Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Pesan Tersirat Surat Al-Qalam Menyembuhkan Lelah Mental dalam Dakwah

5 menit baca 1.448 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Pesan Tersirat Surat Al-Qalam Menyembuhkan Lelah Mental dalam Dakwah
Ilustrasi seorang pemuda muslim tampak mengalami kelelahan mental. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Derasnya arus informasi di era digital sering kali membawa residu lama dalam kemasan baru, seperti pembunuhan karakter (character assassination). Dan tahukah kita, bahwa serangan terhadap kredibilitas pribadi pendakwah ini sebenarnya telah menjadi senjata utama musuh-musuh kebenaran sejak zaman kenabian?

Ketika cahaya Islam mulai memancar dari Gua Hira dengan diangkatnya Muhammad menjadi nabi dan rasul terakhir, elite Quraisy yang gusar, marah, kecewa dan panik lalu menyerang dengan labelisasi dan hoaks.

Mereka menyebut Rasulullah SAW sebagai majnun (orang gila), dukun, penyihir, penyair, pembohong, tukang cerita. Namun, Allah SWT tidak membiarkan kekasih-Nya berjuang sendirian dalam sesak dada yang menghimpit.

Baca juga: Ketika Label “Gila” Menjadi Strategi Membunuh Karakter Para Nabi

Hoax” dan “Buzzer” Zaman Dulu

Al-Walid bin al-Mughirah, arsitek propaganda Quraisy, menyadari satu hal bahwa narasi Islam terlalu manis dan logis, tidak mungkin bisa dipatahkan. Maka, alih-alih melawan argumen dengan argumen, ia memilih menyerang pribadi Nabi Muhammad SAW.

Menjelang musim haji, Al-Walid memanfaatkan “buzzer” pertama di Semenanjung Arab. Ia menugaskan enam belas pria terpilih, orang-orang yang pandai bersilat lidah, untuk menyebarkan isu dusta di empat jalur utama menuju Makkah. Tugas mereka sederhana namun mematikan, yaitu mencegat setiap peziarah dan mempertahankan narasi tunggal bahwa Muhammad adalah dukun yang gila.

Operasi ini merupakan bentuk “hoax” yang telah terencana dengan rapi, yang dalam bahasa sekarang disebut rencana TSM (Terstruktur, Sistematis dan Masif).

Para “pendengung” ini bekerja sif demi sif untuk memastikan tidak ada satu pun pendatang yang sempat mendengar kebenaran langsung dari lisan Rasulullah SAW. Tujuannya tidak lain untuk menciptakan ketakutan psikologis agar orang-orang merasa ngeri sebelum sempat bertemu Nabi Muhammad SAW.

Meski taktik ini berhasil membuat dada Nabi Muhammad terasa sesak, namun sejarah mencatat kegagalan total strategi tersebut. Fitnah mungkin bisa menguasai jalanan Makkah selama beberapa malam, namun ia tak pernah mampu memadamkan cahaya kebenaran yang sudah terlanjur mengetuk pintu hati manusia yang jujur.

Secara kemanusiaan, Rasulullah SAW adalah sosok yang lembut dan peka. Mendapat cacian, makian, dan dituduh gila oleh orang-orang yang sebelumnya menyebut beliau “Al-Amin” (orang yang terpercaya) tentu menimbulkan adanya sedikit banyak rasa berat di hati Rasulullah.

Baca juga: “Nun” dan Rahasia Al-Qalam

Allah SWT merekam beban mental ini dalam firman-Nya:

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka ucapkan.” (QS. Al-Hijr : 97)

Untuk memulihkan kondisi psikis Nabi Muhammad SAW, Allah tidak hanya menurunkan satu ayat pembelaan. Dalam rangkaian awal surat Al-Qalam, Allah “menyusun” argumentasi berlapis untuk meruntuhkan bangunan fitnah Quraisy.

Argumentasi pertama, Allah memulai pembelaan-Nya dengan menegaskan status  mental dan spiritual Nabi. Allah menegaskan, “Maa anta bini'mati rabbika bimajnuun”,  artinya “Berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukanlah orang gila.” (QS. Al-Qalam: 2)

Penggunaan kata “ni’mat” di sini sangat krusial. Para mufassir menjelaskan bahwa nikmat yang dimaknai adalah kenabian, dan wahyu Alquran.

Seakan Allah ingin menyampaikan bahwa mustahil seseorang yang diberi amanah sebesar Alquran memiliki cacat mental. Dan cahaya ilmu berupa surat Al-‘Alaq yang sebelumnya telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah antitesis dari kegilaan itu.

Argumentasi kedua, setelah membela kewarasan Nabi Muhammad, Allah memberikan hiburan berupa janji masa depan yang kontras dengan penderitaan saat di Makkah. Allah menegaskan dalam firman-Nya,Wa inna laka la-ajran ghaira mamnun”, artinya, “Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.” (QS. Al-Qalam: 3)

Kata “ghaira mamnun (tidak putus-putus) adalah janji bahwa setiap tetes keringat, rasa sakit hati akibat cercaan orang kafir, dan adanya kesabaran Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah akan dikonversi menjadi pahala yang terus mengalir abadi.

Dengan kata lain, Allah sedang mengalihkan fokus Nabi Muhammad SAW dari berisiknya gangguan orang-orang kafir Quraisy, menuju pahala yang tidak terhitung di akhirat.

Baca juga: Antara Syahadat dan Ketaatan

Dakwah Orientasi Akhirat

Ayat ketiga surat Al-Qalam ini secara fundamental melakukan dekonstruksi terhadap motif dan orientasi dalam aktivitas dakwah.

Secara aksiologis, keberhasilan seorang pendakwah tidak dapat diukur melalui variabel-variabel profan yang bersifat temporal seperti euforia pujian, tepuk tangan, pengakuan sosial (social recognition), akumulasi basis massa pengikut (followers), maupun kompensasi materiil yang bersifat transaksional.

Metrik-metrik duniawi tersebut, mulai dari jumlah like hingga tinggi apresiasi finansial, merupakan indikator yang terlalu rendah dan kerdil jika dibandingkan dengan janji substansial yang ditawarkan Allah.

Pesan sentral yang ingin ditekankan adalah pergeseran orientasi dari nilai-nilai pragmatis menuju pahala yang bersifat “ghaira mamnun”. Sebuah ketidakseimbangan tujuan akhir yang melampaui logika kalkulasi manusia dan tidak terinterupsi oleh batasan ruang dan waktu.

Ketika seorang pengemban dakwah berhasil menginternalisasi prinsip ini, maka ia akan memiliki imunitas psikologis dan ketahanan keyakinan yang kokoh.

Dalam perspektif ini, segala bentuk resistensi sosial, baik berupa stigma, marjinalisasi, hingga serangan personal (pembunuhan karakter) tidak lagi dipandang sebagai hambatan destruktif, melainkan sekadar dinamika bumbu-bumbu dakwah.

Kelurusan orientasi yang fokus pada balasan ukhrawi berfungsi sebagai perisai mental yang mencegah timbulnya keputusasaan, luka batin, futur (lelahnya mental), maupun distorsi semangat di tengah badai ujian.

Dengan demikian, dakwah tetap berjalan di atas rel konsistensi (istiqamah) karena standar keberhasilannya tidak lagi bertumpu pada penilaian manusia yang fluktuatif, melainkan pada ridha dan balasan dari Allah yang bersifat absolut.

Baca juga: Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin

Upaya keji untuk menghentikan dakwah melalui manipulasi informasi bukanlah hal baru. Jika dulu kafir Quraisy menggunakan labelisasi “gila”, hari ini mesin propaganda bergerak lebih masif melalui media komunikasi yang canggih untuk kepentingan global yang kompleks.

Bagaimanapun keadaannya, satu hal yang tetap konsisten: Allah adalah penjamin bagi mereka yang berpegang pada kebenaran.

Islam yang tumbuh subur di tengah badai fitnah Makkah adalah bukti nyata bahwa integritas moral akan selalu menjadi pemenang mutlak atas segala bentuk pembunuhan karakter.

Kisah pembelaan Allah terhadap Nabi Muhammad ini memberikan pelajaran penting untuk menghadapi kenyataan modern.

Aktivis dakwah dan pembawa perubahan sering kali mengalami “kelelahan mental” akibat perundungan (bullying) di media sosial. Obatnya adalah menggeser orientasi dari mencari validasi manusia menuju mencari pahala yang tak terputus di sisi Allah, yakni berupa “ajran ghaira mamnun”.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.