Lewati ke konten utama
Rabu, 19 Agustus 2026 / 6 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Hadirkan 2 Sastrawan Terkemuka, LSBPI MUI akan Gelar Workshop Menulis Cerpen Palestina Besok

3 menit baca 81 dibaca
Work Shop
Workshop Menulis Cerpen Palestina sebagai bagian dari rangkaian Sayembara Penulisan Cerpen Palestina Tingkat Internasional — International Short Story Award on Palestine (ISSA–Palestine) 2026.
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital— Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan Workshop Menulis Cerpen Palestina sebagai bagian dari rangkaian Sayembara Penulisan Cerpen Palestina Tingkat Internasional — International Short Story Award on Palestine (ISSA–Palestine) 2026.

Dalam keterangannya kepada MUI Digital, Selasa (19/8/2026), kegiatan yang mengangkat semangat “Menyuarakan, Menjaga, dan Membela Palestina Lewat Sastra” ini menjadi ruang pembelajaran bagi penulis dan calon penulis untuk mengolah isu Palestina ke dalam karya sastra yang kuat secara artistik, manusiawi, dan memiliki daya gugah.

Workshop akan berlangsung pada Kamis, 20 Agustus 2026, pukul 13.30–16.30 WIB, bertempat di Aula Buya Hamka, Gedung MUI, Jl Proklamasi No 51, Menteng, Jakarta. Kegiatan diselenggarakan secara hibrida, dengan kuota peserta luring yang terbatas dan tidak dipungut biaya.

Baca juga: Waketum MUI Kiai Cholil Nafis Ingatkan Umat tak Terlena Medsos dan Tetap Membaca Buku

Dua sastrawan dan akademisi akan hadir sebagai narasumber, yakni Dr Phil Habiburrahman El-Shirazy Lc MA, penulis bestseller sekaligus Ketua LSBPI-MUI, serta Dr Helvy Tiana Rosa SS, M.Hum., cerpenis dan dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta.

Workshop ini diarahkan untuk menjawab persoalan penting dalam penulisan tentang Palestina: bagaimana menghadirkan Palestina dalam sebuah cerita tanpa menjadikannya sekadar slogan, propaganda, melodrama, atau reproduksi berita?

Melalui pendekatan sastra, peserta akan diajak melihat Palestina bukan hanya sebagai isu politik dan konflik, tetapi juga sebagai pengalaman manusia yang memiliki dimensi tanah air, keluarga, kehilangan, perlawanan, harapan, identitas, dan ingatan. 

Baca juga: Luncurkan Buku Sejarah Peradaban Islam, Sekjen MUI Ingin Sejarah Islam Tak Cuma Jadi Pajangan

Dengan demikian, cerita tentang Palestina diharapkan mampu menghadirkan pengalaman manusia secara lebih dekat dan mendalam kepada pembaca.

Sastra memiliki ruang yang berbeda dari pemberitaan. Jika berita berfungsi mencatat peristiwa, sastra dapat menghidupkan kembali pengalaman manusia di balik peristiwa tersebut. Karena

itu, penulisan cerpen Palestina membutuhkan kemampuan untuk mengolah fakta, emosi, pengalaman kemanusiaan, dan imajinasi menjadi narasi yang memiliki kekuatan artistik sekaligus daya reflektif.

Workshop ini sekaligus menjadi bagian dari upaya LSBPI MUI mendorong keterlibatan masyarakat dalam menyuarakan persoalan Palestina melalui jalur kebudayaan dan kesenian. 

Sastra dipandang memiliki kemampuan untuk melampaui batas geografis dan politik dengan menghadirkan pengalaman manusia kepada pembaca dari berbagai latar belakang.


Melalui ISSA–Palestine 2026, LSBPI MUI membuka ruang bagi penulis Indonesia maupun internasional untuk menghadirkan karya-karya yang menjadikan Palestina sebagai ruang kesaksian, kemanusiaan, perjuangan, dan harapan.

Peserta workshop tidak hanya terdiri atas penulis, tetapi juga guru, dosen, mahasiswa, pelajar, calon penulis, serta masyarakat umum yang memiliki minat terhadap sastra.

LSBPI MUI berharap workshop ini dapat melahirkan perspektif dan karya sastra yang mampu memperkuat kesadaran kemanusiaan terhadap Palestina sekaligus memperluas kontribusi sastra Indonesia dalam percakapan global mengenai Palestina. Sebab berita mencatat apa yang terjadi. Sastra menjaga agar manusia tidak melupakannya.