Lewati ke konten utama
Senin, 6 Juli 2026 / 20 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Paradigma Islam

Umar Ibnu Khattab, Pribadi Hasil Tempaan Rasulullah SAW

3 menit baca 1.236 dibaca
Umar Ibnu Khattab, Pribadi Hasil Tempaan Rasulullah SAW
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Suatu ketika Umar Ibnu Khattab memasuki ruangan nabi, dia melihat punggung nabi berbekas tikar yang dipakainya untuk tidur.

Dia mulai menangis, dan bertanya, “Mengapa kaisar-kaisar Bizantium dan Persia hidup mewah dan megah, sementara engkau ya Rasulullah tidur di atas tikar yang buruk?”

Nabi menjawab, “Tidakkah engkau setuju bahwa dunia ini adalah untuk mereka dan akhirat adalah untuk kita?”

Bertahun-tahun kemudian, saat dia menjadi khalifah, ketika harta pusaka kedua kekaisaran itu mengalir ke perbendaharaan muslim, Umar tetap memilih hidup sederhana.

Baca juga: Kisah Islamnya Umar Bin Khattab, Pelukan Indah Ayat-Ayat Alquran

Apa yang dicontohkan Nabi kepada Umar ini melekat kuat dalam pribadi Umar ini. Hafsah, putrinya, pernah berkata kepadanya, “Ayah, dari waktu ke waktu utusan asing datang dan engkau menerima duta-duta. Engkau seharusnya mengganti baju lama dengan yang baru.”

Umar terkejut dengan saran ini dan menjawab, “Bagaimana kau bisa tahan berpisah dengan dua sahabatku, Nabi dan Abu Bakar? Aku harus mengikuti contoh mereka seketat mungkin agar aku dapat bersama mereka di akhirat.”

Hasil didikan Nabi sungguh luar biasa. Dari sosok pribadi agung sahabat Rasulullah, Umar ini mampu menaklukkan hati orang-orang nonmuslim bahkan mampu menggerakkan hati mereka untuk menerima Islam.

Baca juga: Proses Pembangunan Masjid Nabawi dan Fungsinya yang Vital Awal Islam

Ketika umat Islam menguasai Syria dan Palestina, panglimanya meminta kunci Masjid al-Aqsha. Patriarch mengatakan kepada mereka bahwa dia akan memberikannya hanya kepada orang yang digambarkan dalam kitab sucinya.

Saat mereka bersitegang, Khalifah Umar dan seorang pelayannya sudah berangkat dari Madinah. Tak ada yang tahu bagaimana dia pergi. Tetapi Patriarch dan pendeta-pendeta tahu bahwa pemegang yang sah dari kunci itu akan datang.

Umar meminjam seekor unta dari harta negara, dan dia bersama pelayannya bergantian mengendarainya. Ketika panglima muslim mendengar hal ini, mereka berdoa agar Umarlah yang mendapat giliran naik unta saat mereka menyeberang Sungai Jordan.

Mereka berpikir bahwa karena orang Bizantium biasanya membesar-besarkan pemimpinnya, Umar mungkin akan mempermalukan dirinya jika dia menuntun unta sementara pelayannya yang naik dan menyeberang sungai dengan jubah digulung ke atas.

Sesungguhnya, sebagian besar kemegahan politik adalah tidak adil dan Umar berusaha untuk menghindarinya. Apa yang dikhawatirkan si panglima ini terjadi. Baju Umar, yang lusuh karena perjalanan, juga ada tambalannya.

Ketika sang Patriarch melihat Umar dia berseru, “Inilah orang yang telah dideskripsikan dalam kitab kami! Sekarang aku akan memberikan kunci kepadanya.”

Karena pengetahuan khusus dari kitab mereka, pendeta-pendeta itu tahu bagaimana rupa Umar dan bagaimana dia akan menyeberangi sungai. Setelah menyerahkan kunci dan Masjid al-Aqsha kepada seorang muslim ini, ternyata hal ini menyebabkan banyak orang memeluk Islam.

Baca juga: Israel Tutup Masjid Al-Aqsha, MUI: Tindakan Tersebut Bisa Picu Perang Semesta

Hidup dan kehidupan mereka, para sahabat Nabi, tidak lepas dari hasil didikan Nabi dan memang diperuntukkan untuk kemuliaan dan keagungan Islam. Mereka meneladani Nabi sampai hal sekecil-kecilnya. Sampai sepeninggal Nabi, mereka mampu menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan sangat cepat.

Hati dan jiwa mereka telah menyatu dengan ajaran yang diberikan oleh Nabi. Hingga akal dan pikiran mereka mantap menyerukan kebenaran Islam.

Tujuan hidup mereka jelas tanpa ada keraguan sedikit pun. Mereka hidup untuk melayani agama Allah dan mengajak manusia kepada cahaya kebenaran. Mereka pun menjadi mutiara-mutiara teladan sepanjang masa seperti Nabi, sang teladan utama.

Teladan Nabi tak lekang oleh waktu dan teladan itu tak pernah kering digali dan terus memancar seperti mata air yang terus mengalir dengan jernihnya.

Teladan nabi tersebar dan dijaga dalam ribuan hadis yang termuat dalam kitab-kitab hadis. Para sahabat, ulama, ilmuwan muslim, para kekasih Allah tak pernah keluar dari teladan yang dicontohkan oleh Nabi.

Mereka mampu menggemakan kemuliaan dan keagungan Islam di seluruh penjuru bumi. Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah mencontoh Nabi dalam setiap aspek kehidupan kita? Wallahua’lam.