Doa dan Amalan saat Berada di Multazam, Tempat di Antara Pintu Ka’bah dan Hajar Aswad
Abd. Hakim Abidin
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Di antara bagian paling mulia di sekitar Ka’bah terdapat sebuah tempat yang sangat istimewa. Mungkin sebagian jamaah haji dan umroh hanya melewatinya begitu saja, karena tidak paham keutamaannya. Tempat itu tidak lain adalah Multazam, suatu area yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.
Multazam bukan sekadar titik area di dinding Ka’bah. Tempat ini sangat mulia, sebab Nabi SAW juga memuliakannya. Disebutkan dalam satu riwayat hadis, Nabi SAW menempelkan dada, wajah, kedua lengan, serta membentangkan kedua telapak tangannya di tempat ini. Menunjukkan betapa utamannya tempat ini.
Baca juga: Doa dan Dzikir Terbaik Jamaah Haji saat di Arafah
Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu
‘anhu pernah memperlihatkan bagaimana Nabi SAW melakukannya. Ia menempelkan
dada, wajah, kedua lengan, dan membentangkan kedua telapak tangannya. Lalu ia
berkata:
هكذا رَأيْتُ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَفعَلُه
Artinya: “Beginilah
aku melihat Rasulullah SAW melakukannya.” (HR Abu Dawud)
Sementara Abdullah bin
Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan keutamaan tempat ini. Beliau mengatakan:
مَا بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَابِ يُدْعَى الْمُلْتَزَمَ لَا يَلْزَمُ مَا
بَيْنَهُمَا أَحَدٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
Artinya: “Area
antara rukun dan pintu Ka’bah disebut Multazam. Tidaklah seseorang berdoa
kepada Allah di tempat itu meminta sesuatu, kecuali Allah akan memberinya.” (HR
Baihaqi)
Pernyataan Ibnu Abbas tersebut menunjukkan betapa besarnya kemustajaban doa di Multazam. Karena itu, para jamaah haji dan umroh sejak dahulu banyak yang berusaha bisa berdoa di tempat ini, khususnya ketika hendak meninggalkan Makkah (thawaf wada’).
Baca juga: Bacaan Doa saat Melempar Jumrah
Dalam Al-Umm, Imam
Syafi’i menyebutkan bahwa ketika thawaf perpisahan (wada’), seorang jamaah
dianjurkan berdiri di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah lalu memanjatkan doa
dengan penuh kerendahan hati. Imam Syafi’i mengatakan:
وَأُحِبُّ لَهُ إذَا وَدَّعَ الْبَيْتَ أَنْ يَقِفَ فِي الْمُلْتَزَمِ
وَهُوَ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَابِ
“Dan aku menyukai bagi orang yang hendak
berpisah meninggalkan Baitullah (thawaf wada') agar ia berdiri di Multazam, yaitu tempat yang
berada di antara rukun (Hajar Aswad) dan pintu Ka’bah.”
Imam Syafi’i lalu menganjurkan
agar membaca doa berikut:
اللَّهُمَّ إنَّ الْبَيْتَ بَيْتُك وَالْعَبْدَ عَبْدُك وَابْنُ عَبْدِك
وَابْنُ أَمَتِك حَمَلَتْنِي عَلَى مَا سَخَّرْت لِي مِنْ خَلْقِك حَتَّى
سَيَّرْتنِي فِي بِلَادِك وَبَلَّغْتنِي بِنِعْمَتِك حَتَّى أَعَنْتنِي عَلَى
قَضَاءِ مَنَاسِكِك فَإِنْ كُنْت رَضِيت عَنِّي فَازْدَدْ عَنِّي رِضًا وَإِلَّا
فَمِنْ الْآنَ قَبْلَ أَنْ تَنْأَى عَنْ بَيْتِك دَارِي هَذَا أَوَانُ انْصِرَافِي
إنْ أَذِنْت لِي غَيْرَ مُسْتَبْدِلٍ بِك وَلَا بِبَيْتِك وَلَا رَاغِبٍ عَنْك
وَلَا عَنْ بَيْتِك اللَّهُمَّ فَاصْحَبْنِي بِالْعَافِيَةِ فِي بَدَنِي
وَالْعِصْمَةِ فِي دِينِي وَأَحْسِنْ مُنْقَلَبِي وَارْزُقْنِي طَاعَتَك مَا
أَحْيَيْتنِي
Artinya: “Ya Allah,
rumah ini adalah rumah-Mu. Hamba ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba
laki-laki-Mu dan hamba perempuan-Mu. Engkau telah membawaku di atas makhluk-Mu
yang Engkau tundukkan untukku, hingga Engkau jalankan aku melintasi
negeri-negeri-Mu, dan Engkau sampaikan aku dengan nikmat-Mu sampai Engkau
menolongku menyelesaikan manasik-Mu. Jika Engkau ridha kepadaku, maka
tambahkanlah keridhaan itu kepadaku. Namun, jika belum, maka mulai saat ini
sebelum aku jauh meninggalkan rumah-Mu, limpahkanlah keridhaan-Mu kepadaku.
Inilah saat keberangkatanku jika Engkau mengizinkannya, tanpa berpaling dari-Mu
dan dari rumah-Mu, serta tanpa rasa benci kepada-Mu dan rumah-Mu. Ya Allah,
sertailah aku dengan kesehatan pada tubuhku, penjagaan pada agamaku,
perbaikilah akhir perjalananku, dan karuniakan aku ketaatan kepada-Mu selama
Engkau masih memberiku kehidupan.” (Al-Umm [Beirut: Dar al-Fikr],
juz 2, h. 243)
Demikianlah doa saat berada di Multazam, dinding di antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad, dengan harapan meraih ridha Allah SWT.
Baca juga: Doa saat Sa’i di Antara Shafa dan Marwa
Imam an-Nawawi juga memberikan perhatian
khusus terhadap doa di Multazam. Dalam kitab Al-Adzkar, beliau
menegaskan bahwa tempat tersebut termasuk tempat yang mustajab untuk berdoa.
Beliau kemudian menyebutkan doa yang dianjurkan untuk dibaca di sana, yakni sebagai
berikut:
اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَكَ، وَيُكَافِئُ
مَزِيدَكَ، أَحْمَدُكَ بِجَمِيعِ مَحَامِدِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ
أَعْلَمْ عَلَى جَمِيعِ نِعَمِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ أَعْلَمْ،
وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ، اللَّهُمَّ أَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَأَعِذْنِي مِنْ
كُلِّ سُوءٍ، وَقَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي وَبَارِكْ لِي فِيهِ، اللَّهُمَّ
اجْعَلْنِي مِنْ أَكْرَمِ وَفْدِكَ عَلَيْكَ، وَأَلْزِمْنِي سَبِيلَ الِاسْتِقَامَةِ
حَتَّى أَلْقَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Ya Allah, bagi-Mu segala puji, pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Mu dan setara dengan tambahan karunia-Mu. Aku memuji-Mu dengan seluruh pujian yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui, atas seluruh nikmat-Mu yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui, dalam segala keadaan. Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, lindungilah aku dari setan yang terkutuk, lindungilah aku dari segala keburukan, jadikan aku merasa cukup dengan rezeki yang Engkau berikan dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk tamu-Mu yang paling mulia di sisi-Mu, dan tetapkan aku di atas jalan istiqamah hingga aku berjumpa dengan-Mu, wahai Tuhan semesta alam.” (Al-Adzkar [Beirut: Dar al-Fikr], h. 276)
Baca juga: Doa dan Dzikir yang Dibaca saat Thawaf
Setelah mengetahui apa
yang dilakukan oleh Nabi SAW ketika berada di Mulatazam, dan mengetahui bagaimana
para ulama menganjurkan agar berdoa di tempat ini, maka ketika Allah memberi
kesempatan kita berada di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji atau umroh, berhentilah
sejenak di Multazam di sela-sela thawaf, khususnya thawaf wada’.
Lalu jika memungkinkan, tempelkanlah wajah, dada, lengan, serta bentangkanlah telapak tangan di dinding Multazam. Kemudian, penuh khusyuk memanjatkan doa di atas dengan mengakui dosa-dosa, kelemahan, dan kebutuhan kita kepada Allah SWT.