Apa yang Diajarkan Gaza kepada Dunia?
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital-Ketika berbicara tentang transformasi besar dalam sejarah dunia, orang biasanya akan menyebut penaklukan Istanbul, Revolusi Prancis, lahirnya era modern, atau berbagai revolusi teknologi yang mengubah peradaban manusia.
Era modern sendiri membawa sejumlah asumsi mendasar: bahwa agama adalah bagian dari masa lalu dan bahwa di luar modernitas tidak ada lagi sesuatu yang layak disebut sebagai peradaban.
Perubahan cara pandang ini tampak sangat jelas di dunia Barat. Ketika agama semakin dipinggirkan dari kehidupan sosial, muncul pula pemahaman keagamaan yang menyimpang dan terdistorsi, yang banyak dipengaruhi oleh kelompok-kelompok marginal yang bergerak di bawah permukaan masyarakat.
Di luar kerangka negara dan di pinggiran kehidupan sosial, khususnya di sekitar arus pemikiran yang terkait dengan Kabbalah dan Zionisme, berkembang sebuah pandangan yang menempatkan manusia seolah-olah berada pada posisi Tuhan.
Dilansir dari Dailiy Sabah, Ahad (31/5/2026), Islam, Kristen, dan Yahudi—yang dikenal sebagai agama-agama Abrahamik—telah membentuk perjalanan sejarah dunia dalam banyak aspek.
Namun dalam empat hingga lima dekade terakhir, tampaknya banyak orang mulai mengikuti apa yang bisa disebut sebagai "agama konsumsi" dan "agama kapitalisme".
Mengejar kesenangan, membeli lebih banyak, menghasilkan lebih banyak uang, memiliki lebih banyak harta, dan memusatkan perhatian hanya pada kehidupan material hampir menjadi tujuan bersama manusia di berbagai belahan dunia.
Sebuah komunitas yang berbeda
Di tengah situasi seperti itu, perang dan kehancuran yang dilancarkan Israel di Gaza memperlihatkan kepada dunia keberadaan sebuah komunitas Muslim yang berbeda.
Seorang dokter asal Amerika Serikat baru-baru ini menceritakan secara rinci bagaimana pengalamannya selama berada di Gaza mengubah dirinya secara pribadi.
Ia mengaku menemukan kembali rasa kemanusiaan yang selama ini ia rasakan telah hilang. Di tengah pembunuhan, pengusiran, dan penghancuran yang berlangsung, sikap kemanusiaan, identitas keislaman, serta kesabaran yang ditunjukkan masyarakat Gaza menarik perhatian banyak orang di seluruh dunia.
Bayangkan sebuah masyarakat yang menjadi sasaran pembantaian. Para pejuangnya terus bertahan. Lebih dari dua juta penduduk menghadapi kelaparan, kehausan, dan kematian dengan kesabaran yang luar biasa. Pada saat yang sama, dukungan terhadap Gaza meluas ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Amerika Latin, Timur Tengah, Asia Timur, ibu kota negara-negara Eropa, hingga kampus-kampus universitas di Amerika Serikat.
Di sejumlah negara, termasuk Turki, berbagai demonstrasi besar dan aksi solidaritas digelar sebagai bentuk protes terhadap tindakan Israel di Gaza dan dukungan kepada rakyat Palestina.
Baca juga: AS Jatuhkan Sanksi Sepihak kepada Aktivis Flotilla Gaza
Sikap generasi muda Amerika
Peristiwa di Gaza juga mulai memengaruhi kebijakan Amerika Serikat secara langsung. Ketika terjadi ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, pemerintah Amerika menghadapi kesulitan untuk meyakinkan rakyatnya mengenai legitimasi perang tersebut.
Dampak perang di Gaza sudah sangat terasa. Di kalangan generasi muda Amerika khususnya, penolakan terhadap apa yang mereka anggap sebagai tindakan tidak adil terhadap warga Gaza semakin meluas.
Dalam berbagai survei dan diskusi publik, sebagian anak muda Amerika bahkan menunjukkan simpati yang semakin besar terhadap pihak yang mereka pandang sebagai korban ketidakadilan.
Sementara itu, tragedi Gaza juga mengguncang paradigma Barat yang selama ini mendominasi dunia. Sejak dekade 1960-an, konsep-konsep seperti demokrasi, kebebasan, hak asasi manusia, hak-hak perempuan, perlindungan lingkungan, dan hak-hak hewan telah menjadi bagian penting dari wacana global.
Namun, seiring berlangsungnya tragedi kemanusiaan di Gaza, semakin banyak orang yang mulai mempertanyakan apakah nilai-nilai tersebut benar-benar diterapkan secara konsisten atau hanya berhenti sebagai slogan dan prinsip yang tertulis di atas kertas.
Baca juga: MUI Imbau Khatib Jumat dan Idul Adha Bacakan Doa Qunut Nazilah untuk Gaza
Kini, Barat yang dinilai diam menghadapi tragedi kemanusiaan di Gaza juga sedang melakukan refleksi dan perenungan terhadap dirinya sendiri.
Pada 1970-an, isu Palestina pernah menjadi salah satu faktor yang membentuk perdebatan ideologis antara kelompok kiri dan kanan di dunia politik serta lingkungan kampus.
Lima puluh tahun kemudian, dunia kembali terbelah akibat Gaza dan tindakan Israel di wilayah tersebut—antara mereka yang masih mempertahankan suara hati nurani dan mereka yang memilih untuk mengabaikannya.
Apa yang Diajarkan Gaza kepada Dunia Di Istanbul, sejumlah aktivis dan intelektual membentuk sebuah gerakan yang diberi nama Recorded for Humanity Initiative dan menyelenggarakan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah pemutaran film dokumenter tentang Rumah Sakit Al-Shifa.
Dokumenter yang diproduksi secara profesional oleh jaringan Aljazeera itu mendokumentasikan berbagai pelanggaran kemanusiaan yang terjadi tanpa menggunakan retorika emosional yang berlebihan.
Para jurnalis merekam setiap tahapan pendudukan rumah sakit tersebut secara sistematis sehingga menghasilkan sebuah kesaksian yang oleh banyak orang dianggap sebagai pelajaran berharga tentang kemanusiaan.
Di saat konsumerisme dan sikap tidak peduli semakin mendominasi masyarakat modern, sementara nilai-nilai moral terus mengalami erosi, Gaza justru menghadirkan contoh yang berbeda kepada dunia: sebuah contoh yang bertumpu pada martabat manusia, keteguhan, kesabaran, dan keyakinan kepada Tuhan.
Jika ada yang bertanya apa yang diajarkan Gaza kepada umat manusia, maka jawabannya adalah: Gaza telah membangunkan orang-orang yang masih memiliki hati nurani di seluruh dunia, mengingatkan mereka kembali tentang jati diri mereka, serta menghidupkan kembali naluri untuk berdiri bersama mereka yang tertindas.
Bulan lalu, ketika berbicara mengenai Palestina, Recep Tayyip Erdoğan menegaskan bahwa apa pun kondisi dan harga yang harus dibayar, ia akan terus berdiri bersama kaum tertindas dan akan selalu bangga mendukung rakyat Gaza yang mengalami penderitaan. Gaza adalah pelajaran tentang kemanusiaan.
Nilai-nilai kemanusiaan tidak dapat dihancurkan oleh perang, pembunuhan, ataupun berbagai upaya yang berusaha menghapus suara hati nurani manusia.
Masyarakat Gaza akan terus mengingatkan dunia tentang makna kemanusiaan yang sesungguhnya.
Pada pekan Hari Raya Iduladha ini, ketika umat Islam di berbagai penjuru dunia berusaha merayakan hari raya dengan kegembiraan dan kebahagiaan, kita tidak boleh melupakan bahwa sebagian dari hati kita tetap berada di Gaza.