Surat Cinta Spiritual dari Syekh Yusuf Al-Makassari untuk Karaeng Karunrung
Oleh: Fathurrochman Karyadi, M.A
Filolog, Penulis Novel “Ziarah” (2025), dan Pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang ulama besar yang berada di perantauan menulis surat kepada seorang pembesar di kampung halaman? Isinya bukan hanya sekadar kabar dan salam, tetapi juga nasihat spiritual, titipan hadiah, hingga urusan pinjam-meminjam barang pusaka.
Itulah yang terjadi
dalam sebuah surat yang ditulis oleh Syekh Yusuf al-Makassari (1626-1699),
ulama sufi termasyhur dari Gowa, Sulawesi Selatan, kepada Karaeng Karunrung,
seorang wazir atau patih yang disegani.
Karaeng Karunrung bernama Abdulhamid Karaeng Koronrong, putra dari Karaeng Pattingalloang, bergelar Sultan Mahmud dari Kesultanan Tallo. Putri perempuannya bernama Daeng Mattena atau Karaeng Bonteramboe atau Karaeng Bonto Rombang.
Baca juga: Menggagas Repositori Intelektualisme Muslim Nusantara
Syekh Yusuf menulis
surat ini di Banten pada 1084 H/1673 M. Dalam suntingan Tudjimah (1977), naskah
folio 116-123 ini menurut Abu Hamid milik Daeng Takalia, qadi Gowa, lalu
diberikan kepada Hamka pada 1955. KITLV melalui Achjarnis menulis ulang naskah
ini pada 1971. Andrew C. Peacock dalam Arabic Literary Culture in Southeast
Asia in the Seventeenth and Eighteenth Centuries (2024) melampirkan naskah
ini dari Martin van Bruinessen. Perpustakaan Nasional RI juga menyimpan
salinannya secara digital di khastara.perpusnas.go.id bernomor Katalog ID
2695240.
Syekh Yusuf memulai
suratnya dengan pujian yang sangat panjang dan indah kepada Karaeng Karunrung.
Ia menyebutnya sebagai “tuan kami yang alim, arif, sempurna, wali akhlak, dan
teladan yang diridhai”. Bahkan, Karaeng Karunrung dijuluki sebagai raja dari
semua kerajaan, seperti purnama di kerajaan Selon, dan kiblat para tokoh utama.
Syekh Yusuf mengagumi Karaeng Karunrung sebagai sosok yang memadukan syariat (hukum lahir) dan hakikat (esensi batin). Ia menyebutnya sebagai pemimpin yang sempurna.
Setelah salam dan
pujian, Syekh Yusuf mengungkapkan isi hatinya yang sangat rindu bertemu dengan
Karaeng Karunrung. Namun, Allah belum mengizinkan pertemuan itu terjadi.
“Hati kami telah
tertarik kepada tuan, dan Allah mengetahui hal itu,” ungkapnya dalam sepucuk surat.
Menariknya, Syekh
Yusuf menyebutkan beberapa utusan dan hadiah yang dikirimkan, tetapi ada satu
yang tidak sampai.
“Dirham yang dibawa
oleh Haji Abdul Rashid Tawulisa tidak sampai kepada hambamu,” terangnya.
Meski begitu, Syekh Yusuf optimistis pahala tetap mengalir karena niat baik sang pengirim.
Baca juga: Islam tak Berhenti pada Simbol
Syariat dan Hakikat
seperti Dua Mata
Bagian paling panjang
dari surat ini merupakan nasihat spiritual. Syekh Yusuf dengan tegas
mengingatkan, “Semua syariat tanpa hakikat adalah batil, dan semua hakikat
tanpa syariat juga batil.”
Ia membandingkan
syariat dan hakikat seperti ruh dan jasad. Manusia baru disebut sempurna (insān
kāmil) jika kedua unsur ini menyatu.
Syekh Yusuf juga
mengutip ungkapan Syekh Junaid, pemimpin sufi, “Jalan kami ini berhubungan erat
dengan Alquran dan sunnah. Siapa yang tidak berpegang pada keduanya, ia sesat.”
Inti dari semuanya ialah cinta. Syekh Yusuf mengutip QS. Ali Imran: 31, yang artinya, “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Nabi Muhammad), niscaya Allah mencintaimu.” Dengan kata lain, cinta tanpa kepatuhan kepada Nabi adalah cinta palsu. Dan salah satu bukti kepatuhan itu adalah mengerjakan shalat.
Baca juga: Makna Filosofis Gerakan Ibadah Shalat
Ia dengan keras
mengingatkan, “Maksiat yang paling dekat kepada kekufuran ialah meninggalkan
shalat. Sekalipun ia orang “arif” dan “berilmu”, tanpa shalat, ia tidak
dicintai Allah.”
Di tengah suratnya,
Syekh Yusuf memberikan semacam “paket komplit” resep keselamatan, yakni
perbanyak dzikir (dalam hati maupun suara), taubat yang sungguh-sungguh (karena
orang yang taubat seperti tak berdosa), takut dan berharap kepada Allah secara
seimbang, jangan takabur, tidak riya’, tidak lalai, dan siap menghadapi
kematian.
Ia juga mengutip sabda
Nabi yang berupa hadis qudsi, disebutkan, “La ilaha illallah adalah
benteng-Ku. Siapa yang masuk benteng-Ku, ia selamat dari siksa-Ku.”
Titipan Keris,
Pinjaman, dan Hadiah Gula
Tak hanya soal
keislaman, Syekh Yusuf juga menarasikan hal kebudayaan dari suratnya. Setelah
nasihat yang luhur, Syekh Yusuf menyampaikan titipan dari Sultan Banten, Abul
Fath atau Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1692).
Sultan Banten ke-6 ini
meminta tolong agar Karaeng Karunrung mengembalikan beberapa benda pusaka
berupa Keris Anak Kiai Tamba’, Pujangga (demikian Tudjimah menyalinnya,
sementara Peacock mengartikannya dengan pauh janggi, jenis kelapa laut yang
besar dan langka; lodoicea maldivica), dan bokor suwasi (wadah
cekung berbahan logam sebagai tempat sesuatu).
Sultan Banten mengaku tidak pernah memberikan benda-benda itu. Barang-barang tersebut justru berada pada Karaeng Karunrung sebagai penghormatan sesuai adat.
Baca juga: Mengapa Rasulullah SAW Selalu Rindu Shalat?
Ada juga cerita tentang pedang yang diwasiatkan oleh Pangeran Arya Sangtikar saat naik haji. Bukan hanya meminta tolong soal barang, Syekh Yusuf juga dengan rendah hati meminta sepotong emas, cincin, atau zamrud biru (atau yakut merah) dari Karaeng Karunrung.
Sebagai imbalan, Syekh
Yusuf mengirimkan hadiah sederhana: dua keranjang gula putih dan sekantong
merica. Ia menulis dengan jenaka, “Terimalah dengan hormat, janganlah mengharap
yang lebih baik. Sesungguhnya hadiah itu sesuai dengan yang memberi, bukan
menurut ukuran yang diberi.”
Lalu Syekh Yusuf
mengakhiri suratnya dengan permohonan maaf karena dianggap terlalu banyak
bicara.
“Saya minta maaf,
karena hambamu yang fakir ini telah banyak bicara kepada tuanku, suatu hal yang
tidak layak,” tulisnya.
Pada bagian akhir,
sang penyalin (bukan Syekh Yusuf) menambahkan keterangan bahwa surat ini
selesai dikutip pada malam Jumat, 15 Dzulhijah 1145 H/1733 M dari sebuah kitab
bernama Safīnah al-Najāh (Perahu Keselamatan).
***
Apa yang bisa kita
teladani dari surat berusia lebih dari tiga abad ini? Setidaknya, di saat
informasi mudah diakses dan disimpan, akan tetapi sering cetek atau
dangkal; ketika pemimpin lebih sibuk dengan popularitas, penghargaan, dan
“centang biru” daripada keteguhan prinsip, Syekh Yusuf mengingatkan kita pada
satu pesan utama, yakni tidak ada kepemimpinan sejati tanpa keseimbangan antara
aturan lahir (syariat/etika formal) dan esensi batin (hakikat/integritas
moral).
Bagi kita yang kerap terjebak pada pencitraan digital, surat ini mengajak untuk berani menjadi pribadi yang utuh, bukan hanya “jago bercuap-cuap” tapi juga konsisten dalam tindakan.
Baca juga: Urgensi Akhlak Mulia dalam Kepemimpinan
Bagi pemimpin Indonesia menuju “Indonesia Emas”, pesan Syekh Yusuf tentang keseimbangan antara takut dan harap, antara kekuasaan dan kerendahan hati, serta kewajiban memaafkan kesalahan dan tidak berkhianat terhadap amanah umat, ini semua harusnya dipahami sebagai resep kesejahteraan abadi.
Lalu pertanyaan
mendasarnya, sejauh mana nilai-nilai kepemimpinan dari naskah klasik seperti
ini telah diintegrasikan dalam pendidikan karakter atau pelatihan kepemimpinan
nasional saat ini? Mari kita renungkan bersama.
Semoga surat seorang ulama perantauan ini tidak hanya menjadi arsip sejarah, koleksi perpustakaan, dan harta karun bagi filolog, tetapi juga cermin bagi kita semua yang masih belajar menjadi manusia dan pemimpin yang sempurna (insan kamil).
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.