Berqurban Itu Berat, yang Ringan Beralasan
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Bulan Dzulhijjah kembali datang menyapa, membawa serta aroma spiritualitas yang luhur sebagai salah satu asyhurul hurum, bulan yang disucikan dan penuh dengan akumulasi pahala di sisi Allah SWT.
Di balik jajaran kalender Islam, dalam bulan Dzulhijjah terdapat satu syariat yang menjadi panggung pembuktian cinta seorang hamba kepada Sang Khaliq, yaitu ibadah qurban.
Baca juga: Jaminan Petunjuk Allah bagi Pendakwah
Konstruksi
syariat mengenai ibadah ini terekam begitu indah dalam surat Al-Kautsar. Ya, Allah SWT memberikan jaminan nikmat yang berlimpah, yaitu Telaga Kautsar, bagi Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Namun, sebagai respons atas anugerah tak
terbatas tersebut, Allah SWT memberikan perintah, yang artinya: “Maka
dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Ayat ini
menetapkan sebuah prasyarat spiritual yang tegas: jika ingin mendambakan telaga
nikmat di akhirat, maka harus melewati gerbang pengorbanan di dunia.
Menariknya,
shalat dan qurban diletakkan dalam satu tarikan napas ayat, menandakan bahwa
keduanya adalah ibadah yang menuntut komitmen fisik dan materi. Sebuah beban
yang hanya akan terasa ringan di tangan jiwa-jiwa yang ikhlas.
Setiap kali Idul Adha tiba, mata kita menyaksikan bilah pisau golok yang menempel di leher sapi atau kambing. Namun, pernahkah kita mencoba masuk ke dalam ruang psikologis Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam saat beliau berada pada posisi tersebut?
Baca juga: Retorika Alquran Menolak Tuduhan Gila
Bayangkan
pergulatan batin seorang ayah yang harus meletakkan pisau di leher anak
kandungnya sendiri, Ismail ‘Alaihissalam. Sebagai manusia biasa, hati
Ibrahim tentu bergetar hebat dalam ketegangan yang dahsyat antara memaafkan
kebapakan, rasa takut, dan totalitas kepatuhan.
Ingat, Ismail
bukanlah anak biasa. Ia adalah buah dari penantian panjang selama puluhan tahun
hingga usia Ibrahim menginjak 86 tahun. Di titik puncak kerinduan dan kasih
sayang itulah, perintah penyembelihan itu datang. Maka, apa yang ditunjukkan
oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah potret nyata dari “ketaatan
mutlak”, yakni ketaatan tanpa syarat.
Beliau menundukkan seluruh ego kemanusiaannya demi sebuah perintah dan cinta ilahi. Getaran iman inilah yang seharusnya terbiasa menyengat kesadaran kita setiap kali kita memegang atau menyaksikan hewan qurban disembelih di Hari Raya Idul Adha.
Baca juga: Memahami Hadis Nabi Berqurban Satu Ekor Domba untuk Satu Keluarga
Refleksi dalam
Konteks Kekinian
Kisah agung
tersebut membawa pada refleksi kontemporer yang menohok: apa yang sebenarnya
sudah kita korbankan untuk Allah?
Ibadah qurban
adalah cermin yang jujur untuk menguji apakah kita benar-benar mencintai
Allah di atas segalanya, karena ketakwaan hanya bisa dicapai dengan menyerahkan
apa yang paling kita cintai.
Jika kita jujur
melihat kenyataan hari ini, ujian qurban bagi umat Islam modern sebenarnya
terhitung sangat minimalis, bahkan hampir tanpa beban.
Kita tidak diminta mengorbankan nyawa anak untuk disembelih. Hanya diminta menyisihkan sebagian kecil bahan untuk membeli seekor kambing atau patungan sapi yang nilainya mencapai tiga juta rupiah, itu pun hanya satu kali dalam setahun.
Baca juga: Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam
Mari kita
bandingkan secara objektif. Angka tiga juta rupiah itu sering kali jauh lebih
kecil dibandingkan dengan harga gadget, aksesoris di rumah, atau nilai
kendaraan yang dimiliki.
Kita begitu mudah mengeluarkan jutaan rupiah demi kenyamanan duniawi, kuliner, atau wisata, misalnya. Namun, tiba-tiba membangun ribuan alasan logistik dan finansial saat
panggilan berqurban itu datang.
Ada ironi
spiritual ketika merasa berat mengeluarkan uang sekitar tiga jutaan untuk Allah.
Sementara di saat yang sama kita mengaku sebagai pengikut Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam.
Sungguh suatu kerugian besar jika ego materi hari ini masih lebih besar
daripada kerinduan akan ridha Allah.
Jika untuk berqurban setahun sekali saja masih menghitung untung-rugi, lalu di mana letak keaslian iman yang selama ini kita banggakan? Ini bukan masalah angka rupiah, tapi lebih pada bukti tentang kecintaan, ketaatan, dan ketakwaan.
Baca juga: Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah yang Istimewa
Mari kita kembali
ke dalam lubuk hati terdalam: ibadah qurban ini sejatinya bukanlah tentang
hewan semata. Allah SWT sama sekali tidak membutuhkan darah yang mengalir atau
daging yang disebarkan. Dalam surat Al-Hajj ayat 37, Allah SWT telah mengunci
hakikat ibadah ini dengan firman-Nya, yang artinya:“Daging (hewan qurban)
dan darahnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai
kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
Berqurban:
Antara Cinta dan Taat
Qurban bukanlah
tradisi tahunan tanpa makna. Bukan pula sekadar ritual menyembelih kambing atau
sapi. Ini adalah momentum sakral untuk mendekatkan diri (taqarrub) dan
membuktikan keaslian cinta kita kepada Allah SWT.
Saat menyembelih hewan qurban, maka di saat yang sama seolah kita juga sedang menyembelih rasa bakhil, mengikis kekikiran, dan meruntuhkan kesombongan serta keegoisan yang selama ini memenjarakan hati.
Baca juga: Pergi Haji
Sejujurnya, harus
diakui, perintah ini memang terasa berat. Namun, beratnya qurban hari ini
sering kali bukan karena kita tidak memiliki uang, melainkan karena belum
kokohnya keyakinan terhadap janji Allah dan Rasul-Nya. Inilah titik rapuh yang
seharusnya membuat kita bersimpuh dan beristighfar.
Ibadah ini
disebut qurban (pengorbanan) justru karena ada rasa berat di dalamnya.
Berat untuk melepaskan sesuatu yang dimiliki, dikumpulkan, dan dicintai. Sebab,
jika ia terasa ringan, maka hal itu tentu tidak akan pernah disebut
pengorbanan.
Sejarah mencatat
betapa beratnya ujian Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, hingga Allah harus
meyakinkannya melalui mimpi yang datang sampai tiga kali, meneguhkan hati sang
istri melalui dialog batin yang panjang, hingga menguji kesiapan sang putra.
Seharusnya Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam memiliki seribu satu alasan logistik untuk menolak, seperti beliau bisa saja berargumen bahwa Ismail adalah anak satu-satunya, penerus dakwahnya, atau anak yang masih terlampau kecil.
Baca juga: Mengapa Rasulullah SAW Selalu Rindu Shalat?
Namun, mari kita
membayangkan sebuah skenario alternatif. Jika saat itu Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
memilih untuk mengedepankan kalkulasi rasional dan memproduksi alasan demi
menghindari perintah menyembelih Ismail, maka lembaran sejarah Islam hari ini
akan berbeda. Tidak akan pernah ada syariat ibadah qurban, dan momentum sakral
Idul Adha tidak akan pernah eksis dalam peradaban umat manusia.
Di situlah letak
keagungan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam sebagai uswah hasanah
(teladan terbaik). Beliau tidak memilih untuk mengedepankan alasan, melainkan
langsung menegakkan ketaatan mutlak tanpa tapi, dan ketundukan tanpa syarat
inilah yang kemudian diabadikan sebagai syariat suci yang kita warisi hingga
hari ini.
Manusia modern masih banyak yang memproduksi ratusan alasan untuk absen berqurban: mulai dari nilai rupiah yang fluktuatif, tabungan yang dirasa belum mapan, dalih bahwa “tahun lalu sudah berqurban”, hingga alokasi biaya sekolah anak. Namun, di balik garis demarkasi itu ada satu pertanyaan yang patut direnungkan: lebih layak manakah memilih merawat alasan, atau membuktikan iman?
Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global
Di sisi lain,
kita sering kali ditampar oleh kisah-kisah menakjubkan dari orang-orang yang
secara zahir hidup dalam keterbatasan ekonomi. Seperti para tukang becak yang
mengayuh di bawah terik matahari, para pemulung yang mengais rezeki di antara
tumpukan sampah, dan kaum buruh tani yang menghasilkan keringat di atas tanah
yang bukan milik mereka.
Di atas kertas
perhitungan manusia, kehidupan mereka berada di garis prasejahtera. Namun,
dengan segala bentuk ikhtiar yang melampaui batas kewajaran, seperti
menyisihkan uang seribu demi seribu setiap hari selama bertahun-tahun. Mereka
justru mampu berdiri tegak di barisan orang-orang yang berqurban. Subhanallah.
Fenomena ini
menjadi bukti bahwa qurban bukanlah tentang seberapa besar nominal pendapatan,
melainkan tentang seberapa besar kapasitas cinta di dalam dada.
Ketika orang-orang yang serba kekurangan ini mampu memotong ego materi demi membuktikan cinta kepada Allah SWT. Hal tersebut sekaligus menjadi sindiran keras sekaligus otokritik bagi yang sudah mapan namun masih memelihara seribu satu alasan untuk absen berqurban.
Baca juga: Pesan Tersirat Surat Al-Qalam Menyembuhkan Lelah Mental dalam Dakwah
Mari Kita Berqurban
Pada dasarnya, cinta itu kata kerja yang membutuhkan pembuktian. Demikian pula soal cinta kepada Allah, Rasulullah dan syariat-Nya, tentu menuntut bukti nyata, bukan sekadar retorika di lisan. Allah SWT menegaskan dalam surat Ali Imran ayat 31, yang artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah menyayangi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Sebagai pengetuk pintu hati kita yang terdalam, ada ketenangan dalam sabda Rasulullah Saw melalui riwayat Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, yang artinya: “Tidak ada amalan yang dilakukan anak Adam pada hari Idul Adha yang lebih dicintai Allah daripada menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu akan datang pada Hari Kiamat lengkap dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sungguh, darah hewan qurban itu telah sampai di sisi Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka lakukanlah qurban itu dengan hati yang ikhlas dan senang.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Baca juga: Uang adalah Energi, Perlu Cara dalam Mengalirkannya
Demikianlah, ketakwaan
itu telah sampai dan diterima di sisi Allah bahkan sebelum tetesan pertamanya
menyentuh bumi.
Jadi, tunggu apa
lagi? Mari menjemput ridha dan cinta Allah tahun ini. Singkirkan segala
keraguan, runtuhkan ego materi kita, dan bersiaplah untuk berqurban dengan hati
yang lapang, ikhlas, dan penuh suka cita.
Jangan biarkan Idul Adha tahun ini berlalu begitu saja tanpa ada nama kita dalam daftar hamba-hamba yang membuktikan cintanya kepada Allah SWT. Karena belum tentu tahun depan, kita masih diberikan umur untuk bertemu Idul Adha.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.