnya menjadi kompleks jembatan layang megah lima lantai. Lengkap dengan pendingin udara, eskalator, helipad, hingga kamera cerdas berbasis AI. Konon, fondasinya sanggup menopang sampai dua belas lantai jika bumi makin sesak oleh manusia.

Tiang yang dulu imut-imut telah berganti tugu lonjong raksasa yang menembus dari lantai dasar hingga puncak. Alur jemaah diatur ketat searah—mirip aturan jalan tol tanpa putar balik—demi mencegah tragedi saling injak seperti masa lalu.

Di hadapan dinding tugu Ula, Wustha, dan Aqabah, kami merapat. Tujuh kerikil di genggaman melesat menghantam musuh abadi manusia.

Bismillahi Allahu Akbar!

Pluk! Batu mendarat tepat di sumur penampungan.

Batu-batu kecil itu sejatinya bukan sekadar menyasar dinding beton. Yang kami bidik adalah setan-setan yang hobi nongkrong di benak diri kita sendiri. Ya, itulah setan keblinger yang merasa paling benar, setan kesombongan, dan setan egois yang gemar membisiki hati agar menuruti hawa nafsu. Rasakan itu, Setan!

Bayang-Bayang Tragedi

Kawasan Jamarat bukan hanya lokasi penting penjelmaan ibadah, melainkan juga titik krusial keselamatan jemaah. Selain sangat padat, jarak berjalan kaki dari maktab ke Jamarat yang jauh jelas menguras fisik dan stamina. Di beberapa titik, kami menjumpai jemaah yang benar-benar kelelahan. Ada yang tidak kuat berjalan, bahkan ada yang tergeletak pingsan di pinggir jalan saat sedang mendapat pertolongan dari tim satu rombongannya.

Di balik megahnya bangunan lokasi melontar kerikil ini, tersimpan jejak sejarah yang memprihatinkan. Area Jamarat memiliki catatan kelam terkait keselamatan jemaah, sebagaimana deretan tragedi di Mina berikut ini:

1. Tahun 1990: Tragedi Terowongan Mina yang menelan 1.426 korban jiwa
2. Tahun 1994: 270 jemaah wafat terinjak-injak
3. 1998: 118 jemaah tewas panik di Jembatan Jamarat lama
4. 2001 & 2003: Puluhan jiwa melayang akibat himpitan massa
5. 2004: 251 jemaah tewas di dekat area jembatan
6. 2006: 362 jemaah berpulang gara-gara tersandung koper yang jatuh dari bus
7. 2015: Tragedi Jalan 204 yang merenggut lebih dari 2.000 jiwa akibat dua arus besar yang bertabrakan.

Maka dari itu, urusan Jamarat bukan cuma soal romantisme dan ketangkasan mengayunkan kerikil, melainkan juga soal keselamatan nyawa.

Melihat fakta itu, naluri kepengurusan saya langsung terusik. Sepanjang jalur Jamarat biasanya ada lima posko petugas. Namun, setidaknya ketika kami melintas, kami hanya sedikit menjumpai petugas haji. Keberadaan mereka sering kali terhalang oleh bayang-bayang padatnya manusia—gaib, tapi ada; ada, tapi tak kelihatan.

Pertanyaan saya sederhana saja untuk Kementerian Haji dan Umrah, penyelenggara, atau para birokrat terkait: Apakah amat haram hukumnya menyediakan beberapa unit kursi roda portable yang ringan di setiap pos penjagaan? Kalau ada jemaah tua pingsan di tengah jalan, kursi roda portable itu bisa langsung dipakai ngacir menolong korban. Tak perlu menunggu ambulans yang mustahil menembus lautan manusia, atau menunggu koordinasi berbelit-belit yang keburu bikin jemaah almarhum. Bukankah menjaga nyawa itu inti utama dari ajaran agama?

Romantisme yang Selamat

Ketika akhirnya kami tiba kembali di tenda dengan napas tersengal dan telapak kaki rasanya mau copot, dada kami lega. Kendati betis mengeras dan kaki kesemutan hebat, kami saling pandang lalu tertawa kecil.

“Kita selamat, Mbok!”

Bagi kami wong Ngapak, ibadah haji adalah laboratorium tawakal tingkat tinggi. Melontar batu di waktu afdhal memang mengejar pahala melimpah, namun menyelamatkan nyawa sendiri dan orang lain adalah kewajiban mutlak yang tak bisa ditawar.

Kenapa demikian? Sebab, kelak di akhirat, Tuhan tak bakal bertanya seberapa kencang lemparan batumu ke dinding Jamarat, melainkan seberapa besar kepedulianmu terhadap keselamatan sesama manusia di sepanjang jalan.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
BAGIKAN: