Khutbah Idul Fitri: Makna Ramadhan dan Idul Fitri dalam Mewujudkan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: Prof Dr KH M Asrorun Niam Sholeh, MA, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)—Bidang Fatwa/Pengasuh Pesantren al-Nahdlah Depok
Khutbah I
الله
أكبر الله أكبر الله أكبر -- الله أكبر الله أكبر الله أكبر -- الله أكبر الله
أكبر الله أكبر
الحمد
لله وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ
الأَحْزَابَ وَحْدَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْـدَهُ لاَ
شَـرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُـوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهْ. اَللَّهُمَّ صَّلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ ابْنِ عَبْدِ اللهْ وَعَلَى الِهِ وَأَصْـحَابِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَة
أَمَّا
بَعْدُ: فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا اللهَ
فَقْدْ فَازَ الْـمُتَّقُوْنَ. وَقَدْ قـَالَ اللهُ تَعاَلَى فِي الْـقُرْاَنِ
الْكَرِيْمِ: (وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ
دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي
لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ).
وقال
النبي: ِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ
تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Hadirin,
Jamaah Shalat ’Id Rahimakumullah,
Marilah dalam
kesempatan mengawali bulan Syawal 1447 H/2026 M ini, kita bersama-sama
meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan senantiasa berusaha
melaksanakan segala perintah-Nya dan terus berupaya meninggalkan larangan-Nya.
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Hadirin,
Jamaah Shalat ’Id Rahimakumullah,
Hari ini seluruh
semesta bertakbir, mengagungkan asma Allah SWT, dan pada saat yang sama kita
mengakui akan kecilnya kita di hadapan Sang Maha Pencipta, seberapa pun tingginya
kekuasaan dan jabatan kita.
Di hari yang
fitri ini, umat Islam di seluruh dunia menyambutnya dengan penuh suka cita. Gema
takbir mengumandang di seluruh jagad. Jutaan suara manusia, desiran ombak,
tiupan angin, gerakan tetumbuhan, binatang, semuanya mengumandangkan takbir
memuji kebesaran-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَلِتُكَبِّرُوا
اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: “Dan hendaknya kamu bertakbir
mengagungkan nama Allah atas hidayah yang diberikan padamu dan semoga kamu
bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Hadirin,
Jamaah Shalat ’Id Rahimakumullah,
Alhamdulillah,
selama sebulan penuh kita berada di Madrasah Ramadhan, sebuah “kawah
candradimuka” untuk penempaan diri sebagai pembuktian ketaatan dan
ketertundukan kita kepada Ilahi Rabbi. Hubungan hamba dengan Rabb-nya yang
dimanifestasikan dalam komitmen menjalankan kewajiban.
Puasa Ramadhan
mengajarkan kedisiplinan soal waktu, mengajarkan kejujuran, mengajarkan
keikhlasan, menghindarkan diri dari yang syubhat dan meragukan; membangun
empati dan solidaritas kepada sesama, dengan komitmen berbagi untuk kebahagiaan
bersama. Semua nilai-nilai luhur itu ditanamkan dengan pola pembiasaan, selama
penuh satu bulan.
Hari ini kita
masuk pada fase inaugurasi, Hari Raya Idul Fitri, menandai berakhirnya
pelatihan diri. Jika kewajiban puasa itu dilakukan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka dosa kita akan diampuni oleh Allah SWT. Dalam hadis yang sangat
terkenal disebutkan:
من صام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من
ذنبه
Artinya: “Barang
siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap Ridha Allah,
dosanya yang telah lampau diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)
Jika telah
diampuni, maka diri kita kembali kembali ke fitrah dan jati diri, jati diri
kemanusiaan kita saat dilahirkan, sebagaimana dijelaskan dalam hadis lainnya,
yang berbunyi:
فمن
صامه وقامه إيماناً واحتسابا خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه
“Barang siapa
saja yang berpuasa dan qiyam Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap ridha
Allah maka dia akan keluar seperti orang yang baru dilahirkan ibunya”.
Ini berarti orang tersebut kembali kepada
fitrahnya. Inilah mengapa hari raya sesudah puasa disebut sebagai Idul Fitri,
yang artinya kembali kepada fitrahnya atau kembali kepada kesuciannya,
sebagaimana suci bayi.
Kita berharap mudah-mudahan semua ibadah
kita selama satu bulan itu diterima dan dicatat oleh Allah SWT sebagai amal
saleh dan ikhlas semata-mata karena Allah.
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.