“Nun” dan Rahasia Al-Qalam
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Dalam tartib nuzulul quran (runtutan diturunkannya Alquran), para jumhur ulama tafsir menyepakati bahwa surat Al-Qalam hadir sebagai wahyu kedua, menyusul surat Al-‘Alaq 1-5 sebagai surat pertama turun.
Jika Al-‘Alaq
adalah perintah untuk membaca (iqra’), maka Al-Qalam adalah instrumen
untuk dokumentasi ilmu pengetahuan.
Surat ini dibuka
dengan huruf muqatta’ah, “Nun”, yang menjadi pintu masuk
menuju ruang tadabbur yang luas. Meskipun merupakan bagian dari khazanah bahasa
Arab yang digunakan masyarakat saat itu, para ulama tafsir memiliki beragam
sudut pandang dalam memaknainya. Sebagian besar mufasir mengembalikan kebenaran
hakikat maknanya hanya kepada Allah Sang Pemilik Kalam.
Secara filosofis, kehadiran Nun di awal surat merupakan “strategi” komunikatif yang bersifat Ilahiah. Allah menegaskan bahwa Alquran meski diturunkan dalam bahasa yang dipahami manusia (bahasa Arab), tetap membawa dimensi mukjizat yang melampaui logika bahasa itu sendiri.
Baca juga: Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam
Allah
memperlihatkan kemahakuasaan-Nya dengan menyusun wahyu dari huruf-huruf yang
sehari-hari digunakan orang Arab, namun pada saat yang sama, mereka tidak
serta-merta mampu menjangkau hakikat maknanya tanpa petunjuk-Nya.
Hal ini
menunjukkan bahwa Alquran bukan sekadar karya sastra manusia, melainkan firman
Allah yang memiliki kedalaman metafisika. Ia adalah bukti bahwa bahasa manusia
memiliki keterbatasan saat digunakan untuk membungkus pesan-pesan Allah yang
tak terbatas.
Melalui huruf Nun,
Allah mengundang orang beriman untuk memiliki kerendahan hati intelektual.
Bahwa setinggi apa pun ilmu yang diraih melalui proses iqra’ dan pena,
puncaknya tetap ada rahasia Ilahi yang tak terjangkau. Nun adalah
pengingat bahwa segala ilmu bermuara pada Allah.
Estafet
Pencerahan dari Al-‘Alaq ke Al-Qalam
Hubungan antara
wahyu pertama dan kedua ini membentuk mata rantai peradaban literasi Islam yang
utuh. Surat Al-Alaq menanamkan urgensi proses (belajar-mengajar) melalui
perantara pena. Surat Al-Qalam memberikan legitimasi dan kehormatan pada
instrumen tersebut melalui sumpah Allah: “Demi Pena dan apa yang mereka
tulis.”
Korelasi antara surat
Al-Alaq dan surat Al-Qalam menyentuh esensi terdalam dari sejarah peradaban
Islam. Hubungan kedua surat ini bukan sekadar urutan turunnya wahyu, melainkan
sebuah desain besar (grand design) Allah SWT untuk membangun umat yang
berbasis literasi dan dokumentasi.
Dalam kaidah Alquran, sumpah Allah atas suatu makhluk senantiasa menandakan adanya keistimewaan yang luar biasa pada objek tersebut. Pena (Al-Qalam) adalah objek sumpah yang melampaui dimensi materi.
Baca juga: Epistemologi Al-‘Alaq sebagai Fondasi Peradaban
Pena secara
maknawi memiliki posisi penting dalam Islam. Al-Maraghi berpendapat bahwa
penggunaan diksi ini adalah untuk mendorong umat untuk mendidik diri dan membangun
peradaban agar bisa menjadi umat terbaik (khair ummah) dengan
budaya literasi.
Wahbah
az-Zuhaili melihat bahwa pena yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah SWT
menunjukkan agungnya nikmat menulis sebagai salah satu nikmat terbesar dari
Allah.
Setelah berpikir,
berbicara, dan kemudian menjelaskan melalui tulisan, menjadi wasilah dalam
membangun peradaban dan penyebaran ilmu pengetahuan di antara umat manusia, dan
tentunya menjadi kunci bagi kemajuan suatu bangsa.
Kedudukan “Pena”
Merujuk pada makna “pena”, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali Allah SWT ciptakan adalah Al-Qalam. Dan Dia memerintahkan untuk menulis tiap-tiap sesuatu yang
ada.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la (1/126) dan Al-Baihaqi dalam
Al-Asma’ wash Shifat (h. 271).
Malaikat, sebagai
makhluk pilihan, dibekali “modal” pena untuk mencatat amal perbuatan manusia.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam tatanan ketuhanan pun, dokumentasi adalah
standar keadilan yang utama.
Allah berfirman:
“Tiada suatu
ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang
selalu hadir.” (QS.
Qaf: 17-18)
Sebagai wahyu kedua, Al-Qalam mempertegas bahwa dakwah Nabi Muhammad SAW tidak hanya bersandar pada kekuatan lisan, tetapi juga pada kekuatan tulisan. Ini adalah batu pertama pembangunan peradaban Islam yang berbasis data dan fakta.
Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam
Para sahabat Nabi menghidupkan spirit pena ini dengan mencatat setiap tetesan wahyu di atas pelepah kurma, kulit binatang, batu, hingga kepingan kayu. Jauh sebelum penemuan kertas secara massal, umat Islam telah mempraktikkan budaya literasi tingkat tinggi.
Ketekunan
mencatat inilah yang kemudian menjadi cikal bakal pengumpulan mushaf di era
Khalifah Utsman bin Affan, sebuah mahakarya dokumentasi yang menjaga
orisinalitas wahyu hingga akhir zaman.
Berkat kebijakan
itu, akhirnya hari ini kita bisa menikmati mukjizat Alquran karena ada goresan
pena dari para sahabat.
Lalu, goresan apa
yang kita wariskan kepada generasi selanjutnya?
Pesan “Pena”
Pesan dalam surat Al-Qalam ayat pertama ini memberikan peringatan bagi orang beriman bahwa Islam tidak pernah memisahkan kesalehan ritual dari kemajuan intelektual.
Al-‘Alaq
mendorong kemampuan untuk membaca realitas dan Al-Qalam memberi otoritas untuk
menuliskan sejarah.
Sumpah Allah dalam Al-Qalam adalah penegasan bahwa Islam adalah agama literasi. Menulis bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan bentuk mengikuti sunnah penciptaan takdir. Umat yang “memuliakan” pena adalah umat yang tidak akan mudah terombang-ambing oleh narasi kebohongan, karena mereka memiliki tradisi mencatat, membuktikan, dan mengabadikan kebenaran.
Baca juga: Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin
Sejarah mencatat
bahwa peradaban yang besar tidak dibangun oleh mereka yang sekadar bicara, tapi
oleh mereka yang berani memegang pena untuk mencatat janji-janji masa depan.
Keterbatasan “Pena”
Manusia
“Pena” adalah
sebuah ironi yang agung. Di satu sisi, ia adalah kunci bagi manusia untuk
membuka pintu-pintu ilmu pengetahuan dan menemukan jejak kebesaran Sang
Pencipta. Namun di sisi lain, pena jugalah yang menjadi saksi paling jujur
bahwa seluruh kecerdasan manusia takkan pernah sanggup merangkum keagungan
Allah SWT.
Dalam surat
Luqman ayat 27 dan surat Al-Kahfi ayat 109 Allah menghamparkan sebuah
perumpamaan yang melampaui imajinasi dan menggetarkan jiwa manusia
“Dan
seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta),
ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan
habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.” (QS. Luqman: 27)
“Katakanlah
(Muhammad), 'Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat
Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai
(ditulis) meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).'” (QS. Al-Kahfi: 109)
Dua ayat ini bukan sekadar hiperbola puitis, melainkan sebuah fakta epistemologis. Seberapa pun tajamnya pena manusia dan seberapa pun luasnya tinta ilmu yang manusia miliki, ia akan menemui titik kering di hadapan kalimat-kalimat Allah yang tak bertepi.
Baca juga: Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran
Penggunaan angka “tujuh
laut” dalam tradisi sastra Arab bukan sekadar angka bilangan, melainkan simbol
bagi jumlah yang tak terbatas.
Allah ingin
menegaskan bahwa Kalimat Allah yakni ciptaan-Nya, takdir-Nya, hikmah-Nya, dan
sifat-sifatnya adalah entitas yang infinite (tak terhingga).
Pena dari pohon
akan patah dan tinta dari samudera akan mengering. Ini adalah pengakuan bahwa
seluruh sarana fisik peradaban manusia (teknologi, buku, server data, hingga
kecerdasan buatan) memiliki titik jenuh dan kehancuran, sementara ilmu Allah
tetap abadi.
Pena manusia
adalah simbol perjuangan intelektual yang tak berujung, apa yang sanggup
dituliskan oleh pena manusia hanyalah setetes dari samudera.
Ketidakmampuan pena menuliskan semua kalimat Allah bukan berarti tidak perlu menulis atau berhenti menulis. Sebaliknya, ini adalah suntikan motivasi untuk terus menggali ilmu tanpa putus asa dan rasa sombong.
Baca juga: Menemukan Jati Diri Manusia Melalui Surat Al-‘Alaq
Pena adalah saksi bahwa kita telah berusaha membaca (iqra’) dan bentuk syukur (syukr bi al-qalam) meski sadar samudra ilmu-Nya takkan pernah habis kita tuliskan. Membaca dan menulis adalah bentuk implementasi keimanan untuk menemukan dan meyakini kekuasaan Allah.
Di tengah dunia
yang penuh dengan narasi palsu, hoaks, pena yang digunakan untuk
menuliskan kebenaran meski hanya setitik adalah pena yang dimuliakan oleh
sumpah Allah di awal surat Al-Qalam.
Kita menggunakan “pena” (teknologi/ilmu) sehebat mungkin sebagaimana perintah Al-‘Alaq dan Al-Qalam, namun kita tetap bersujud serendah mungkin sebagaimana pengakuan keterbatasan dalam Al-Kahfi dan Luqman. Wallahu A’lam bish shawab.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.