Menggagas Repositori Intelektualisme Muslim Nusantara
Oleh: Fathurrochman Karyadi, M.A
Filolog, Penulis Novel “Ziarah” (2025), dan Pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Saya pernah masuk ke sebuah perpustakaan yang tidak terlalu besar, hanya satu lantai. Rak-raknya tidak penuh sesak, isinya membuat mata bermanja-manja. Ada koleksi buku dan kitab cetakan lawas, ada manuskrip tulisan tangan, tersedia berbagai bahasa dan aksara. Sebagian sudah mulai rapuh, sebagian lagi masih cukup terawat. Semuanya menyimpan satu hal yang sama, jejak pemikiran muslim Nusantara.
Di antara koleksi itu, saya menemukan sebuah kitab tipis, terbit pada 1934. Tidak terlalu tebal, bahkan mungkin bisa selesai dibaca dalam sekali duduk. Yang membuatnya menarik justru bukan jumlah halamannya. Tapi nama penulisnya terasa asing, temanya tidak umum, dan genrenya seperti berada di pinggir dari yang biasa kita baca.
Dengan izin petugas, saya memindai seluruh halamannya. Lalu, pada 2016, saya mengunggah ke sebuah situs yang biasa menyediakan buku digital secara gratis. Tidak ada niat besar waktu itu. Hanya merasa sayang kalau teks seperti itu hilang begitu saja.
Baca juga: Islam tak Berhenti pada Simbol
Belakangan ini, saya iseng mencari lagi judul kitab itu di internet. Hasilnya di luar dugaan. Ternyata sudah banyak yang mengunggah ulang. Ada yang memperbaiki tampilannya. Ada yang mengetik ulang lebih rapi. Bahkan ada yang menambahkan edisi terjemahan. Yang lebih mengejutkan lagi, ada sebuah tulisan ilmiah yang meneliti kitab tersebut secara khusus.
Rasanya campur aduk. Senang, tentu. Tapi bukan senang karena merasa “punya andil besar”. Lebih pada perasaan bahwa sesuatu yang dulu terasa kecil dan sepi, ternyata bisa hidup kembali di tangan orang lain. Langkah kecil, diam-diam, ternyata bisa punya umur panjang.
Di balik itu, ada hal lain yang mengganjal. Selama sepuluh tahun, tidak ditemukan versi lain dari kitab itu. Tidak ada file pembanding. Tidak ada cetakan lawas atau manuskrip lain dengan judul yang sama. Seolah-olah kitab itu pernah ada, lalu hilang dari peredaran, dan kebetulan saja sempat terselamatkan.
Saya mulai berpikir, berapa banyak karya ulama kita yang nasibnya seperti itu? Kita sering mengatakan bahwa Nusantara kaya akan tradisi keilmuan. Itu bukan klaim kosong. Sejak masa awal pesantren, sampai setelah kemerdekaan, banyak ulama yang tidak hanya mengajar, tapi juga menulis. Ada yang menulis kitab tebal, ada yang hanya risalah kecil. Ada yang dicetak, ada yang masih dalam bentuk manuskrip.
Masalahnya, tidak semua karya itu berumur panjang dalam peredaran. Sebagian hanya dicetak terbatas. Sebagian tersimpan di pesantren atau koleksi pribadi. Sebagian lagi, mungkin, hilang begitu saja tanpa sempat kita kenali.
Baca juga: Urgensi Ukhuwah Islamiyah di Tengah Luka Sejarah dan Harapan Kebangkitan
Padahal hari ini kita hidup di zaman yang serbadigital. Menyimpan teks tidak lagi harus menunggu kertas awet ratusan tahun. Cukup dipindai, disimpan, lalu dibagikan. Masalahnya bukan pada teknologinya. Tapi pada cara kita mengelolanya.
Selama ini, kerja-kerja digitalisasi lebih banyak berjalan sendiri-sendiri. Ada yang mengunggah kitab, ada yang mengetik ulang, ada yang meneliti. Ya, semuanya seperti berjalan di jalur masing-masing. Belum ada satu tempat yang benar-benar menjadi “rumah bersama”.
Dari situlah muncul satu imaji, bagaimana kalau ada satu repositori khusus yang menghimpun karya-karya muslim di Nusantara? Bukan sekadar tempat menyimpan file, tapi tempat yang benar-benar mengelola. Di situ, karya-karya bisa disusun berdasarkan nama, wilayah, jenis tulisan, bahasa, atau bahkan periode waktu. Orang bisa membandingkan versi, melacak sumber, atau sekadar membaca.
Kita sebenarnya sudah pernah merasakan manfaatnya dari platform atau website seperti Wikipedia, archive.org, atau noor-book.com. Bahkan bagi yang akrab dengan kitab, Maktabah Syamilah (shamela.ws) sangat membantu. Tinggal dibayangkan saja, kalau ada satu platform khusus yang mengumpulkan karya ulama Nusantara—baik utuh maupun cuplikan—betapa kayanya alam pengetahuan kita, bukan?
Tidak hanya untuk kita sendiri, ini juga untuk dunia luar. Repositori ini bisa menjadi cara lain untuk mengenalkan wajah Islam Indonesia yang berakar pada tradisi, bukan sekadar wacana. Memang, ini bukan pekerjaan kecil. Tapi bukan berarti harus menunggu semuanya sempurna dulu baru dimulai.
Baca juga: Umar Ibnu Khattab, Pribadi Hasil Tempaan Rasulullah SAW
Ada beberapa langkah kecil yang justru lebih masuk akal untuk bisa kita lakukan. Pertama, bekerja sama dengan kampus-kampus Islam. Banyak skripsi, tesis, atau disertasi yang sebenarnya sudah mengkaji karya ulama Nusantara, lengkap dengan teks dan analisisnya. Sayang kalau hanya berhenti di rak perpustakaan.
Kedua, melibatkan pesantren. Banyak naskah justru tersimpan di sana. Pesantren bukan hanya sumber, tapi juga bisa menjadi pusat gerakan ini. Ketiga, mulai membangun standar sederhana untuk digitalisasi. Tidak perlu langsung rumit, tapi cukup rapi mulai file jelas, sumber jelas, dan mudah diakses.
Keempat, membuka ruang kolaborasi. Siapa pun bisa terlibat, baik itu filolog, mahasiswa, pegiat literasi, maupun siapa saja yang peduli. Kelima, perlahan mendorong dukungan yang lebih besar—baik dari lembaga negara maupun swasta—agar upaya ini tidak berhenti di tengah jalan.
Baca juga: Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran
Gagasan ini bukan hanya soal mengumpulkan kitab. Tapi soal merawat tradisi intelektualisme kita sendiri sebagai negeri yang jumlah muslimnya paling banyak sedunia. Setiap karya ulama yang hilang sebenarnya bukan hanya kehilangan teks, tetapi juga kehilangan percakapan. Kehilangan cara berpikir. Kehilangan jejak bagaimana Islam dipahami dan dihidupi di lingkaran yang mungkin tidak pernah kita datangi.
Tampaknya, kita tidak bisa menyelamatkan semuanya. Tapi setidaknya, apa yang masih tersisa hari ini, jangan sampai hilang lagi hanya karena kita tidak sempat menyimpannya. Terkadang, memang, semuanya berawal dari hal kecil. Dari satu orang yang memindai. Dari satu file yang diunggah. Dari satu teks yang tidak jadi dilupakan. Dari situ, perlahan, ingatan sebuah peradaban bisa disusun kembali untuk menuju peradaban yang lebih gemilang.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.