Proses Pembangunan Masjid Nabawi dan Fungsinya yang Vital Awal Islam
Admin
Penulis
JAKARTA, MUI.OR.ID— Setibanya di Madinah, langkah pertama yang dilakukan Rasulullah ﷺ bukanlah mendirikan rumah atau menata pemerintahan, melainkan membangun pusat ibadah dan persatuan yaitu Masjid Nabawi.
Di tempat unta beliau berhenti itulah lokasi masjid ditetapkan, tanahnya dibeli dari dua anak yatim pemilik lahan. Dengan penuh keteladanan, Rasulullah ﷺ turut mengangkat batu dan memindahkan bata, menandai awal berdirinya masjid yang kelak menjadi jantung peradaban Islam.
Dalam Sirah an-Nabawiyah karya Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa Rasulullah ﷺ memindahkan batu bata dan bebatuan sambil berdoa:
“Ya Allah, tidak ada kehidupan yang lebih baik kecuali kehidupan akhirat. Maka ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin.”
Proses pembangunan Masjid Nabawi berlangsung penuh semangat kebersamaan. Rasulullah ﷺ tidak hanya memimpin, tetapi juga terjun langsung mengangkat batu dan memindahkan bata. Sambil bekerja beliau berdoa,
“Ya Allah, tidak ada kehidupan yang lebih baik kecuali kehidupan akhirat. Maka ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin.”
Beliau pun bersabda, “Para pekerja ini bukanlah para pekerja Khaibar. Mereka adalah pemilik yang paling baik dan paling suci,” yang semakin memompa semangat para sahabat. Bahkan salah seorang sahabat berkata, “Jika kita duduk saja sedangkan Rasulullah bekerja, itu adalah tindakan orang yang tersesat.”
Lahan masjid saat itu masih berupa area dengan kuburan orang musyrik, puing bangunan, serta pohon kurma. Atas perintah Rasulullah ﷺ, kuburan-kuburan dipindahkan, puing diratakan, dan pohon kurma ditebang. Arah kiblat kala itu masih menghadap ke Baitul Maqdis.
Dinding masjid dibangun dari batu bata yang direkatkan lumpur, atapnya dari daun kurma yang disanggah batang pohon, sementara lantainya dihampari pasir dan kerikil kecil. Tiga pintu dibuat di sisi bangunan dengan ukuran sekitar seratus hasta panjang dan lebar yang hampir sama, sedangkan fondasinya setinggi tiga hasta.
Di sisi masjid, Rasulullah ﷺ juga membangun beberapa rumah sederhana untuk istri-istrinya, berdinding batu dan bata, beratap daun kurma. Setelah pembangunan selesai, beliau pun pindah dari rumah Abu Ayyub Al-Anshari ke rumah tersebut.
Fungsi Masjid Nabawi
Masjid Nabawi tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga pusat aktivitas umat Islam. Masjid ini berperan sebagai:
1. Pusat pendidikan. Tempat kaum Muslimin belajar ajaran Islam dan menerima bimbingan langsung dari Rasulullah ﷺ
2. Balai pertemuan. Mempersatukan berbagai suku dan menghapus sisa-sisa perselisihan jahiliyah
3. Pusat pemerintahan. Tempat bermusyawarah dan mengatur urusan masyarakat, layaknya gedung parlemen
4. Tempat tinggal fakir Muhajirin. menampung kaum Muhajirin yang tidak memiliki harta atau kerabat
Disyariatkannya adzan
Pada masa-masa awal hijrah, Allah SWT juga mensyariatkan adzan sebagai panggilan shalat lima waktu.
Suara lantang adzan menggema di langit Madinah, menjadi panggilan yang menggetarkan hati kaum Muslimin.
Kisahnya berawal dari mimpi Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbah yang melihat tata cara panggilan shalat. Ia lalu menyampaikan mimpinya kepada Rasulullah ﷺ, dan Nabi membenarkannya.
Dari sinilah adzan ditetapkan sebagai tanda masuknya waktu shalat, sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Khuzaymah.
Masjid Nabawi bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol peradaban Islam yang menekankan kebersamaan, kepemimpinan yang melayani, dan ketaatan kepada Allah SWT.
Dari sinilah lahir peradaban yang menyinari dunia, memberi pelajaran bahwa setiap amal besar dimulai dengan niat ikhlas dan kerja sama.
Bagi umat Islam masa kini, Masjid Nabawi menjadi pengingat pentingnya menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan persaudaraan, sebagaimana teladan Rasulullah ﷺ di Madinah. (Fitri Aulia Lestari, ed: Nashih)