Lewati ke konten utama
Selasa, 7 Juli 2026 / 21 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Kesadaran Titik Nol untuk Sujud

5 menit baca 1.549 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Kesadaran Titik Nol untuk Sujud
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Ayat kelima dalam surat Al-‘Alaq merupakan puncak dari rangkaian literasi wahyu yang sekaligus menjadi pengingat atas keterbatasan absolut manusia.

Di balik kemajuan sains dan tumpukan literatur, terdapat rahasia ilahiah yang sering kali diabaikan oleh nalar yang sombong. Ayat kelima itu menegaskan: “Allah yang mengajarkan manusia apa saja yang tidak diketahui”.

Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam

Ilmu Allah bersifat universal, abadi, dan melampaui batas ruang-waktu. Dalam skala ini, seluruh teori sains peradaban manusia, dari dulu, sekarang, dan akan datang tidak lebih dari sekadar “setetes air di tengah samudra luas”, yang eksistensinya bergantung sepenuhnya pada izin Allah, Sang Pemilik Ilmu. Apa yang belum diketahui manusia senantiasa jauh lebih besar daripada apa yang telah diketahui.

Trilogi Instrumen Ilmu

Manusia bergerak dari ketidaktahuan menuju pemahaman bukan semata-mata karena kekuatan logika, melainkan karena kemurahan Allah yang membiarkan rahasia-Nya terungkap melalui iqra’ dan qolam.

Allah mempertegas kondisi manusia saat dalam rahim: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia lahir dalam kondisi tidak ada sedikit pun pengetahuan, tidak mengenal huruf dan angka satu pun. Artinya memulai kehidupan tanpa memori, teori, atau konsep. Kondisi ini merupakan bentuk “kesetaraan intelektual manusia” di hadapan Allah.

Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam

Semua ilmuwan, pemimpin, peraih Nobel dan pakar peradaban, sehebat dan secerdas apa pun, memulai dari titik nol yang sama.

Ini adalah pengingat akan kerendahan hati bahwa ilmu bukanlah bawaan lahir, melainkan pemberian Allah. Maka tidak perlu sombong, angkuh, dan takabur dengan pencapaian ilmu, prestasi, ijazah, gelar, jabatan karena pada awalnya sama saja.

Allah menyebutkan tiga perangkat utama sebagai jalur mengajarkan ilmu ke dalam jiwa manusia secara hierarkis:

Pertama, pendengaran (as-sam’u) adalah Instrumen pertama untuk menangkap narasi, bahasa, dan wahyu, sehingga bayi yang baru lahir disunnahkan diperdengarkan adzan. Dalam tradisi Islam, transmisi lisan adalah pintu gerbang ilmu.

Kedua, penglihatan (al-abshar), yakni instrumen untuk observasi empiris, riset visual, dan membaca fenomena alam (ayat kauniyah). Ini adalah landasan metode saintifik.

Ketiga, hati/akal (al-af’idah), yaitu bukan sekadar benda secara biologis, melainkan pusat pengolahan (hati). Di sinilah data dari pendengaran dan penglihatan diolah, dianalisis, dan disintesis menjadi pemahaman dan kearifan.

Tertolaknya Teori “Deistik”

Teologi deistik” adalah suatu pemahaman yang meyakini Tuhan sebagai pencipta alam semesta, namun setelah menciptakan, Tuhan tidak ikut campur mengatur alam semesta.

Deistik memvisualisasikan Tuhan seperti seorang “pembuat jam” (the watchmaker) yang setelah merakit mesin alam semesta, ia meninggalkannya berjalan sendiri sesuai hukum mekanik tanpa intervensi lebih lanjut. Tentu yang demikian ini merupakan pemahaman yang mendegradasi makna dan kekuasaan Tuhan.

Al-‘Alaq ayat 5 sejak 14 abad lalu menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang tidak “lepas tangan" dan tidak terbatas kekuasan-Nya.

Allah terus terlibat senantiasa ‘allama  (mengajarkan) perkembangan peradaban manusia melalui pemberian ilmu-ilmu yang sebelumnya tidak diketahui, tidak lain untuk menjadi ‘abdullah dan khalifatullah.

Baca juga: Epistemologi Al-‘Alaq sebagai Fondasi Peradaban

Pengajaran ilmu kepada manusia adalah salah satu nikmat besar yang tidak diberikan kepada makhluk lain. Allah menyebutkan nikmat ini dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5, karena ilmu membawa manusia keluar dari kegelapan kebodohan, kekufuran, dan kemaksiatan; menuju cahaya ilmu, iman, dan ketaatan.

Manusia dimuliakan dan diangkat derajatnya karena adanya iman dan ilmu yang diberikan kepadanya. Hal ini merupakan keistimewaan yang membuat Adam, bapak umat manusia, lebih unggul dibandingkan para malaikat karena ada fase belajar dan diajarkan. 

Titik Nol Mengantar pada Sujud

Ayat terakhir dari lima ayat pertama yang Allah turunkan menjadi titik balik spiritual, yaitu memberikan kesadaran bahwa manusia tidak memiliki daya untuk memperbaiki diri sendiri tanpa campur tangan Allah. Ketika ego (merasa mampu) runtuh, maka kebutuhan untuk menyembah akan bangkit secara alami.

Dalam diskursus spiritualisme Islam, doa dan dzikir bukan sekadar ritual formal, melainkan frekuensi penghambaan yang menentukan kualitas ketenangan subjek.

Semakin tinggi frekuensi komunikasi tersebut, semakin tajam kesadaran akan keterbatasan diri di hadapan Allah. Perasaan butuh Allah adalah katalisator yang secara otomatis mengeliminasi bibit keangkuhan.

Individu yang bersandar pada-Nya akan mengalami fase tuma’ninah (ketenangan). Hal ini terjadi karena ada perpindahan “pusat beban”. Dari punggung manusia yang lemah menuju jaminan Allah yang Mahakuat. Kesadaran ini adalah titik balik di mana kepasrahan berubah menjadi kekuatan penggerak yang menenangkan.

Baca juga: Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam

Surat Al-Alaq yang lengkap dimulai dari mandat “Iqra’ bismi Rabbika” (membaca berbasis ketuhanan) dan penggunaan al-Qalam (instrumen literasi). Kemudian akhirnya harus bermuara pada satu titik, yaitu “Wasjud waqtarib” (Sujudlah dan mendekatlah). Artinya iqra’ yang benar mengantarkan seseorang untuk bisa sujud dan mendekat kepada Allah sepenuhnya.

Al-Alaq menanamkan bahwa iqra’ tanpa sujud adalah kesombongan, sementara sujud tanpa iqra’ adalah kerapuhan. Surat ini ditutup secara utuh dengan penegasan wasjud (perintah sujud) untuk memastikan bahwa setelah manusia dibekali dengan ilmu dan pena, ia tidak menjelma menjadi “tuhan-tuhan kecil” di muka bumi. Sebaliknya, ia tetap menjadi hamba yang sadar akan titik nolnya, yang senantiasa bergerak mendekat (waqtarib) kepada sumber segala cahaya ilmu, yaitu Allah SWT.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.