Lewati ke konten utama
Minggu, 25 Oktober 2026 / 14 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Catatan Pengalaman Haji 2026: Tentang Batu Nisan Kecil Bertintakan “Emas”
Penulis bersama jemaah Kloter 75 SOC asal Banyumas saat sowan berziarah ke makam KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) di Ma'la. Foto: Dok. Pirbadi/Muhamad Saefullah
Opini

Catatan Pengalaman Haji 2026: Tentang Batu Nisan Kecil Bertintakan “Emas”

Catatan Pengalaman Haji 2026: Tentang Batu Nisan Kecil Bertintakan “Emas”

/ 14 Jumadil Awal 1448 H 6 menit baca 75 dibaca
Muhamad Saefullah

Oleh: Muhamad Saefullah

Anggota Komisi Infokomdigi MUI

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Langit Makkah mulai terang di atas pelataran Masjidil Haram seusai salat Subuh. Hawa hangat Makkah perlahan menyapa kulit, diselingi kawanan merpati yang terbang ke sana kemari.

Ribuan jemaah berangsur melangkah meninggalkan pelataran, menyebar ke berbagai sudut. Ada yang bergegas menuju Terminal Syib Amir atau Terminal Jiad mengejar bus selawat menuju hotel, ada pula yang berbelok mencari sarapan hangat.

Sementara rombongan kami punya tujuan lain. Berbatik seragam biru kombinasi hijau lengkap dengan slayer melingkar di pundak, jemaah Kloter 75 SOC asal Banyumas justru berhimpun di lokasi yang agak aneh: persis di depan Pintu WC Nomor 9, beberapa langkah dari pintu keluar Bukit Shafa tempat jemaah mengakhiri sa’i.

Di sudut itulah kami memisahkan diri dari kerumunan banyak orang. Bubar Subuh bukan untuk pulang, tapi untuk melangkah ziarah ke Ma’la. Tujuannya satu: sowan ke pusara KH Maimun Zubair—Mbah Moen, ulama kharismatik asal Sarang, Rembang, yang wafat di Makkah pada 6 Agustus 2019 saat menunaikan ibadah haji.

Bagi jemaah haji atau umrah asal Indonesia, wabil khusus dari Jawa Tengah, kurang afdal rasanya bila sudah berada di Makkah tidak menziarahi ulama yang sangat dicintai dan dihormati itu. Beliau bukan sekadar pengasuh pesantren, melainkan pengayom umat yang menyejukkan sanubari lewat kearifan ilmunya.

Hari-hari itu, Makkah mulai lengang. Wukuf di Arafah dan lempar jumrah di Mina telah tuntas kami jalani. Urusan rambut pun beres, kepala kami sudah sama-sama plontos licin.

Sebagai jemaah Gelombang II, kini kami tinggal menunggu panggilan dari Sektor 9 untuk bergeser menuntaskan ibadah di Madinah sebelum kembali ke tanah air. Di tengah jeda belasan hari di Makkah, ziarah ke Ma’la menjadi pelarian spiritual yang paling dirindukan.

Perjalanan ini disiapkan secara rapi oleh KBIH Arrofat PCNU Banyumas. Dipimpin Ketua Kloter Haji Ahmad Tantowi, Pembimbing Ibadah Haji Sholeh, dan Pak Gumuk, kami melangkah menembus sengatan hawa pagi Kota Suci.  

Bagi sebagian orang, ziarah mungkin sekadar ritual fisik: datang, membaca doa, lalu pulang membawa dokumentasi foto. Namun bagi mereka yang tumbuh dalam tradisi pesantren, ada rasa takzim kepada ulama dan kerinduan menautkan sanad keilmuan yang tak kasat mata.

Saya sendiri tidak pernah mengaji sorogan di hadapan Mbah Moen di Sarang. Namun, dalam tradisi Nahdliyin, kedekatan tidak selalu diukur dari intensitas tatap muka. Pemikiran, kearifan, dan teladan kiai-kiai sepuh seperti Mbah Moen hidup menjalar melalui pengajian guru-guru kami, kitab-kitab yang dipelajari, serta tradisi keagamaan yang kami rawat di Banyumas. Saya datang sebagai santri tidak langsung. Jarak geografis melipat dengan sendirinya di hadapan pengaruh ilmu dan akhlak.

Di Balik Teralis dan Lautan Pasir

Memasuki kompleks Pemakaman Ma’la, kami disambut pemandangan yang kontras dengan pemakaman di tanah air. Tak ada kijing marmer, tak ada kamboja rindang. Hanya hamparan tanah berpasir dengan bongkahan batu-batu kecil yang serbasama.

Dalam perjalanan masuk, kami sebenarnya sempat melewati area makam Mbah Moen. Namun, rombongan memilih berbelok terlebih dahulu menuju sudut terujung: makam Sayyidah Khadijah al-Kubra.

Di balik tembok kokoh dan teralis besi, kami menatap tempat bersemayamnya Ummul Mukminin—sosok wanita agung yang pertama kali mengimani risalah kenabian ketika Rasulullah SAW menerima wahyu surat Al-‘Alaq melalui Malaikat Jibril.

Sayyidah Khadijah bukan sekadar pendamping. Beliau menyerahkan seluruh harta, jiwa, dan raganya demi awal perjuangan Islam. Bahkan, dalam sebuah ikrar ketaatan yang sangat dahsyat, beliau pernah berpesan bahwa sekiranya tulang-belulangnya kelak sanggup dijadikan jembatan demi dakwah agama ini, maka hal itu dipersilakan untuk dilakukan.

Berdiri di hadapan pusara wanita mulia itu menghadirkan getaran yang tak mudah dilukiskan. Mbah Moen dan Sayyidah Khadijah dipisahkan lintasan abad dan bentuk pengabdian yang berbeda, namun keduanya disatukan oleh puncak keikhlasan membela agama Allah.

Takdir Terbaik di Ma’la

Mencari satu makam di Ma’la ibarat menemukan jarum dalam tumpukan jerami. Hampir seluruh batu nisan di sana bisu tanpa nama. Usai berdoa dari balik teralis makam Sayyidah Khadijah dan berziarah ke makam seorang ulama asal Banten.  Setelah itu, kami menuju lokasi makam Mbah Moen yang terletak di Blok 70, Nomor 151, empat makam dari tembok arah jalan raya.

Tak ada ukiran prasasti. Regulasi ketat Pemerintah Arab Saudi melarang keras penggunaan batu nisan permanen berukir demi menjaga keseragaman dan mencegah pengagungan kubur. 

Di makam itu, hanya ada sebuah batu kecil dengan tulisan tangan sederhana memakai spidol hitam: “KH Maemoen Zubair.”  Bukan batu nisan megah seperti di tanah air, melainkan sekadar goresan hitam di atas batu gurun yang bersahaja. Mungkin itu sengaja ditulis oleh peziarah terdahulu agar makam Mbah Moen mudah dikenali oleh jemaah Indonesia.

Saya tidak tahu siapa yang pertama kali memberanikan diri menggoreskan spidol tersebut menembus ketatnya aturan. Namun, tulisan bersahaja itulah yang menjadi penunjuk jalan bagi ribuan orang yang datang membawa kerinduan dan rasa takzim.

Sandal dilepas. Kami membentuk lingkaran di atas tanah gersang. Karom 9 Haji Ahmad Riyadi memimpin tahlil dan doa. Di antara kekhusyukan itu, rasa haru menyusup pelan. Ada ulama yang pengaruh dan berkahnya menjangkau orang-orang yang tak pernah bersalaman langsung dengannya.

Bagi Haji Haryanto, Ketua Regu 3 Rombongan 9, kesempatan berdiri di Ma’la adalah salah satu takdir terbaik dalam hidupnya. Wajahnya memancarkan binar rasa syukur yang mendalam.

“Ini merupakan anugerah luar biasa untuk al-faqir,” tuturnya dengan nada bergetar.

Bagi Haji Har, bisa berhaji saja sudah merupakan nikmat tak terhingga. Ditambah bisa berdiri di samping makam Mbah Moen, tentu ini adalah bonus spiritual yang meluapkan keharuan.

Tidak semua jemaah haji diberi kesempatan serta kelapangan waktu untuk sowan dan mereguk keteladanan langsung dari tempat peristirahatan sang guru. Ada pelajaran hikmah yang tak akan pernah muat ditimbang kargo penerbangan atau dimasukkan ke dalam koper.

Tinta “Emas”

Kelak, ketika waktu terus berjalan dan ingatan akan lekuk jalanan Makkah pelan-pelan mulai kabur, detail-detail kecil ini akan tetap bertahan di memori. Antara lain,  janji kumpul di depan WC Nomor 9, teralis Makam Khadijah, kebersamaan jemaah Banyumas, hingga sebiji batu kecil bergoreskan spidol hitam.  

Tidak ketinggalan, humor lugu khas Banyumasan yang dialami Haji Ahmad Riyadi, tentang adegan sarapan seusai ziarah.

“Poine aku karo Ji Min wangsul ziarah ketungkul guyu bae... Sarapan tapi andon didelengna bae neng jemaah India. Sebabe sarapane ora nganggo piring, Ji,” kenangnya sambil terkekeh.

Intinya, seusai ziarah, ia dan Pak Haji Min keasyikan tertawa sepanjang jalan. Ceritanya, ketika sarapan, mereka heran karena ditatap terus-menerus oleh rombongan jemaah India—yang ternyata heran melihat keasyikan mereka makan santai tanpa menggunakan piring.

Suasana makin riuh ketika momen itu diwarnai adegan salah paham kecil saat memesan seporsi shawarma hangat dan menyeruput pekatnya kopi Palestina di pinggir jalan. Kejadian-kejadian konyol khas jemaah Ngapak itulah yang membuat perjalanan ini terasa hangat dan manusiawi.

Di balik semua tawa dan keriuhan sepanjang jalan, hati kami tetap tertambat pada satu titik tenang di Ma’la. Tulisan spidol pada batu nisan Mbah Moen. Tulisan itu bukan dari emas. Ia bisa memudar kapan saja diterpa angin gurun atau perlahan terkikis matahari.

Namun, bagi siapa saja yang datang membawa rasa takzim, nilainya sungguh tak terkira. Goresan sederhana itu bukan sekadar penanda makam, melainkan pengingat akan teladan dan ilmu yang beliau tinggalkan.

Di situlah letak “emas” yang sebenarnya. Bukan pada batu nisannya, melainkan pada keabadian ilmu dan kebaikan yang terus hidup di sanubari kita. Sebuah batu kecil bertintakan “emas”.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads