Kesadaran Titik Nol untuk Sujud
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Ayat kelima dalam surat Al-‘Alaq merupakan puncak dari rangkaian literasi wahyu yang sekaligus menjadi pengingat atas keterbatasan absolut manusia.
Di balik kemajuan sains dan tumpukan literatur, terdapat rahasia ilahiah yang sering kali diabaikan oleh nalar yang sombong. Ayat kelima itu menegaskan: “Allah yang mengajarkan manusia apa saja yang tidak diketahui”.
Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam
Ilmu Allah
bersifat universal, abadi, dan melampaui batas ruang-waktu. Dalam skala ini,
seluruh teori sains peradaban manusia, dari dulu, sekarang, dan akan datang
tidak lebih dari sekadar “setetes air di tengah samudra luas”, yang
eksistensinya bergantung sepenuhnya pada izin Allah, Sang Pemilik Ilmu. Apa
yang belum diketahui manusia senantiasa jauh lebih besar daripada apa yang
telah diketahui.
Trilogi
Instrumen Ilmu
Manusia bergerak
dari ketidaktahuan menuju pemahaman bukan semata-mata karena kekuatan logika,
melainkan karena kemurahan Allah yang membiarkan rahasia-Nya terungkap melalui iqra’
dan qolam.
Allah mempertegas
kondisi manusia saat dalam rahim: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut
ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)
Ayat ini menegaskan bahwa manusia lahir dalam kondisi tidak ada sedikit pun pengetahuan, tidak mengenal huruf dan angka satu pun. Artinya memulai kehidupan tanpa memori, teori, atau konsep. Kondisi ini merupakan bentuk “kesetaraan intelektual manusia” di hadapan Allah.
Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam
Semua ilmuwan, pemimpin, peraih Nobel dan pakar peradaban, sehebat dan secerdas apa pun, memulai dari titik nol yang sama.
Ini adalah
pengingat akan kerendahan hati bahwa ilmu bukanlah bawaan lahir, melainkan
pemberian Allah. Maka tidak perlu sombong, angkuh, dan takabur dengan pencapaian
ilmu, prestasi, ijazah, gelar, jabatan karena pada awalnya sama saja.
Allah menyebutkan
tiga perangkat utama sebagai jalur mengajarkan ilmu ke dalam jiwa manusia
secara hierarkis:
Pertama, pendengaran (as-sam’u) adalah Instrumen pertama untuk menangkap narasi, bahasa, dan wahyu, sehingga bayi yang
baru lahir disunnahkan diperdengarkan adzan. Dalam tradisi Islam, transmisi
lisan adalah pintu gerbang ilmu.
Kedua, penglihatan (al-abshar), yakni instrumen
untuk observasi empiris, riset visual, dan membaca fenomena alam (ayat
kauniyah). Ini adalah landasan metode saintifik.
Ketiga, hati/akal (al-af’idah), yaitu bukan
sekadar benda secara biologis, melainkan pusat pengolahan (hati). Di sinilah
data dari pendengaran dan penglihatan diolah, dianalisis, dan disintesis
menjadi pemahaman dan kearifan.
Tertolaknya
Teori “Deistik”
Teologi “deistik”
adalah suatu pemahaman yang meyakini Tuhan sebagai pencipta alam semesta, namun
setelah menciptakan, Tuhan tidak ikut campur mengatur alam semesta.
Deistik memvisualisasikan Tuhan seperti seorang “pembuat
jam” (the watchmaker) yang setelah merakit mesin alam semesta, ia
meninggalkannya berjalan sendiri sesuai hukum mekanik tanpa intervensi lebih
lanjut. Tentu yang demikian ini merupakan pemahaman yang mendegradasi makna dan
kekuasaan Tuhan.
Al-‘Alaq ayat 5 sejak
14 abad lalu menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang tidak “lepas tangan"
dan tidak terbatas kekuasan-Nya.
Allah terus terlibat senantiasa ‘allama (mengajarkan) perkembangan peradaban manusia melalui pemberian ilmu-ilmu yang sebelumnya tidak diketahui, tidak lain untuk menjadi ‘abdullah dan khalifatullah.
Baca juga: Epistemologi Al-‘Alaq sebagai Fondasi Peradaban
Pengajaran ilmu kepada
manusia adalah salah satu nikmat besar yang tidak diberikan kepada makhluk lain.
Allah menyebutkan nikmat ini dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5, karena ilmu membawa
manusia keluar dari kegelapan kebodohan, kekufuran, dan kemaksiatan; menuju
cahaya ilmu, iman, dan ketaatan.
Manusia
dimuliakan dan diangkat derajatnya karena adanya iman dan ilmu yang diberikan
kepadanya. Hal ini merupakan keistimewaan yang membuat Adam, bapak umat manusia, lebih unggul dibandingkan para malaikat karena ada fase belajar dan diajarkan.
Titik Nol
Mengantar pada Sujud
Ayat terakhir
dari lima ayat pertama yang Allah turunkan menjadi titik balik spiritual, yaitu
memberikan kesadaran bahwa manusia tidak memiliki daya untuk memperbaiki diri
sendiri tanpa campur tangan Allah. Ketika ego (merasa mampu) runtuh, maka
kebutuhan untuk menyembah akan bangkit secara alami.
Dalam diskursus
spiritualisme Islam, doa dan dzikir bukan sekadar ritual formal, melainkan
frekuensi penghambaan yang menentukan kualitas ketenangan subjek.
Semakin tinggi
frekuensi komunikasi tersebut, semakin tajam kesadaran akan keterbatasan diri
di hadapan Allah. Perasaan butuh Allah adalah katalisator yang secara otomatis
mengeliminasi bibit keangkuhan.
Individu yang bersandar pada-Nya akan mengalami fase tuma’ninah (ketenangan). Hal ini terjadi karena ada perpindahan “pusat beban”. Dari punggung manusia yang lemah menuju jaminan Allah yang Mahakuat. Kesadaran ini adalah titik balik di mana kepasrahan berubah menjadi kekuatan penggerak yang menenangkan.
Baca juga: Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam
Surat Al-Alaq
yang lengkap dimulai dari mandat “Iqra’ bismi Rabbika” (membaca berbasis
ketuhanan) dan penggunaan al-Qalam (instrumen literasi). Kemudian
akhirnya harus bermuara pada satu titik, yaitu “Wasjud waqtarib”
(Sujudlah dan mendekatlah). Artinya iqra’ yang benar mengantarkan
seseorang untuk bisa sujud dan mendekat kepada Allah sepenuhnya.
Al-Alaq menanamkan bahwa iqra’ tanpa sujud adalah kesombongan, sementara sujud tanpa iqra’ adalah kerapuhan. Surat ini ditutup secara utuh dengan penegasan wasjud (perintah sujud) untuk memastikan bahwa setelah manusia dibekali dengan ilmu dan pena, ia tidak menjelma menjadi “tuhan-tuhan kecil” di muka bumi. Sebaliknya, ia tetap menjadi hamba yang sadar akan titik nolnya, yang senantiasa bergerak mendekat (waqtarib) kepada sumber segala cahaya ilmu, yaitu Allah SWT.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.